
"Mama! Papa!" teriak Andin dengan tergopoh-gopoh menuju rumah dengan nafas tersengal-sengal ia terus meneriaki kedua orangtuanya yang belum kelihatan oleh Andin.
Rikha menjawab setengah berteriak menimpalinya dari arah kamarnya membuat Joni menatap wajah Rikha heran.
"Ada apa dengan anak itu? teriak-teriak bikin orang jantungan saja," sungutnya Joni yang bergegas menghampiri Andin yang di ikuti Rikha dari belakang.
"Ada apa Sayang?! kenapa? ada apa?"
"Itu Mah! itu!" jawabnya panik dan bingung membuat keduanya menatap heran kearah Andin.
"Itu apa! kalau ngomong yang jelas," pinta Rikha dengan mendudukkan dirinya di sofa.
Andin mengehala napas berat dan duduk dengan wajah lesu," Pah ambilkan air minum buat Andin agar ia tenang," perintah Rikha agar Joni mengambilkan air minum.
"Baik Mah."
Tak lama Joni pun datang dengan membawa segelas air putih dan di berikannya pada Andin agar cepat meminumnya supaya tenang.
Andin meraih gelas yang di sodorkan padanya ia pun meminumnya sampai tandas.
"Sekarang ceritakan sama Mama dan Papa, kamu kenapa?!"
"Kiara Mah! Kiara!" Andin menjawab dengan terbata-bata.
"Kiara kenapa?" tanya Joni dengan lembut.
"Kiara kecelakaan Pah."
"APA!"
Keduanya terperanjat ketika mendengar Kiara mengalami kecelakaan. Seketika tubuh Rikha gemetar tak bisa berbuat apa-apa selain menatap wajah Andin apakah yang dikatakan Andin benar atau salah.
"Mah, Mama gak papa?" tanya Andin dengan mengguncangkan lengan Rikha namun tak ada respons dari Rikha tatapan Rikha kosong entah apa yang di pikirkan dirinya sekarang, apakah mengkhawatirkan keadaan Kiara atau ia... entahlah hanya dia yang tau.
"Pah. Kiara Pah!" dengan Isak tangis yang sendu entah tangisan sesungguhnya karena merasa kehilangan atau tangisan palsu.
"Din? coba jelaskan pada Papa bagaimana kejadiannya dan kamu tau dari mana," Joni bertanya pada Andin untuk memastikan.
"Ini Pah." Andin menyodorkan ponselnya pada Joni, sebuah video yang memperlihatkan sebuah mobil yang menabrak seseorang entah siapa yang tertabrak mobil itu karena tak terlalu jelas di karenakan hujan deras dan juga gelap.
"Di sini tak kelihatan siapa yang tertabrak mobil itu?"
__ADS_1
"Memang benar Pah, itu Kiara? kalau gak percaya tanya Pak polisi saja deh. Kata teman aku identitasnya atas nama Kiara ponselnya juga ada didalam tas nya? tapi...." Andin menggantung jawabanya membuat Rikha dan Joni semakin cemas dengan keadaan anaknya tersebut.
"Tapi! apa! kalau ngomong yang jelas !" desak keduanya yang menunggu jawaban dari Andin.
"Em, itu Mah, Pah, jasadnya tidak di temukan. Menurut polisi ada kemungkinan jasadnya hilang!" terang Andin dengan suara bergetar karena ia pun merasa kehilangan sosok Kiara yang sering ia bully.
"KIARA...." tangisan Rikha seketika pecah ia memukul-mukul dadanya ada yang sesak nyeri di hatinya bagaimana pun Kiara tetap anaknya juga.
"Pah?! aku ibu yang jahat! aku ibu yang tak punya hati! kenapa dia yang harus pergi. Seharusnya aku! seharusnya aku yang mati! kenapa dia pergi sebelum tau kebenarannya siapa ayahnya," Rikha menangis tersedu-sedu meratapi kesalahannya terhadap Kiara membuat Joni maupun Andin menatapnya dengan iba.
"Mah? Mama yang tenang dulu ya? mudah-mudahan Kiara selamat dari maut itu," Andin berusaha menenangkan Mamanya dan memeluk erat tubuh yang tak muda lagi.
"Benar kata Andin kita harus berdoa agar Kiara tak kenapa-kenapa, dan Papa akan pergi ke kantor polisi untuk menanyakan kebenaran tentang kecelakaan maut itu."
"Mama ikut! Mama mau mencari Kiara, hiks...hiks...maafkan Mama Sayang? maafkan Mama!" Rikha berteriak histeris karena rasa bersalahnya pada Kiara.
"Mama gak usah ikut, Mama di rumah saja dengan Andin."
Rikha menggeleng cepat,"Mama pokoknya ikut!" katanya dengan suara terbata bata karena menahan Isak tangis.
Joni tak bisa bicara apa-apa lagi selain mengiyakan keinginannya untuk mencari Kiara.
"Aku juga ikut Pah," Ucapanya dan di anggukan oleh Joni.
"Keluarga Xander juga harus tau tentang kecelakaan yang menimpa Kiara," terang Joni. Namun tak ada jawaban dari Rikha tatapan matanya kosong lurus kedepan.
'Kia? maafkan Mama Nak, Mama berdoa semoga kamu selamat dan Mama berjanji akan selalu menyayangi dan mencintai kamu Nak. Dan Mama tidak akan pernah memaksakan kehendak Mama untuk menjodohkan kamu dengan David, Mama akan menerima keputusan mu sekarang kamu pulang ya Nak' ucap Rikha seolah-olah sedang berbicara dengan Kiara.
Setelah apa yang terjadi Rikha baru menyadarinya kalau dirinya merasa kehilangan dan kemarin-kemarin ia kemana saja? apa harus Kiara pergi dulu? baru dirinya menyadari bahwa dirinya sudah keterlaluan.
Mereka sudah berada di kantor polisi untuk menanyakan kebenaran tentang kecelakaan maut yang di alami Kiara, kelurga Xander pun sudah ada di sana.
"Jeng Rikha, sabar ya? semoga Kiara selamat dari maut itu?" ucap Rita dengan memeluk tubuh sahabatnya ia begitu sedih melihat kondisi Rikha yang kacau.
"Jeng? aku ibu yang jahat! kenapa gak aku saja yang mati," jawabnya dengan sendu.
"Sudah jeng, jangan menyalahkan diri sendiri? lebih baik kita tanyakan dulu pada Pak polisi, agar kita tahu yang sebenarnya."
"Pak. Apa benar yang mengalami kecelakaan kemarin? itu anak saya yang bernama Kiara?" tanya Joni dengan hati tak karuan seakan-akan detak jantungnya berhenti berdetak, bagaimana pun ia begitu menyayangi Kiara seperti anak kandungnya sendiri.
Polisi itu mengangguk pelan," benar Pak. Ini tas yang anak anda pakai kemarin? barang-barangnya masih komplit tak kurang apapun termasuk kartu identitasnya dan ponselnya," terang Pak polisi.
__ADS_1
"KIA...." jerit Rikha membuat semua orang menatap iba melihat Rikha yang kacau seperti ini. Joni yang melihat kondisi istrinya merasa sedih, Rikha memeluk tasnya Kiara dengan erat seraya berkata 'maafkan Mama Sayang? pulang Nak' Andin menangis sesegukan melihat Mamanya yang berbicara sendiri.
"Pak dimana jenazahnya saya ingin melihatnya," tanya David bagaimana pun Kiara sudah membuatnya tersenyum walaupun akhirnya harus ada kesalahan pahaman antara mereka.
"Maaf, jenazah korban tidak di temukan, kemungkinan besar jenazahnya jatuh ke sungai? saya hanya menemukan seorang anak kecil yang tergeletak di pinggir jalan, itupun sudah meninggal," tutur Pak polisi membuat mereka semua terdiam.
"Pak! ada kemungkinan anak saya masih hidup?!" tanya Rikha lesu ada raut kesedihan yang mendalam.
"Kita berdoa semoga anak Ibu, Bapak selamat."
Bagaikan sebuah batu besar yang menghimpit dada David, ini semua salah aku, seandainya aku tidak mengajaknya bertemu dan kejadian ini tidak akan pernah terjadi, batin David kini dirinya merasa bersalah.
Kedua keluarga tersebut sedang berduka beda dengan keluarga Arkan yang sedang bahagia menyambut kedatangan Kiara.
****
Arkana sekeluarga sangat bahagia karena tes DNA sudah keluar dan 99% Kiara anaknya Arkana, tak henti-hentinya Arkana menyungingkan senyum manis begitupun dengan orang tuanya.
"Sayang? dimakan dulu buburnya?!" Dewi membujuk Kiara agar makan, lagi-lagi Kiara menolaknya dengan menutupi mulutnya.
"Aku mau pulang, Nek? aku kangen sama Mama dan Papa?" renggeknya membuat Dewi terkekeh kecil, ia sangat bahagia dengan kehadiran cucunya.
"Cucu Nenek yang cantik makan ya, kalau gak mau makan Nenek yang akan di marahi oleh Papa mu?"
"Aku hanya punya satu Papa yaitu Papa Joni," tegas Kiara dengan memalingkan wajahnya ke samping.
"Ayolah Nak, nurut dong? sama Nenek? biar cepet sembuh, Papa janji akan mengajakmu jalan-jalan mana saja yang kamu mau?" bujuk Arkana dan menghampiri putri cantiknya.
"Aku gak mau jalan-jalan! aku maunya pulang!" teriaknya.
"Mengertilah Nak, kamu itu anaknya Papa? bukan anaknya Joni faham?!" kata Arkana yang mulai emosi melihat sikap kekanak-kanakan Kiara.
"Papa janji akan mengantarkan kamu kerumah Mama tapi hanya sebentar saja setelah itu kamu ikut Papa pulang ke rumah ini!" tegasnya membuat Kiara tak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan perkataanya.
Terdengar helaan nafasnya yang berat," baiklah Om," ketusnya dengan cemberut kesal.
"Kok Om?! panggil saja Papa, karena dia Papa kandungan mu?" ucap Dewi menjelaskan semuanya tentang hubungan mereka sebagai anak dan Ayah.
"Biarkan Kiara mau manggil apa saja yang penting dia nyaman tinggal di sini," timpal Arkana ia tak mau memaksakan kehendak nya ia takut Kiara akan semakin memberontak kepada nya. Lambat laun Kiara akan menerimanya sebagai Papa nya Arkana harus lebih bersabar dalam menghadapi Kiara.
Kehidupan Kiara berubah drastis menjadi anak sultan yang kemana-mana di temani para bodyguard, awalnya Kiara menolak keinginan Papanya yang menurutnya berlebihan yang kemana-mana harus di kawal bak burung di dalam sangkar emasnya, namun apa daya Kiara harus pasrah dan menerima keputusan Papanya. Tak ada lagi pakaian kumal, lusuh. Semuanya serba baru perhiasan pun kini menjadi teman tubuh Kiara, Kiara yang sekarang lebih cantik, terawat dan yang harus di ingat adalah sekarang ia menyandang gelar anak sultan.
__ADS_1