Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Membingungkan


__ADS_3

"Jadilah anak yang kuat. Maaf kan Mama yang pendosa ini. Suatu saat nanti kamu akan tau kebenarannya siapa kamu yang sebenarnya," lirih Rikha dengan mengecup keningnya Kiara dan berlalu keluar takut Kiara melihatnya.


Perlahan Kiara mengeliat dan mengucek kedua matanya yang masih enggan untuk membukanya, sepertinya aku bermimpi melihat Mama datang ke sini? dan menangis setelah itu Mama mencium keningku begitu nyata? masih terasa hangatnya kecupan Mama, walaupun dalam mimpi tetapi aku sangat bahagia sekali, batin Kiara yang menyangka itu hanya mimpi padahal nyata.


Krucukkk......


Krucukkk......


Bunyi perut Kiara berdendang riang ingin segera di beri asupan gizi. Aku lupa makan, sehingga cacing-cacing nakal di dalam perutku sudah menagih jatahnya, sedari tadi aku belum makan pantas saja mereka meronta-ronta minta makan, gumamku dengan beranjak dari tempat tidur dan menuju meja makan.


Saat Kiara melangkahkan kakinya menuju dapur langkahnya terhenti setelah mendengar suara tangisan, ia berjalan menuju arah suara itu sontak Kiara terkejut melihat siapa yang menangis, Mama? teriaknya dalam hati. Dirinya tidak berani untuk mendekatinya bila ia mendekat maka marahlah yang ia dapatkan.


Mama kenapa menangis? ada dengannya? rasanya aku ingin memeluk Mama untuk menenangkannya tapi aku tak punya keberanian untuk mendekatinya. Kiara mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur untuk makan, ia kembali masuk ke kamar.


'Kira-kira kenapa Mama menangis seperti itu? mana cacing-cacing nakal dalam perutku tak mau diam lagi, Hay cacing-cacing nakal bisa diam ngak. Makannya besok saja okey? lebih baik kita lanjutkan tidurnya faham?' Kiara mengajak bicara kepada cacing-cacing dalam perutnya. Kiara tidur kembali dengan menahan perut laparnya.


Ini jam berapa Kiara membuka kedua matanya dan beranjak duduk di ranjangnya Kiara menatap ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Suara teriakan cacing-cacingnya sudah tak bisa di ajak kompromi lagi


Dengan gontai Kiara berjalan menuruni tangga tangga menuju dapur.


Kiara membuka tudung saji dan menatap ke arah meja makan yang tak ada satupun makanan yang tersisa semuanya sudah habis.


Mau gak mau ia harus memasaknya sendiri.


Makanan habis, apa mereka tidak memasaknya? coba aku lihat di kulkas siapa tau masih ada yang bisa aku masak, batin Kiara dengan senyum. Perlahan ia membuka kulkas dan melihat isinya.


Hah, hanya ini saja? gumamnya dengan mengambil seikat sawi. Aku apain nih sawi, enaknya aku masak buat campuran mie instan saja. Kiara mengambil panci ia isi dengan air dingin dan ia panaskan untuk masak mie.


Lima menit kemudian mie instan pun sudah tersaji di meja,saatnya aku makan? pasti kamu juga sudah lapar ya, tenang aku akan memberikan hak kalian diam dan nikmatilah makanannya, Kiara mengajak bicara pada perutnya.


Selesai makan Kiara membereskan semua dan mencuci piring hemm, Kiara nampak berpikir sejenak daripada aku tidur lagi lebih baik aku beres-beres rumah biar pagi gak terlalu banyak pekerjaan yang akan aku bersihkan, gumamnya.


Karena sudah terbiasa dengan pekerjaannya Kiara tak butuh waktu lama untuk melakukannya semuanya sudah selesai.


Adzan subuh berkumandang dari segala penjuru saling bersahutan agar semua umat muslim melaksanakan shalat.


Alhamdulillah aku masih di beri umur panjang semoga aku bisa menjadi anak yang Sholeha.


Aku kembali ke kamar untuk menunaikan shalat subuh, setelah selesai shalat subuh tak lupa aku mendoakan kedua orang tua ku agar selalu di beri umur panjang dan kesehatan juga keselamatan dunia dan akhirat kelak.


Suara ketukan pintu dari luar membuat aku menghentikan aktivitas ku yang sudah selesai.


"Sebentar?" sahutku dari dalam dan membukakan pintu.

__ADS_1


"Mama?!" Pekikku yang tidak percaya sepagi buta ini Mama mencari ku tak biasanya itulah yang ada di dalam benakku.


"Kiara Mama mau tanya sama kamu, boleh Mama masuk?" ucapnya dengan nada rendah.


Tumben banget minta izin dulu mau masuk kamar aku biasanya juga main masuk aja, gumam Kiara yang merasa heran.


"B-boleh Mah?" aku mempersialah kan Mama masuk.


"Ada apa Mah? aku sudah mengerjakan tugas ku semuanya, kalau Mama gak percaya boleh cek sendiri, a-aku nggak bohong Mah," jawabku dengan takut bila Mama akan memarahiku lagi.


"Mama gak menanyakan tentang pekerjaan kamu, Mama hanya mau tahu kesehatan kamu. Mama dengar kamu tertusuk pisau di sebelah mana?" tanya nya dengan raut wajah cemas entah itu tulus atau sekedar basa-basi.


Jujur ini baru pertama kalinya Mama mencemaskan keselamatan aku.


"Ma-maksud Mama apa?" ulangku lagi dengan senyum. Mama mendekati ku dan memelukku erat membuatku merasa bahagia sekali saat aku merasakan pelukan hangatnya Mama yang selama ini aku inginkan. Kini doa ku di kabulkan Tuhan.


"Mama hanya mau katakan bahwa kamu gak usah mengerjakan tugas rumah lagi?" ucap Rikha yang membuat Kiara terkejut apakah yang di katakan Mama itu benar atau hanya....entahlah hatinya Kiara bimbang dengan apa yang di katakan Mama nya.


"Mama hanya mau kamu baik-baik saja karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang pengantin jadi? gak boleh capek-capek," suruh Rikha pada Kiara.


Kiara hanya tersenyum kecut ia mengira bahwa Mamanya benar-benar berubah untuk lebih menyayangi dirinya seperti Rikha menyayangi Andin kakak' nya. Ternyata hanya omong kosong belaka, ini semua di lakukan hanya semata-mata demi harta dan nama baik keluarga Joni, batin Kiara sudah menduganya dari awal atas sikap baiknya Rikha terhadapnya.


"Baiklah Mah, aku akan menurut apa kata Mama," lagian aku harus banyak istirahat agar luka ku cepat sembuh.


Aku hanya mengehela nafas berat. Mama andai saja kebaikan yang Mama berikan itu tulus pasti aku akan bahagia sekali, tapi nyatanya hanya palsu belaka aku tersenyum getir meratapi nasibku yang malang.


Semangat Kiara semangat! aku menyemangati diri sendiri, lebih baik aku jalan pagi biar cepat sehat.


Saat menuruni anak tangga aku melihat Papa tersenyum melihat aku menuruni tangga.


"Bagaimana dengan perutmu Nak? masih sakit?" tanyanya penuh kekhawatirannya.


"Sedikit ngilu Pah?" aku menjawabnya dengan pelan.


"Sekarang mau kemana?"


"Mau jalan nyari udara segar Pah," jawabku singkat dan di anggukan kepala oleh Papa.


"Jangan terlalu jauh nanti kecapean dan lukanya juga belum sehat benar."


"Iya Pah, pasti aku akan lebih hati-hati lagi," ujarku dan pergi meninggalkan Papa.


Aku yang berada di taman depan menengok ke samping ketika seorang anak kecil menyapaku.

__ADS_1


"Kak Kia? sedang apa, kok sendirian? boleh aku temenin gak!" tanyanya dengan senyum genit.


"Reno?!" teriakku dengan berjalan menghampiri nya. Reno adalah anak tetanggaku yang selalu datang bila aku berada di taman. Umur Reno baru berusia sembilan tahun tapi gaya bicaranya seperti orang dewasa yang jatuh cinta.


"Iya Kak, aku merindukan mu?"


Aku terkekeh geli melihat kelakuan Reno yang sok kangen berat sama aku.


"Dasar bocah!" aku mencubit pipinya dengan gemas membuatnya mendengus kesal terhadap ku.


"Hay! Kak. Aku bukan anak kecil! seharusnya yang mencubit pipinya Kakak itu aku bukan kakak yang mencubit pipiku," teriaknya tak terima ia menyilangkan tanganya di atas perut.


"Kak Kia apakah Kakak mau jadi pacarnya aku?!"


Aku terkejut bukan main karena mendengar permintaan Reno agar aku menjadi pacarnya.


"Kamu itu ya? kalau ngomong asal ngucap, kamu itu sudah kakak anggap sebagai adik! mana mungkin dong Kakak macarin anak kecil?!"


Reno menatap tajam kearah ku," memangnya aku kurang tampan apa? sehingga Kakak menolak aku?!" ketusnya.


"Kurangnya kamu itu?! adalah kurang tua!" ledekku dengan mencolek hidungnya yang membuat dirinya menatapku dengan tatapan dingin.


"Sudah jangan marah sini Kakak peluk cium?" pintaku dengan merentangan kedua tanganku dan ia pun memelukku dengan erat sesekali.


"Kak. Aku punya sesuatu buat Kakak?" bisik Reno dan menunjukan kotak kecil yang ada di saku celananya.


"Apa itu, dapat darimana?"


"Dari cowok ganteng?"


"Siapa?" tanyaku dengan mencari orang yang di katakan Reno namun tak menemukan orang tersebut.


Siapa cowok ganteng itu? apa motip nya dengan memberikan hadiah berupa kotak kecil entah apa isinya.


"Boleh Kakak buka sekarang?" tanyaku dan di anggukan kepala oleh Reno.


Perlahan aku membuka kotak kecil tersebut di atas kotak itu terdapat selembar kertas yang bertuliskan I love you babe? you marry me? aku kekasih hatimu. Itu isi surat tersebut.


"Kakak Ayok di buka kotaknya?" celetuk Reno yang membuyarkan lamunanku.


"Ini dari siapa? Kakak gak mau membukanya sebelum tahu orangnya?"


"Buka dulu nanti aku bisikan orangnya siapa?" Reno malah membuat aku jadi pusing sendiri memikirkannya.

__ADS_1


"Baiklah bawel?" cicitku yang mulai membuka kotak kecil itu dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat sebuah benda kecil yang menyilaukan mataku.


__ADS_2