
"Kamu mau mati?!" pekiknya membuat Kiara semakin gemetar tubuhnya, berlahan Kiara menggangkat kepalanya keatas untuk melihat pria yang sedang memarahinya dan seketika wajah pria itu terkejut melihat Kiara.
"K-kamu?!" tunjuknya tanpa bisa berkata-kata lagi seakan-akan tenggorokannya tercekat lidahnya kelu. Siapa anak ini wajahnya tak asing lagi bagi ku? wajahnya mirip Rikha, dan kedua bola matanya sama dengan aku yang sama-sama berwarna biru, atau jangan-jangan dia adalah anaknya Rikha, tetapi bukankah anaknya Rikha satu? yaitu Andin, gumam lelaki tersebut. Ada getaran aneh di hatinya ia mendekati Kiara yang sedang menatapnya dengan takutnya.
Lelaki tersebut menghampiri Kiara dan membantunya untuk berdiri rasa amarahnya hilang seketika saat melihat wajah Kiara entah apa yang di pikirkan lelaki itu.
"Kamu tidak apa-apa? sedang apa kamu di tengah jalan mana hujan deras lagi untung saja kamu tidak celaka," tanyanya dengan wajah cemas dirinya tak henti-hentinya menatap wajah Kiara.
"S-saya....." ucapan Kiara dan tubuhnya merosot ke bawah jalan.
"Hay! kamu kenapa?!" teriak lelaki itu dengan menepuk-nepuk pipi Kiara yang pingsan.
Ada apa dengan anak ini? sepertinya dia sakit?
gumamnya dengan mengendong tubuh Kiara menuju mobilnya dan lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat rumah untuk mengobatinya.
Tak lama kemudian lelaki itu sampai rumahnya yang di sambut oleh kedua orang tuanya. Mereka berdua terkejut melihat anaknya yang mengendong seorang wanita dengan keadaan basah kuyup.
"Dia siapa Ka?!" tanya sang ibu yang bernama Dewi.
"Aku tidak mengenalnya Bu? aku menemukan dia di jalan karena aku hampir menabraknya."
"Astaghfirullah? tapi dia gak kenapa-kenapa kan," tanya Dewi dengan wajah panik karena melihat wajah Kiara pucat pasi seperti orang mati.
"Cepat! bawa kekamar biar ibumu yang mengantikan pakaiannya, kasian sekali anak itu," timpal Ayahnya dengan membukakan pintu kamar tamu.
"Arka?! kamu juga cepat ganti baju nanti kamu bisa sakit, kamu kalau kena hujan langsung masuk angin," titah Dewi kepada anak semata wayangnya itu.
"Iya Bu, dan jangan lupa buatkan ia teh hangat."
"Nanti Bibi Iem, yang akan membuatkan tehnya."
Dewi sudah selesai mengganti pakaian Kiara ia pun melangkah keluar untuk mencari Arkana.
"Arkana, jujur sama Ibu dan Ayah mu? siapa anak itu? jangan bilang kalau dia kekasih mu?!"
__ADS_1
tanya Dewi penuh selidik, kalau memang benar Kiara kekasihnya Arkana maka Dewi orang yang pertama yang bahagia karena ini baru pertama kalinya Arkana membawa seorang wanita kerumahnya.
"Bu? aku sudah bilang sama Ibu, aku menemukan dia di jalan. Lagian mana mungkin aku mempunyai kekasih? seorang anak ABG, dia pantasnya menjadi anak aku," dengusnya dengan kesal.
"Bu? Bu? Mas Arkana?!" teriak Bi Iem yang mengejutkan seisi rumah, Arkana dan orang tuanya menoleh ke arah suara Bi Iem yang berteriak memanggilnya.
"Ada apa dengan bi Iem?" semuanya saling bertatapan dan berjalan menuju kamar tamu yang dimana Kiara terbaring lemas.
"Ada apa Bi?!" tanya Dewi dengan wajah panik dan bingung.
"Bu, Pak, Mas lihatlah wajahnya semakin membiru dan tubuhnya menggigil kedinginan," lirihnya pelan.
"Bu, kita harus cepat membawanya ke rumah sakit! cepat Arkana! Ibu takut dia kenapa-kenapa," teriak Dewi dengan panik melihat tubuh Kiara semakin membiru ada rasa takut kehilangan Kiara entah perasaan apa yang mereka rasakan tak kala melihat Kiara, seperti ada magnetnya. Begitu juga dengan Arkana di genggamnya tangan Kiara yang dingin seperti es, di belainya pipi yang mulai membiru tersebut dengan lembut.
"Kamu harus bertahan?! tolong jangan tinggalkan aku?" isak tangis Arkana pecah seketika membuat kedua orang tuanya menatap wajah Arkana yang begitu mencemaskan keadaan Kiara.
"Pasti dia kuat Ka, Ibu lihat dia anaknya yang tangguh dan Ibu pastikan semua tidak akan terjadi apa-apa," Dewi mengelus punggung Arkana untuk tetap sabar.
Kiara sekarang sudah berada di rumah sakit yang terkenal, Dokter Lucky dan beberapa suster sudah berada di ruangan ICU untuk menangani Kiara. Arkana yang begitu cemas dan takut akan kehilangannya padahal mereka baru mengenalnya.
"Bu, Yah, apa kalian tidak merasakan sesuatu dengan anak itu?"
"Maksudnya?!" ucap mereka serempak dan menatap wajah Arkana yang penuh tanda tanya.
"Aku seperti melihat pantulan diriku ada pada anak itu," jelas Arkana sontak membuat kedua orang tuanya terkejut.
"Maksud kamu dia anak kamu?!"
Arkana mengeleng cepat,"aku tidak tau Bu? tapi hati kecilku mengatakan bahwa dirinya adalah anakku, lihatlah wajahnya dengan seksama dari kedua matanya, hidungnya, juga warna kulitnya pun sama, coba lihat sekali lagi Bu, aku yakin dia anakku untuk kalau perlu kita lakukan tes DNA," usulnya yang di anggukan kepala oleh mereka.
"Ibu set...." ucapan Dewi terpotong saat Dokter Lucky datang menghampiri mereka.
"Tante? siapa gadis itu?!" tanyanya dengan raut wajah heran dan bingung membuat Arkana menyipitkan matanya.
"Bagaimana keadaan dirinya Dok," tanya Arkana yang begitu mengkhawatirkan Kiara.
__ADS_1
Dokter Lucky menatap wajah Arkana dan mengehala napas berat,"dia hanya butuh perawatan yang intensif, tidak ada yang harus di khawatir kan dia hanya kedinginan dan luka di perutnya belum sembuh benar," Dokter Lucky menjelaskan semuanya tentang keadaannya Kiara saat ini, membuat semuanya terkejut dengan jawaban dari Dokter Lucky.
"Apa! luka, luka apa yang di maksud Dokter," pekik Dewi dengan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tapi gak papa kok Tante, Om," terangnya lagi dengan senyum mengembang.
"Syukurlah kalau begitu," tak henti-hentinya Dewi mengucapkan rasa syukurnya.
"Tante dan Om boleh masuk."
Dokter Lucky menganguk pelan, Dewi dan Wijaya pun masuk ke dalam untuk melihat kondisinya Kiara.
"Yah? lihatlah wajahnya anak ini, benar kata Arkana mereka berdua mirip sekali seperti pinang di belah dua."
"Iya Bu, mereka berdua mempunyai kemiripan yang sama tetapi Ayah masih meragukannya apa benar ia anaknya Arkana? setahu kita Arkana belum menikah bagaimana Arkana bisa punya anak nikah juga belum."
Dewi hanya mangut-mangut, ia berpikir sejenak dan ia berkata pada suaminya," betul Yah. Anak kita kan belum menikah bagaimana mau punya anak," Dewi membenarkan jawaban Wijaya.
Wajah Kiara sudah tak sepucat tadi, tubuhnya mulai menghangat tak sedingin es lagi.
"Arka, dia anak kamu," tanya Dokter Lucky membuat Arkana menyipitkan matanya.
"Sok tahu kamu," jawab Arkana.
"Aku tidak akan asal bicara kalau tidak melihatnya dengan jelas, aku bisa menyimpulkan bahwa dirinya adalah anak mu? "
Semua orang mengatakan hal yang sama bahwa dirinya adalah anakku, jadi aku tidak meragukan lagi untuk menyakinkan diriku sendiri, Arkana tersenyum tipis hatinya sedang berbunga-bunga semoga benar dia anakku dengan Rikha. Aku harus tanyakan pada Rikha apa benar anak ini putri kandung ku.
"Arkana, kalau kamu gak keberatan dengan usulku? bagaimana kita lakukan tes DNA."
Arkana tersenyum tipis dan menganguk pelan tanda setuju dengan usul Dokter Lucky.
"Kapan kita akan melakukan tes DNA itu?"
"Lebih cepat, lebih baik aku akan atur waktu yang tepat," jawab Dokter Lucky membuat Arkana menyungingkan bibirnya.
__ADS_1
Semoga filing ku benar bahwa dirinya anakku. Ada seberkas sinar kebahagiaan yang di rasakan Arkana tak sia-sia ia kembali ke Indonesia untuk mencari kebenaran tentang kehamilan Rikha.