Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Takut Hamil


__ADS_3

Mas." Tanya Kiara saat mobil berhenti di depan karena lampu merah.


"Emm."


"Irit banget sih." Kiara memanyunkan bibirnya yang kesal mendengar jawaban dari David.


"Iya sayangnya Mas, ada apa?" tanya David dengan senyum lebar.


"Kita mampir dulu ke apartemen ya?" pinta Kiara dengan wajah memelas.


"Boleh juga. Sekalian kita mencoba kasur baru dan empuk."


"Kita bisa istirahat dulu, menjelang sore baru deh kita pulang," terang Kiara yang di anggukan oleh David.


"Asyik?! kita ke apartemen." Kiara bersorak gembira dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.


Melihat mu yang sebahagia ini membuat aku semakin mabuk kepayang, perasaan ini tak bisa di bohongi kalau aku benar-benar jatuh cinta pada nya.


perjalan menuju ke apartemen hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit saja, akhirnya kami sampai tujuan. Setelah memarkirkan mobil kami berdua memasuki lift,


mas David hanya memasukan kartu untuk mengakses masuk ke dalam.


"Waw! Mas indah sekali," aku berdecak kagum atas apa yang aku lihat. Apartemen yang mewah membuat yang tinggal disini akan merasa nyaman.


Aku memutari isi apartemen ini dari dapur minimalis modern terus menuju ruang tamu, kini satu lagi yang belum aku lihat! yaitu kamar kami, pasti lebih bagus dan mewah.


"Mas ayok! aku melihat kamar kita," renggekku manja dengan menarik lengannya mas David.


"Ayok," ucapnya dengan memeluk pinggangku.


Ceklek...pintu kamar terbuka dan waw.... indah sekali? kamarnya tak terlalu besar cukuplah untuk kami berdua diujung sana ada lemari pakaian yang besar bersandar di dinding kamar, aku tak henti-hentinya berdecak kagum atas apa yang ada di depan mata.



Ini hanya gambaran dari kamarnya Kiara dan David.


"Sayang. Gak mau mencoba kasur baru?!" tanya Mas David dengan senyum penuh arti.


Tanpa menjawab pertanyaan aku langsung Membobotkan tubuhku di atas kasur yang empuk dan nyaman. Aku persis seperti anak kecil, guling sana guling sini merasakan kebahagiaan yang sudah di jabarkan.


Mas David tersenyum dan membaringkan tubuhnya di samping ku dan memelukku dengan erat, membuat aku susah bernapas.

__ADS_1


"Kita olahraga ranjang dulu ya?! mumpung masih disini," bisiknya tepat di telinga ku membuat bulu halus ku meremang karena hembusan nafasnya yang memburu.


"Geli Mas," ujarku dengan senyum malu.


"Geli tapi memabukkan, kamu suka bukan dengan permainan ku?!" pertanyaan mas David membuat aku mati kutu.


Mas David membalikan tubuhku menghadapnya, deru nafasnya semakin memburu saat dirinya menindih tubuhku ada sesuatu yang bergerak di bawah perutnya Mas David.


"M--mas," ucapku dengan terbata-bata saat merasakan sesuatu yang berada tepat di area sensitif ku.


Kiara pasrah tanpa ada perlawanan darinya kini aku mulai beraksi dengan senyum bahagia yang tercetak di wajah ku. Berlahan aku melepaskan gaunnya Kiara dengan pelan bila aku asal menariknya bisa robek. Karena aku tak membawa baju cadangan untuk Kiara.


Kini tersisa bra yang membungkus bulatan gunung kembarnya. Sisa-sisa tanda merah masih ada, perlahan namun pasti aku lakukan.


Tangan ku mulai berjelajah di bagian bawahnya Kiara saat tangan ini hendak menarik Cd-nya namun tanganku di tahannya membuat aku menghentikan aktivitas ku.


"Apa?" tanyaku dengan napas tersengal-sengal menahan sesuatu yang memaksa ingin dikeluarkan. Masa Kiara mau menolaknya? padahal ini sudah diujung tanduk tanggung kalau tidak dikeluarkan.


"Pelan-pelan masih sakit," Jawabnya dengan malu-malu meong tapi mau.


Ahhh....sungguh menggemaskan. Tanpa ada pemanasan dulu aku langsung mengeluarkan juniorku yang sedari tadi berontak. Ku tatap sekilas anunya memang kelihatan agak bengkak, ada rasa iba melihat keadaannya seperti itu. Namun aku harus apa? toh sudah terlanjur, lagian Kiara juga tak menolaknya.


"Boleh Mas masuki sekarang?" aku bertanya terlebih dahulu takutnya akan menyakitinya. Kiara tersenyum dan mengangguk.


Saat aku memasukinya ia terlihat menahan rasa sakitnya dengan mengigit bibirnya.


Aku melakukannya dengan trikmen pelan agar dirinya merasa nyaman.


"Masih sakit?!" tanyaku lagi dengan memainkan gunung kembarnya. Kiara mengeleng cepat,"Udah gak Mas." jawabnya tanpa melihatku.


Permainan kami cukup lama, membuat kami berdua kelelahan dipenuhi buliran keringat yang membasahi tubuh kami, udara di kamar cukup sejuk. Namun bagi kami sangat gerah karena adanya gesekan antara keduanya.


Tak lama kemudian kami berdua saling mengeluarkan suara indahnya tandanya kami berdua sudah mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa.


Kurebahkan tubuh ku di sampingnya Kiara.


Ku tatap wajahnya yang dipenuhi oleh buliran bening mengalir di keningnya. Kiara menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya.


Kutarik kembali selimutnya sampai bawah perutnya.


"Apaan sih Mas," jawabnya.

__ADS_1


Tak ku jawab pertanyaan, tanganku bergerak menuju bukit kembar miliknya dan mulai memainkan buah ceri yang selalu mengoda ku.


"Mas," rengeknya kembali.


"Mas hanya mau bermain sebentar, tadi kan gak bermain di sini!" tunjukku pada benda kenyal dan padat berisi itu. Kedua bukitnya bagaikan candu untukku.


"Yang, bukit kembarnya kok kecil gak bisa di besarkan lagi apa," tanyaku dengan terus memainkannya dengan menarik lembut buah ceri yang ranum itu.


"Kalau gak suka ya udah jangan di mainkan," ketusnya dengan menepiskan tangan ku.


Aku tersenyum," Mas bercanda Sayang," ucapku dengan senyum dan memainkannya kembali.


"Mas."


"Iya ada apa?"


"Laperrrrr?!" jawabnya dengan wajah mengiba.


"Ntar deh. Nangung nih." ujarku dengan lembut.


"Aku laperrrrr?!" renggeknya kembali membuat sensasi kenikmatan yang kurasakan menjadi sensasi menyebalkan.


Memang benar perkataanya Kiara semenjak pulang dari hotel tadi kami belum sempat sarapan, jelaslah Kiara merasa kelaparan dari pagi sampai sekarang. Bukanya kami mencari makan malah olahraga ranjang terus bagaimana tenaga kita gak terkuras? aku jadi gak tega melihat istriku kelaparan.


"Baiklah bidadarinya Mas," ucap Mas David dengan beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Jangan pake lama. Aku juga mau mandi. Cacing-cacing dalam perutku mulai nakal mengelitik terus minta jatah."


"Aku kira junior ku saja yang minta jatah. Eh ternyata cacing-cacing nakal juga minta jatah." David terkekeh geli mendengar jawaban Kiara.


"Iya lah. Cacing kamu sama cacing didalam perutku sama pemaksa banget."


"Bukan pemaksa Sayang? tetapi tuntutan."


"Mau ngobrol apa mau mandi. Aku sudah laperrrrr Mas!!"


"Okey Sayang? Mas OTW nih!" sahutnya dari dalam.


"Ini semua kebodohan ku' ngapain juga harus terbuai dengan rayuannya? kan jadi gini. Aku kelaparan, kecapean," gerutuknya dengan cemberut.


Katanya sih kalau kita sering-sering berhubungan ntar cepat hamil lagi. Mana pas aku berhubungan pertama kalinya aku kan habis haid? itu tandanya aku masa-masa subur, Arghhh... kalau aku hamil gimana ntar aku jadi jelek. Perut buncit, pinggang lebar mirip lapangan bola dan dadaku bengkak. mirip badut. Papa tolong Kia. Kia gak mau hamil.... aku jadi merinding geli membayangkan nya.

__ADS_1


__ADS_2