
"Sejak kapan baju-baju kamu ada di kamar aku? siapa yang kasih izin untuk memasykannya kedalam lemari," tanyaku dengan ketus.
"Oh, nenek yang membawakan koperku kekamar dan nenek juga yang menyimpannya di dalam lemari ini," ujarnya.
"Kenapa kamu gak suka," jawabanya sungguh luar biasa bikin aku gemes kepingin mencakar wajahnya, huh! lama-lama aku bisa mati berdiri, bila terus-terusan mengahadapi manusia salju ini.
"Iya! aku gak suka! masih nanya juga."
Setelah itu aku pergi meninggalkan dirinya di kamarku. Ia berteriak agar aku menunggunya namun aku abaikan teriakannya. Buat apa aku peduli toh, dia sudah tua bisa jalan sendiri tanpa harus dituntun layaknya seorang bocah yang baru belajar berjalan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11:30 WIB para tamu undangan sudah pulang hanya tersisa keluarga Xander dan Wijaya sedangkan keluarga Joni dan Bimo sudah pulang dari jam 10 han, mereka tidak pamit pada Kiara.
Menurut mereka semua Kiara sudah tidur makanya mereka berpamitan pada Arkana dan keluarga Xander saja.
'Kok, sepi. Pada kemana Mama dan Papa? apa mereka sudah pulang, kenapa tidak pamitan sama aku? Kiara bertanya pada diri sendiri.
Kiara menuju ke dapur untuk mengisi perutnya yang merasa lapar, semenjak siang dirinya hanya makan sedikit. Wajar dong bila cacing-cacingnya sudah menagihnya untuk meminta jatah makan. Karena jatah makan malamnya sudah terlewatkan.
"Mau kemana Sayang?" tanya Dewi dengan menahan senyum.
Ternyata semuanya ada disini, di ruang TV. Ruangan tersebut memang besar bisa menampung orang banyak mirip lapangan bola.
Kenapa semua orang menatap kearah ku, seakan-akan ada yang aneh pada ku.
"Kalian semua kenapa lihatin aku segitunya?!" tanyaku sambil terus berjalan menuju dapur.
"Kamu habis tempur?" jawab Reyhan yang membuat aku terkejut dengan jawaban Reyhan yang menyebalkan itu.
Aku mengernyit heran kok bisa-bisanya si Reyhan berkata seperti itu? boro-boro mau tempur, melihat dia yang berada di dalam kamar saja sudah membuat aku gereget. Apalagi harus begituan, hihihi mengerikan, batinku.
"Dasar sinting!" ketusku dengan memasang wajah garang.
"Sudah ketahuan masih saja ngeles." Papa Robinson menimpalinya dengan senyum mengoda.
Rasanya aku ingin pergi saja, dikamar aku diledekin Mas David, lah sekarang disini aku dibully.
Aku meminta penjelasan pada mereka namun semuanya hanya tersenyum meledek saling menatap satu sama lain.
"Kia, tunggu," seru Mas David dari arah belakang dan hampir menabrak aku yang masih mematung di depan pintu ruang TV tersebut.
Kini mereka semakin gencar mengoda kami berdua. Entah apa yang mereka tertawa kan.
Aku menatap diriku sendiri siapa tau ada yang salah dengan penampilan aku dan ternyata benar. Piyama yang aku pakai terbalik. Itu sebabnya mengapa mereka semua meledekku ternyata ini jawabnya.
"Hahahaha...." tawa mereka membahana di ruang TV itu.
"Ihh...!! Aku gak ngapa-ngapain," kesalku dengan menghentakan kakiku di lantai dan pergi menuju kamar ku.
__ADS_1
Tawa mereka masih terdengar didalam kamar ku.
BRAKK....
Aku membanting pintu kamar cukup keras membuat seisi rumah diam seketika.
Mas David rupanya mengikuti ku masuk ke kamar dan menguncinya.
"Ngapain juga dikunci!" seruku dengan menatapnya sinis.
Mas David tak menjawab pertanyaan ku, ia justru membaringkan tubuhnya di ranjang dengan wajah lelahnya.
"Aku sudah memanggil kamu untuk berhenti tapi kamu malah cuek dengan terus berjalan. Padahal aku mau bilang kalau piyama kamu terbalik," ucapnya dengan mata yang terpejam.
"Hah! jadi kamu tau kalau piyama aku kebalik? dan kenapa gak ngomong," tanyaku sambil menatap wajah nya.
Mas David hanya melempar senyum padaku.
"Iya."
"Jadi?! kamu gak buta. Kamu selama ini membohongi aku?!" tanyaku dengan sedikit berteriak membuatnya menutupi kedua telinganya.
"Sorry?!" jawabnya dengan enteng tanpa merasa bersalah sama sekali.
Aku mendaratkan tinju di perutnya membuat dirinya terkejut dan panik karena mendapatkan pukulan dariku.
"Enak banget kamu Mas. Sudah membohongiku dan sekarang kamu mau tidur disini? di ranjangku? apa kamu gak punya rasa malu sedikit!" bentak ku dengan menatap tajam kearah nya. Aku tak perduli dia mau ngomong apa. Yang penting dia harus pindah dari ranjang ku, mau tidur dimana saja terserah.
Mas David menatap wajah ku dengan tajam,kilatan cahaya kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa mungkin masih di sini jadi gak enak kalau mereka pada tau keributan yang tercipta oleh kami berdua.
Mau tak mau akhirnya ia mengalah dan beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju sofa.
Ku tatap punggungnya, rasa bersalah mulai menyelinap di rongga dada ku. Inikan semuanya kesalahan dirinya kenapa aku yang merasa bersalah. Aku berusaha menenangkan pikiran ku sendiri.
DUAR....
Suara petir begitu bergemuruh dan hujan pun turun begitu derasnya, membuat aku terkejut dan takut. Dengan apapun aku tidak takut, hanya dengan suara petir saja yang menakutkan karena suaranya yang begitu menyeramkan di tambah lagi dengan mati lampu lengkap sudah penderitaan kiara malam ini.
"NENEK!" Kiara berteriak minta tolong kepada neneknya padahal di situ ada suaminya David.
David yang mendengar suara teriakan Kiara dengan cepat ia bangun dari tidurnya dan mencari ponselnya untuk menghidupkan baterai. Setelah mendapatkan ponselnya ia menghampiri Kiara yang sedang memeluk lututnya kedua tangannya.
"Mas. Aku takut petir," ucapnya dengan terisak-isak.
"Jangan takut, ada aku disini untukmu." David memeluk tubuh Kiara membuat si empunya mempererat pelukannya pada David.
DUAR...
__ADS_1
Sambaran petir semakin mengelegar, angin kencang yang sekali membuat gorden kamar pun berterbangan.
"Mau kemana Mas, jangan pergi aku takut."
"Aku tak akan pergi, aku hanya mau mencari lilin saja," timpal David. Namun tubuhnya di tahan oleh Kiara agar jangan pergi walau sedetik pun.
"Diam disini. Aku hanya sebentar saja lagian lilin pastia dan di laci nakas bukan?"
"Aku ikut," renggeknya.
Apakah Kiara lupa kalau dirinya tak mau dekat-dekat dengan David? lah kok, sekarang dia yang merengek minta ditemenin.
"Oke? mau jalan apa aku gendong," tawar David dengan senyum menyeringai licik, sempat-sempat nya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kapan lagi David bisa memeluk tubuh Kiara dengan sepuasnya, seharusnya David bersyukur atas adanya hujan, petir dan mati lampu. Coba tiap malam hujan petir nya pasti dia menang banyak hahaha, batin David bersorak gembira karena malam ini dirinya mendapatkan selimut kulit.
Sambaran petir terus mengelegar menghiasi malam ini. Sambaran petir dan suara Kiara saling bersahutan membuat kuping David pengeng juga, ditambah lagi dirinya yang susah berjalan karena Kiara.
Perjuangkan David untuk mencari lilin pun berhasil, dengan segera ia menyalakan lilin tersebut dan ruangan tersebut terang walau tak seterang lampu listrik.
"Mau sampai kapan kamu begini?" tanya David membuat Kiara tersadar atas kelakuannya yang memeluk erat tubuh David. Dengan cepat ia melerai pelukannya.
"Apaan sih Mas," jawabnya dengan wajah yang memerah menahan malu.
"Kenapa di lepas pelukannya?"
"Huh! jangan Geer deh. Tadi itu aku reflek meluk kamu karena ada petir! gak ada maksud lain," kilahnya lagi dengan membuang muka.
'Sudah nyata dia sendiri yang memelukku, dia sendiri tidak mau mengakuinya, tapi aku suka dengan kamu seperti ini.' Ucap David dalam hati.
David pun beranjak ingin melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh teriakan Kiara.
"Mau kemana?"
"Tidur."
"Tidurnya di sini? aku takut kalau petir nya datang lagi," tawarnya dengan tatapan memohon.
Terlintas dipikiran David ini kesempatan yang tak boleh di tolak lagi. Dirinya tersenyum tipis ia berniatan untuk mengerjai Kiara dengan berpura-pura menolaknya untuk tidur di ranjangnya.
"Aku lebih baik tidur di sofa saja. Sepertinya lebih nyaman," ucapnya singkat dan beranjak dari duduknya.
Saat David hendak melangkah tangannya di tahan oleh Kiara.
"Jangan tinggalin aku? buat yang tadi aku minta maaf," ucapnya lagi dengan berkaca-kaca. Jujur saja dirinya memang takut dengan suara petir.
"Jadi?! aku boleh tidur bersama kamu? dan bolehkah aku memelukmu?!" pertanyaan David membuat Kiara gelagapan.
Bila ia menolaknya maka David akan tidur di sofa dan dirinya akan sendirian terus bila ada petir datang tiba-tiba gimana? itulah kira-kira yang ada di benaknya Kiara.
__ADS_1