
"kamu mau mampir kerumah aku?" tanya Reyhan dengan senyum khasnya.
Kiara nampak berpikir sejenak,"Emm, boleh deh. Sekalian aku mau minta makan," jawab Kiara dengan cengengesan menanggapi tawaran dari Reyhan.
"Ternyata yang putus cinta lapar juga! aku kira gak doyan makan."
"Aku juga manusia, punya rasa lapar juga," timpal Kiara dengan menunjukan cengiran.
"Ayok!" Reyhan menarik lengan Kiara untuk mengikutinya menuju rumahnya.
"Neng? neng!" panggil pak sopir yang melihat Kiara sedang di tarik paksa oleh Reyhan.
Reyhan dan Kiara menghentikan langkahnya dan membalikan badannya ke belakang.
"Siapa dia Ki?" tunjuk Reyhan kepada pak sopir yang sedang berlari menuju kearah mereka.
"Oh iya, aku lupa! itu pak sopir taksi yang tadi mengantarkan aku kesini."
Kiara mendekati pak sopir dan berkata,"Pak, bapak pulang saja, saya mau main kerumahnya teman saya?" ucap Kiara.
"Jadi ini temanya Neng? Bapak kira dia penculik! kalau begitu maafkan saya," kata pak sopir yang menatap Reyhan tak enak hati sudah berprasangka buruk padanya.
Kiara anggukan kepala dan tersenyum manis pada pak sopir dan tak lupa Kiara memberikan uang seratus ribu padanya.
"Ini apa Neng?" tanyanya heran dan pak sopir pun enggan menerima uang tersebut.
"Sekarang Bapak pulang saja, jangan menunggu saya nanti saya pulangnya diantar sama dia," jawabku dengan menunjuk Reyhan yang akan mengantarkan aku pulang.
"Baik Neng? tetapi bapak gak mau menerima bayaran dari Neng. Bapak iklhas tuk mengantarkan Neng kesini? Neng sudah bapak anggap sebagai anak sendiri," ujarnya dengan senyum tulus.
"Ah Bapak, aku jadi terharu atas kebaikan Bapak terhadap saya, dan ini buat Bapak dan satu lagi aku gak mau ada penolakan titik. Aku ikhlas."
"Iya Pak terima aja. Kalau Bapak menolaknya dia bisa ngamuk Pak," celetuk Reyhan membuat Kiara menatap tajam kearah nya.
"Nyebelin banget sih jadi orang," ucap Kiara dengan manyun.
Setelah kepergian pak sopir kini Kiara dan Reyhan berjalan menuju rumahnya.
"Mana rumahnya Rey?! apa masih jauh," tanya Kiara.
"Ngak! tuh! sudah kelihatan dari sini? rumah yang paling kecil itu!" tunjuk Reyhan yang membuat Kiara terkejut dengan pengakuannya.
"Buset dah! itu mah istana cuy?! rumah Segede itu! kamu bilang rumah kecil. Jangan merendah," Kiara terpukau dengan rumah yang begitu besar, arsitektur bangunannya mirip rumah-rumah orang luar negeri.
"Kamu! anaknya sultan ya?! di tempat kayak gini ada istana megah. Wah-wah memang sultan mah bebas mau ngapain juga, termasuk bikin istana di pulau."
"Itu bukan punya aku. Itu punya nyokap, lagian kamu suka berlebihan memujinya," jawab Reyhan dengan senyum simpul.
"Sama aja keles. Ayok aku gak sabar mau ngobrak- ngabrik istana kamu, pasti didalamnya banyak barang mahal! bisa aku copet dong! satu?!" kelakar Kiara dengan gelak tawa.
"Mau nyopet ngomong dulu, berarti kalau ada yang hilang pasti kamu dong yang nyopet?!" jawab Reyhan dengan mengacak poni Kiara yang berantakan.
"Jahil banget sih! punya tangan! lihat poni aku berantakan jadinya," kesal Kiara dengan merapikan poninya lagi.
"Emang dari tadinya sudah berantakan' Neng. Lihatlah rambutmu acak kadut mirip kuntilanak yang baru pulang dari pasar, terus dia kehilangan sisirnya," ejek Reyhan dengan menyugar rambutnya yang hitam menambah aura ketampanannya.
"Hadeh! kamu punya mata masih normal kan."
Reyhan hanya mengangguk pelan dan tersenyum manis padanya.
"Kenapa kamu menyamakan aku dengan kuntilanak. So aku cantik palipurna sejagat raya sedangkan dia sudah jelek' bau, lagi jadi?! kamu gak bisa nyama-nyamain aku dengan dia," geram Kiara.
__ADS_1
"Sensi, siapa juga yang menyama-nyamakan kamu dengan kunti?"
"Lah! tadi kamu bilang aku mirip kuntilanak yang kehilangan sisirnya?!" jawabnya dengan kesal karena Reyhan selalu jahil, meledek, dirinya terus.
Tak terasa dengan keributan kecil akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah Reyhan.
"Rey?!" teriak Kiara dengan membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna tanpa berkedip memandang sekeliling sudut ruangan depan milik Reyhan.
"Aku gak mimpi kan?! Rey, cubit tanganku," pinta Kiara dengan senang hati Reyhan melakukannya dengan cubitan yang membuat Kiara menjerit kesakitan.
"Auuuu..., pelan dong sakit tau!" Kiara meringis kesakitan dengan mengusap kulit tanganya yang di cubit Reyhan barusan.
"Kamu yang nyuruh, kok marah sama aku."
"Gak keras juga kali?!" sungut Kiara dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Eh, ada Den Rey?" sapa seorang wanita paruh baya yang menghampiri kami berdua.
"Iya Bi."
"Den ini siapa? pacar Aden ya' pinter banget den cari pacarnya cantik," pujinya dengan berbisik. Reyhan tersenyum menanggapi pertanyaan dari Bi Tini.
"Bukan Bi," Reyhan menjawab dengan berbisik pada Bi Tini.
"Apaan sih lo, bisik-bisik tetangga. Aku tersungging tau," ketus Kiara cemberut.
"Ya sudah kalau begitu, bibi mau kedapur mau buat minuman dulu ya," ujarnya dengan senyum.
"Rey, mana Mama kamu? ini rumah Segede gini gak ada orangnya."
"Siapa bilang, emang aku bukan orang ya, si bibi tadi juga bukan orang gitu," sindir Reyhan yang langsung mendapatkan cubitan dari Kiara.
Kiara tersenyum dan pergi menuju kearah dapur sekedar melihat-lihat.
"Kemana aja. Mau ikut."
"Idihh. Hay Nona kamu harus menjaga sikapmu siapa disini yang menjadi tuan rumah nya," ejek Reyhan dengan senyum sinisnya.
"Ya...,jelas kamu lah. Aku kan hanya tamu, jadi?! tamu itu harus di perlakukan seperti ratu okey?!"
"Sakarepmu!" ketus Reyhan dengan manyun.
"Tampang preman' dengan gaya rambut ala-ala artis Drakor bisa marah juga! gak malu tuh sama rambut," sindir Kiara dengan seulas senyum.
"Bawel."
Kiara cemberut kesal karena Reyhan mengatai dirinya bawel gak Papanya, gak Reyhan sama-sama doyan ledekin dirinya.
"Udah ah, jangan cemberut bukannya mau makan? kita makan yuk, bi Tini sudah menyiapkan makanan untuk kita," ajak Reyhan dengan senyum.
"Aku mau lihat-lihat dulu, makannya nanti aja," tolak Kiara.
Mau tak mau Reyhan menuruti keinginan Kiara.
"Mau kemana dulu, ke taman atau keatas."
"Taman dulu deh. Pasti indah pemandangan di sekitar taman yang banyak di tumbuhi bunga-bunga yang bermekaran dan pastinya indah," ujar Kiara antusias.
Setelah sampai di taman Kiara tak henti-hentinya berdecak kagum atas apa yang ia lihat. Bermacam-macam bunga.
"Rey? indah banget! andaikan aku punya rumah idaman sepeti ini pasti aku akan betah tinggal disini."
__ADS_1
Reyhan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan wanita yang sedang berlari-lari memutari bunga mawar yang sedang bermekaran yang semerbak harum sampai menyeruak indera penciuman.
"Kamu suka disini?" tanya Reyhan yang di anggukan dari Kiara.
"Suka banget."
Wah, tamannya luas sekali. Banyak bunga, gumamnya dengan terus berjalan menuju taman belakang.
"Ki? aku tunggu kamu disini aja ya?" teriak Reyhan pada Kiara.
"Iya," timpalnya dengan suara keras, karena Kiara sudah berada di taman belakang.
"Sayang? kamu ngomong sama siapa?!" sapa seorang wanita cantik dengan senyum.
"Mama, sudah pulang?" tanya Reyhan kepada Mamanya.
"Sudah, kata bibi kamu membawa seorang wanita cantik, mana orangnya? boleh dong Mama berkenalan dengan dia."
"Tuh. Orangnya lagi di taman belakang lagi melihat bunga, dasar wanita. Apa bagusnya dengan bunga," gerutuknya. Karena menurutnya bila wanita sudah berurusan dengan namanya bunga maka ia akan lupa dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk Mamanya bila sudah merawat tanamannya maka Reyhan dan Papanya akan di cuekin.
"Kita makan sama-sama yuk, ajak pacarnya," kata Mamanya membuat Reyhan terkejut.
"Temen Mah, bukan pacar! mana mungkin aku pacaran sama pacar orang," jawab Reyhan membuat Mamanya mengerutkan keningnya heran.
Plakk....
"Kalau pacar orang ngapian juga kamu bawa pulang. Nanti kalau ada apa-apa kan kamu juga yang kena masalah," gerendel Mamanya dengan memukul lengan kekar anaknya.
Si Reyhan lagi bicara sama siapa? batin Kiara dengan menatap kearah wanita yang duduk bersama Reyhan.
Dengan ragu Kiara berjalan menuju Reyhan yang sedang duduk bersama seorang wanita.
Apa itu mamanya Rey? tanyanya dalam hati.
Reyhan melihat Kiara yang sedang berjalan menuju arahnya ia pun melambaikan tangannya untuk memanggil Kiara.
"Ki, sini!" teriak Reyhan.
Kiara tersenyum manis dan melangkahkan kakinya, namun belum juga sampai di bangku taman ia sudah di kejutkan oleh seorang wanita paruh baya yang sedang tersenyum padanya.
"Mama!"
Kiara tersenyum kegirangan karena wanita yang ia rindukan kini ada di depan matanya.
Dirinya berlari dengan merentangkan kedua tangannya tuk memeluk Mamanya.
"Mama?" teriaknya lagi namun pelukannya di tolak oleh wanita tersebut. Membuat Kiara terkejut dengan sikap Mamanya.
"Siapa kamu?" tanya Mamanya Reyhan dengan senyum.
"Mama gak mengenal aku," tanya Kiara untuk memastikan bahwa dirinya adalah anaknya.
"Rey? jelaskan sama Mama ada apa? kenapa dia memanggil Mama dengan sebutan Mama juga," serunya lagi.
"Ki, ini mama aku? bukan Mama kamu?" Reyhan berusaha memberikan pengertian kepada Kiara kalau di depannya ini bukan mamanya.
"Enggak! Rey? ini mama aku? mama Rikha," Jawabnya dengan lirih membuat mamanya Rey terkejut dengan jawaban Kiara yang menyebutkan nama Rikha.
"APA!" serunya dengan membulatkan matanya dengan sempurna."kamu anaknya Rikha?" ulangnya lagi tak percaya.
"Iya aku anaknya mama Rikha Khumairah," jawab Kiara dengan senyum.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, dan ia pun menitikan air matanya.
"Kak, ini benar anak kamu?" ucapnya seolah-olah ia sedang berbicara dengan kakaknya tetapi siapa yang di maksud dengan kakak. Membuat Reyhan dan Kiara saling tatap ada apakah dengan mamanya Reyhan.