
Aku yang barusan pulang dari kantor langsung di berondongi pertanyaan yang membuat aku terkejut dengan keinginannya Mama dan Papa yang akan menjodohkan aku dengan anak sahabatnya.
Tanpa menghiraukan penolakan dariku mereka sudah memutuskan untuk mengajak wanita itu bertemu yang belum ku ketahui namanya siapa.
"Ma, pa. Aku bisa mencari jodohku sendiri dan gak usah repot-repot nyari jodoh," protesku.
Aku tak mau cepat-cepat menikah, luka hatiku masih aku rasakan. Aku ditinggalkan Vanya pas sayang-sayangnya, seandainya dia tau keberadaan diriku yang tidak bisa melihat apakah dia akan menolaknya? bila benar ia menerima perjodohan ini, itupun karena semata-mata demi keluarganya yang mengalami penurunan saham di perusahaan miliknya.
Keadaan ku yang tak bisa melihat dikarenakan aku buta itu semua karena kecelakaan yang menimpa diriku. Terbesit dalam pikiran ku untuk membuat dirinya menderita, baiklah aku akan ikuti permainan keluarganya, siap-siap untuk memasuki neraka, ucapku dalam hati.
Waktu yang sudah di atur oleh mama dan papa kami sekeluarga berkunjung kerumah wanita yang akan di jodohkan dengan ku.
Sesampainya di sana kami semua disambut dengan baik oleh mereka.
Didepan ruang tamu ada seorang wanita cantik seksi berpenampilan menarik, sedang duduk dengan angkuhnya. Aku menebaknya pasti wanita itu yang akan menjadi calon istriku.
"Jeng Rikha? anaknya cantik sekali?!" seru Mama dengan meliriknya sekilas, ia pun tersenyum yang ia paksakan.
Keduanya saling cipika-cipiki melepas rindu.
"Pah, mantu kita cantik banget," serunya dengan senyum berbinar.
"Maaf Tante, bukan saya yang menjadi mantu Tante," ujarnya dengan berlalu begitu saja tak ada sopan-sopan nya. Untung saja bukan dia yang akan menjadi calon istriku.
"Bukan Andin Jeng, yang akan menjadi calon mantu jeng Rita anak saya yang satunya lagi. Sebentar saya panggilkan dulu? anak itu kalau dandan suka lupa waktu." Tante Rikha pamit untuk menjemput anaknya yang masih di dalam kamar.
"Emangnya siapa yang akan kita jodohkan dengan anakku?" timpal Rita.
"Anakku yang bontot." Ucapnya dengan senyum.
Tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang mulai mendekat ke arah kami. Aku mendongak ke atas dan tersenyum manis padanya ia hanya menunduk malu dengan meremas kedua tangannya.
Ada apa dengan ku? kenapa tiba-tiba tubuhku bereaksi begitu cepat desiran aneh menjalar di sekujur tubuhku di saat melihat kecantikannya.
Devina berbisik pada ku,"Kak. Yang ini lebih cantik, sopan dan santun. Tidak seperti tadi, sombongnya minta ampun, untung saja bukan dia jodohmu Kak yang ini aku mendukungnya seribu persen." Devina memberikan dua jempolnya tanda setuju.
Devina memeluk tubuh gadis itu, yang belum aku tau siapa namanya.
"Hay, namaku Devina, adiknya Kak David Xander," ujar Devina dengan mengulurkan tangannya dan memeluk tubuh nya.
"Hay juga' namaku Kiara Putri." Dirinya memperkenalkan dirinya di depan kami.
Ku pandangi wajah cantiknya sampai-sampai aku tak berkedip, bibir yang sedikit tebal namun seksi. Body tubuhnya tak seideal Vanya, dia jauh berbeda dari Vanya.
__ADS_1
Aku merasakan sesuatu yang membuat aku semakin gelisah karena aku berpacaran dengan Vanya selama lima tahun, tak merasakan apa-apa namun berbeda setelah mengenal wanita cantik dihadapan ku ini.
Aku tersenyum melihat kegugupan yang tercetak jelas di wajahnya.
'Hemm, ini cewek cantik dan manis. Bila aku lihat-lihat kayaknya dia bisa aku jadikan mainan baru aku? nona kamu salah masuk kandang' aku menyeringai licik menghiasi pikiranku.
Setelah cukup lama mengenalnya aku lupa untuk menjalankan misi. Rasa ingin mengerjainya kini berubah menjadi rasa cinta yang tak bisa aku pungkiri lagi.
Wanita itu, wanita yang niatnya untuk ku jadikan pembalasan atas dirinya sendiri yang sudah menerima perjodohan ini justru membuat diriku mengenal cinta yang sesungguhnya. ketulusan hatinya, tutur sapanya yang lembut, nyaman untuk didengarkan. Kiara Putri sudah resmi menjadi istri ku, sikapnya berubah drastis menjadi dingin, dan super cuek. Aku tak menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi padanya.
Semuanya atas kesalahanku yang tidak pernah jujur sejak awal. Berlahan namun pasti aku sudah mulai meluluhkan hatinya yang terlanjur kecewa dengan diriku.
Rencananya aku akan memberikan sebuah hadiah yang teristimewa untuknya sebagai kado pernikahan. Aku sudah membelikan sebuah Apartemen untuk Kiara istri yang paling aku cintai.
Hari ini ditempat ini, aku sedang memeluk tubuh Kiara dengan hati berbunga-bunga.
Karena dirinya tak memberontak lagi atas pelukanku. Semakin dia diam semakin gencar aku mengoda nya dan sesekali tanganku bermain di bukit kembarnya dengan sentuhan lembut membuat dirinya lama-kelamaan terbuai juga.
Kubalikan tubuhnya untuk menghadapku, rona merah muncul di pipinya dan rasa takut terlukis di wajahnya. Gejolak jiwa yang mulai memburu tak bisa aku kendalikan.
Ku sentuh bibir seksinya dengan telunjuk ia memejamkan matanya, aku tersenyum melihat ketegangan yang tercipta dari wajah Kiara.
"Jangan tegang rileks," bisikku dengan menghembuskan napas yang menerpa wajahnya. Kiara tak menjawabnya ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Aku membaringkan tubuhnya di ranjang dengan napas masih memburu, sudah tak sabar untuk menidurkan junior ku yang selalu ingin berontak.
Tubuh mungilnya Kiara sudah berada di bawah kukungan diriku. Tak ada perlawanan dari seorang anak singa yang setiap kali kusentuh maka ia akan mengaum.
Hahaha anak singa nya mulai jinak. Tak segalak kemarin-kemarin. Aku tertawa puas dalam hati setidaknya ia sudah kalah, pasrah menerima permainan seorang David Xander yang tak bisa terkalahkan. Aku membanggakan diriku sendiri.
Kiara memejamkan matanya karena malu, aku tersenyum kecil lalu dengan cepat aku menjatuhinya dengan ciuman bertubi-tubi tak ada yang aku lewati. Dadaku berdebar hebat aku menatap kesana kemari dengan jantung mengentak kuat panas dingin padahal suhu kamar sudah begitu dingin.
Suara detakkan jam dinding terkalahkan dengan suara detak jantung kami berdua. Napas yang memburu kedua mata kami sudah dipenuhi oleh kabut nap*u yang sudah membuncah. Aku mulai menyingkapkan daster yang ia kenakan keatas dan aku lempar kesembarang arah, kini ditubuh Kiara hanya tersisa bra yang senada dengan CD yang ia kenakan.
Terlihat jelas keindahan tubuhnya yang ramping dan seksi dua gundukan benda kenyal padat dan berisi, sepertinya belum pernah ada yang menjelajahinya. Ku sentuh bukit kembar miliknya membuat Kiara mengeluarkan suara indahnya yang menambah aura kelelakian ku semakin sesak dan menegang sempurna dirinya sudah berontak terus ingin segera di keluarkan.
Kuciumi seluruh wajahnya sampai tak ada yang terlewat kan, sudah puas menciumi wajahnya kini aku beralih ke leher jenjangnya aku tinggalkan jejak kepemilikan ku, yaitu tanda merah. Berlahan aku melepaskan pengait bra dan aku lemparkan.
Wajah Kiara memerah menahan napas karena bibirnya aku bungkam dengan bibirku, ia memukul-mukul dada ku karena ia kehabisan nafas akibat ulahku. Sudah puas menciumi nya aku mulai menyentuh benda kenyal padat berisi itu.
Saat kedua tanganku menyentuhnya ia mengeluarkan suara indahnya lagi dengan memejamkan matanya karena menikmati permainan lembut ku. Dalam gundukan bukit kembar miliknya terdapat buah ceri yang merah menggoda dengan cepat aku masukan kedalam mulutku. Tangan satu ku lagi memainkan gunung satunya lagi. Tubuh besarku kini sudah menindihnya. Sudah puas bermain dengan bukit kembar miliknya aku tertuju pada pemandangan yang indah dan luar biasa.
Entah siapa yang memulainya kini kami berdua sama-sama tak memakai apapun.
__ADS_1
Aku senang tak terkira akhirnya aku akan memasuki mahkota Kiara yang selama ini ia pertahankan hanya butuh waktu beberapa menit saja aku pasti bisa, ayo semangat! aku menyemangati diri sendiri.
Posisiku sekarang sudah tepat dan.... seorang pengacau datang ke kamar kami. Rasanya aku ingin menembak mati orang yang sudah berani mengganggu kami.
Suara ketukan pintu membuat aksiku terhenti ditengah jalan. Kiara dengan cepat mendorong tubuhku agar menjauh dari tubuhnya, ia berlari menuju kamar mandi dengan memakai selimut yang menutupi tubuh nya.
"Siapa!" ucapku dengan suara keras.
"Bibi Den, maaf bila bibi sudah mengganggu santai nya Aden dan Nona Kiara," sahutnya dari luar dengan nada tak enak hati.
"Ia Bi, ada apa? tunggu bentar," jawabku dengan cepat aku memakai bokser.
Kacau bila bibi sampai masuk kamar mana pakaian Kiara berserakan di lantai akibat ulah ku.
Aku sengaja membukakan pintu sedikit saja agar bibi tak melihat kamar kami yang berantakan.
"Ada apa Bi?" tanyaku dengan berusaha tenang walaupun hatiku geram, marah. Bagaimana pun beliau lebih tua dari kami maka kita harus sopan.
"Aden dan Non Kia disuruh kebawah, tuan besar mau membicarakan sesuatu sama Aden dan Non Kia," ujarnya dengan menundukan kepalanya.
"Bilang sama Kakek, saya dan Kiara akan segera turun."
"Baik Den." Bi Iem pun pamit dan meninggalkan David.
David mendengus kesal. Lagi-lagi acara menjelajahi bukit kembar miliknya Kiara harus terganggu. Kalau acaranya begini terus menerus bisa nangis darah David.
Kiara keluar dari kamar mandi dengan celikukan mencari keberadaan bi Iem.
"Sepertinya tadi suara Bi Iem?" tanya Kiara yang sudah mengenakan pakaian nya lagi.
"Kakek menyuruh kita untuk menemui beliau."
"Cepetan Mas ganti bajunya, masa mau nemuin Kakek pake gituan," pungkas Kiara dengan senyum hangatnya.
"Baiklah. Ntar malam kita lanjutkan aktivitas yang tertunda." Mas David tersenyum nakal padaku.
Aku mengeleng cepat,"gak mau."
"Kenapa gak mau?!" mas David menarikku ke dalam pelukannya.
"Takut ada yang ganggu lagi." Kelakar Kiara dengan mendorong tubuh ku dan ia berlari keluar dari kamar.
Kiara sudah memberikan sinyalnya, baik aku akan cepat memboyongnya ke apartemen ku untuk mengeksekusi dirimu, kamu sabar sebentar lagi okey? pasti kamu akan tidur dengan tenang, batinku menatap ke bawah perutku yang masih berdiri tegak.
__ADS_1