
Kini aku resmi menikah dengan lelaki buta, namun aku tak percaya kalau dirinya buta. Banyak ke anehan yang aku temukan pada dirinya, biarlah lambat laun aku pasti akan membongkar rahasia mas David.
Semua orang memberikan selamat pada kami berdua, terlihat jelas di wajah mas David yang begitu bahagia dengan senyum yang menawan. Sedangkan aku hanya tersenyum terpaksa.
Aku capek! harus berpura-pura bahagia dengan tersenyum. Bukan tubuhku saja yang lelah dan capek, pikiran ku juga sama-sama capek. Semua keluarga yang hadir di sini begitu bahagianya disisi lain aku bahagia bisa menyatukan dua keluarga, terutama dengan kehadiran mama yang bertemu dengan Tante Rikhe.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Mas David dengan melirikku sekilas.
"Nggak!" jawabku singkat.
"Kamu capek?!" Mas David bertanya lagi.
Ini manusia planet ini sok-sokan perhatian, gak tau apa kalau aku capek segala-galanya? masih bertanya juga,dasar manusia aneh gak peka! aku mengumpatnya dalam hati.
"Kok diam."
Pertanyaan yang keluar dari mulutnya membuat kupingku mendadak panas. Rasanya kepengen nabok tuh mulut. Lagi-lagi aku mengumpat dalam hati.
Baru beberapa menit menjadi suamiku, dia sudah membuat aku emosi tingkat tinggi.
"Mau kekamar? kalau capek kamu bisa istirahat dulu di kamar," tawarnya dengan seulas senyuman mautnya.
"Iya aku mau kekamar saja," jawabku dengan wajah cemberut kesal padanya.
Mas David menganguk pelan,"Mau aku antar.
"Hehehe, gak usah."
Kalau tak ada orang pasti aku akan menjawab pertanyaan dengan ketusnya.
"Kamu manis! aku sudah gak sabar mau mengeksekusi dirimu," bisiknya tepat di telinga ku membuat aku bergidik ngeri.
"Coba saja kalau berani!" ejekkku dengan senyum sinis dan pergi meninggalkan dirinya sendiri di pelaminan.
Nenek menatap ku dari kejauhan yang melihat aku meninggalkan pelaminan. Langkah ku terhenti setelah mendengar suara wanita yang memberikan selamat pada Mas David.
"Selamat ya Mas, semoga kamu bahagia pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan," cerocosnya dengan memeluk tubuh Mas David.
Kedua mataku tak berkedip memandang wanita itu? ternyata si ulet keket yang memeluk suamiku. Ih! ngapian juga si Keket harus datang ke pernikahan kami, siapa yang mengundangnya? apakah suamiku sendiri? atau dia datang sendiri, Arghhhh...begitu banyak sekali pertanyaan yang membuat aku bingung.
Aku berusaha tenang walaupun hatiku mulai tak karuan. Hah! apakah aku cemburu? gak! gak mungkin, aku cemburu dengan ulet keket, aku mengerutuki diriku sendiri yang merasa aneh.
Akhirnya aku kembali ke pelaminan, aku ingin tau apakah Mas David akan bersikap tegas atau ia akan melepas rindu yang waktu lalu mereka lakukan dengan bercumbu tanpa memikirkan hati yang terluka.
__ADS_1
"Hay Mbaknya apakabar!" seruku sambil tersenyum manis semanis empedu, eh salah semanis madu hehehe....
Vanya terkejut melihat siapa istrinya Mas David. Tetapi aku bukan wanita yang seperti di film ikan terbang yang harus bermesraan dengan suami kita di depan mantannya? no way! kalau aku melakukan hal itu, enak mas David yang akan menang banyak aku kekeppin lah aku yang rugi dong.
"Kamu?!" tunjuknya pada ku dengan wajah bingung.
"Vanya? kenalkan ini anaknya Om, namanya Kiara dan ini...."
"Ini mantan pacar aku Om, mas David," jawabnya dengan enteng membuat Papa mengerenyit heran.
Ini wanita punya rasa malu ngak sih. Gak malu apa atas ucapanya barusan? jadi mantan saja bangga, aku hanya mengeleng cepat dan tersenyum manis padanya.
"Selamat ya pak Arkana? sebentar lagi Anda akan menjadi calon Kakek," sapa seorang pria paruh baya yang mengulurkan tangannya pada Papa.
"Terimakasih Pak Tama," Papa menjabat tangan nya.
"Oh iya, kenalkan Pak Arkana ini anak saya satu-satunya," imbuhnya lagi dengan menunjuk Vanya.
"Saya sudah kenalan barusan," jawab Papa canggung.
Papanya Vanya tak tau kalau David mantan pacar anaknya karena selama mereka pacaran Vanya tak pernah mengenalkan David pada Tama.
Papanya Vanya dan papa pamit untuk berbincang-bincang berdua, keluarga ku juga sibuk dengan urusan mereka yang sedang asyik ngobrol dengan teman dan kerabat yang hadir dalam acara ini.
Aku hanya tersenyum mengangguk.
Kenapa aku mendadak menjadi oon ya' kok malah di izinkan suamiku di pinjamnya? biarlah emang aku pikirin. Mendingan aku cari Reyhan bisa ngobrol-ngobrol daripada harus jadi nyamuk untuk mereka, gumamku dengan celingak-celinguk mencari keberadaan Reyhan.
****
Di dalam kamar.
Aku pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh ku yang seharian merasa gerah. Tak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk sebatas lutut dan handuk kecil yang melilit rambutku.
Aku bersenandung kecil dan menggerak-gerakkan tubuhku saat aku sedang memilih pakaian dalam aku melihat lelaki yang sedang tersenyum tipis pada ku dari pantulan kaca lemari ku sontak membuat aku terkejut bukan main.
"Arghhhh...! ngapian kamu ada dikamar aku!" teriakku sambil menyilangkan tangan di dada.
Mas David tersenyum dan berjalan menghampiriku, membuat aku semakin takut.
"M--mau apa?!" ucapku dengan terbata-bata masih dengan posisi menyilangkan tangan ku.
"Keluar! kalau gak mau keluar aku akan berteriak! biar seisi rumah datang kesini."
__ADS_1
Pletakk...Mas David menjitak jidatku membuat aku meringis kesakitan.
"Kamu gak malu apa berteriak?! dan satu lagi apa kamu lupa aku ini suamimu?"
Hah! suami? emang kapan nikah nya? aku berpikir sejenak untuk mengingat semuanya apa benar aku sudah sah menjadi istrinya.
"Sudah ingatkah!"
"Aku gak mau tau! pokoknya kamu tidur di sofa. Berani tidur di ranjang nih! yang akan mendarat di pipi kamu!" ancam ku dengan mengepalkan tangan ku.
"Ha-ha-ha."
David terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang ketakutan padanya. David masih terkekeh kecil dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sebelum masuk kamar mandi David berkata pada Kiara membuat mata Kiara melotot.
"Kalau aku gak khilaf ya? aku gak janji loh."
"Awa...." belum sempat menjawab pertanyaan nya, ia sudah menutup pintu kamar mandi, membuat aku geram.
Arghhhh... aku mengacak rambutku dengan kuat. Apakah aku akan sanggup bertahan hidup dengan dia? baru berapa menit saja aku sudah gak sanggup lagi.
'Ya Tuhan kuatkan lah hamba mu ini'
Krekk.
Pintu terbuka lebar ternyata manusia salju yang keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk selutut dan rambut yang basah menambah ketampanan seorang David. Aroma sampo yang menyeruak masuk ke indera penciuman ku.
Kayaknya ini bukan aroma sampoku? dia pake samponya siapa? kalau punya dia, kapan dia memasukkannya kedalam. Aku harus menanyakan padanya agar aku tak penasaran.
"Kok, aroma samponya beda?" tanyaku dengan cueknya tanpa menatap wajahnya, aku takut.
"Hey, kalau ngomong? lihat wajahku?" ujarnya dengan mengangkat wajahku yang menunduk malu, kedua netra kami bertemu membuat detak jantungku berdegup kencang.
Hembusan nafasnya menghangat menerpa wajahku, detak jantungnya berdegup kencang melebihi detak jantungku. Kini detak jantung kami saling bersahutan membuat kami berdua menjadi malu.
"Ha-ha-ha, suara apa itu Mas," ujarku dengan menahan senyum.
"Apaan sih."
Mas David menjauh dari ku dan berjalan menuju lemari pakaian untuk mengenakan pakaian nya.
Ah, lega rasanya, gumamku pelan. Setidaknya aku terbebas dari perangkap manusia salju ini.
__ADS_1
Oh aku lupa, aku kan mau menanyakan padanya kenapa dia bisa keluar masuk dengan bebas tanpa hambatan, bukankah dia buta?