
"Arka? sudah satu minggu Kiara gak pulang ke rumah?! apa dia dilarang mamanya untuk kembali lagi ke sini?" tanya Dewi dengan khawatir.
"Kalau Rikha bermacam-macam dengan ku? lihat saja! apa yang akan aku lakukan padanya."
"Kadang aku heran sama Kiara, sudah aku kasih kebebasan untuk bertemu mamanya? tetapi dia tidak memanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan kan menelpon sms pun tak ada," Arkana mendengus kesal terhadap Kiara yang tidak memberikan kabar keberadaan dirinya.
"Ibu kangen sama Kiara, baru di tinggal satu minggu saja ibu sudah kangen saja," ujarnya dengan wajah lesu.
"Nanti Arkana' akan menelpon Rikha bila benar dia sudah berani melarang Kia pulang ke rumah ini. Dia akan tau akibatnya," geram Arkana dengan mengepalkan tangannya.
"Ibu sebenarnya tidak pernah melarang Kia untuk tinggal bersama mamanya, bagaimana pun Rikha berhak atas Kia." Dewi memberikan pengertian kepada Arkana agar jangan terlalu mengekang kebebasan untuk Kiara.
"Tapi Bu? Rikha sudah melantarkan Kia sejak kecil."
"Kalau kamu masih mengingat-ingat kembali masa lalu, itu akan menjadi penyakit untuk kamu selamanya dan justru membuat hatimu di kuasai dendam yang tak berujung," timpal Wijaya mengingatkan pada Arkana agar jangan berlarut-larut karena dendamnya pada Rikha.
"Bu? kenapa dengan mu? sedari tadi Ayah lihat ibu selalu gelisah, ada apa. Coba katakan sama kita," tanya Wijaya heran karena dia selalu memperhatikan istrinya yang gelisah.
"Emm, itu yah, ibu gelisah karena memikirkan Kia, ibu merasa Kia tidak pulang ke rumah mamanya?" jawaban Dewi membuat suami dan anak nya menjadi heran.
"Maksud Ibu?!" jawab keduanya serempak.
Dewi hanya tersenyum simpul dengan rasa bersalahnya ia mengatakan bahwa dirinya sudah memasang JPS di kalung berlian milik Kiara tanpa sepengetahuan Wijaya dan Arkana. Keduanya pun saling menatap wajah Dewi.
"Kenapa gak dari tadi ibu bilang?! kan aku gak jadi khawatir," kesal Arkana bukannya dari tadi ibunya mengatakannya.
"Sekarang lokasi Kiara betada di mana Bu?" tanya Wijaya pada Dewi.
Dewi hanya mengeleng,"Ibu gak tau yah, sepertinya Kia berada di suatu tempat yang ibu tak tau keberadaan dirinya," jawab Dewi dengan wajah bersalah karena sudah merahasiakan semuanya dari mereka berdua.
"Coba Arkana' lihat ponsel Ibu?!" ucap Arkana dengan meminta ponsel yang di pegang Dewi.
"Ini Nak."
Arkana menatap ponsel untuk mencari keberadaan Kiara melalui JPS yang ada di ponsel ibunya.
Arkana mengerutkan keningnya,"Tempat ini gak asing lagi deh. Lihat Bu, Yah. Bukankah ini pantai yang sering kita kunjungi?" yang di anggukan oleh kedua orang tuanya.
"Betul, tetapi Kiara mau ngapain ke sana? dan mau apa? apakah ia mempunyai kenalan," gerendel Dewi yang merasa khawatir dengan cucunya yang ia sayangi.
"Ibu jangan cemas dan khawatir biar Arkana yang akan mencarinya," Arkana berusaha menenangkan ibunya.
"Arka? kerahkan semua orang-orang kamu," usul Wijaya dan di anggukan kepala Arkana.
"Kalau begitu Arkana pamit."
__ADS_1
Arkana berpamitan pada kedua orangtuanya dan ia mencium punggung tangannya.
Setelah kepergian Arkana Dewi menitikan air matanya yang sedari tadi hampir tumpah namun ia tahan.
"Sudah Bu! pasti Arkana akan membawa Kiara pulang dalam keadaan selamat. Dan kita doakan semoga Kiara tidak kenapa-napa."
"Yah, maafkan ibu ya? seharusnya ibu jujur dari kemarin-kemarin," sesalnya dengan mengusap air matanya.
"Sudah jangan minta maaf terus, lebaran masih lama," kekehnya.
"Ayah! Ibu lagi sedih di ajak bercanda nyebelin," Dewi mengerucutkan bibirnya.
****
"Woy! bangun! tidur mulu," gerutu Reyhan membuat Kiara mengeliat karena merasa terganggu oleh suara Reyhan yang mirip toak konslet.
"Berisik! bentar lagi Rey? aku masih ngantuk," ucap Kiara dengan menarik selimutnya kembali.
"Ayolah bangun! aku mau ngajak kamu jalan-jalan ke suatu tempat." Reyhan menarik selimutnya kembali agar Kiara bangun.
Kiara beranjak malas dari ranjang dan duduk di sampingnya Reyhan. Kiara bergelayut manja dengan menempelkan pipinya di lengan Reyhan.
"Mau ngajak aku kemana?" tanya Kiara dengan suara serak khas bangun tidur.
Kiara menguap kembali membuat Reyhan menatap tajam kearah nya.
"APA" teriak Kiara dengan melotot.
"Tuh! mulut! bau tau?! sana gosok gigi," titah Reyhan dengan mendorong pelan tubuh Kiara.
Kiara berdecak kesal,"Harum gini, hah! wangi? Emm, wanginya bunga kasturi," Kiara terus menguap tepat di wajahnya Reyhan membuat Reyhan berteriak kesal.
"KIARA" teriaknya sambil melempar bantal kearah Kiara yang berlari menuju kamar mandi.
"Wek. Gak kena!" ucap Kiara dengan menjulurkan lidahnya dan cepat ia menutup pintu agar Reyhan tak menghampirinya.
"Jangan lama-lama Kaci? aku tunggu."
"Kaci? siapa lagi kaci," umpat Kiara yang sedang mengosok gigi.
Kiara tersenyum di depan cermin, dirinya mengenakan pakaian santai itupun milik Tante nya. Reyhan akan mengajaknya ke mana ia sendiri pun tak tau.
"Wah! ponakan Tante sudah cantik aja mau kemana?" tanya Rikhe dengan senyum hangat.
"Gak kemana-mana?"
__ADS_1
"Kalau begitu Tante ajak kamu pergi ke rumahnya teman Tante, mau gak."
"Bo--"
"Gak, Kaci mau pergi sama aku Mah," timpal Reyhan membuat Kiara maupun mamanya mengerutkan keningnya heran.
"Siapa Kaci?!" tanya Rikhe dengan wajah bingung.
"Tuh!" tunjuk Reyhan kepada Kiara.
"Aku?!" Kiara menunjuk dirinya sendiri.
"Iya Kaci? nyok kita berangkat," reyhan menarik paksa lengan Kiara.
"Aku gak mauuu! kamu seenaknya saja manggil namaku kaci! emang apa artinya," ketus Kiara cemberut.
"Kaci? kakak cinggeng! itu khusus nama kesayangan aku untukmu Kaci?" ujar Reyhan dengan senyum genit.
"Tante?" rengeknya dengan manja membuat Bimo terkekeh geli melihat sikap kekanak-kanakan Kiara yang menurutnya lucu.
Sebenarnya Bimo mendambakan seorang anak perempuan, namun Rikhe tak mampu memberikan dirinya seorang anak lagi. Dikarenakan Rikhe tak punya rahim.
"Mah, seandainya kita punya anak perawan pasti kita bahagia ya Mah?" ujar Bimo dengan senyum tipis.
"Maaf kan Mama ya Pah, karena Mama tak bisa memberikan anak perempuan untuk Papa," jawab Rikhe dengan wajah lesu.
"Pah, Mah. Sudahlah jangan membahasnya lagi! kalian berdua tidak sayang sama aku?" timpal Reyhan membuat keduanya menatap wajah Reyhan yang kesal.
"kalian berdua bisa mengadopsi anak ini! kalau kalian benar-benar menginginkan anak perempuan," tunjuk Reyhan kepada Kiara.
"Mau gak kamu jadi anak Mama dan Papa aku?" seru Reyhan membuat Kiara terkejut dan membulatkan kedua matanya.
Hati Kiara sangat bahagia mendengar tawaran dari Reyhan yang menginginkan dirinya menjadi kakaknya.
"Mau!" jawabnya dengan berbinar bahagia.
"Jadi kamu mau jadi anaknya Mama?" tanya Rikhe dengan senyum mengembang.
Kiara tersenyum mengangguk,"M-mau Tan...."
"Ma-ma," jawab Rikhe dengan mengeja kata mama.
"Iya Ma-ma," ucap Kiara terbata-bata saat menyebut nama Mama.
Mereka berempat saling berpelukan dengan senyum mengembang yang menghiasi wajah keempatnya. Kiara seakan lupa dengan tujuannya untuk menemui mamanya sendiri. Bahkan melupakan Papa dan nenek, kakeknya tanpa mengabari mereka.
__ADS_1