
'Siapa wanita yang aku temui di pantai kemarin? dan mengapa ia tak mengenal aku. Aku lihat penampilannya berbeda dengan Mama? bila benar Mama kenapa sikapnya berubah' batin Kiara dengan raut wajah sedih.
Setelah kepulangan Kiara dari pantai membuat dirinya murung karena ia merasa di cuekin oleh Mamanya.
Dewi membujuknya agar mau makan dan keluar dari kamar, namun tak ada jawaban dari dalam kamar Kiara Dewi tak bisa apa-apa selain membujuk dan membujuknya walaupun ia tau Kiara tak akan pernah menjawab pertanyaan.
"Ara? buka pintunya Sayang? jangan menyiksa diri sendiri, ayolah Nak," Dewi terus membujuknya tanpa letih ia tak mau kenapa-kenapa dengan cucunya.
"Nek."
Tiba-tiba suara pintu dibuka oleh Kiara yang dalam keadaan kacau rambutnya yang acak-acakan seperti tak pernah ia sisir.
"Kiara?!"
Dewi memapah Kiara menuju kamar dan mendudukkannya di ranjang.
"Nek. Mama jahat! Mama sudah tak menyayangi aku lagi?" tanyanya dengan nada yang sedih, tak terasa air mata Dewi pun lolos dari pelupuk matanya dengan cepat ia menyusutnya dengan telunjuk tangan nya.
"Mungkin yang kamu lihat bukan Mama mu Sayang? tapi orang lain yang kebetulan mirip dengan Mama kamu," terang Dewi dengan senyum hangatnya.
Kiara mengeleng cepat,"aku tidak salah lihat Nek, itu benar-benar Mama," bantah Kiara ia menyakini bahwa dirinya tidak salah lihat.
"Emm, gimana kita pergi ke luar cari makan buat menghilangkan rasa stress dan kita belanja sepuas-puasnya," usul Dewi dirinya tak mau melihat kesedihan yang di rasakan Kiara hanya cara inilah yang bisa ia lakukan demi membahagiakan Kiara.
"Mau apa ngga."
"Aku mandi dulu ya Nek, aku sudah dua hari belum mandi," ucapnya dengan menunjukan cengiran.
"Pantas saja dari tadi Nenek mencium sesuatu yang menusuk hidung Nenek," sindirnya membuat Kiara mengerucutkan bibirnya dengan bertubi-tubi.
Dewi merasa senang akhirnya Kiara mau ikut dengan ajakannya untuk pergi keluar.
Beberapa menit kemudian Kiara keluar dari kamar dan menuju lantai bawah, di sana sudah ada Dewi, Arkana dan Wijaya semuanya menatap heran pada Kiara karena hari ini mereka melihat wajah berbinar bahagia.
"Mau kemana? sudah cantik," tanya Arkana dengan senyum hangat.
"Mau cari angin' habis di sini pengap, betulkan Nek."
"Ibu ngajak Ara jalan bentar kok gak lama, kasian lihat Ara murung terus di kamar sudah beberapa hari ia mogok makan bahkan mandi pun ikut mogok," ledeknya membuat Kiara tersipu malu.
"Nenek ngapain buka aib Ara?!" rajuknya dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jorok! pantas saja air kran di kamar Papa tak mengeluarkan airnya lagi karena kering! jadi kamu penyebabnya," ejeknya Arkana dengan senyum sinis.
Kiara mengerenyit heran,"apa hubungannya dengan aku mandi. Di kamar aku airnya lancar-lancar saja gak kering mungkin di kamar Papa kran nya macet," Belanya dengan senyum kikuk.
"sudah jangan pada debat! sudah kayak mau kampanye saja!" Wijaya menimpalinya yang sedari tadi menjadi pendengar yang baik lama-kelamaan Wijaya menjadi pusing melihat kelakuan anak cucunya yang sama-sama tidak mau mengalah.
"Ya sudah kalau begitu Ibu dan Ara berangkat dulu mumpung masih moodnya bagus!"
Dewi berpamitan dengan mencium punggung tangannya Wijaya dan di ikuti oleh Kiara untuk menyalami Kakek dan Papa nya.
__ADS_1
Sebelum berangkat Kiara sudah berpesan kepada Arkana agar jangan di ikuti oleh para bodyguard.
"Papa jangan menyuruh bodyguard untuk mengikuti kami! karna aku gak bakalan kabur okey?! aku gak mau ada penolakan titik!" ancamnya dengan senyum menyeringai licik.
Arkana kalah telak akhirnya ia mengalah.
"Baiklah Tuan Putri?!"
Kiara terkekeh geli dan mengacungkan jempol ke atas.
"Nek, kita mau kemana?" tanya Kiara dengan menyandarkan kepalanya di bahu Dewi.
"Kita ke Mall mau?" ajak Dewi dengan membelai rambut Kiara.
Kiara menatap wajah Dewi yang tak muda lagi dengan memasang senyum terimutnya.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di Mall yang ternama, Pak Wawan membukakan pintu mobil untuk Dewi dan Kiara.
"Silahkan Nyonya, Non," ucapnya dengan sopan kepada kedua majikannya yang di anggukan kepala oleh mereka.
"Terimakasih Pak," jawab Kiara dengan senyum mengembang.
"Ara, mau membeli baju, tas, sepatu, dan yang lain-lainnya biar Nenek temenin."
Kiara mengeleng cepat,"gak! Kiara mau makan aja deh," kata Kiara dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling Mall.
"Nek kita makan di sana aja," Kiara menunjukkan tempat yang di penuhi oleh para pengunjung.
"Nek, mau makan apa? biar Ara pesankan ya," tawarnya dengan seulas senyum.
"Terserah kamu, apa yang kamu pesan Nenek ikut makan."
"Tunggu bentar ya Nek."
Dewi hanya tersenyum dan mengangguk sambil tersenyum manis padanya.
Saat Kiara akan melangkahkan kakinya ia tak sengaja melihat Rikha, Joni dan Andin yang sedang makan di tempat yang sama Kiara ingin sekali menghambur memeluk Mamanya namun ia urungkan niatnya karena melihat Rikha yang begitu bahagia bercanda gurau dengan Andin.
'mah, lihat aku? ini aku Mah Kiara anakmu Apakah kalian tak merindukan aku? kenapa kalian sepertinya tidak merasa kehilangan, apakah kalian bahagia bila aku tak bersama dengan kalian? aku cemburu melihat kalian, hati aku sakit teriaknya dan berlari menjauh dari mereka, ia tak mau menjadi penghalang bagi kebahagiaan orang tuanya biarlah dirinya yang menderita asalkan mereka bahagia, tanpa sengaja Rikha pun melihat Kiara sekilas membuat Rikha terkejut.
"Kia?!" teriaknya dengan beranjak dari duduknya membuat Joni maupun Andin menatapnya dengan heran.
"Mah, Mama kenapa? disini gak ada Kiara, ikhlaskan Kiara dia sekarang sudah tenang disana," jelas Andin dengan memeluk Rikha.
Memang tak bisa di pungkiri lagi semenjak kepergian Kiara membuat Rikha depresi dirinya merasa bersalah dan menyesal sudah memperlakukan Kiara ia ingin meminta maaf pada Kiara itu janjinya.
"Gak Pah, Din? Mama memang melihat Kia ada disini? dia menatap Mama dengan wajah sedihnya," keukeuhnya Rikha yang terus menatap arah yang Kiara lewati tadi sebelum pergi.
"Sudah lah sekarang Mama tenangkan diri dan kita lanjutkan makannya setelah itu baru kita pulang," ujar Joni dengan lembut.
Rikha hanya pasrah dan menerima apa yang di katakan oleh Joni.
__ADS_1
"Ara kemana? mau pesan makan kok lama sekali?" Dewi merasa gelisah Kiara pamit untuk memesan makanan sampai saat ini ia belum kembali.
'aku harus mencari keberadaan Ara, apa benar dia memesan makanan atau kabur lagi! aku bisa diomelin sama Arkana' batin Dewi dengan wajah panik dan bingung.
Dewi berjalan dengan melihat kanan kiri siapa tau dia bisa melihat keberadaan Ara, dalam kebingungan ia menabrak seseorang membuatnya terkejut.
"Maaf kan saya ya...."
"Tante Dewi!" sapa seorang wanita yang sedang berdiri menatap wajah Dewi.
Dewi terkejut bukan main setelah melihat siapa yang ia tabrak barusan.
"Rita?!" jawabnya dengan membelalakkan matanya dengan sempurna.
"Iya Tante ini aku Rita. Temannya kuliahnya Arkana," Rita meraih tangan Dewi dan menciumnya dengan takzim.
"Tante kesini sama siapa?"
Dewi tersenyum tipis dan terdengar helaan nafas berat nya.
"Tante kesini sama cucunya Tante," jawab Dewi dengan senyum.
"Kita duduk dulu Tante kita ngobrol-ngobrol sebentar aku kangen sama Tante."
Sebenarnya Dewi ingin menolaknya namun ia tak tega, apalagi mereka sudah lama tak bertemu hati Dewi gelisah ia takut Kiara benar-benar kabur.
"Tante sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Rita heran yang melihat Dewi duduk dengan gelisah.
"Ngak papa, gimana kabarmu sekeluarga? tanya Dewi.
"Alhamdulillah kami semua baik dan sehat," jawab Rita yang duduk di sampingnya.
"Arkana sudah mempunyai anak, kenapa aku tak di undang Tan," protes Rita yang merasa kecewa karena tidak di undang oleh temannya.
"Soal itu kamu bisa menahannya langsung pada Arkana."
"Cucunya Tante cewek apa cowok," pertanyaan Rita penuh tanda tanya bagi Dewi.
"Perempuan."
Rita yang mendengar perkataan Dewi bahwa cucunya cewek membuat ia menyungingkan bibirnya ia mempunyai niatan untuk menjodohkan David dengan cucunya Dewi.
"Tante? sekarang Arkana tinggal di mana? boleh dong Rita main kerumah," ujarnya lagi.
"Boleh, Tante juga kangen sama masakan kamu kapan-kapan main kerumah Tante."
"Dengan senang hati Tante, Rita sekeluarga akan pergi ke rumah Tante," jawabnya dengan antusias kegirangan.
'kira-kira cucunya Tante Dewi cantik gak ya? aku gak sabar pengen liat anaknya Arkana' batinya dengan senyum yang penuh arti.
Dewi mengerenyit heran dengan sikap Rita.
__ADS_1