
Aku dan mas David kini berada di pusat perbelanjaan kami berdua mencari sesuatu yang penting untuk aku, yaitu mencari dalam*n ku yang sudah sempit semua.
"Sudah banyak belum." Tanya Mas David dengan senyum lebarnya.
"Sudah, Mas," tunjukku pada keranjang yang kukira sudah lebih dari cukup,"aku laper mau makan." Renggekku manja emang benar aku sangat lapar sekali, padahal sebelum berangkat aku sudah sarapan cukup banyak. Mas David geleng-geleng kepala tak percaya dengan ucapan ku kalau aku lapar.
"Sayang? bukanya tadi sudah sarapan?"
Ku anggukan kepala,"Iya Mas. Kan itu tadi, sekarang sudah laper lagi."
Kami berdua memutuskan untuk mencari tempat makan yang tak terlalu jauh dari tempat kami berbelanja.
"Mas, itu ada makanan yang enak deh," tunjukku pada sebuah makanan yang menggugah selera makanku.
"Ayok."
Saat aku akan duduk di meja sekilas aku melihat Reyhan dan Devina, bukan mereka berdua saja melainkan ada Mama Rikha dan papa Joni, papa mamanya mas David dan Tante Rikhe dan Bimo. Aku mengerutkan kening ini ada acara apa ya, semua pada kumpul di sini? apa kebetulan saja, batinku.
"Mas, lihat deh disana? bukankah itu keluarga kita?" aku menunjuk ke arah mereka yang sedang tertawa lepas.
"Iya betul, kira-kira ada apa ya, kok kita gak diajak," jawab mas David.
"Ya udah, kita samperin aja mereka?" usulku pada Mas David dan di anggukan kepala oleh nya.
"Yang, bukannya tadi bilang lapar?" tanya mas David dengan mengengam erat tanganku.
"Kita makannya gabung mereka aja."
"Mama!" teriakku dengan merentangkan kedua tanganku untuk memeluk mama.
Mama menoleh kebelakang dan ia berdiri dan berteriak.
"Kiara?!" serunya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah mendekat aku langsung memeluknya erat. Setelah menikah aku jarang pulang tuk sekedar bertemu dengan Mama dan Papa. Bisa di bilang aku gak pernah menjenguknya.
"Papa Kia kangensamakalian?!" manjaku dengan senyum mengembang, papa pun memelukku erat dan mencolek hidungku.
"Kalau sudah punya teman tidur? kami semua dilupakan," ledek Papa membuat aku tersipu malu dengan ucapnya.
"Bukan begitu Pah? aku sibuk." Kilahku berusaha untuk memberikan jawaban yang tepat.
"Betul Om, apa yang dikatakan Kiara mereka berdua sedang sibuk. Sibuknya ltu adalah mendownload cucu buat kalian," kekeh Reyhan refleks aku meninju lengan Reyhan membuat ia meringis pura-pura kesakitan.
"Rey. Ngomong apaan sih!" ketus Kiara cemberut kesal dengan ucapan Reyhan.
"Kia? gak kangen nih sama Mama dan Papa? sampai kami berdua dicuekin, ya Pah," sindir Mama Rita yang di anggukan kepala oleh papa Robinson.
"Kangen semuanya," jawab Kiara dengan memeluk Rita.
Setelah puas cipika-cipiki semuanya akhirnya Kiara fan David ikut bergabung dengan mereka.
"Ma, pa, ada acara apa ya' kok kami gak diajak." David mengehala napasnya.
"Adik mu loh, mereka berdua akan menikah," terang Mama membuat aku terkejut dan membulatkan kedua bola mataku dengan sempurna.
"urusan yang serius aku gak di ajak kompromi? apakah kalian tak menganggap kami sebagai anak kalian?" geram David dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
"Kakak. Aku sudah memberi tahu Kakak lewat WA tapi kakak gak membalasnya," Ujar Devina.
David mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan mengeluarkan ponselnya untuk mengecek apakah benar yang dikatakan Devina bahwa dirinya sudah mengirimkan pesan singkat pada David.
"Adakan? jadi disini siapa yang salah." Ejek Devina dengan acuh.
"Kakak gak lihat ada pesan darimu Dek." Bela David dengan nyengir kuda.
"Ngomong-ngomong kalian habis belanja apa?" tanya Rikha dengan senyum hangatnya.
Kiara tersenyum bahagia karena mamanya sudah berubah menjadi sayang padanya, Kiara merindukan kehangatan dari sang Mama.
"Hmm, ini Mah, aku habis beli dalam*n soalnya udah pada sempit. Padahal aku gak gemuk," ucap Kiara lesu.
Rita menelisik tubuhKiara dari atas sampai bawah, tak lama Rita menautkan kedua alisnya memang ia melihat sekilas tentang perubahan pada Kiara.
"Kiara? kayaknya kamu gemukan deh. Kayak ada yang beda sama kamu, benar gak sih jeng Rikha?" Mama Rita bertanya pada Mama Rikha.
"Eh iya. Lihat bagian dadanya agak sedikit berbeda dan pinggang nya mulai melebar." Jawab mama mengiyakan jawaban dari mama Rita.
"Jangan-jangan kamu hamil sayang?!" ucap mereka serempak membuat para pengunjung menatap heran atas kelakuan keluargaku apalagi trio papa tersenyum sumringah.
"Jeng? kita sebentar lagi akan menjadi nenek. Dan kalian para Trio Papa akan menjadi kakek." Kehebohan yang terjadi pada keluarga ku membuat aku semakin heran.
Apa. Cucu? aku kan gak hamil? kenapa mereka bisa menyimpulkan kalau aku hamil? sudah macam peramal saja, batinku.
"Mama ku, papaaku? belum tentu aku hamil?! kan aku belum memeriksakan diri ke dokter?!" ucapku dengan penuh penekanan.
"Ya sekarang saja kita kedokternya? ramean biar tau?!" celetuk Reyhan yang di anggukan oleh Devina.
Semuanya menjawab pertanyaan dengan kompak.
"Gimana mau?!" bisik Mas David.
"Mas. Kan belum tentu aku hamil?!" jawabku pelan.
"Apa salahnya? Apa kamu keberatan." Timpalnya lagi dengan memasang wajah memohon.
"Iya Mas aku mau, tetapi bila dokter mengatakan bahwa aku tak hamil kalian semua jangan kecewa dengan ku," jawabku dengan gugup takutnya aku benar-benar tidak hamil, itu tandanya aku akan membuat mereka semua kecewa.
"Mama yakin seribu persen kalau kamu hamil."
Jawab Rita dengan antusias kegirangan.
******
Kini keluarga Xander maupun Joni semuanya sudah tak sabar ingin mendengar kebenaran tentang kehamilan Kiara. Setelah David mendaftarkan nama Kiara ia pun duduk di sampingnya Kiara.
"Mas, aku takut kalau nantinya hasilnya tidak sesuai keinginan kita," ucap Kiara dengan tubuh bergetar. David menggenggam erat tangannya untuk memberi ketenangan pada Kiara.
"Positif tingking saja. Kita berdo'a semoga kamu benar-benar hamil." Mas David tersenyum dan mengelus perutku yang rata.
"Bu Kiara Putri," panggil suster.
"Iya Sus," jawabku dengan berdiri dan berjalan mengikutinya untuk masuk ke dalam.
Sampai dalam aku di sambut dengan senyum manis dari Dokter cantik.
__ADS_1
"Silahkan duduk Bu, Pak." Ucapnya dengan mempersilahkan kami duduk, aku kira Mas David tak ikut masuk ternyata ia mengikutinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter cantik ini.
"Gini Dok, akhir-akhir ini saya merasakan sesuatu yang agak berbeda dengan badan saya?" aku menjelaskan semuanya tentang ada pada dengan tubuh ku.
"Ciri-cirinya mirip seperti orang hamil? tetapi kalau masih ragu, Ibu bisa melakukan tespek biar kita bisa melihat jelas dari hasilnya," usul Dokter Aliana yang aku tau namanya dari tag seragamnya.
Akhirnya aku masuk ke kamar mandi untuk melakukan tes kehamilan.
Mas David mengetuk pintu dengan pelan namun berkali-kali.
"Sabar dong Mas? bentar lagi," seruku dari dalam kamar mandi.
"Bagaimana hasilnya," jawabnya dari luar.
Jadi orang gak sabaran banget sih, gerutuku kesal. Gak tau apa kalau aku juga sedang menunggu dua garis itu agar cepat berubah menjadi merah. Aku mondar-mandir tak karuan sambil melihat ke arah tespek yang malu-malu belum juga mengeluarkan garis merah.
Ketukan pintu semakin kuat. Tandanya mas David juga tak sabar untuk melihat hasilnya.
Akhirnya, gumamku dengan tersenyum dan mengelus perutku. Ternyata kamu hadir di perutnya Mama Nak, terimakasih mama bahagia, lihat papa mu yang sudah gak sabar pengen liat kamu lahir ke dunia ini Nak. Berulang-ulang aku mengelus perutku yang masih rata.
Ceklek...pintu terbuka dan Mas David sudah menunggu dengan wajah tegang.
"Hasilnya positif gak?!" tanyanya dengan nada ingin taunya.
"Tara?!" aku menunjukan benda kecil tersebut dengan cepat Mas David menyambar benda tersebut dan ia membelalakkan kedua matanya dengan ekspresi wajah bahagia nya.
Mas David mengendong ku dengan berteriak.
"Yes! aku akan menjadi seorang Papa," teriaknya sambil memutar-mutar tubuh ku.
Dokter Aliana memberikan selamat pada kami berdua atas kehamilan ku yang baru berusia empat Minggu.
Kami berdua keluar dari ruangan Dokter a Aliana ternyata Kakek dan nenek beserta Papa ada di sini semua.
"Bagaimana hasilnya Sayang?!" jawab Mama kami serempak.
"Hmm, kasih tau gak ya?!" canda Mas David membuat semuanya menjadi tegang.
"Buruan kasih tau sama kami? jangan main tebak-tebakan gak lucu. Kami semua ini orang tua," ketus Mama dengan suara kesal.
"Mas. Jangan bercanda ah, kasih tau sekarang aja," timpalku dengan senyum mengembang.
"Kalian semua akan menjadi ka-kakek, nenek, Kakek,nenek buyut, kalian berdua akan menjadi Om dan Tante," tunjuk mas David pada Reyhan dan Devina.
Keluarga besar ku begitu bahagia sekali karena akan menyambut kehadiran calon cucunya yang mereka dambakan.
*****
Untuk para readers ku yang sudah setia menemani aku sampai ceritanya Kiara dan David tamat.
Author ucapkan beribu-ribu terimakasih atas dukungan kalian semua sangat berarti bagi author. Bila ada kesalahan dalam penulisan karya dan PEUBI mohon maaf, karena Author nya pemula.
Sekali lagi author ucapan selamat tahun baru dan jaga kesehatan kalian.
Semoga kita semua dalam perlindungan Allah SWT Aminn 🤲🤲
__ADS_1