Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Bertemu Mantan


__ADS_3

Kini kami semua berada di restoran yang paling mewah. Nenek dan Kakek sengaja mengundang keluarga Xander untuk makan malam, kadang aku heran dengan keluarga ku sendiri masa hanya sekedar makan saja harus berpakaian serba mahal dan satu lagi perhiasan harus melekat di jari dan tangan.


Aku mengira menjadi orang kaya itu gampang ternyata menyusahkan sekali. Badan harus wangi, pakaian harus wah' tobat-tobat! rasanya aku ingin menangis bombai. Yang biasanya aku mandi dan dandan hanya memakan waktu lima belas menit, sekarang hampir memakan waktu dua jam lamanya membuat aku pusing tujuh keliling.


Kata Nenek itu karena belum terbiasa lama-lama juga biasa itu kata Nenek. Namun menurutku membosankan.


Makan yang di pesan kami datang dengan berbagai macam-macam makanan dari lokal maupun internasional.


"Wow! ini makanan kesukaan aku Nenek," ujar Devina dengan sumringah.


"Oh ya? kalau begitu kita makan dulu, setelah itu baru kita melanjutkan percakapan kita yang akan membicarakan tanggal pernikahan anak-anak kita," ucap Papa dengan menatapku dengan tatapan menggoda.


Aku melotot tajam ke arah Papa bisa-bisanya ia mengoda ku, amit-amit deh punya papa satu kelakuannya kayak kucing garong.


Kalian harus bersyukur mempunyai Papa yang pendiam tidak seperti Papa aku yang menyebalkan.


"Apaan sih pa?" rajuk ku kesal.


Sedangkan Mama Rita hanya tersenyum simpul melihat sikap kekanak-kanakan ku.


"Emm, gimana ya kalau Kia? punya anak pasti lucu dech!" kata Mama Rita dengan mendelikan matanya kearah David dan aku.


maksudnya apa coba Mama Rita juga ikut-ikutan nyebelin,umpatku mereka semua meledekku mereka kejam! tertawa di atas deritaku.


"Iya benar! Rita, lihatlah sebentar lagi mau menikah tetapi kelakuannya kayak bocah saja. Nanti kalau punya anak pasti menghebohkan jagat raya, yang cingeng anaknya apa Kiara ya?!" ledek Papa yang membenarkan jawaban Rita.


"David nanti kewalahan dengan manja Kiara dan anaknya mana dulu yang akan di gendong David seandainya dari salah satu dari mereka yang menagis?" jawab Kakek dengan terkekeh geli.


Wajahku terasa menghangat karena malu atas ledekan dari keluarga yang menyebalkan. Seandainya ada lubang semut di depanku mungkin aku akan masuk ke lubang semut itu segera, sayang lubangnya terlalu kecil untuk aku masuki nasib-nasib gini amat jadi calon manten selalu di ledek.


"Sudah! sudah! jangan ledekin Kia? kasia tuh, lihat wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Kalau di ledekin terus kapan kita makannya?" usul Kakek dengan senyum padaku.


'Arghhhh, kau sama saja Kakek suka meledek aku' batinku.

__ADS_1


Kami semua makan tanpa ada suara hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu.


selesai makan aku berpamitan pada semuanya untuk ke toilet.


"Nek, aku mau ke toilet sebentar," kataku dengan berlalu meninggalkan mereka semuanya.


Saat aku akan memasuki toilet tak sengaja bertemu dengan seorang wanita cantik dengan balutan dress selutut berwarna merah muda dan rambut sebahu yang hitam.


Wanita tersebut tersenyum manis padaku," mau ke toilet?" tanyanya lembut saking lembutnya hampir tak terdengar oleh ku.


"Iya," jawabku dengan membalas senyumannya.


Siapa wanita itu? dia cantik, gak sombong lagi. ujarku dengan senyum. Hemm, aku lupa gak kenalan sama dia siapa tau dia mau jadi istrinya Papa? eh jangan-jangan! masa aku punya Mama tiri yang umurnya gak jauh beda dengan aku? aku bermonolog sendiri.


Ting.


Suara pesan singkat masuk, aku merogoh tas selempang ku dan mengeluarkan ponsel ku tatap siapa yang mengirimkan pesan.


Terpampang jelas di layar ponsel ku bertuliskan manusia planet.


Ngapain juga nanya-nanya mau lama mau nggak! iss jadi orang nyebelin banget.


["Mau apa? sebentar lagi aku keluar!"] jawabku dengan menekan tombol dengan kasar.


Tak ada lagi montip masuk. Itu artinya manusia planet itu tau kalau aku marah.


Sebelum keluar dari toilet aku menghela nafas sebayak mungkin buat stok sewaktu-waktu aku dapat ledekan dari keluarga ku, aku sudah siap dengan menampung udara di tubuhku.


Dari kejauhan aku melihat wanita yang bertemu dengan ku tadi di depan toilet sedang bergelayut manja di lengan Mas David.


What! aku gak salah lihat kan, aku gak rabun kan! aku mengosok-gosok mataku siapa tau mataku bermasalah dengan penglihatan.


Enggak! mataku masih normal! itu beneran. Wanita itu bergelayut manja dengan senyum mengoda. Tiba-tiba hatiku mulai gregetan rasanya kepengen nabok tuh cewek, nemplok seperti cicak yang di tempelin diem saja keenakan kali ya, hatiku memanas ada rasa cemburu yang menyelinap masuk ke dalam hati ini. Tak terasa aku mengepalkan kedua tanganku rasanya aku ingin berlari dan memberikan bodem cap lima jari untuk wajah cantiknya sayang! aku gak punya keberanian untuk menghajar wanita itu.

__ADS_1


Benar kata Papa aku manja, cinggeng. Entah aku menuruni sifat sia'pa? sedangkan Mama ku sendiri sifatnya garang susah di atur Papa orangnya pendiam walau agak sedikit genit.


"Ehemm!" aku berdehem untuk memecahkan suasana hatiku yang tak karuan.


"Mbak," katanya dengan senyum.


"Hemm," jawabku dengan malas.


"Kenalkan namaku Vanya Salsabila," ucapnya dengan mengulurkan tangannya padaku.


Kepedean tingkat nasional siapa juga yang menayakan namanya, dasar sksd ( sok kenal sok dekat.) umpatku dengan memasang wajah tak suka padanya, tetapi bagaimana pun kita harus tetap menghormati orang lain.


"Hai? aku Kiara Putri anak yang paling baik," jawabku dengan bar-bar.


Mas David mengerutkan keningnya heran melihat sikap ku yang super jutek.


"Oh iya, kenalkan ini pacar aku," ucapnya dengan memperkenalkan Mas David sebagai pacarnya.


"Mantan!" protesnya dengan menatap Vanya tak suka.


"Kata siapa aku mantan Sayang? aku tetap kekasihmu sampai saat ini juga," Belanya dengan memposisikan dirinya sejajar dengan Mas David.


Glekk...


Aku menelan Saliva ku dengan susah payah karena melihat dadanya yang besar dengan sengaja Vanya gesekan pada lengan Mas David.


'Dasar wanita aneh! bisa-bisanya dia merendahkan diri dengan melakukan hal yang menjijikan itu' batinku dengan bergidik ngeri.


Masih ada wanita macam dia di dunia ini. Ternyata bukan di cerita novel saja, nyata pun ada ya, contohnya seperti ini.


"Mbak, kata Mas nya mantan! kenapa Mbak bilangnya pacar? kasian cantik-cantik kok mantan Mas ini," tunjukku pada Mas David.


Mas David mengerutkan keningnya lagi, membuat aku kesal.

__ADS_1


"Mas! gak capek apa itu kening di kerut-kerutkan," tanya ku yang mulai jengkel dengan dua manusia yang ada di depanku.


bukanya bilang kek! kalau aku calon istrinya atau tunangannya lah ini malah diem saja! apa lagi menikmati momen-momen romantis dia sama si Vanya ini? otak ku mulai traveling ke mana-mana, apakah Mas David masih mencintainya dan akan kembali lagi bersama Vanya? pikirannya sendiri melayang jauh memikirkan yang belum tentu benar.


__ADS_2