Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Kita Sepupuan


__ADS_3

Setelah mendengar pengakuan dari Kiara, mamanya Reyhan memeluk tubuh Kiara dengan eratnya.


"Jadi kamu keponakan Tante Sayang?" ujarnya dengan senyum,"Kenalkan Tante namanya Rikhe adiknya mamamu Sayang," imbuhnya lagi dengan menatap wajah Kiara yang heran dengan sikap Mamanya Reyhan yang mengaku sebagai tantenya.


"Maksud Mama, aku dan Kiara bersaudara?" Reyhan menimpali percakapan antara Kiara dan mamanya.


"Iya Nak. Kalian berdua sepupuan."


"Dunia ini serasa sempit sekali! tak menyangka, do'a Mama terkabulkan," ucap Reyhan.


"Sekarang Mama gak usah bersedih lagi, apa yang Mama rindukan sudah ada di depan Mama sendiri," tutur Bimo papanya Reyhan.


"Walaupun foto kopinya Kak Rikha," timpal Rikhe dengan gelak tawa.


"Nak. Coba ceritakan sama Tante, kenapa kamu bisa ada disini? sedangkan ini sudah malam."


Rikhe bertanya pada Kiara dengan senyum mengembang seakan-akan rasa rindu yang teramat dalam kini sudah terobati dengan kehadirannya Kiara.


"Pantas saja Tante aku panggil tak menjawabnya, ternyata memang bukan mama," ujarnya dengan senyum. Karena keduanya saling melepas rindu.


"Tak menyangka kalau aku akan bersaudara dengan anak cinggeng! huh!" ledek Reyhan yang membuat Kiara mencebik kesal.


"Aku yang rugi tau?! harus punya sepupu yang mirip preman pasar," celetuknya membuat Rikhe dan Bimo terkekeh geli melihat tingkah laku anak dan keponakannya.


"Reseh! punya Kakak nyebelin banget. Untung atau kalau dua berbahaya," gumamnya dengan menjitak jidatku dengan telunjuk tangan nya.


"Aww! sakit tau?! siapa bilang punya kakak satu," seru Kiara lagi.


"Emang ada berapa?" tanyanya dengan mengaruk kepalanya yang tak gatal.


"Dua."


"Kabar Andin gimana? pasti cantik seperti kamu deh," potong Tante Rikhe.


Kiara hanya mengangkat bahu nya tandanya dia tidak tahu kabar Andin juga orang tuanya.


"Kok. Gak tau?!" kata Rikhe.


Kini Kiara yang dibuat gelisah karena ia harus menjawab apa haruskan jujur kalau dirinya tak tinggal lagi bersama Rikha dan Joni? bila ia jujur akankah Rikhe menerima dirinya sebagai keponakannya atau malah mengusirnya.


"Woy! jawab!" seru Reyhan yang membuat Kiara terkejut.


"Apaan sih. Jadi Ade Nyebelin," ketus Kiara yang disambut gelak tawa dari mereka.


"Sudah! jangan pada ribut! ini sudah malam kita makan dulu, setelah itu baru kita melanjutkan percakapan kita. Atau Kia mau nginap atau pulang," ujar Rikhe membuat senyum Kiara memudar.


Tak ada jawaban dari Kiara, membuat ketiganya heran.

__ADS_1


'Apa anak ini ada masalah dengan orang tuanya sehingga aku menyingung tentang Kak Rikha dia hanya diam saja. Bila aku terus mendesaknya aku takut ia akan pergi. Biarkan dulu Kiara nginap disini besok bisa aku antarkan ke rumahnya sekalian mau ketemu sama kakak aku yang selama ini aku rindukan, gumam Rikhe.


"Dikit amat! makannya. Bukanya tadi bilang laper ya," celetuk Reyhan membuat Kiara menatap tajam kearah nya.


Reyhan yang melihat Kiara makan sedikit dengan inisiatif ia mengambilkan beberapa centong nasi kedalam piringnya Kiara beserta temannya.


"Makan yang banyak! jangan bikin malu kita. Besok kamu pulang ke rumah, terus Tante melihat kamu kurus bisa-bisa mama aku yang di omelin sama mama kamu," seru Reyhan dengan senyum.


"Iya Sayang? makan yang banyak. Kok, malah makan sedikit? apa masakannya gak enak," tanya Rikhe.


"Enak kok Tante," jawab Kiara dengan senyum di paksakan.


Rikhe menyukai sikap Kiara yang hangat, sopan, santun dan ramah tak seperti Andin.


Dirinya pergi disaat Andin masih berumur 7 tahun. Namun Rikhe sudah tau sifat Andin yang menuruni sikap kakaknya yang arogan, sombong dan keras kepala.


Rikhe tak tau kalau Kiara bukan anaknya Joni. Ia mengira bahwa Kiara menuruni sifat papanya.


Selesai makan Kiara membereskan semua piring kotor untuk ia cuci.


"Mau ngapain," tanya Rikhe yang melihat Kiara membawa piring kotor ke westapel.


"Mau Kia cuci Tan," jawab Kiara dengan seulas senyum.


"Ada bi Tini, sudah tinggal saja."


Rikhe hanya tersenyum mengangguk,"Baiklah."


Rikhe berlalu meninggalkan Kiara yang sedang mencuci piring kotor.


"Neng, benar kata Nyonya, biar Bibi saja yang mencucinya," bi Tini mengambil alih pekerjaan Kiara, namun Kiara menolaknya.


"Biar aku yang nyuci Bibi yang mengeringkannya jadi? Bibi ngak ngangur bagaimana Bi," tawar Kiara yang di anggukan oleh Bi Tini.


"Baiklah Neng."


Bi Tini mengeringkan piring dan menatanya di rak piring, tak ada obrolan diantara mereka hanya suara gemericik air kran. Sehingga cuci mencuci pun beres.


"Selesai?!" Kiara berkata dengan senyum mengembang.


"Semuanya sudah beres, aku kedepan dulu ya Bi," pamit Kiara yang di angukan kepala oleh Bi Tini.


"Kia, sini!" Rikhe melambaikan tangannya untuk memanggil Kiara.


Kiara mendekati Rikhe yang sedang duduk.


"Duduk dekat Tante sini." Rikhe menepuk-nepuk sofa agar Kiara duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kamu gak kuliah," pertanyaan Rikhe sukses membuat Kiara semakin gelagapan harus menjawab apa.


"Gak Mah." jawab Reyhan membuat Mamanya mengerutkan keningnya heran.


"Mama nanya Kiara? bukan kamu," tunjuk Rikhe pada anaknya.


"Benar yang dikatakan Rey?"


"Iya Tante," jawabnya dengan senyum kecut.


"Ntar Tante bilang sama mama kamu, masa kamu gak di kuliahin? ini gak adil," lirihnya dengan mengusap rambut Kiara.


Perhatian Rikhe membuat Kiara merasa nyaman.


'Andaikan mama seperti Tante lebih menyayangi aku, mencintai aku seperti mama mencintai dan menyayangi Kak Andin pasti aku orang yang pertama bahagia di dunia ini. Rey? kamu beruntung mempunyai mama seperti Tante Rikhe, ya' Tuhan semoga suatu saat mamaku bisa menyayangi aku, mencintai aku' batin Kiara.


"Kok nangis?" ucap Rikhe membuat semuanya menatap heran kearah Kiara.


"Aku gak menangis Tan, aku bahagia bisa bertemu dengan kalian? ternyata aku punya Tante, Om dan sepupu yang menyebalkan."


"Mama kamu gak pernah cerita tentang Tante?"


Kiara mengeleng cepat,"Gak pernah Tante," jawabnya singkat.


"Mah, ini sudah malam biarkan Kiara istirahat' ngobrolnya kan bisa di sambung besok," Bimo menimpali obrolan istrinya dan keponakannya itu.


"Betul."


Reyhan anggukan kepala membenarkan perkataan papanya.


"Kasian tuh! mukanya juga udah kusut. Butuh rileks biar besok wajahnya fresh," sambung Reyhan lagi dengan senyum mengejek.


"Kalian berdua ribut saja. Pah, Mama mau tidur bareng Kia ya' Papa bisa bobo sendiri," ujarnya dengan mengedipkan sebelah matanya pada Bimo.


"Mah, Papa kangen berat sama Mama loh. Sudah satu Minggu Papa gak main," Rajuk Bimo mencoba membujuk istrinya.


"Papa! malu tau sama anak-anak," ketus Rikhe dengan wajah memerah karena malu atas ucapan suaminya. Sebenarnya ia juga kangen berat tetapi ia tak enak hati dengan Kiara.


Kiara tau apa yang di katakan oleh Bimo.


"Tante aku bisa tidur sendiri kok, lagian kasian Om harus tidur tanpa Tante," kata Kiara dengan senyum kikuk. Dirinya tak tega melihat Om nya yang sepertinya menahan sesuatu.


"Kalian berdua sudah tua masih saja kelakuannya seperti pengantin baru," geram Reyhan dirinya malu dengan sikap kedua orangtuanya apalagi di lihat oleh Kiara.


Kiara yang melihat ekspresi wajah Reyhan hanya tersenyum simpul mendengar sindiran untuk kedua orangtuanya.


"Rey? kita ngobrol di luar aja yuk," ajak Kiara.

__ADS_1


Reyhan menganguk pelan,"Kita bukan nyamuk. Yang mau ngeliatin orang mesra-mesraan," ketusnya dengan berlalu meninggalkan kedua orangtuanya.


__ADS_2