
Sebelum dia mendekat aku sudah memasang badan ku didepan Mas David.
"Minggir!" serunya dengan menarik tanganku membuat tangan ku merasa sakit atas kelakuannya yang kasar.
Ternyata ini cewek, bukan sebagai ulet keket melainkan manusia Tarzan. Sekali tarik membuat pergelangan tangan ku memerah.
"Woy! ngapian juga aku harus minggir. Gue! lagi menjaga yang menjadi milik gue!" sungutku dengan senyum sinis.
"Situ siapa! berani-beraninya berkata seperti itu! Hah!" tudingku tepat di wajahnya.
Mas David berusaha melerainya namun tangannya Vanya berusaha berontak ia hendak menarik rambutku yang sudah tertata rapi. Untung saja aku bisa menghindar kalau tidak bisa kacau rambutku.
Dari kami berdua tak ada yang mau mengalah masih saja ngotot untuk adu mulut.
"DIAM!"
Suara bariton mas David membuat kami diam tak berani berkata-kata lagi.
"Kalian berdua seperti anak kecil saja! Yang sedang memperebutkan mainan." Mas David menatapku dan juga Vanya.
"Jelas aku berhak Mas. Wajar saja kalau aku mempertahankan milikku," aku berusaha bela diri sendiri.
"Kamu juga Vanya. Ngapain juga kamu kesini? bukanya masuk," bentak Mas David dengan wajah kesalnya.
"Mas. Jangan kasar-kasar dong, bagaimana pun aku pernah ada di hatimu. Pernah menjadi dari bagian hidupmu, apa kamu lupa dengan masa-masa awal pacaran dulu dimana kamu selalu membuat hatiku bahagia? dengan sikapmu yang selalu menghawatirkan aku?" jawab Vanya dengan suara selebai mungkin. Vanya berusaha untuk mendekatinya namun mas David menarik tanganku agar mengikuti nya masuk dan membiarkan Vanya sendirian di sana.
"Kia?! kenapa harus kamu ladeni orang macam dia," geram Mas David disela-sela memasuki ruangan hotel tersebut.
"Habisnya dia selalu berusaha mendekati kamu Mas. Sudah tau kamu sudah menikah' masih saja keuhkeuh mau nempel-nempeel mulu." kesal Kiara dengan cemberut.
"Bro. Gue disini!" Andrew melambaikan tangannya untuk memanggil kami berdua.
Mas David tersenyum dan mengacungkan jempol ke atas.
Semua orang menatap kearah ku seakan-akan aku seorang model papan atas yang sedang berjalan di atas ketwork.
Aku menarik lengan mas David membuat mas David menghentikan langkahnya dan ia bertanya pada ku.
"Kenapa?"
"Aku malu Mas. Tuh lihat. Semua orang yang ada di sini semuanya pada lihatin aku segitunya?"
__ADS_1
"Mereka terpesona oleh kecantikan kamu Sayang? udah ah." David memeluk tubuh rampingnya Kiara agar jangan gugup.
"Kalian berdua darimana saja baru datang? acara potong kuenya udah kelar Bro. Sorry gue kira elo pada gak mau datang," sesal Andrew.
"Maaf Dok, ini semua gara-gara ada ulet keket, jadi? kami mengusir nya dulu, takut kena gigitannya ntar bisa-bisa badan pada bentol," ucap Kiara dengan suara keras dan menatap tajam kearah vanya yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
"Gak papa kok. Saya maklumi kan, kalian pengantin baru ya, wajarlah. Kiara malam ini kamu benar-benar cantik." Andrew memuji kecantikan Kiara membuat David menatapnya dengan tatapan tajam.
"Terimakasih Dok. Dokter juga gak kalah gantengnya kok," jawab Kiara dengan senyum.
'Apa yang di lihat mereka? cantikan juga aku. Semua orang selalu memujinya, awas kamu Kiara. Pokoknya malam ini Mas David harus jadi milikku seutuhnya, geram Vanya dengan mengepalkan tangannya, entah apa maksudnya dengan ucapanya barusan yang mengatakan miliki seutuhnya, apakah dia mempunyai rencana jahat sama David dan Kiara. Vanya pun berjalan menuju meja yang dipenuhi oleh bermacam jenis minuman.
'Itu dia yang aku cari' Vanya mengambil segelas minuman dan ia memasukan sesuatu didalam gelas tersebut, ia berjalan dengan membawa segelas minuman tersebut entah minuman itu untuk siapa.
Andrew yang melihat ekspresi wajah David yang tak sedap untuk dipandang, dengan cepat ia mengalihkan pembicaraan nya.
"Kalian berdua bawakan kado apa buat gue," ujarnya dengan nyengir lebar.
"Nih, maaf ya, kalau hadiahnya terlalu murahan. Habisnya Dokter ngundang kita secara dadakan. Ya otomatis nyari hadiahnya dadakan juga," jawab Kiara dengan menyungingkan senyum.
"Kedatangan kalian berdua saja sudah membuatku senang kok. Benarkan Bro," Andrew menatap ke arah Mas David.
"Yang, hadiahnya masukan lagi kedalam tas. Andrew gak membutuhkan hadiahnya, dia butuh kita saja," ucap Mas David datar.
"Bilang saja kalau elo mau, jangan Munaroh Lo," jawab Mas David dengan nada menyindirnya.
"Hehehe..., gue bercanda Bro. Lah elo baperan," tuding Andrew dengan senyum.
"Ada Nak David juga, ini siapa? Tante baru melihatnya," tanya Mama Andrew dengan menunjuk ke arah Kiara.
"Ini istri aku Tan, Kiara." David memperkenalkan istrinya pada Mira mamanya Andrew.
"Siapa namamu? kamu cantik sekali? kenalkan nama Tante Mira," ujarnya dengan mengulurkan tangannya pada Kiara.
Kiara pun menyambut uluran tangannya dan menjabatnya.
"Nama aku Kiara Tante," jawab Kiara dengan sopan.
"Kalian nikah gak ngundang Tante sih, jadi gak tau kalau ini Istrimu. Coba saja yang ketemu Kiara duluan Andrew, pasti kamu sudah menjadi menantunya Tante," ledeknya dengan senyum menahan tawa.
Kiara tersipu malu dengan pertanyaan Mira.
__ADS_1
"Mah, tamunya jangan di ajak ngobrol terus, kapan mereka berdua menikmati hidangan yang ada di sini," ucap Andrew pada Mira.
"Ups! Mama lupa. Nak David, Kia silahkan kalian cicipi makanan yang ada di sini, jangan malu-malu anggap saja sebagai rumah sendiri, Tante tinggal dulu menemui temannya Tante." Mira berpamitan pada Kiara juga David.
"Nikmati saja gue mau ketoiet dulu," ujarnya pada kami berdua.
"Mas, mau kemana, jangan tinggalin aku." kata Kiara yang melihat David berjalan.
"Mas, mau ambilkan minuman untukmu, bentar kok," jawab David.
Saat David hendak melangkah menuju meja yang dipenuhi oleh minuman, tiba-tiba seorang pelayan datang menghampirinya dan menyodorkan segelas minuman tersebut yang dibawa Vanya tadi agar dirinya memberikannya pada David.
"Mas, ini minumannya," ujarnya dengan senyum.
"Terimakasih." David menjawabnya dan mengambil segelas minumannya.
"Bagaimana sudah kamu berikan jus itu pada pria yang berbaju hitam." Tanya Vanya pada pelayan itu.
"Sudah Mbak, dan saya pastikan pria itu meminumnya," sahutnya.
"Sekarang kamu pergi, sebelum ada yang melihatnya? dan ini bayaran untukmu karena sudah membantu saya."
Pelayan itu anggukan kepala iya senang sudah mendapatkan bayaran walau tanpa harus kerja keras.
Vanya tersenyum penuh percaya diri. Hahaha Mas. Malam ini kamu milikku, batin Vanya dengan senyum menyeringai licik.
"Minum, bukannya tadi bilang haus?" David menyodorkan segelas minuman tersebut pada Kiara.
"Kok satu, buat Mas mana," Kiara balik bertanya.
"Nanti Mas bisa ambil lagi, yang penting istrinya Mas gak keausan." Kiara anggukan kepala dan ia meminumnya sampai tandas tak tersisa.
Beberapa menit kemudian Kiara merasakan hawa panas yang menjalar di seluruh tubuh nya. Kiara mengibas-ngibas tangannya karena merasa gerah, David yang melihat Kiara seperti orang kepanasan padahal di situ suasananya sejuk.
"Kamu kenapa Sayang?!" tanya David.
"Panas Mas." kata Kiara dengan terus mengipasi tubuhnya dengan telapak tangannya.
"Aku ambilkan air es, agar kamu gak kepanasan."
"Jangan lama-lama Mas, aku gak tahan," ucap kiara terbata-bata.
__ADS_1
Ada apa dengan Kiara, disini udaranya sejuk gak seperti yang ia katakan bahwa dirinya kepanasan. Aneh. Pasti ada sesuatu yang membuat Kiara seperti ini.