
David masih dalam dunia khayal nya, tanpa menghiraukan panggilan dari Papa, mamanya yang sedari tadi memperhatikan anaknya seperti orang linglung saja, cengar-cengir sendiri.
"Ini anak Kesambet kali Pah!" ujarnya dengan mengerutkan keningnya heran.
"Bukan Kesambet Mah? tetapi ia lagi memikirkan hal apa yang bisa ia lakukan pas malam pengantin," sahut Robinson dengan suara keras membuat David terperanjat ketika.
"Ah! kalian berdua suka menganggu aku!" gerutunya.
"Kamu harusnya bersyukur karena Mama dan Papa bisa mengembalikan kamu dari alam bawah sadar kamu," ujar Rita dengan senyum mengembang.
"Lagi mikirin apa sih! Kak," kesal Devina dengan cemberut kesal.
"Kamu pasti lagi mikirin mau ceplok telor ya?" goda Robinson yang berbisik tepat di telinga David membuat David menatap tajam kearah papanya.
"Betul Pah! dulu Papa pas malam pertama sama Mama pake gaya apa?" jawab David dengan berbisik pula takutnya Devina dan Rita mendengar percakapan mereka.
"Kalian berdua pada bisik-bisik tetangga, lah! kita di anggurin. Awas ya Pah! besok malam jangan ikutan David yang mau ceplok telor sama Kiara. Mama gak akan pernah kasih papa jatah," ancam Rita membuat Robinson gelagapan.
"Jangan dong Mah. Papa bisa mati mendadak kalau yang bawah perut gak di kasih jatah," renggeknya penuh memohon.
David terkekeh geli melihat tingkah laku orang tuanya, benar kata pepatah semakin tua semakin menjadi seperti anak ABG yang baru mengenal cinta. Sedangkan Devina hanya menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
"Nasib! jadi jomlo Wati gini amat. Kalian semua tak memikirkan jiwaku yang meronta-ronta, Mama dan Papa enak ada lawan, Kak David juga bentar lagi mau ceplok telor? Lah! aku sama siapa?! Hua...huaaaaaa." teriak Devina dengan nangis Bombay bohongan.
"Kamu itu, masih di bawah umur. Belum pantas untuk memikirkan sejauh itu." timpal David.
"Kata siapa aku masih kecil, aku sudah dewasa, bahkan umurku dengan Kak Kiara masih tuaan aku," bela Devina yang menurutnya sangat aneh. Dirinya di larang untuk tidak memikirkan lebih jauh. Sedangkan Kiara yang umurnya masih di bawahnya diperbolehkan untuk menikah' kan itu tidak masuk akal, ucapnya dalam hati.
Ketiganya terkekeh geli melihat kekesalan Devina yang seperti anak kecil saja.
__ADS_1
Devina pun keluar dari kamar David dengan wajah cemberut dan sesekali menghentakan kakinya yang jenjang itu di lantai.
****
Dikamar Kiara
Kiara membaringkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya ia menutup matanya agar bisa masuk kedalam mimpi. Namun matanya yang terpejam tetapi tidak dengan pikirannya yang berkelana entah kemana.
"Arghhhh...,kenapa sih aku gak bisa tidur? walau sekejap saja. Ayolah mata! tidurlah aku sudah ngantuk, Emm, emang begini ya' kalau mau jadi pengantin? gak bisa tidur nyenyak bawaannya pengen melek," Kiara menyentak nafas kasarnya dengan wajah lesu.
Apa aku pake gaya kodok tengkurap lagi?! agar aku bisa tidur? Kiara ayolah tidur, ini sudah jam berapa sekarang ini? heh! Kiara berbicara sendiri ia menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah tiga dini hari.
Kiara memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Mungkin dengan menunaikan shalat Tahajud aku bisa mendapatkan jawaban dari kegelisahan yang aku rasakan sekarang ini.
Setelah selesai mengambil air wudhu Kiara menuju lemari untuk mengambil mukenah dan mulai melakukan sholat malamnya.
'Ya Tuhan' jadikanlah pernikahan ku menjadi yang pertama dan terakhir untukku. Dan bukakanlah pintu hatiku untuk menerima Mas David menjadi suamiku, meski hati ini masih menyimpan banyak keraguan,'
Itulah do'a yang di panjatkan Kiara. Setelah selesai mengadu kepada Allah. Kiara melipat mukenah nya dan menyimpannya di atas sofa.
Kini hatinya mulai tenang dan ia merebahkan tubuhnya kembali ke ranjangnya. Semoga ia dapat tidur nyenyak walau sebentar.
"Sayang ayo bangun, ini sudah subuh? waktunya sholat,"Dewi mengingatkan kiara agar cepat melaksanakan ibadahnya sebagai umat muslim.
"Bentar..., lagi Nek. Kiara barusan?! saja memejamkan mataku," ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Loh...loh..., makanya kalau tidur jangan malam-malam? kan gini jadinya masih ngantuk. Mana bentar lagi tukang rias pengantin mau datang kemari? masa calon manten nya belum mandi?! udah ah cepetan mandi terus sholat setelah itu baru di dandani," cerocosnya dengan senyum hangatnya.
__ADS_1
Kenapa sih, gak Papa gak Nenek suaranya sama-sama bikin rusak gendang telinga ku saja, Kiara mengomeli Papa dan Neneknya itupun ia lakukan hanya dalam hati, mana berani dia bicara seperti itu.
****
Kini Kiara duduk di depan cermin menatap dirinya yang berbalut kebaya modern yang begitu pas di tubuhnya yang ramping indah dan di penuhi oleh payet-payet. Menambah aura kecantikan Kiara, kecantikan yang palipurna kecantikan Kiara menuruni kecantikan Dewi.
Walaupun Dewi terlahir dari keluarga miskin tetapi kecantikan yang dimiliki oleh Dewi begitu sempurna bisa di katakan kecantikannya mengalahkan mereka orang-orang kaya.
"Wah! cuantikkkk banget?!" seru tukang rias sebut saja namanya Mbak Lala.
"Mbak Lala bisa saja," ucapku dengan senyum. Memang tak bisa di pungkiri lagi memang aku cantik, bahkan aku sendiri tak mengenalinya karena pangling.
"Benaran loh Mbak Kia? dasarnya dari Sono wes ayu? di poles dikit aja wes ayune poll...." Mbak Lala mengacungkan kedua jempolnya ke atas membuat aku dan nenek tersenyum tipis menanggapi perkataan darinya.
"Bu, Dewi? pasti calon suami Mbak Kiara ganteng ya? kalau gak ganteng mah rugi dong?" tanyanya sambil membenarkan polesan make up di wajah Kiara.
"Calon suamiku jelek kok Mbak. Sebenarnya aku yang rugi harus menikah dengan itu orang," potong Kiara membuat Mbak Lala bengong seketika.
"Mbak Kia jangan suka bercanda," jawabnya dengan pelan.
"Kalau gak percaya ntar lihat sendiri. Awas kalau Mbak nya pingsan, jangan merepotkan kami semua, soalnya Mbak gemuk, berat gendongnya," Kiara mengingat mbak Lala agar jangan shock dan pingsan.
"Beneran Bu Dewi." Mbak Lala balik bertanya pada nenek untuk mencari jawaban yang memuaskan.
Sebelum nenek menjawabnya aku sudah memberikan kode dengan mengedipkan sebelah mataku pada nenek agar mengiyakan perkataan dari ku.
"Iya La, benar yang dikatakan Kiara. Calon suaminya jelek, bau, jarang mandi! pokoknya jorok banget. Kadang saya heran sama Kiara kok mau-maunya nikah sama orang seperti dia?" jawaban nenek membuat mbak Lala mengerutkan keningnya heran.
"Mungkin mbak Kia sudah di pelet kali sama dia, kenapa Bu Dewi tidak mencari orang pintar saja untuk menghilangkan peletnya itu," jawabnya dengan wajah seriuss.
__ADS_1
Kiara tersenyum manis mendengar usul dari Mbak Lala agar dirinya di bawa ketempat orang pintar untuk menghilangkan pelet. Rasanya ia ingin menertawakan sikap polos Lala, jaman now masih saja percaya dengan gituan? Dewi dan Kiara sama-sama menahan tawa atas kelakuan Lala yang polos atau pura-pura polos, padahal Lala seorang rias pengantin yang terkenal. Masih saja bisa di bohongin oleh Kiara dan Dewi.