Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Curiga


__ADS_3

Robinson Xander duduk dan memijit pelipisnya berusaha tenang, agar tidak ikut-ikutan stres seperti Rita batinnya.


"Papa sakit kepala? coba sekalian periksakan ke dokter mumpung masih disini kita," celetuk Rita dengan raut wajah cemas.


Robinson Xander menggeleng cepat," Papa tidak sakit kepala?! tapi stres memikirkan kelakuan Mama." terang Robinson dengan melangkahkan kakinya keluar.


Rita hanya tersenyum puas padahal ia sengaja mengatakan itu semuanya, dirinya sengaja mengerjainya habis-habisan.


"Ngapain Mama senyum-senyum sendiri lagi ledekin Papa ya?" sindir Devina dan di anggukan kepala oleh Rita.


"Kasian dong Papa?" kelakar Kiara yang menahan senyum.


Tak lama kemudian Robinson masuk lagi dengan seorang dokter yang akan mengontrol keadaan Kiara.


"Permisi maaf saya mau memeriksa Pasien?" tanyanya dengan sopan dan membungkukkan badannya. Ketiganya pun beranjak berdiri dan menuju sofa untuk melihat dokter yang akan memeriksa keadaan Kiara.


"Kapan saya bisa pulang Dok," ucapnya dengan senyum.


"Besok siang sudah bisa pulang? tapi ingat jangan terlalu banyak gerak dan harus banyak-banyak istirahat dan jaga makan," terang Dokter Andri Haryanto. Aku tahu namanya dari tag seragamnya.


Dokter Andri Haryanto dokter tampan, idaman banget bagi para ciwik-ciwik, andaikan aku belum di jodohkan pasti aku mau? hehehe Kiara membatin. Tapi Mas David lebih tampan dan sempurna dengan sikap dinginnya jutek, dia cowok idaman aku, kan aku sukanya yang brewokan, kilahnya lagi dalam hati.


"Dokter, lukanya gak terlalu dalam kan?!" tanya Rita, Dokter Andri hanya tersenyum mengangguk pelan.


"Syukurlah mantu saya tidak kenapa-napa," Rita bahagia dengan penjelasan dari Dokter bahwa luka Kiara tidak berbahaya.


Dokter Andri menatap David Xander yang duduk dalam posisi memandangi wajah Kiara tanpa berkedip. Ia tahu bahwa David sudah membohongi keluarganya bahwa dirinya tidak buta, karena dua bulan yang lalu David di nyatakan sembuh itu semua karena keinginannya yang kuat untuk sembuh.


Perjuangkan David untuk sembuh membuahkan hasil positif. Yang menjadi saksi kesembuhan dirinya adalah Dokter Andri sendiri yang juga merupakan sahabatnya David Xander.


****

__ADS_1


"Vid, hari ini elo ada jadwal pemeriksaan. Pokoknya elo datang ya' soalnya Dokter yang dari luar Negeri hari ini datang ke rumah sakit ini," ucap Dokter Andri di ujung sana.


"Gue sibuk kerja. Besok saja lagian gue gak tau apakah gue bisa sembuh atau tidak. Gue sudah sempat putus asa, ia kalau gue sembuh kalau tidak bisa-bisa gue down." cerocosnya tanpa jeda.


"Belum juga perang! elo sudah kalah duluan?! lagian Dokternya akan pulang besok siang. Itu terserah elo aja kesempatan tidak datang ke dua kalinya," geram Dokter Andri.


"Jarang-jarang Dokter dari luar Negeri menyempatkan waktu untuk hadir di sini! pikirkan sekali lagi, memangnya elo betah dengan kekegelapan? dan tidak mau menikah dengan orang yang kita cintai, dan melihat kecantikan wanita yang akan menjadi ratu di hati kita, kalau gue ogah harus hidup dalam kegelapan malam tanpa terangnya cahaya." David yang mendengar sindiran pedas dari Dokter Andri bagaikan sebuah tamparan keras membuatnya diam seribu bahasa.


Yang di katakan Andri Haryanto semuanya benar, aku tak mau hidup dalam kegelapan selamanya aku juga ingin melihat kecantikan calon istriku yang sudah di pilihan Mama untuk ku.


"Baiklah! Dokter cerewet!" sungutnya dengan kesal, dan menutup telponnya seandainya Andri ada di dekat David maka dirinya akan tertawa geli melihat sikap sahabatnya yang ke kanak-kanakan.


Dengan di temani oleh Pak Jordi David pun pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan matanya.


"Pak Jordi bisa pulang dulu! biar saya pulang di antar Dokter Andri," jelas David yang di anggukan kepala oleh Pak Jordi.


"Baik Den. Kalau begitu saya pamit pulang dulu?" ucap Pak Jordi dengan membungkukkan badannya. David hanya tersenyum simpul.


Setelah mengantarkan David memasuki ruangan Dokter Andri Pak Jordi pun berlalu meninggalkan tua nya di ruangan tersebut.


Suara pintu terbuka dan nampak seorang pria yang mengenakan seragam putih.


"Hay bro sudah datang rupanya, ku kira elo tak akan datang. Gue rasa elo masih betah dengan kekegelapan," ejeknya dengan menyungingkan bibirnya.


"Bisa diam nggak!" David merespon jawaban sahabatnya dengan ketus.


"Andri?! apa gue bisa sembuh atau tidak!" gerendelnya dengan mengehela nafasnya.


"Kan Minggu kemarin gue sudah bilang sama elo! eloknya harus optimis dong. Gimana mau sembuh sedangkan diri elo sendiri gak semangat gitu." cicit Andri yang merasa sebal pada sahabatnya itu.


"Gini aja deh, apa elo sudah bisa melihat walaupun samar-samar?" ulang Andri untuk menyakinkan dirinya.

__ADS_1


David mengganguk," Gue samar-samar bisa melihat? tapi belum jelas." keluh David yang menatap langit-langit ruangan tersebut.


"Dari itu, elo gue suruh datang kesini? agar Dokter Andrew Garfield memberikan penanganan serius sama elo!" geram Andri.


"Bagaimana dengan keadaan sahabat saya Dok." tanya Andri pada Dokter Andrew Garfield.


"Keadaan Pak David nggak usah khawatir. Coba Bapak lihat kearah saya ini angka berapa?!" Dokter Andrew Garfield mengetesnya dengan menunjukan angka yang ada di dinding tersebut.


"Empat!" jawab David Xander dengan senyum mengembang akhirnya ia bisa melihat kembali walaupun belum terlalu jelas.


"Wah hebat Lo bro!" jawab Andri dengan antusias dan menepuk-nepuk pundak David.


Dokter Andrew Garfield memberikan selamat atas kesembuhan David yang bisa menebak angka yang di tunjukan olehnya.


Setelah kepergian Dokter Andrew Garfield.


"Andri, gue minta sama elo jangan sampai keluarga gue tahu bahwa gue sudah sembuh." terangnya membuat Andri mengerutkan keningnya.


"Maksudnya apa gue gak ngerti dengan jalan pikiran elo!" cetus Andri jelas-jelas ini kabar gembira malah mau di rahasiakan dasar manusia aneh, batin Andri.


David yang tau sikap sahabatnya akhirnya ia menjelaskan semuanya bahwa dirinya ingin tau lebih lanjut tentang wanita yang akan di jodohkan dengan dirinya.


"Oke deh gue setuju dengan usul elo! jangan sampai terulang lagi kejadian dulu dimana elo di tinggalkan saat elo rapuh. Jadi kita harus memilih-memilah pendamping hidup." kelakar Andri sok bijak, padahal dia sendiri masih betah ngejomlo.


Setelah keduanya saling berjabat tangan agar rahasia David aman mereka berdua merayakannya dengan makan siang di restoran termahal.


"Dokter Andri kenapa segitunya lihatin Kak David?!" tanya Devina yang mengejutkan Andri.


"Oh tidak!" jawabnya dengan senyum agar tidak terlihat kegugupannya di depan Devina.


Kiara yang merasa aneh dengan sikap dua lelaki itu, membuatnya bertanya-tanya ada apakah gerangan yang sudah terjadi, Kiara yang melihat kedua mata David yang bersinar di balik kacamata hitam nya.

__ADS_1


David yang tau sikap Kiara membuat dirinya tersenyum sembari mengedipkan matanya pada Kiara.


"MAS KAMU" teriak Kiara sontak membuat semua orang menatap kearah David juga Kiara.


__ADS_2