
'Nenek? aku hampir melupakannya, dengan cepat aku membasuh wajahku yang sembab habis nangis dan keluar dari toilet untuk menghampiri Nenek mungkin sekarang dirinya gelisah menungguku, aku melirik jam yang melingkar di tanganku berarti aku sudah hampir satu jam meninggalkan Nenek di sana, gumamku.
Dari kejauhan aku melihat Nenek sedang asyik ngobrol dengan seorang wanita yang membelakangi ku, Nenek sepertinya akrab sekali dengan wanita itu? siapa ya? hatinya mulai bertanya-tanya.
Kiara hendak melangkah menuju tempat duduk Neneknya tiba-tiba ia melihat Andin yang menatapnya dengan pandangan heran.
Kiara tersenyum manis padanya ia menghampirinya dirinya ingin menyapa kakak' nya namun Andin menanggapinya dengan wajah ketakutan dan berlalu begitu saja tanpa berani menatap wajah Kiara, ia nampak ketakutan setelah melihat Kiara yang melempar senyum padanya.
"Ha-hantu!" teriaknya dengan berlari tergopoh-gopoh membuat para pengunjung menatap heran kearah Andin yang lari tanpa sebab.
"Hantu?!" lirih Kiara dengan celingukan mencari sosok yang di sebutkan Andin barusan.
"Dasar orang aneh! masa di tempat ramai ada hantunya? mungkin dia kebanyakan nonton film horor kali," cetus seorang pengunjung yang di anggukan oleh temanya dan mereka pun tertawa lepas atas kelakuan Andin yang lari ketakutan.
"Kak Andin!" aku berusaha memanggilnya namun ia terus berlari tanpa menghiraukan panggilan ku.
Aku ingin mengejarnya namun langkahku terhenti saat Nenek memanggilku.
"Ara?!" Nenek memanggilku dengan melambaikan tangannya, akhirnya aku tak jadi menyusul Kak Andin. Aku memutar langkah ku menghampiri Nenek yang terlihat senyum padaku.
"Kamu darimana saja, Nenek sampai panik mencari kamu."
"Maaf ya Nek, Ara tadi ada masalah sedikit!" Kiara tersenyum dan mengelus punggung tangannya Dewi.
"Di sana sepertinya tadi ada yang ribut-ribut? ada apa?!" tanya Dewi pelan.
Kiara bingung harus menjawab apa haruskan ia jujur tentang keluarganya yang berada di sini, atau dia harus diam saja.
"Ara, kamu habis nangis?"
"Tidak Nek. Aku tadi kelilipan," bohongnya dengan senyum palsu.
Dewi mengerutkan keningnya heran masa Kiara kelilipan, pasti ada yang di sembunyikan oleh nya tapi apa? Dewi berusaha percaya dengan Kiara.
"Nek, kita mau makan atau pulang?" tanya Kiara.
"Nenek sudah makan, tadi ada teman Papa mu yang kebetulan sedang disini juga, Nenek tunggu kamu gak datang-datang tadinya mau Nenek kenalin sama dia?" ujarnya dengan senyuman hangat.
"Sekali lagi maaf ya Nek."
"Sudah, jangan minta maaf terus sekali lagi minta maaf ntar nenek kasih hadiah gelas cantik," ledeknya membuat Kiara tersenyum kecut.
"Kalau begitu kita pulang saja ya Nek."
__ADS_1
"Kamu gak jadi makan," tanya Dewi pelan.
"Nanti di rumah saja."
****
"Din? kamu kenapa lari-lari seperti melihat hantu saja," tanya Rikha dengan heran melihat wajah Andin yang pucat pasi.
"A-aku melihat hantu Kiara ia ada di sini, Mah, Pah. Aku gak bohong!" tuturnya dengan tubuhnya yang bergetar hebat karena takut dirinya mengira Kiara adalah hantu.
"Tuh! kan benar tadi juga Mama melihat Kiara ada di sini! tadi dia melihat ke arah kita Pah," pungkasnya lagi dengan memeluk tubuh Andin yang masih ketakutan.
Joni hanya menghela nafasnya dan menatap wajah anak dan istrinya secara bergantian.
"Siang-siang gini masih percaya dengan hantu? mungkin saja hanya kebetulan mirip dengan Kiara," kilah Joni ia tetap tidak percaya dengan adanya Kiara yang masih hidup. Bahkan polisi pun sampai sekarang belum menemukan Kiara apakah dia masih hidup atau mati di makan buaya di sungai itu.
"Papa akan percaya kalau sudah melihatnya sendiri," geram Andin dengan suara terbata-bata.
"Pulang soping wajahnya sumringah sekali?!" tanya Robinson dengan menautkan alisnya terangkat ke atas.
"Tebak! tadi Mama habis ketemu siapa?!" dengan senyum manis Rita malah ngajak tebak-tebakan yang membuat Robinson geleng-geleng kepala.
"Mana Papa tau?!"
"Lah. Malah ngambek! emang tadi ketemu siapa?! mantan pacar?" jawab Robinson asal membuat Rita memutar bola matanya malas.
"Mama serius loh Pah! ini malah di cuekin! sakit tau?!"
"Kalian berdua kenapa sih! sudah berumur masih ribut? kayak ABG baru mengenal cinta," David menimpalinya dari arah belakang. Dirinya merasa terganggu dengan keributan kecil yang tercipta oleh kedua orang tuanya.
"Mama kamu ngajakin Papa main tebak-tebakan, Papa gak mau eh! Mama mu malah ngambek," kelakarnya dengan senyum tertahan.
"Mama juga pulang soping bikin heboh!" ketusnya dengan mendengus kesal.
"Pa? besok malam kita kerumahnya Tante Dewi," terangnya Rita.
"Tante Dewi, ibunya Arkana?!"
Rita menganguk pelan dan menaik turunkan alisnya.
"Bukanya mereka berada di Amsterdam?!" ulang Robinson yang merasa heran 'kapan Arkana pulang? dan ada angin apa istrinya mendadak ngajakin keluarganya untuk pergi ke rumah Arkana' ucapnya dalam hati.
"Mereka semuanya sudah pulang ke Indonesia, sudah dua bulan lalu."
__ADS_1
"Terus?! kalau mereka sudah pulang, Mama mau ngapain?" desak Robinson dengan menatap wajah Rita yang senyum-senyum sendiri.
"Mama mau niatan menjodohkan anak kita David."
"APA!" teriak keduanya dengan membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Mah! aku gak mau di jodoh-jodohkan lagi! apalagi dengan orang asing yang belum aku kenal!" tolak David penuh penegasan bahwa dirinya tak mau di jodohkan lagi.
"Aku sudah gagal satu kali! gak mau gagal dalam kedua kalinya," geram David.
"Apa salahnya sih! kita bersilaturahmi dulu dengan keluarga Wijaya."
"Aku bisa mencari jodohku sendiri! kayak gak laku aja! soal jodoh aku bisa!" bantahnya dengan wajah datar.
"Emang gak laku!" Devina menimpalinya dari arah depan rumahnya yang baru pulang kuliah.
"Cepetan kawin Kak! aku juga mau?" seru Devina yang mendapatkan tatapan horor dari kedua orang tuanya yang seakan-akan mau menerkamnya.
"Hehehe...maaf. Aku hanya bercanda," ucapnya dengan nyengir kuda.
"Mama janji deh! kalau anaknya Om Arkana cantik, baik seperti Kiara kamu lanjutin."
"Kalau jelek! apalagi jutek! aku boleh menolaknya," jawab David pasrah dengan keinginan Mamanya.
"Pasti cantik lah, Om Arkana juga ganteng."
"Turuti saja kemauannya Mama kamu, lagian kita sudah kepengen banget punya cucu dari kamu," papar Robinson membuat David geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua orang tuanya.
"Kapan kita kesananya? kenapa gak sekarang saja!" olok David yang justru membuat Rita semakin antusias kegirangan atas jawaban yang memuaskan dari David.
"Okey?! Mama akan menelpon Tante Dewi dulu."
Rita mengeluarkan ponselnya di tas jinjingnya dan mulai mencari kontak Dewi. Namun tangannya di cekal David.
"Mama, mau ngapain?"
"Mau nelpon."
"Gak sekarang juga Mama?! aku capek!"
"Kamu ini kenapa sih! tadi minta kesananya sekarang, Mama mau telpon gak boleh!" sungutnya dengan kesal. Raut wajah Rita menjadi murung kecewa atas penolakan David.
David yang melihat wajah murung Mamanya menjadi tak tega.
__ADS_1
"Gimana besok malam saja kesana nya? kan besok malam Minggu," usul David yang seketika wajah murung Rita berubah menjadi berseri-seri.