Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Maafkan Mama


__ADS_3

"Tapi Mah, kalau mereka menikah yang menjadi wali nikahnya Kiara siapa?! mustahil dong kalau Papa? karena Papa bukan Papa kandungnya." terangnya lagi.


Rikha nampak berpikir sejenak ia memikirkan semua perkataan Joni barusan, apakah ia akan mencantumkan nama Ayah biologisnya Kiara sebagai wali nikahnya atau mencantumkan nama Joni sebagai hak wali nikahnya Kiara? terlukis jelas raut wajah Rikha yang memikirkan bagaimana caranya agar pernikahan Kiara dan David tetap berjalan mulus.


"Mah. Gak capek apa mondar-mandir seperti itu? sudah mirip setrikaan, bikin kepala Papa ikut pusing?!" timpal Joni yang melihat kelakuan Rikha.


Rikha berhenti di depan Joni dan menatap tajam kearah Joni dengan menyilangkan tanganya di atas perut.


"Kalau gak tahu bagaimana mencari solusi yang tepat jangan sok, diam saja!" tuding Rikha dengan senyum sinis.


Joni hanya bisa pasrah dengan sikap Rikha yang notabenenya keras kepala, percuma saja ia menasehati tak akan mempan juga. Sifat Rikha menurun kepada Andin yang sama-sama memiliki watak yang sama. Hanya Kiara lah anak yang begitu penurut tak banyak bicara apalagi penolakan terhadap kedua orang tuanya.


"Mah? seharusnya Mama harus memikirkannya terlebih dahulu sebelum bertindak. Bukankah setiap pernikahan harus ada hak walinya?" Joni berusaha menjelaskan semuanya agar tak jadi masalah nantinya.


Yang di dapat Joni bukan jawaban melainkan tatapan dinginnya Rikha yang menatapnya dengan tatapan tak suka.


"Bisa diam ngak! Mama juga lagi mikir Papa?!" ucapnya pelan penuh penekanan.


Joni lagi-lagi harus menghela nafas berat, sebenarnya ia sudah lelah menasehati Rikha agar mau jujur kepada Kiara siapa Papa kandungnya, dan memperlakukan Kiara sebagai mestinya. Joni mulai menyadari atas sikapnya terhadap Kiara yang keterlaluan.


Anak yang ia hina kan justru menjadi anak yang menolongnya dari kebangkrutan, Kiara ibarat sebuah berlian yang bisa menyinari siapa saja yang memakainya, walaupun berlian itu tertimbun lumpur sekalipun tidak akan pernah pudar padam dan akan terus bersinar terang menerangi setiap yang memakainya.


Joni berharap agar Andin bisa menjadi anak yang penurut dan berbakti seperti Kiara. Saking penurut nya membuat mereka mereka memanfaatkannya dan menjodohkannya dengan lelaki buta, mereka menukar Kiara kepada keluarga Xander, demi kepentingan pribadi khususnya Rikha yang tidak mau hidup susah.


"Mah, bagaimana kalau kita batalkan saja perjodohan ini," usul Joni dengan wajah seriusnya yang membuat Rikha membulatkan matanya dengan sempurna.

__ADS_1


"What! apa alasannya Papa bicara seperti itu? tidak?!" jerit Rikha dengan wajah bingung tak mengerti dengan jalan pikiran Joni bukankah Joni sendiri yang berniat untuk menjodohkannya.


"Jangan ngaco Pah! ingat! siapa yang duluan mau menjodohkan kiara dengan anaknya sahabat Mama, itu semua ide Papa kan. kenapa sekarang mendadak mau membatalka nya," ujarku untuk mengngigatkan padanya agar sadar dari Ucapanya. Membuat aku semakin kesal padanya ia sudah mematahkan semangat ku untuk menjadi orang kaya dan aku tak perduli dengan perasaannya Kiara.


Hati Rikha sudah di buta kan dengan kemilau harta dan kemewahan semata. Dimana letak hati seorang Ibu yang tega menukar kebahagian dirinya dengan penderitaan Kiara.


Ibu kandung lebih kejam daripada ibu kota Metropolitan.


Joni terdiam tanpa kata yang keluar dari mulutnya memang benar dirinya lah yang sudah memberikan ide tersebut. Ia bingung harus dengan cara apalagi membujuk Rikha agar mau membatalkan perjodohan ini. Walaupun Joni tahu akan jawaban dari Rikha yang keuhkeuh menjodohkan Kiara dengan David. Baginya Kiara adalah ATM berjalan yang harus menuruti keinginan Rikha dan Andin.


Joni sadar akan kekeliruannya dan kesalahan dalam mengambil keputusan yang justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


"Mama tahu solusinya gimana agar pernikahannya tetap berlangsung? Papa sekarang jangan ikut campur dalam ini. Biar Mama yang akan mengatasinya, Papa pokonya tahu beres." Rikha menjentikkan jarinya.


Rikha terdiam sesaat, mendengar perkataan Joni, ia pergi meninggalkan Joni yang tidur di ranjangnya. Rikha merenungi apa yang terjadi antara ia dan Kiara.


'Apakah selama ini aku terlalu jahat terhadap Kiara anak kandung ku sendiri? buliran bening mengalir di pipinya ia mengingat kejadian masa lalu dimana Rikha dan teman-temannya mengadakan reunian di saat itulah ia, di lecehkan oleh seorang pria yang dalam keadaan mabuk berat. Lelaki tersebut telah menodainya bila mengingat kejadian itu membuat dirinya semakin membenci Kiara.


Rikha sangat membenci lelaki itu, yang ternyata dia sahabatnya sendiri yang sudah lama menyukai Rikha. Namun Rikha menolaknya dengan kasar.


"Rikha aku mohon terima lah cintaku, aku tak bisa hidup tanpa kamu?!" Arkana memohon kepada Rikha agar cintanya di terima.


"Arka jangankan menerima cintamu! sekedar untuk berteman dengan mu aku tak sudi. Ingat derajat kita berbeda! kamu berani-beraninya mau melamar aku, apa kamu sanggup untuk mencukupi kebutuhan hidup ku?! hah! mana mungkin sanggup," tunjuknya tepat di wajah Arkana.


"Aku akan selalu memenuhi semua kebutuhan hidup kita, aku akan berkerja lebih semangat lagi."

__ADS_1


"Orang miskin seperti kamu mana sanggup, sudahlah aku muak melihat mu sekarang pergi sejauh-jauhnya dari hadapanku. Kamu pikir hidup cukup dengan melihat ketampanannya saja, aku akui kamu tampan dan sempurna tetapi tidak cukup dengan itu semua? hidup butuh uang! jadi jangan harap aku akan mau dengan kamu?" jawab Rikha dengan sombongnya.


Arkana yang mendengar perkataan Rikha yang selalu merendahkan dirinya , membuatnya marah dan ia bersumpah akan membalas sakit hati atas penghinaan terhadap nya.


"Ingat Rikha suatu saat kamu akan menyesal sudah menolak cintaku! dan ingat satu lagi aku akan membuktikan padamu aku akan lebih sukses dari kelurgamu! ingat baik-baik kata ku." geram Arkana dan pergi meninggalkan Rikha yang menatapnya dengan sinis.


Sebelum Arkana pergi Rikha berteriak memanggilnya.


"Arkana! aku tunggu semua perkataan kamu! dan pesanku untukmu jangan terlalu mengharap. Sampai kapan pun dan biarpun kau sukses aku tak sudi menerimanya?!" jawab Rikha dengan angkuhnya.


"Lihat saja suatu saat nanti aku akan kembali dan akan aku balas semuanya pada mu," sambut Arkana dengan senyum menyeringai licik.


Rikha masih hanyut dalam memikirkan ucapan Arkana yang bertahun-tahun lamanya. Kini ia mulai berpikir ulang untuk mengingat semuanya. Apa Arkana melakukan semuanya hanya semata-mata untuk balas dendam atas penolakannya terhadapku dan dia nekat memperkosaku? dan ia juga pernah bersumpah bahwa aku akan memohon kepada nya.


Ini semuanya bukan kesalahanku sepenuhnya? ini semuanya karena lelaki bajin*an itu yang sudah menodaiku, geram Rikha dengan mengepalkan tangannya.


Tak seharusnya juga aku menyiksa Kiara seperti ini bagaimana pun dia tetap anakku.


Sekarang keadaannya bagaimana, lebih baik aku lihat saja, ucapnya dalam hati dan melangkah menuju kamar Kiara.


Perlahan pintu kamar Kiara terbuka dan ia masuk ke dalam dan duduk di sampingnya Kiara di tatapnya wajah yang sembab masih tersisa jejak air matanya, di usapnya dengan pelan.


"Kamu itu anak yang penurut dan berbakti, semua yang kami mau kamu selalu melakukannya tanpa harus membantahnya, maafkan Mama yang sudah berbuat tidak adil padamu' mungkin dengan kamu menikah dengan David beban derita mu akan tergantikan oleh kebahagiaan, semoga kamu bahagia dengan kelurga barumu nanti. Doa Mama akan selalu menyertai kamu nak." Rikha terisak dengan cepat ia mengusap air matanya yang mulai mengalir deras agar tak terdengar oleh Kiara.


"Jadilah anak yang kuat. Maaf kan Mama yang pendosa ini. Suatu saat nanti kamu akan tau kebenarannya siapa kamu yang sebenarnya," lirih Rikha dengan mengecup keningnya Kiara dan berlalu keluar takut Kiara melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2