Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Kemarahan Vanya


__ADS_3

"Bro, Lo sudah mendapatkan orangnya," tanya David dengan nada dingin.


Andrew anggukan kepala nya, ia menyodorkan ponselnya pada David dan betapa terkejutnya siapa yang telah melakukan perbuatan-perbuatan itu.


"Jadi dia pelakunya," geram David dengan mengepalkan tangannya.


"Siapa Mas." Kiara bertanya pada David.


"Wanita ini yang sudah membuat kamu seperti cacing kepanasan," ujarnya dengan senyum mengoda membuat Kiara tersipu malu.


"Drew maksud Vanya apa ya, gue gak habis pikir untuk apa ia melakukannya?" cicitnya lagi dengan berusaha berpikir keras.


Untuk apa Vanya melakukan semau itu? atau ia sengaja mau ngejebak gue, batin David.


"Menurut gue sih. Dia melakukan semua ini demi bisa mendapatkan elo!" tunjuk Andrew pada David.


"Walaupun itu minumannya buat gue, tetep gue ngelakuinnya sama Kia dong, masa sama dia? apa dia gak mikir kesana. Kan gue datangnya sama istri gue kecuali sendiri," imbuhnya lagi.


"Ya mungkin kalau elo yang meminumnya, terus si Vanya nyulik elo. Terus elo diperkosa," jawab Andrew asal ngucap.


"Atas kejadian ini kalian bisa belah duren tanpa ada halangan dan rintangan iya kan. Kalau dirumah mertua pasti ada malunya plus di gangguin Mulu sama tetangga kamar kalian berdua kan, hayo ngaku," desak Andrew membuat Kiara malu setengah mati atas sindiran pedas dari Andrew setidaknya hati Kiara tercubit sedikit atas sindirannya.


"Macam peramal saja. Sok tau! tapi ada benarnya juga," imbuh David dengan menatap wajah Kiara yang bersemu merah karena malu senyuman David yang menawan bak panah asmara yang menembus jantungnya Kiara.


Sekarang aja Kiara klepek-klepek melihat senyuman mautnya David, hello.... dulu-dulu kemana saja Neng, baru nyadar dia.


"Kalian berdua kalau bertemu dengan Vanya mau di apakan," tanya Andrew.


"Aku akan mengucapkan terima kasih atas bantuannya, berkat dia tembakan gue masuk tanpa hambatan apapun," celetuk David membuat Kiara mendaratkan cubitan kepitingnya di perut nya.


"AW! sakit Sayang? kenapa sih cewek kalau malu pasti suaminya yang kena sasaran cubitan kepitingnya," keluhnya dengan mengusap perutnya yang sakit bekas cubitan dari Kiara.


"Mas, ngapain sih ngomong seperti itu sama Dokter Andrew? kan malu. Itu masalah pribadi kita gak baik harus semua orang tau?" terang Kiara dengan manyun.


"Drew, kalau cari istri jangan yang umurnya dibawah kita, lihat kelakuannya kayak gitu kayak anak kecil," bisiknya namun masih terdengar oleh Kiara.


"MAS!" seru Kiara dengan menghentak hentakan kaki nya di lantai.


"Hehehe maaf," David nyengir kuda dengan mengangkat dua jarinya dengan huruf V.


Setelah tau semuanya siapa pelakunya, David dan Kiara pamit untuk pulang.


"Dok. Kita berdua pamit pulang. Salam sama Tante Mira ya Dok," ucap Kiara dengan senyum.

__ADS_1


"Baik nanti aku sampaikan salam sama Mama. Kalian hati-hati dijalan," jawab Andrew.


****


Didalam mobil.


Tak ada suara dari keduanya mereka saling diam. Ada apa dengan mereka? atau mereka kelelahan kali ya? sampai-sampai tak mampu bicara lagi.


"Kok malah diam-diaman seperti bermusuhan saja," cetus David yang berusaha mencairkan suasana canggung.


"Ihhh. GEER. Aku lagi mikirin si ulet keket tau?!"


"Ngapain juga harus mikirin dia, mendingan mikirin buat ntar malam. Kita mau pake gaya apa dalam bermain lagi."


"Nyebelin! Nyebelin." Kiara memukul lengan kekarnya David.


"Isi kepala kamu itu Mas sudah dipenuhi dengan berbagai macam pikiran jorok."


"Biarin aja. Yang aku godain, yang aku rayu bini sendiri, asal jangan bini orang lah."


"Coba saja kalau berani! nanti aku kasih bodem cap lima jari di wajah mu Mas," ancamku dengan mengepalkan tangan ku tepat di wajahnya membuat dirinya merinding.


"Gak ah! takut. Cukup dirimu saja yang menjadi ratuku dihari dan di ranjang." Mas David mengedipkan sebelah matanya pada ku.


Aku tersenyum manis padanya,"benarkah aku satu-satunya wanita yang menjadi ratu di hatimu dan di ranjang?" aku bertanya lagi untuk memastikan jawabannya mas David namun aku tak menemukan tanda-tanda kebohongan darinya kedua matanya, hanya ada ketulusan cinta mas David untukku seorang.


"Iya sayangnya Mas." Mas David mengecup pucuk rambutku.


Ini buah kesabaran ku untuk mendapatkan ketulusan cinta mas David. Akhirnya aku mempercayai cintanya yang tak akan pernah berubah.


Aku percaya kamu mas, hidup dan matiku hanya denganmu, ucapku dalam hati.


 


Dikediaman Vanya.


Dalam keputusasaan Vanya menghancurkan semua yang ada di dalam kamarnya.


Prang....


Prang....


Semua benda yang berada di dalam semuanya' hancur berkeping-keping tanpa ada yang lolos dari amukannya.

__ADS_1


Tama Rahardian yang mendengar kegaduhan yang terdengar dari arah kamar Vanya langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya Vanya.


Tama langsung masuk tanpa mengetuk pintunya dikarenakan sudah terbuka lebar.


"Vanya?! kamu kenapa nak, pulang-pulang mukanya bete dan semua benda yang ada di sini kamu hancurkan? cerita sama Papa ada apa?!" tanya Tama dengan suara lembut.


"Pah...hiks...hiks...." Vanya menangis dan memeluk erat Tama.


"Cerita kan ada apa Vanya?" Tama melerai pelukannya dan menatap wajah Vanya yang sembab karna terlalu banyak menangis.


"Pah. Aku mau mas David." jawabnya membuat Tama terkejut dengan ucapan putri semata wayangnya itu.


"Maksudnya David menantunya pak Arkana?"


Vanya anggukan kepala,"iya Pah, Kiara sudah mengambil mas David dariku! aku gak rela melihat dia bahagia di atas deritaku. Dia harus menerima pembalasannya Pah. Papa mau membantu aku kan?"


"Pasti Papa akan membantu mu, tapi bantuan apa yang harus Papa lakukan."


"Hancurkan perusahaan papanya," ucapnya lantang dengan gemuruh napas yang memburu menahan amarahnya.


Tama mengeleng cepat. Dirinya tak mungkin melakukan semua itu.


"Kenapa Pah! bukanya Papa akan membantu aku bukan?"


"Papa gak bisa Sayang?"


"Apa alasannya Papa menolak keinginan aku? anakmu Pah!" Hardiknya dengan tatapan tajam ada kilatan cahaya kemarahan terlihat jelas.


"Karena perusahaan kakeknya Kiara, sudah menanam saham di perusahaan kita cukup besar bahkan bisa dikatakan seratus persen. Perusahaan besar yang dimana kita tidak bisa menghancurkannya Vanya? ingat! perusahaan kita ada di genggaman tangannya Wijaya kakek Kiara," tutur Tama membuat Vanya terkejut lemas mendengar penuturan dari Papa nya ia duduk dengan tubuh bergetar hebat.


"Sudahlah Nak, lupakan David. Masih banyak pria yang tampan darinya. Jika kamu masih ngotot mau David kembali kepelukan mu Papa rasa gak mungkin. Itu sama saja kita bunuh diri, kita tak bisa melawan mereka, karena mereka orang yang berkuasa." Tama menjelaskannya secara pelan-pelan agar Vanya mengerti dengan keadaan.


"Aku masih mencintainya Pah."


"Kalau kamu masih mencintainya kenapa kalian bisa putus?!"


Vanya terdiam tak bisa menjawab pertanyaan dari papanya.


"Kok diam. Apa kamu yang sudah meninggalkan dia?!"


Vanya hanya anggukan kepala.


"Itu yang salah kamu sendiri? kenapa harus pergi meninggalkan dirinya bila kamu menginginkannya lagi? sudah lupakan David. Papa janji akan mencarikan jodoh untuk kamu."

__ADS_1


"Aku memang salah Pah, tetapi aku juga gak bisa dan gak rela melihat mereka berdua bahagia, aku akan mencari cara agar bisa memisahkan mereka," ancamnya membuat Tama geleng-geleng kepala.


"Kalau ada apa-apa jangan sampai bawa-bawa nama Papa, karena Papa sudah menasehati kamu," jelas Tama dengan beranjak keluar meninggalkan vanya yang duduk di tepi ranjang.


__ADS_2