
'Kenapa sih, harus secepat ini? mungkin sebagian orang akan merasa bahagia dengan pernikahan ini tetapi tidak bagiku. Aku harus pura-pura bahagia atau aku kabur saja! kalau aku kabur, itu tandanya aku sudah membuat aib untuk keluarga aku sendiri', gumamnya dengan menatap pantulan cahaya dirinya sendiri di depan cermin.
Akankah aku bahagia bila menikah dengan manusia salju itu. Mungkin sebaliknya aku akan membuat perhitungan dengan nya, rasanya kedua tanganku sudah gatal mau menggampar wajahnya yang penuh kepalsuan. Emm, emang aku berani ya' aku rasa aku tidak bisa melakukan semua itu? aku terlalu lemah, pasrah terserah orang mau apa. Aduhh?! kenapa hidupku serumit gini ya? Kiara mengaruk kepalanya yang tak gatal.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan pintu dari arah luar mengejutkan ku yang masih bermonolog sendiri, siapa sih! yang suka menganggu aku, gerutuku kesal lagi asyik-asyiknya menikmati momen-momen dalam lamunanku tiba-tiba di ganggu begitu saja, bikin sakit tau!
"Masuk!" aku sengaja meninggikan suaraku karena aku kesal. Entah kesal sama siapa aku pun tak tau apa penyebabnya.
"Ketus amat! pak amat juga gak galak." sahut kakek seraya tersenyum manis.
"Kakek, aku kira Papa."
"Calon pengantin wanita itu harus ceria, bahagia karena dirinya akan menjadi ratu untuk suaminya kelak. Dan ingat! pesan Kakek jadilah istri yang setia, menyayangi, dan mencintai suamimu. Dan..., berikan haknya kalau tidak memberikan gak pada suami nanti kamu akan dilaknat oleh Allah mau?" bisiknya tepat di telinga ku membuat aku terkejut sekaligus malu atas ucapan kakek dengan perkataanya yaitu kata hak.
Belum apa-apa tubuhku sudah panas dingin tak karuan, bagaimana ya' seandainya Mas David memintanya padaku, terus kalau aku tolak kira-kira dia marah gak ya? atau jangan-jangan dia akan melakukannya dengan memaksa aku lagi, hihihi aku merinding membayangkannya saja.
Kakek ada-ada saja, dengan berkata seperti tadi membuat aku kepikiran terus.
Arghhhh...jadi takut mau nikah! kalau nikahnya sama orang yang kita cintai mungkin aku akan bahagia lah, ini sama laki-laki yang sudah membuat aku patah hati. Tak apa-apa kalau saja ia macam-macam maka aku harus menyiapkan semua barang yang bisa membantu aku di saat ia meminta haknya padaku.
Aku terpekur menatap langit-langit kamar ku untuk mencari ide apa dan barang apa yang bisa aku gunakan untuk besok malam. Seruan Kakek yang terus memanggilku namun tak ku hiraukan.
Kakek menepuk pundak ku membuat aku terkejut bukan main, seandainya itu bukan kakek pasti sudah aku jitak jidat nya. Bikin kezel aja! gerutuku.
"Lagi mikirin buat besok malam, mau pake gaya apa gitu. Tenang soal memanjakan suami kamu bisa minta resep sama Nenek." Kakek mengoda ku terus, aku memutar bola mataku malas.
"Hua...hua..., kenapa sih keluarga ku pada Absurd semua. Ini juga sudah aki-aki bikin aku naik darah, jeritku dalam hati."
"Ngapain juga harus nanya sama Nenek, soal begituan aku tau! aku pastikan Mas David gempor gak bisa jalan lagi selamanya?!" ketusku dengan mengerucutkan bibirku kesal.
"Oke? kita lihat besok malam! yang gempor gak bisa jalan itu David, atau kamu sendiri," ucapnya dengan senyum mengoda.
Hih! amit-amit deh punya Kakek gitu amat! nenek buyut dulunya nyidam apaan ya, sampai-sampai Papa dan Kakek kelakuan sama! jangan sampai deh anakku nantinya nurun kakeknya. Gumamku dengan mengelus perutku yang masih rata.
"Duh?! yang gak sabar pengen punya perut buncit! sampai-sampai di elus," ledek Kakek.
__ADS_1
'Ya Tuhan lama-lama aku bisa mati berdiri deh.'
"Kek. Sekarang Kakek tidur? biar besok wajahnya fresh seger," aku mendorong tubuhnya agar keluar dari kamar ku.
"Kamu juga harus tidur yang cukup biar besok malam, langsung gasspolll."
"KAKEK!" teriaku membuat seisi rumah berhamburan menuju kamar ku.
"Ada apa Yah?!" tanya Nenek Kakek.
Yang di tanya malah seyam -senyum tak karuan.
"Ayah?! jangan suka meledek cucunya kasian tuh, wajah' Kia merah mirip kepitingi gosong." nenek terkekeh-kekeh dengan ucapannya barusan.
Kadang aku berpikir emang ya kalau ada yang mau nikah harus di buly, diledekin gitu!
Kedua Kakek, Nenek keluar juga dari kamarku.
Ku hirup udara sebanyak mungkin, hufff legaa? ku rentangkan kedua tanganku ah... rasanya plong....
Kini udara yang ada di rongga dada ku mulai sesak kembali saat aku mengigat apakah mama akan datang di hari pernikahan ku besok! semoga Mama hadir di acara pernikahan aku.
****
Di kediaman Xander.
Semua orang sedang berbahagia karena besok hari spesial untuk David.
Tak henti-hentinya Devina mengoda kakaknya, sesekali ia tertawa geli melihat David yang mendengus sebal atas ledekan Devina.
"Kak." tanya Devina dengan senyum genit.
"Hemm."
"Ihh! Kakak masa Hem, doang jawabanya," kesal Devina dengan melerai pelukannya.
David yang melihat wajah Devina cemberut kesal hanya tersenyum.
"Apa senyum-senyum!"
"Gak papa, aku cantik kalau lagi ngambek."
__ADS_1
"Kak!" rengeknya lagi membuat David menggerutkan kening.
"Apa?!"
"Emm, boleh aku request?" tanya Devina dengan senyum sumringah.
"Kakak mu ini bukan seorang artis yang harus request lagu segala."
"Hah! ngapain aku request lagu segala sama kakak? kayak suaranya bagus aja! udah mirip toak konslet aja bangga!" olok Devina dengan mencebikan bibirnya.
"Terus? yang kamu katakan tadi Tetang apa?! Devina?! kalau ngomong yang jelas."
"Hahaha." tawa Devina mengelegar menghiasi kamar David.
Lagi-lagi David hanya mengerutkan keningnya heran, punggung tangannya ditempelkan di keningnya Devina membuat Devina mendengus kesal.
"Apaan sih Kak." kesalnya dengan menepiskan tangan David di keningnya.
"Kamu, ketawa terus! kakak kira Kesambet."
"Cepat katakan mau ngomong apa," desaknya lagi membuat Devina memutar bola matanya malas sedangkan David hanya melempar senyum jenakanya.
"Aku?! mau? request...." Devina menjeda ucapannya karena melihat ekspresi wajah David yang menegang kaku.
"Apa?! jangan membuat aku mati penasaran," sungutnya pada ku.
"Mau?! request ponakan yang imut, lucu, kalau bisa aku request nya dua ya, ya ya,ya ,ya," renggeknya.
Pletakk....
David menjitak jidat Devina membuat si empunya meringis kesakitan.
"Sakit tau!" ketusnya dengan mengusap-usap jidat nya yang kena jitak sang kakak.
"Lagian kalau ngomong asal ngucap! tapi? lucu juga kali ya? Kakak punya anak kembar lucu-lucu lagi Emm, pasti Kakak bahagia sekali."
David tersenyum manis membayangkan dirinya yang mengendong kedua bayinya, dan ia kerepotan mengurus kedua bayinya, tanpa ia sadari dirinya memanggil nama Kiara dengan sebutan sayang.
"Sayang? Sahira nangis tuh! kayaknya haus deh." teriaknya membuat Devina menggerutkan keningnya.
Ini orang kenapa ya? siapa sayang? dan siapa Sahira? apakah Kak David sedang mengigau.
__ADS_1