Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Keluarga Bar-bar


__ADS_3

Kiara di rumah sakit hanya berteman kesunyian malam yang selalu setia menemaninya. Jadi jangan harap hari ini mereka juga akan datang untuk melihat keadaan dirinya mustahil bagi Kiara.


Namun malam ini dirinya merasa tidak sendiri lagi karena keluarga Xander akan menemaninya, mereka begitu sayang dan perhatian pada Kiara.


"Mama ngerti apa yang kamu rasakan Nak, jadi jangan merasa sendirian," ucapnya dengan senyum dan memeluknya erat.


"Terimakasih Mah, Mama sudah mau menyayangi aku," jawab Kiara dengan senyum di paksakan karena orang tuanya tak datang untuk sekedar menjenguknya.


"Kok ngomong kayak gitu, kan sebentar lagi kamu akan menjadi anak Mama juga," jelas Rita lagi.


Kiara tak henti-hentinya meneteskan air matanya tapi yang ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagian.


"Jangan cengeng! masa calon istri dari David Xander lembek?!" ledek David.


"Mas?! aku bukan nangis, tapi terhura?"


"Terharu?!" potong mereka yang di sambut gelak tawa sempet-sempet nya Kiara masih bisa bercanda padahal keadaannya masih sakit. David terus tersenyum melihat wajahnya Kiara yang sempat redup sebelum Rita menghiburnya.


"Mama obat yang paling ampuh buat Kak Kiara?" puji Devina dengan senyum yang selalu setia menemani wajahnya.


"Mah, Kia mau tanya?" sela Kiara yang menatap wajah Rita dengan bergantian menatap Robinson.


"Mau nanya Mama? tapi melihatnya sama Papa?! pasti terkesima dengan ketampanan Papa ya?" goda Robinson terhadap Kiara.


"Ihh, Papa GEER!!" tunjuk Devina dengan menyungingkan bibirnya.


"Mau tanya apa?" sambut David dengan senyum khasnya.


Kiara tersenyum manis padaku membuat jantungku berdegup kencang sekencang angin beliung, dia wanita yang telah mencuri perhatian ku, semenjak kepergian Vanya tak seorang pun yang bisa meluluhkan hati ku tapi berbeda dengan Kiara, seperti mempunyai aura positif untukku, David menyungingkan bibirnya dengan bertubi-tubi membuat Rita maupun Robinson saling melempar senyum atas kelakuan anaknya David.

__ADS_1


David yang merasa dirinya menjadi pusat perhatian mereka semua, menoleh ke arah ke empatnya.


"Ada yang aneh pada diriku?" tanya David dengan datarnya.


Kedua orang tuanya hanya tersenyum simpul mendengar suara dinginnya milik putra sulungnya.


Mereka mengalihkan pembicaraan dengan bertanya pada Kiara," Nak tadi mau ngomong apa?" tanya Rita yang mengacuhkan pertanyaan David.


"Di sini anak kalian itu siapa?! aku atau dia!" geramnya lagi.


Seolah-olah ia nyamuk yang di cuekin bin didiemin emang enak. Rita sengaja mengacuhkannya agar David bisa menjadi lebih baik atas sikap dinginnya.


Kiara tersenyum dan mengaruk tengkuk lehernya yang tak gatal atas melihat kelakuan keluarga Xander yang begitu barbar. Yang satu dingin membuat yang akan menyapa pun Engan takut kalau nantinya akan di makan mentah-mentah oleh David. Tiga orangnya lagi suka bercanda dan humoris, entahlah akan jadi apa bila aku menikah dengan Mas David dan anakku akan mengikuti jejaknya siapa? Kiara membatin.


Sadar Kiara? mikirnya kejauhan! tanya dulu sama David apakah dia benar-benar menerima perjodohan ini atau tidak, Kiara mengerutuki dirinya sendiri.


"Papa?! Mama gak menyangka bahwa Papa doyan bercanda juga?!" celetuk Rita spontan setengah tak percaya atas apa yang di katakan suaminya.


Suaminya sosok seorang yang jarang tersenyum bahkan bersenda gurau tak seperti saat ini. Apakah karena adanya Kiara? sehingga ia bisa berubah drastis begitu? beribu-ribu pertanyaan mengelayut di benak Rita.


"Wah ceritanya kedatangan hidayah Papa ini? ngak biasanya begini?" cetus Devina dengan memutarkan kedua bola matanya malas.


"Hidayah?! memangnya papa kesambet Apaan" elaknya yang tak terima dikatain anaknya yang mendapatkan hidayah.


"Kok malah jadi pada berantem?!" ujar Kiara dengan menatap wajah mereka secara bergantian.


"Bukan berantem, tapi ribut!" tukas Rita dengan gelak tawa.


Devina hanya tersenyum mengangguk membenarkan jawaban Rita, dirinya pun merasa heran dengan sikap Mama dan Papa yang begitu cepat berubah drastis. Tapi ada baiknya juga es batu super salju pun akhirnya bisa mencair juga berkat Kiara si gadis cantik lugu dan sederhana. Kiara berpenampilan sederhana apa adanya' bukan ada apanya.

__ADS_1


Keluarga Xander bersyukur atas Rahmat yang Tuhan berikan dengan mendatangkan Kiara di kehidupan mereka. Kiara bagaikan cahaya yang menyinari hidup David yang sempat redup putus asa semenjak di tinggal Vanya.


Secara perlahan David mau membuka pintu hatinya untuk Kiara, setelah apa yang sudah di lakukan Kiara yang di beri mandat untuk memberikan sumbangan untuk panti asuhan pun ia lakukan walaupun ada insiden yang harus di alami oleh Kiara.


"Mah, kalau bisa di percepat saja pernikahan kami?" tanya David dengan senyum menatap wajah cantiknya Kiara.


"Apa?! Mama gak salah dengar kan!"


David hanya tersenyum mengangguk membenarkan jawaban Rita.


"Gimana bulan depan? kalian berdua setuju?" ulang Rita.


"SETUJU!!" celetuknya Robinson, yang mengundang tatapan dari anak menantu dan istrinya.


"Loh! kok malah Papa yang semangat menjawabnya dengan begitu antusiasnya lagi!" ejek Rita membuat Robinson tersenyum kikuk atas sikap hebohnya dia sendiri. Ia pun tak tahu kenapa dirinya bisa seheboh gitu.


"M-maksud Papa, biar kita cepat punya cucu."


"Ah, kalau begitu? Mama mau request sekarang saja mumpung ada kesempatan untuk bertanya pada Kiara," tak kalah hebohnya Rita berteriak.


"Mau request?" tanya mereka serempak."


Rita mengganguk dengan senyum dan memperaktekan cara menggendong bayi.


"Mama mau request cucu baby twins, bagaimana bagus kan idenya Mama?" dengan menaik turunkan alisnya.


Semua orang menatap tajam kearah Rita yang seyam senyum sendiri karena lagi membayangkan sedang mengendong cucunya yang satu ia yang mengendongnya yang satu lagi suaminya.


Robinson Xander duduk dan memijit pelipisnya berusaha tenang, agar tidak ikut-ikutan stres seperti Rita batinnya.

__ADS_1


__ADS_2