
"Ara kok, masih tidur? bukanya kalian mau jalan-jalan ya? anak gadis jam segini masih tidur," Dewi menyibak selimut yang menutupi tubuh Kiara membuat sang empunya mengeliat karena merasa terganggu oleh sikap jahilnya Dewi.
"Lima menit lagi Nek, aku bangun," jawab Kiara dengan menarik selimutnya kembali.
"Ya sudah, kalau begitu! ingat! jarang-jarang Papa mu memberikan kesempatan kepada mu untuk pergi jalan-jalan? kapan lagi kalau bukan sekarang?" jelas Dewi agar Kiara tidak menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan oleh Arkana.
"Baiklah Nek?!" ucapnya dengan beranjak dari tempat tidur dan bangun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.
Dewi tersenyum melihat tingkah laku cucunya.
Menyebalkan banget! punya Papa gitu amat ya? eh tapi apa benar dia Papa kandung aku? Arghhhh...Kiara mengacak rambut frustasinya dengan kasar. Aku gak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dan pulang aku kangen sama Mama dan Papa, aku harus pergi dari rumah ini, gumamnya lirih.
"Ngapain Nenek, masih di kamar aku?" tanya Kiara heran. Dewi hanya tersenyum tipis.
"Papa kamu menyuruh Nenek, untuk mendandani kamu biar cantik."
Aku disini di perlakukan seperti ratu menyebalkan! aku ini gak cacat yang harus di perhatikan khusus, aku ingin kembali menjadi Kiara yang mandiri tanpa ada bantuan dari orang lain. Aku ingin menjadi Kiara yang apa adanya bukan ada apanya? jeritnya dalam hati. Dewi yang melihat hanya tersenyum simpul," gak baik mengumpat dalam hati dosa, bagaimana pun dia Papa kandung mu? ia lakukan demi kebahagiaan kamu sayang? jadi jangan membuat Papa mu bersedih, apalagi ada niatan untuk kabur! karena itu tidak akan pernah bisa. Lihatlah Papa mu sudah menyewa bodyguard jadi?! kamu gak bisa macem-macem," Dewi memperingatkan pada Kiara agar jangan pernah untuk kabur dan meninggalkan Arkana.
Kiara yang mendengar perkataan Neneknya hanya tersenyum kecut, dan menghela nafasnya.
"Ara? sudah siap! ayok kita berangkat," ajak Arkana dengan merangkul pundak Kiara. Mau tak mau Kiara menurut saja.
"Om, aku boleh gak pake ini?!" tunjuknya pada gelang dan kalung berlian yang menempel di pergelangan tangan dan lehernya.
"Kamu harus pake! Papa gak mau anak Papa di hina orang lain, paham."
"Aku merasa aneh pake ginian? aku gak bebas," protesnya dengan manyun.
"Papa gak mau kejadian yang menimpa Papa terulang lagi padamu? cukup Papa yang mereka hina! tapi tidak untuk anaknya Papa tolong lah mengerti!" ucapnya dingin dan pergi meninggalkan aku yang masih bengong.
Dewi menghampiri Kiara dan mengelus rambutnya," turuti kemauan Papa mu, Nenek mohon sama kamu Nak," pinta Dewi dengan senyum hangat.
Kiara hanya tersenyum terpaksa sebenarnya ia kecewa dengan sikap Arkana yang berlebihan namun ia tidak mau membuatnya kecewa.
"Iya deh! aku pake aja kalung dan gelang nya."
"Anak pintar."
"Mau duduk di depan? atau di belakang sama Papa," tawar Arkana dengan senyum lembut.
"Aku di belakang saja."
"Ya sudah," ucap Arkana ia tak mau terlalu memaksakan kehendaknya.
Kiara mengurungkan niatnya untuk duduk di belakang dan ia pindah ke depan dekat papanya yang memegang kemudi. Arkana mengerenyit heran,'ada apa dengan anak ini? ah kenapa aku heran, justru aku senang ia mau membuka hatinya untukku' batin Arkana
__ADS_1
"Kenapa pindah?!"
Kiara tersenyum manis padanya,"aku ingin mengenal Pa...pa....lebih dekat lagi," perkataan Kiara membuat Arkana menyipitkan matanya dengan ekspresi terkejut.
"Kamu sudah mau menerima keberadaan Papa?" tanya Arkana yang begitu bahagia dengan sebutan Papa untuknya, dan di anggukan kepala oleh nya.
"Tapi? aku ada satu permintaan," seru Kiara dengan pelan dan menundukkan kepalanya karena ia takut untuk menatap wajah Arkana.
"Apa?"
Dengan memberanikan dirinya ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah Arkana.
"A-aku mau pulang kerumahnya Mama dan Papa? aku janji setelah bertemu dengan Mama aku pulang lagi ke rumah Papa?" cicit Kiara dengan wajah memohon agar ia di izinkan pulang walaupun hanya sebentar.
Arkana mengeleng cepat,"tidak! sekali tidak tetap tidak!" ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Kiara berpegang pada sabuk pengaman karena takut.
Kiara terdiam hanya air matanya yang mewakili kesedihan hatinya, ia di bentak oleh seseorang yang mengaku sebagai Papanya Arkana yang melihatnya menjadi serba salah.
Dirinya menepikan mobilnya di bahu jalan sedang para bodyguard mengikutinya dari kejauhan.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Kiara dengan Isak tangisnya.
"Papa akan mengantarkan kamu pulang! dan kamu tak usah ikut Papa lagi! pergilah! Papa sekarang tidak akan melarangmu lagi."
Sebenarnya Arkana tak rela jika Kiara harus kembali lagi ke rumah Rikha tapi dirinya tidak bisa menahannya.
"Ada hubungan apa antara Papa dengan Mama dulu? dan kenapa kalian bisa punya anak sedangkan waktu itu Mama sudah bersuami, jelaskan semuanya padaku Pah!" desak Kiara yang memohon penjelasannya.
"Baiklah pertanyaan mu akan Papa jawab."
Arkana menghela nafasnya dan tersenyum hambar ia mulai menceritakan semuanya dari awal sampai ia pergi meninggalkan Rikha yang sedang hamil. Kiara hanya mangut-mangut tanda ia mengerti dengan semua jawaban dari Arkana.
"Kenapa Mama begitu membenci aku? dan Mama sering memperlakukan aku dengan kasar, jadi ini alasannya mengapa Mama sangat membenciku, jadi aku bukan anak kandungnya Papa Joni?" Isak tangis pecah ada rasa kecewa yang mendalam 'jadi aku anak haram? anak yang tak diinginkan oleh Mama? pantas saja sikap Mama selalu berbeda padaku ternyata aku hanya anak yang tak diinginkan nya' Kiara mengusap air matanya yang mengalir deras.
"Maafkan Papa Nak, Papa lakukan demi membalas perlakukan dirinya yang selalu memandang rendah orang miskin."
"Miskin?!" tanya heran," bukankah? Papa kaya raya? harta Papa tak akan pernah habis tujuh turunan bukan? kenapa Papa bilang miskin," imbuhnya lagi.
"Dulu, sebelum kaya seperti saat ini," Arkana menjelaskan semuanya dengan detail.
"Sekarang Papa menjadi orang kaya mendadak? apa Papa ngepet?!"
Pertanyaan Kiara sangat konyol membuat Arkan terkekeh geli atas sikap Kiara.
"Tentang itu kamu bisa tanyakan langsung kepada Kakek mu? beliau yang tau jawabannya."
__ADS_1
"Hem? aku nanya Papa bukan sama Kakek! lagian disini gak ada Kakek," ketusnya dengan cemberut kesal.
"Kan Papa gak tau asal-usul Kakek gimana?"
"Sudah jangan cemberut? jadi gak kita jalan-jalannya."
"Terserah Papa," ucapnya dengan lesu.
Arkana melajukan mobilnya kembali menuju ke arah pantai, membuat Kiara merasa heran bukanya mereka akan pergi makan? tetapi kenapa Arkana membelokan mobilnya.
"Loh! kesini? bukanya kita mau makan di restoran?!" gerutunya yang di anggukan kepala oleh Arkana.
"Kita makan di pantai, ini tempat yang selama ini kamu inginkan bukan?" tidak bisa di pungkiri lagi memang benar Kiara sangat menyukai suasana pantai yang indah, yang membuat dirinya merasa tenang dari sekelumit kehidupan nya.
Tak lama kemudian mereka sampai di pantai Kiara turun dari mobilnya dengan wajah berbinar bahagia ia pun berlari menuju bibir pantai yang indah. Dirinya merenggangkan kedua tangannya tuk menghirup udara segar.
Arkana menyusulnya dengan setengah berlari menghampiri Kiara.
"Kamu suka," Tanyanya dan di anggukan kepala oleh Kiara.
"Suka banget!"
"Aku mau kesan ya Pah," tunjuk Kiara pada sebuah batu karang yang indah.
"Papa antar ya?" pintanya ia masih belum percaya pada Kiara, bisa jadi itu hanya alasan Kiara untuk kabur dari nya.
"Gak usah Pah, Kiara mau sendirian," ucapnya dengan senyum mengembang.
"Baiklah."
Kiara berlari penuh kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya yang cantik.
Arkana menelpon seseorang," awasi dia jangan sampai dia kabur! paham!" tuturnya seraya menutup telponnya.
Dari kejauhan tampak dua lelaki yang bertubuh tegap dengan berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam, mereka berdua mengawasi Kiara dari kejauhan. Mereka adalah bodyguard Arkana untuk mengawasi Kiara.
Kiara berjalan tanpa melihat kanan kiri sehingga kakinya tersandung batu kerikil membuat dirinya meringis kesakitan.
"Auhhh..." ia meniup-niup kakinya yang sakit. Dirinya berusaha bangun dari jatuhnya berusaha berjalan kembali, ia menyeret kakinya dengan pelan dan tiba-tiba seseorang menabraknya sehingga ia terjatuh lagi ke Pasiran.
"Kalau jalan itu pake ma...ta...."
Suaranya terbata-bata saat melihat siapa yang ia marahi?
Siapakah dia? dan kenapa sikap Kiara berubah menjadi 189%?
__ADS_1
Author juga ikut penasaran kira-kira siapa ya?