Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Jadikan Pelajaran


__ADS_3

"Aw.....!! aku menjerit ketika sebuah pisau mendarat di perutku. Ketiga penjahat tersebut berlari meninggalkan aku yang kini bersimbah darah.


"Tolong!" ucapku lirih dan kedua mataku berlahan mulai gelap.


Kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa hanya kegelapan saja yang sudah terjadi pada ku? apa aku buta, ku paksakan membuka mata meski merasa berat.


Sebuah suara yang tidak asing menyusup gendang telinga ku.


Ku buka perlahan-lahan mataku namun masih enggan untuk membukanya.


"Mah, Pah. Lihatlah Kak Kiara sudah sadar!" teriak Devina.


Rita dan Robinson menghampiri Kiara yang sedang berbaring di ranjang sedangkan Devina duduk di sampingnya dan memperhatikan wajah Kiara yang memucat karena kehabisan darah.


Perlahan-lahan Kiara bisa membuka matanya dan menatap seisi ruangan yang ia tak mengenalinya.


"Aku dimana?" tanya Kiara dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Rita menahan tubuh Kiara agar tetap terbaring.


"Jangan banyak bergerak dulu Sayang? nanti luka mu akan berdarah lagi," jelas Rita dengan senyum mengembang.


"Kak Kia jangan banyak bicara dulu dan Jangan banyak gerak," Devina membenarkan jawaban Rita dengan posisi duduk di samping Kiara.


"Devina, Kakak mu sudah datang ke mari, sudah tahu calon istrinya masuk rumah sakit bukannya cepat kemari," Rita bertanya lagi pada Devina dan di anggukan kepala oleh Devina.


Tak lama kemudian pintu terbuka dan nampak seorang pria tampan rupawan dan tidak lupa kacamata hitam nya yang selalu setia menemani wajah tampan David yang di tuntun oleh Pak Jordi.


"Kak, lama banget sih?!" jawab Devina dengan mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Bukanya menjawab pertanyaan dari Devina justru David mendekati Kiara dan duduk di samping Kiara dengan memegangi tangannya dan bertanya tentang keadaannya sekarang.


"Kamu baik-baik saja kan? mana yang sakit?" tanyanya penuh kekhawatirannya dengan Kiara, rasa takut terlukis di wajahnya David yang begitu khawatir.


Sikap hangatnya David membuat Kiara terenyuh 'Kamu bisa perduli juga sama aku Mas? ternyata kamu punya sisi baiknya juga' batin Kiara dengan senyum.


"Kalian ngobrol dulu ya, Mama mau bicara sama Pak Jordi tentang kejadian tadi siang bagaimana kronologinya?" Rita berpamitan pada Kiara dan David.


"Baik Mah!" jawabnya David Xander dengan seulas senyuman. Sedangkan Kiara hanya tersenyum mengangguk pelan.


"Pah, Devina. Kita keluar dari ruangan Kiara dulu biarkan mereka berdua biar saling terbuka satu sama lainnya," Rita mengedipkan sebelah matanya pada Robinson agar cepat keluar dan di anggukan kepala oleh mereka.


"Siap Bos!" keduanya memberi hormat kepada Rita yang di sambut gelak tawa dari kami.


****


"Pak Jordi, kenapa ini semua terjadi? kan saya tidak menyuruh mereka untuk melakukan penusukan terhadap Kiara?!" geramnya.


"Kenapa Mama menyalahkan Pak Jordi? ini semua kan atas ide gila Mama, lihat sekarang keadaan Kiara dirinya harus menanggung semuanya akibat ulah Mama!" gerutu Robinson terhadap Rita.


Devina merasa bersalah karena orang suruhannya belum datang di saat Kiara dan Pak Jordi pergi menuju panti asuhan tersebut. Dirinya harus menjelaskannya darimana dulu bila jujur maka dirinya akan di marahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya.


"Maaf Nyonya, yang menusuk Non Kiara kemarin adalah penjahat asli, bukan orang suruhan dari Nyonya?" sahut Pak Jordi.


"Apa!"


Ucap ketiganya bersamaan.


"J-jadi yang melakukanya adalah penjahat beneran!" Rita menjawabnya dengan wajah kecewa atas tindakannya yang membuat calon menantunya harus terbaring lemas di rumah sakit.

__ADS_1


"Devina jelaskan sama Mama kenapa ini semua bisa terjadi? Mama sudah katakan ikuti mobilnya Pak Jordi untuk memastikan bahwa Kiara amanah untuk mengantarkan uang tersebut ke panti, kenapa jadi begini Devina?!" geramnya lagi dengan menatap tajam kearah Devina.


Devina tidak bisa menjawab dirinya bingung harus berbuat apa.


"Sudah jangan menyalahkan orang lain? ini semua sudah terjadi dan Papa ingatkan jangan sampai kalian mengulanginya kembali mengerti?!" ejek Robinson dengan menarik ujung bibirnya keatas.


"Mama lakukan demi kita semua Pah, Mama mau menguji calon mantu Mama apakah dia benar-benar baik dan tidak matre seperti keluarganya?" bela Rita yang sedari tadi selalu di salahkan oleh Robinson.


"Sekali lagi maafkan saya Nyonya, karena kelalaian saya Nona Kiara terluka saya sudah berusaha melawannya tapi mereka jumlahnya banyak dan badannya gede-gede sedangkan saya kecil," tukasnya dengan menunduk tak berani menatap wajah Nyonya dan Tuan nya.


"Sudah Pak, ini sudah terjadi jangan saling menyalahkan, yang penting kita harus mencari informasi tentang para begal itu," tuturnya seraya tersenyum.


"Ingat kejadian ini jangan sampai David tahu, bahwa kita yang merencanakan semuanya. Hanya kita yang tahu," pesan Rita dan di anggukan kepala oleh Devina dan Jordi.


Rikha yang uring-uringan menunggu kepulangan Kiara namun yang di tunggu belum juga menunjukan batang hidungnya.


jelas saja mereka galau ini kan waktunya makan malam, biasanya yang menyiapkan makan adalah tugas Kiara pasti mereka kelaparan.


"Anak bod*h itu kemana dari pagi belum juga pulang?! lihat Pah, ini sudah pukul berapa! Mama lapar mau makan," Rikha mondar-mandir seperti setrikaan.


"Mama dari tadi mondar-mandir aku yang melihatnya jadi pusing Mah!" gumam Andin.


"Kita makan di luar Mah, sekalian kita cari anak itu!" usul Joni yang di anggukan kepala oleh mereka berdua.


"Mungkin mereka lagi kencan dengan orang buta!" cetus Andin.


"Mungkin," Rikha mengangkat kedua bahunya.


"Dimana-mana orang bod*h cocoknya bersanding dengan orang buta!"

__ADS_1


Meraka tertawa lepas merasa puas melihat penderitaan Kiara, yang menurutnya bisa menguntungkannya dengan sikap bod*h nya Kiara.


__ADS_2