Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Ribut Manjah


__ADS_3

David sering mengantar jemput Kiara untuk kuliah padahal jarak dari rumahnya menuju tempat Kiara sangat jauh dan beda arah. Entah apa yang membuatnya menjadi lebih perhatian pada Kiara, hilang sudah rasa benci, sikap dinginnya pun hilang seketika.


Haruskah Kiara bahagia dengan sikap David? jawabnya tidak! Kiara masih sebal pada David, dimana hatinya sudah mulai mencintai dirinya namun David sudah mematahkannya, yang menganggapnya sama seperti wanita lainnya yang lebih mementingkan kepentingan seperti kemewahan semata. Dirinya melakukan demi orang tuanya dan Kakek dan Neneknya.


"Non! non Kia? di depan sudah ada Mas David", Anis memanggil Kiara namun tak ada jawaban dari dalam.


Anis terus mengetuk pintu kamar Kiara,"Non, Kia?" tetap tak ada jawaban.


"Kamu nyari siapa Nis?" tanya bi Iem saat ia melintas di depan kamar Kiara.


"Non Kia."


"Non Kia sudah berangkat dari tadi?" tutur Bi Iem.


"Aduh? gimana aku ngomong sama Mas David. Kalau Non Kia nya sudah berangkat."


"Ya, bilang saja kalau Non Kia sudah berangkat dari tadi. Mas David tak akan marah dia orangnya baik kok," ujar Bi Iem.


"Mbak. Kiara nya mana?" tanya David dengan senyum ramah.


"A-anu Mas, kata bi Iem. Non Kia sudah berangkat dari tadi," jawabnya dengan terbata-bata.


David yang mendengar pengakuan dari Anis bahwa Kiara sudah berangkat dari tadi merasa kecewa," Mbak masa sepagi ini dia sudah berangkat?!" tanya David tak percaya.


'mana ada kampus jam segini sudah buka? baru juga jam 6:30 pasti dia pergi karena mau menghindar dari aku?' ucapnya dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu Mbak, saya pamit pulang," ucap David dengan senyum kecut.


Anis menganguk pelan, ia menatap wajah David yang kecewa,'walah aku jadi gak enak sama Mas David?' gumamnya dengan berlalu menuju taman untuk menyirami tanaman bunga.


David mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang ia tak sengaja melihat Kiara yang sedang duduk di tepi jalan. Seketika David memberhentikan mobilnya di pinggir jalan raya dan menatap ke arah Kiara.


Benar itu Kiara lagi ngapain dia di tempat kayak gitu! jorok banget! umpatnya kesal.


Kiara memang sedang berada di pinggir jalan ia sengaja berhenti untuk sarapan dulu ia memesan bubur ayam kesukaannya. Tanpa di sadari oleh Kiara David sudah berdiri di belakangnya yang sedang menyantap semangkuk bubur ayam.


Saat sang penjual akan menyapa nya, David sudah duluan menempelkan telunjuknya di bibirnya agar sang penjual diam.


"Ada apa Pak?" tanya Kiara dengan senyum.


"Gak Neng, Bapak cuman mau nanya apa buburnya enak?!" bohongnya.


"Enak banget! bubur Bapak aku kasih nilai seribu deh," Kiara mengacungkan kedua jempolnya ke atas.


"Ah si Neng mah terlalu berlebihan memujinya membuat bapak terbang ke langit," kekeh nya lagi .


Semangkuk bubur pun tandas tak tersisa membuat Kiara mengelus perutnya yang kenyang.


"Pak, ini uangnya," Kiara menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu.


"Neng? Bapak belum ada kembaliannya? Neng baru pelanggan pertama Bapak," ujarnya dengan senyum.

__ADS_1


"Buat Bapak semuanya, itung-itung itu rejekinya Bapak," jawab Kiara.


"Tapi Neng...."


"Jangan tapi-tapian, itu rejekinya Bapak saya ikhlas."


"Terimakasih ya Neng! semoga Allah membalas kebaikan Neng."


"AMIN"


Kiara terkejut dengan mendengar suara amin dari arah belakang tepat di telinga nya,'siapa lelaki itu! gak sopan lagi bilang amin pas di telingaku, mana suaranya cempreng kayak toak konslet membuat kupingku penggeng saja' umpat Kiara dan membalikkan badannya dan....


"Morning Kia?!" sapa David yang kedengarannya alay bikin aku mau muntah saja.


"Ngapain? kamu ada disini?!" tanya Kiara setengah kesal.


Bukanya menjawab David malah duduk berhadapan dengan posisi mengungkung tubuh Kiara membuat dirinya merasa risih di perlakukan seperti itu.


"Jaga sikapmu!" ucap Kiara dengan kasar menepis tangan David.


Sang penjual bubur ayam hanya tersenyum kikuk atas sikap beda jenis itu pagi-pagi sudah buat ulah di warungnya.


"Kamu serasukan setan mana sih!" ketus Kiara. David tersenyum manis semanis madu.


"Kamu kalau lagi ngambek! makin cantik! bikin aku gemes pengen nyubit kamu."


"Bukanya kamu gak bisa melihat?! tapi kamu tau kalau aku sedang marah?!" jawab Kiara dengan penuh penekanan.


"Kok malah diam!"


"Kan aku mendengar dari suaranya yang terdengar seperti orang marah!"


Sudah ketahuan masih saja mengelak, dia pikir aku gak tau kalau kamu itu gak buta Mas, gerutu Kiara yang masih terdengar oleh David.


David berusaha tenang walaupun hatinya gelisah karena Kiara tahu bahwa dirinya tidak buta tapi dia tahu dari mana? itulah yang masih menjadi pertanyaan besar bagi David.


'Kenapa gak dari dulu? aku menyadari bahwa dirinya memang cantik palipurna sikapnya yang baik, sopan, santun dan ramah tak seperti yang lainnya. Aku sudah di gelapkan oleh amarah yang menyelimuti hati ini! karena kesalahan satu wanita, David menilai semua wanita sama saja. Aku memang bodoh! tak mau mendengarkan penjelasan darinya maupun Mama, dia memang yang terbaik untuk ku,' David mengakui kesalahannya walau dalam hati.


"Ayok! kita berangkat ke kampus," ujarnya dengan melempar senyum jenakanya.


Aduh kenapa malah aku yang klepek-klepek melihat senyuman mautnya, batin Kiara ia berusaha untuk bersikap cuek bebek padahal jantungnya berdetak cepat seakan-akan mau lompat jauh.


Gila ini benar-benar gila! seharusnya aku gak tergoda oleh nya. Kiara mengacak rambut frustasinya.


"Kamu mau iklan sampo?!" tanya David membuat Kiara menghentikan aktivitasnya yang sedang mengacak rambutnya. Kiara menatapnya dengan bola matanya malas.


"Nyebelin banget sih kamu!" sungut Kiara dengan manyun.


"Bibir sudah mirip ikan mujair mundur saja dipamerkan," imbuhnya lagi dengan seulas senyuman.


"Sudah tau aku gak asyik di mata kamu! ngapain kamu masih ngejar aku."

__ADS_1


"Kepedean tingkat nasional siapa juga yang ngejar-ngejar kamu!"


"Dasar bajaj! sukanya ngeles mulu."


"Neng, Mas! kalau mau ribut! jangan disini? nanti pelanggan saya pada kabur semua?!" terang Pak pedagang nya.


"Baik Pak! kami akan melanjutkan aksi kami di dalam mobil saja," kelakar Kiara yang beranjak pergi meninggalkan gerobak bubur ayam tersebut dengan kesal.


Dengan cekatan David membukakan pintu mobil untuk Kiara,"silahkan masuk bidadari surga ku?!" David mempersilahkan Kiara masuk.


"Terimakasih pengawalku?" jawabnya membuat David menatapnya tajam.


"Aku bukan pengawalmu! aku calon suami kamu ingat itu!" protesnya dengan tatapan tak suka. Bisa-bisanya dia menyebut aku pengawal.


"Emang salah ya?"


"Jelas salah!"


Kiara rasanya ingin sekali tertawa lepas namun ia tahan. Kiara menatap wajah David yang memerah karena malu kali ya dikatain pengawal, dengan menahan tawanya Kiara berusaha menghiburnya dengan kata-kata manis semanis jambu Jamaika.


"Mas David? aku gak salah ngomong kok. Memang benar Mas calon suami aku? sekaligus pengawal ku," terang Kiara.


"Tetap aku tidak suka dengan embel-embel pengawal!" cemberutnya membuat aku ingin tertawa lepas.


Hahahaha suara tawanya seketika mengelegar menghiasi ruangan tersebut.


"Kamu?! sengaja mau menertawakan aku?"


"Maaf aku kelepasan tertawa, habis kamu lucu. Ada orang yang sikapnya dingin banget mirip salju terus wajahnya yang di tumbuhi bulu jambang bisa merajuk manja juga, hahaha..."


David menangkup kedua pipi Kiara yang sedang tertawa dan Kiara pun terdiam sesaat ketika deru nafasnya menyapu pipinya Kiara.


Membuat Kiara terkejut dan panik karena takut David akan melakukan hal yang tidak-tidak.


Kiara menahan tubuh David agar menjauh darinya, dengan gugup ia berkata,"jangan macam-macam kamu!" ancam Kiara.


"Siapa juga yang mau macam-macam sama kamu."


"Terus kamu mau ngapain memegang pipiku dan...."


Kiara belum melanjutkan pertanyaan namun David sudah memotong pembicaraan nya.


"Tuh lihat di rambutmu ada semut," tunjuk David dengan mengambil semut yang sedang berjalan di rambut indahnya Kiara.


"Hehehe maaf ya?" jawabnya dengan malu.


"Hem."


"Kumat lagi dia!"


"Siapa yang kumat!"

__ADS_1


Kiara mengeleng percuma saja ia beradu argumen dengan David bikin pusing saja.


__ADS_2