Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Mendadak Berubah


__ADS_3

"Ini dari siapa? Kakak gak mau membukanya sebelum tahu orangnya?"


"Buka dulu nanti aku bisikan orangnya siapa?" Reno malah membuat aku jadi pusing sendiri memikirkannya.


"Baiklah bawel?" cicitku yang mulai membuka kotak kecil itu dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat sebuah benda kecil yang menyilaukan mataku.


Membuat kedua mataku melebar sempurna dikala melihat benda yang menyilaukan mataku itu, ternyata sebuah cincin bertuliskan huruf XK entah apa maksudnya aku pun tak mengerti. Bentuk cincinnya indahnya sekali kemungkinan harganya mahal, aku tafsir harganya sekitar ratusan juta. Yang mampu membelinya adalah orang-orang kaya yang kekayaannya tidak akan pernah habis tujuh turunan.


Aku menatap wajah Reno untuk minta penjelasan tentang siapa yang memberikan hadiah untukku.


Reno tersenyum dan menarik tanganku agar duduk dekat dengan nya, ia membisikan sesuatu yang membuat aku semakin penasaran dengan ucapan Reno yang selalu memutar-mutar.


"Reno sekarang jujur deh sama Kakak?! jangan main tebak-tebakan bikin kepala kakak pusing saja!" tanyaku dengan pelan rasanya kesabaran ku mulai habis.


"Lihat namanya ada di balik surat cinta," cetusnya dengan senyum.


Kalau saja bukan anak kecil sudah aku jitak jidatnya. Ah! bikin emosi saja," aku menggerutuk diriku sendiri.


Aku balikan kertas surat yang aku baca tadi dan ternyata benar di sana ada nama berinisial


DX aku berusaha berpikir keras siapa yang mempunyai nama berinisial DX. Kepalaku semakin pusing dan perut ku masih terasa ngilu, aku tutup kotak kecil itu agar tidak terlihat oleh Mama dan Kak Andin. Bisa gawat kalau mereka melihatnya bisa-bisa di ambilnya.


Bahkan kalung berlian itu pun belum sempat aku tanyakan pada Kak Andin apakah masih ada atau sebaliknya. Bila Kak Andin kepepet tak punya uang maka dirinya akan menjual barang yang berharga dan tak perduli barang milik siapa. Itulah sifat manusia berbeda.


Aku masih bersyukur tidak mempunyai sifat yang bisa merugikan orang lain dan diri kita sendiri. Aku banyak belajar tentang kesabaran dan keikhlasan kepada seorang ustadz yang selalu mengajariku apa arti hidup. Mengajariku bagaimana kita harus lebih dekat lagi kepada Sang Pemilik Kehidupan. Aku tahu sedikit tentang agama, itu semua karena pak ustadz.

__ADS_1


Kedua orang tua ku tak pernah mengajariku untuk beribadah jangankan untuk mengingatkan aku untuk beribadah mereka pun menjauh dari Perintahnya. Mereka mengejar duniawi dan melupakan kehidupan yang kekal abadi nantinya di Surganya Allah.


Aku tak henti-hentinya mendoakan mereka agar mau menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangan-nya. Karena harta tidak akan bisa menolong kita justru membuat kita lupa akan adanya Tuhan.


"Kak Kia?! malah bengong?" erang Reno dan juga mengguncangkan lenganku.


"Em...apa Reno?! kamu suka buat kakak jantungan saja!"


"Kakak sih. Kebanyakan melamun jadi gak fokus!" geramnya dengan menyungingkan senyum. Aduh! anak kecil sok tahu? nyebelin, umpatku bukannya dia jujur saja malah bertele-tele.


"Itu ada inisialnya," tunjuknya pada secarik kertas yang aku pegang, ternyata benar di belakangnya ada huruf DX. Lagi-lagi berinisial DX dan yang ada di lingkarkan cincin terdapat dua huruf juga yaitu XK. Aku hanya bisa pasrah.


Reno mendekati ku dan memelukku erat membuatku terkejut dengan sikapnya.


"Reno? Kakak akan marah sama kamu bila kamu tidak menjawab pertanyaan Kakak," cicit Kiara dengan menatap wajah Reno.


"Seperti apa orangnya?"


"Emm... dia orangnya ganteng? tinggi pake kacamata hitam dan topi hitam dan bewok kan," terangnya lagi membuat aku mengerutkan kening ku, ciri-cirinya mirip dengan Mas David?! apa jangan-jangan ini semua darinya? hatiku mulai bertanya-tanya.


"Reno, sekarang orangnya mana?"


"Sudah pergi naik mobil!"


"Naik mobil? sendirian atau pake sopir?!" kataku untuk memastikan bahwa dirinya David atau bukan.

__ADS_1


"Sama sopirnya deh kakak. Sepertinya dia gak bisa melihat buta," imbuhnya lagi dengan menganguk pelan.


Gak salah lagi pasti Mas David yang memberikan ini semua, kenapa hatiku sebahagia ini? perasaan apa yang aku rasakan sekarang? apa aku mulai menyukai Mas David? dan Mas David juga mulai menyukai ku? kini di hatiku penuh dengan tanda tanya entah siapa yang bisa menjawabnya dengan pertanyaan yang membingungkan.


"Kia?!" Papa memanggil ku dari kejauhan.


Segera aku masukan surat dan cincin dari Mas David ke saku celana panjang ku kalau tidak bisa-bisa di ambil Mama, batinku.


Segera aku masukan dan menuju ke arah Papa yang memanggilku.


"Kak Kia, aku pulang dulu ya?" pamit Reno yang aku anggukan kepala.


"Kamu di situ sama siapa Nak." Tanya Papa dengan senyuman hangat, aku belum pernah melihat Papa tersenyum lembut pada ku sekian lama akhirnya aku mendapatkan kasih sayang darinya.


"Oh, itu Reno Pah? ia kebetulan lewat dan aku mengajaknya bicara," jawabku singkat.


"Ada apa Papa mencari aku?"


"Papa khawatir dengan kondisi kamu? sekarang masuk, ada yang mau kita bicarakan sama Mama?"


Aku hanya mengerutkan kening ku heran.


Tumben banget aku di ajak kompromi, gumamku. Papa masuk mendahului dan aku mengekor di belakangnya.


"Wow?! darimana saja kamu! membuat Papa panik kalangan kabut nyariin kamu?!" ejek Kak Andin yang menatapku dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Andin jangan begitu sama Kiara?" bela Mama yang membuat aku terkejut bingung gak biasanya Mama membelaku di depan Kak Andin.


Hatiku semakin penasaran dengan mereka? ada angin apa? mereka semua mendadak baik padaku. Apakah aku harus bersyukur atas apa yang terjadi pada hubungan antara kami.


__ADS_2