
Seiring waktu berjalan Kiara pun mulai terbiasa dengan David tak jarang pula dirinya yang suka jahil terhadap David. Kiara tersenyum tipis melihat dirinya di depan cermin, di mana tadi siang dirinya mengerjai David habis-habisan oleh nya sehingga David merasakan sakit perut yang luar biasa.
Kiara mengerjainya dirinya bukan karena keinginan nya melainkan David juga yang mulai duluan. Saat Kiara hendak memesan minuman dirinya lupa untuk menanyakan minuman apa yang di sukai David, ia menoleh kebelakang untuk menanyakannya dari kejauhan Kiara tak sengaja' melihat kelakuan jahilnya David. Yang sengaja menuangkan beberapa sendok sambal bakso kedalam mangkuknya Kiara
Aha! rupanya ada yang mau menjahili aku? oke! tunggu tanggal mainnya, batin Kiara dengan senyum menyeringai licik.
Kiara pura-pura tidak tahu apa yang barusan terjadi, dengan gaya sok acuhnya ia duduk di sampingnya David.
"Minumnya mana?" tanya David yang melihat Kiara dengan tangan kosong.
"Aku lupa! mau nanya sama kamu Mas,mau minum apa," jawab Kiara dengan senyum mengembang.
"Jus aja deh," kata David dengan senyuman mautnya.
"Kamu aja yang ambilkan ya Mas, aku laper! gara-gara lihat bakso itu? aku sudah gak sabar pengen mengeksekusinya sampai habis."
"Iya. Kalau begitu aku ambilkan minumannya selamat menikmatinya."
Mas David pergi untuk memesan jus, saatnya aku beraksi, siap-siap kamu Mas, mules-mules tuh perut! emang enak aku kerjain. Makanya jangan macem-macem mau jahilin aku. Kiara tersenyum manis berselimut licik.
"Katanya laper kok belum di makan baksonya?!" tanya Mas David dengan meletakan dua gelas jus mangga.
"Gak enak kalau makan sendiri, enaknya makan barengan biar romantis," ucapku sekenanya saja padahal aku malas sekali untuk sekedar basa-basi padanya.
"Ayok makan ntar keburu dingin gak enak."
Aku hanya mengangguk sambil menyendokkan kuah bakso yang siap meluncur ke mulutku.
"Emm, enak banget! mantull!"
Kedua matanya Mas David membulat sempurna dikala melihat aku yang memakan bakso tanpa ekspresi kepedasan, padahal dirinya sudah memasukan tiga sendok sambal bakso mungkin dia merasa heran melihat aku yang tak merasakan apa-apa, namun bagiku itumah tak seberapa malah kurang pedas buat ku.
"Kamu kenapa Mas," timpalku seraya menatap wajahnya yang bingung.
"Oh e-engak! emang kamu gak merasa kepedesan?" tanyanya dengan mengaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Enggak kok! malah kurang pedas."
Ini orang kenapa ya, aku yang makan baksonya gak kenapa-napa kok, malah dia yang meggap-meggap kepedesan. Aneh, batinku.
__ADS_1
"Mas! kamu baik-baik saja kan?" tanyaku heran yang melihat ekspresi wajahnya yang mulai berkeringat padahal baksonya masih utuh belum ia sentuh walau satu sendok saja.
Mas David mengeleng cepat dan mengelap wajahnya dengan tisu yang berada di samping meja kami.
Benar-benar aneh bin ajaib. Yang makan baksonya siapa yang kepedesan siapa, dasar aneh. Apakah ia gak doyan pedes kali ya? tapi aku sudah memasukan tiga sendok sambalnya kedalam mangkuknya? gimana reaksinya kalau dia makan baksonya bisa-bisa anak orang metong, umpatku dalam hati.
"Mas di makan baksonya jangan di liatain terus? emang kenyang ya kalau di liatain doang," tanyaku dengan senyum termanis ku.
"Liatin kamu makan saja aku sudah kenyang."
"Massa! lebay kamu Mas. Buruan mumpung masih anget!" aku menyendokkan baksonya ke mulut Mas David.
"Aaaaa, buka mulutnya," ucapku dengan menyendokkan baksonya.
Mas David ragu untuk menerima suapan bakso yang aku sodorkan padanya.
"Enak kok Mas, lagian kamu juga kan yang nawarin aku bakso?"
Mau tau mau akhirnya ia membuka mulutnya dan....
"Uhuk...Uhuk... minum!" teriaknya membuat semua pengunjung menatap kami dengan tatapan heran.
"Kurang!" lirihnya dengan wajah pucat keringat dingin mengucur di keningnya tangannya dingin bagaikan mayat. Aku pun tak kalah terkejutnya melihat wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Niat mau menjebak aku, eh malah dia sendiri yang terjebak.
Perasaan aku menambahkan sambalnya gak banyak hanya tiga sendok saja itupun tidak penuh. Tampang dingin ternyata kalah sama dengan sambal! aku tersenyum dengan mengangkat ujung bibirku.
Dua gelas jus mangga dan dua botol air mineral kemasan pun tandas tak tersisa membuat aku geleng-geleng kepala.
"Mas kamu gak papa kan?" tanyaku yang mulai panik melihat dirinya lemas tak berdaya.
"Kamu memasukan sambal di mangkuk bakso ku?" lirihnya dengan memegang perutnya.
"Engak! mungkin kamu yang memasukkan nya kali?" Bantahku dengan lembut agar ia tak curiga dengan ku, lagian niat mau ngerjain aku malah dia sendiri yang terjebak emang enak.
Aku cekikikan sendiri didalam kamar bila mengingatnya kejadian siang tadi, kok bisa ya seorang cowok jutek arogan tapi takut yang samanya sambal.
"Ehem!" suara deheman membuyarkan aktivitas ku yang masih senyum-senyum sendiri.
"Ketawa sendiri emang ada yang lucu?" tanya Papa membuat aku tersipu malu.
__ADS_1
"Ada dong?! lucunya melebihi film Upin dan Ipin," jawabku.
Papa hanya bengong mendengar jawaban dari ku. Papa menghampiriku dan duduk di sampingku seraya berkata.
"David masuk rumah sakit," kata Papa.
"APA"
"Papa jangan bercanda dong! tadi siang aku jalan sama dia? Mas David sehat kok."
"Habis pulang antar kamu, dia sakit perut dan muntah-muntah," jelas Papa.
"Papa kata siapa?!" aku balik bertanya.
"Tante Rita yang memberitahu Papa kalau David masuk rumah sakit."
"Terus hubungannya sama aku apa?" tanya ku sok polos padahal aku tau penyebabnya dia masuk rumah sakit itu semua gara-gara ulahku.
"Wajar dong, Tante Rita memberi tahu kita? kan sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga, apalagi kamu yang sebentar lagi akan menjadi istrinya David? jadi sekarang kamu siap-siap sebentar lagi kita akan ke rumah sakit! Nenek dan Kakek sudah menunggu mu di bawah, cepetan jangan pake lama."
Aahh? aku barusan mau merebahkan diri ku harus di pending sementara waktu ini semua gara-gara David ngapian juga harus masuk rumah sakit! lebay banget jadi orang! gerutuku kesal seharusnya aku itu memanjakan diri dengan rebahan sebentar, ada-ada saja pengganggu.
"Ara? cepetan?!" teriak Nenek dengan suara khasnya.
"Bentar Nek."
Kiara ini waktunya sudah mepet banget mana nenek sudah gak sabar lagi! mau tak mau akhirnya aku tidak mandi hanya mencuci muka.
Suara gedoran pintu kamar ku bertalu-talu pasti itu Nenek atau Papa yang tak sabar menunggu ku turun akhirnya mereka menjemputnya, hi hi hi senengnya jadi ratu.
"Iya Nenek! sabar sedikit dong! aku lagi memoles wajah ku Nek," jawabku dari dalam kamar.
"Ini Papa bukan Nenek."
Beres juga aku berdandannya, gumamku dengan membukakan pintu untuk melihat Papa yang sedari tadi berkicau.
"Belum juga jadi menantu kalian? tapi kalian begitu mengkhawatirkan kondisinya, begitu spesial untuk kalian," aku memberondong pertanyaan yang ingin aku ajukan dari tadi.
"Jangan cemburu! Papa sayang kalian berdua."
__ADS_1