
Joni memapah Kiara ke kamarnya dan mendudukkannya di tepian ranjang. Di usapnya air mata yang masih membasahi kedua pipinya matanya yang sembab membuat hati Joni merasa bersalah atas sikap Rikha pada Kiara.
"Sudah Nak, jangan menangis maafkan Mama mu?" ucapnya dengan pelan dan menatap wajah Kiara yang masih sesenggukan.
"Pah? salah aku apa? mengapa Mama membenciku dan kemaren aku gak pulang karena aku dapat musibah sehingga masuk rumah sakit?" terang Kiara dengan Isak tangisnya.
Joni yang mendengar perkataan Kiara terkejut. Dia Papa macam apa yang anaknya tak pulang tapi tak merasa khawatir dan tak pernah ingin mencarinya.
"Kamu tidak salah Sayang? mungkin Mama mu lagi banyak pikiran, sudah ya jangan terlalu di pikirkan lebih baik kamu istirahat saja dan kamu dapat musibah apa? coba ceritakan pada papa?" pintanya dengan melihat ke arah perut Kiara.
"Aku tertusuk pisau Pah," lirihnya dengan berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan bukan sekedar sakit bekas tusukan tapi hatinya juga Mama nya begitu tega mencacinya dengan kejamnya.
"Siapa yang melakukannya?" jawab Joni dengan cemas dan panik. Kiara tersenyum dan mengeleng pelan.
"Aku tidak tahu Pah, tapi mereka sekelompok begal. Mereka membegal kami di saat aku akan pergi ke panti asuhan untuk mengantarkan uang dari Mama Rita untuk anak panti." terang Kiara nampak jelas di raut wajah Joni yang begitu mencemaskan keadaan Kiara, di tatap wajah Kiara penuh dengan rasa bersalahnya.
'maafkan Papa Kiara, tak seharusnya Papa melakukan ini? seandainya kamu tak lahir mungkin kamu tidak akan menderita seperti sekarang ini. Andaikan aku biarkan Rikha menggugurkan kandungannya dulu semuanya tak akan pernah terjadi maafkan aku Nak' Joni menangis dalam diam, ia rasakan sesak nyeri di dadanya tak kala melihat penderitaan Kiara.
Kiara menatap wajah Joni bingung, hatinya mulai bertanya-tanya dengan sikap Joni. Biasanya kalau Rikha memarahinya maka Joni pun akan ikut memarahinya juga. Akan tetapi hari ini justru dirinya di bela Papa nya.
"Pah Kiara boleh menanyakan perihal tentang siapa aku yang sebenarnya?" tanya Kiara dengan hati-hati takutnya nanti Joni tersinggung atas Ucapanya.
__ADS_1
Joni menatap Kiara dengan senyuman hangat.
di belainya pipi Kiara penuh kasih sayang terlihat jelas di wajah Joni yang menyesali perbuatannya dahulu yang selalu menghinanya bahkan Kiara di anggapnya sebagai seorang pembantu. Di raihnya tangan Kiara dan mencium punggung tangannya berkali-kali hanya kata maaf yang keluar dari mulut Joni.
"Kamu mau tanya apa?" ucapnya lembut. Kiara yang di perlakukan seperti itu membuat dirinya terharu dan meneteskan air matanya karena Kiara merindukan sosok figur seorang Ayah yang sempat hilang, dan kini sikap ke Ayahan seorang Joni datang kembali, untuk menghiasi hari-harinya yang suram, Kiara memeluk tubuh Joni yang tak muda lagi. Membuat Joni terkejut dengan sikap manja Kiara, yang selama ini tak pernah di tunjukan Kiara padanya.
"Apakah aku bukan anak kandungnya Papa dan Mama?" pertanyaan Kiara membuat hati Joni merasa sakit mendengar ucapan Kiara. Dirinya tidak bisa di pungkiri bahwa Kiara memang bukan anaknya melainkan anak orang lain.
"Kamu anak Mama dan Papa? apa kamu meragukan kami berdua?" ujar Joni yang duduk di samping ranjang Kiara.
Kiara menggeleng cepat," aku tidak meragukan Papa dan Mama, tapi sikap Mama menunjukan kebencian terhadap aku Pah. Aku hanya ingin memastikan ucapnya Mama bahwa aku anak pembawa sial bagi Mama dan Papa?" racau nya.
"Tidak kamu anak Papa dengan Mama? jangan ragukan lagi ya?" pinta Joni dan di anggukan oleh Kiara. Joni meraih tubuh Kiara dalam pelukannya," jangan menangis maafkan Mama mu lebih baik kamu tidur biar lukanya cepat sembuh."
Joni menatap wajah Kiara yang sembab habis menangis, ia biarkan Kiara untuk istirahat dan menenangkan pikiran nya. Perlahan ia meninggalkan kamar Kiara.
Sedangkan di kamar Rikha masih uring-uringan setiap benda yang berada di kamarnya semuanya hancur. Ia luapkan amarahnya dengan membabi-buta.
Arghhhh.....
Arghhhh.....
__ADS_1
Prang....
Prang....
Suara teriakan dari kamarnya membuat Joni terkejut dan berlari menuju kamar Rikha untuk melihat keadaan Rikha. Setelah masuk alangkah terkejutnya melihat barang-barang sudah berserakan di lantai sudah seperti kapal pecah.
"Ma, Mama kenapa sih? lihat kelakuan Mama kamar sudah seperti kapal pecah saja!" cicit Joni yang menghampirinya.
Rikha menatap tajam kearah Joni yang duduk di sampingnya.
"Untuk apa kamu datang ke sini! kenapa kamu tidak menemani anak si*llan itu!" geram Rikha dengan tatapan tak suka dengan keberadaan Joni.
"Hentikan Mah! tak sepantasnya bicara seperti itu tentang Kiara? dia anak kandung mu bukan anak si*l! camkan baik-baik," jawab Joni dengan menenangkan Rikha.
" Bela terus. Aku ingin cepat-cepat dia Keluar dari rumah kita! Mama harus bicarakan lagi dengan Jeng Rita agar di percepat pernikahannya," ujarnya dengan menyunggingkan senyum.
"Mah jangan terburu buru juga, nanti mereka curiga sama kita," terang Joni.
"Biar Mama saja yang urus? Papa diam saja." pinta Rikha dan di anggukan oleh Joni percuma saja debat dengan Rikha hanya akan membuang-buang waktu saja pikir Joni.
"Tapi Mah, kalau mereka menikah yang menjadi wali nikahnya Kiara siapa?! mustahil dong kalau Papa? karena Papa bukan Papa kandungnya." terangnya lagi.
__ADS_1
Rikha nampak berpikir sejenak ia memikirkan semua perkataan Joni barusan, apakah ia akan mencantumkan nama Ayah biologisnya Kiara sebagai wali nikahnya atau mencantumkan nama Joni sebagai hak wali nikahnya Kiara?