
Cuaca pagi hari ini sangat cerah sekali, di ruangan VVIP di sibukkan oleh keluarga Xander yang akan mengantarkan Kiara pulang ke rumah Mama nya.
"Sudah siap belum Nak!" tanya Rita dengan lembut, Kiara yang duduk mengangkat wajahnya dan tersenyum manis padanya.
"Sudah Mah?" singkatnya.
Rita menelisik wajahnya yang sedikit mendung entah apa yang di pikirkan oleh calon mantunya. Kiara yang merasa dirinya di perhatikan terus oleh Rita menjadi salah tingkah.
"Ada apa Mah?" Kiara bertanya pada Rita yang duduk di sampingnya.
"Wajahnya mendung kenapa Nak. Pasti mau nyari keberadaan David ya, maaf David ngak bisa anterin soalnya ia harus meeting di kantor jadi gak papakan Mama dan Devina yang akan mengantarkan kamu pulang?" Rita memeluk Kiara dengan eratnya.
"Aku gak papa kok Mah. Dengan Mama mau mau mengantarkan aku pulang saja aku seneng banget," sambut Kiara dengan senyum khasnya.
"Sudah kewajiban Mama dong? udah ah kita pulang saja Devina sudah datang ia lagi menunggu di parkiran?" ucapnya sambil menuntun ku menuju lobi rumah sakit ini.
"Wah Kakak kelihatan cantik dan segeran, tapi....." Ucapanya mengantung.
"Tapi...apa? pasti jelek ya?" jawab Kiara dengan senyum manisnya.
Devina mengeleng cepat,"gak, Kakak cantik kok, hanya sedikit mendung."
"Mendung tanpa hujan," sambut Kiara dengan tawa renyahnya Rita yang melihat kedekatan Devina dan Kiara membuatnya yakin untuk segera menikahkan mereka secepatnya.
"Hi itumah Caknan. Penyanyi yang terkenal itu," gelak tawa mereka begitu sumringah.
Tak lama kemudian kami pun sampai rumah.
"Sepi sekali apa tidak ada orangnya?" tanya Rita pada Kiara setelah sampai rumah.
"Mungkin mereka ada di dalam?" kata Devina dan di anggukan kepala oleh Kiara.
"Assalamualaikum" sapa kami serempak.
Tapi tak ada jawaban dari dalam entah kemana mereka semua? aku sendiri heran dengan kedua orang tuaku setiap ada yang bertamu dan mengucapkan salam tak akan ada yang menjawab salamnya, entahlah ngakunya orang muslim tapi aku tak pernah melihat mereka berdua menjalankan ibadah menurut agama kami. Seakan-akan mulut mereka terkunci.
__ADS_1
"Biasanya kalau jam segini Mama dan Papa pasti ada di taman belakang," Bohongku karena tak enak hati pada mereka yang sudah berapa kali mengucapkan salam dan sudah berkenan mengantarkan aku pulang.
Pintu ku buka perlahan ternyata tidak terkunci.
"Mama dan Devina gak masuk dulu?" tawarku dengan sopan.
"Kita pulang saja, lain kali kita kesini, dan ingat kata dokter harus banyak istirahat ya?" Kiara menganggukan kepala, dan keduanya saling berpelukan dan pamit pulang.
Sebelum keduanya memasuki mobil Rita mendengar suara wanita yang membentak Kiara dengan suara lantangnya. Rita menghentikan langkahnya dan membalikan badannya untuk melihat siapa yang sudah berkata kasar terhadap Kiara.
"Mama mau ngapain balik lagi?" tanya Devina dengan memelankan suaranya agar tidak terdengar.
"Stttt?! diam kita lihat dulu siapa yang sedang di marahi?" timpalnya dan di anggukan kepala oleh Devina keduanya pun mengintip di balik pintu.
Terdengar suara tepuk tangan yang mengejutkan Kiara.
"Wah! wah! rupanya tuan putri pulang juga?! kenapa gak mati sekalian biar gak menyusahkan kami!" teriak Rikha dengan tatapan nanar yang melihat kepulangan Kiara.
Rikha berjalan menuju Kiara yang berdiri mematung di tempatnya dan......
"Sakit! ya! ini balasan untuk anak kurang aj*r! sehari semalam kamu kemana heh!" Rikha semakin kuat menarik rambut indahnya Kiara sehingga beberapa rambutnya rontok.
Rikha bak orang yang kesetanan. Tak menghiraukan teriakan Kiara yang kesakitan.
Jerit tangisan dari Kiara tak di perduli kan lagi hanya amarah yang sedang menguasai dirinya.
"Astaghfirullah? kejam sekali jeng Rikha pada Kiara?" Rita mengelus dada dirinya tak menyangka bahwa Rikha akan melakukan hal yang tidak seharusnya di lakukan.
Devina geram ia mengepalkan tangannya dan hendak melangkah masuk untuk melerainya namun tangannya di cegah oleh Rita.
"Jangan dulu masuk, kita lihat sebentar lagi akan kah ada orang yang akan membantunya atau tidak." jelas Rita yang di anggukan dari Devina.
Kiara terus meminta tolong pada Rikha agar melepaskan tangannya yang menarik rambutnya.
"Mah, sakit Mah! aku kemarin gak kemana- mana a-aku....."
__ADS_1
Plakk....
Plakk..
Sebuah tamparan keras melayang di pipi mulusnya Kiara. Membuat Kiara meringis sambil memegangi perutnya yang sakit bekas tusukannya yang belum pulih.
"Mah! hentikan Mah!" pekik Joni dan memegangi tangan Rikha yang melayang di udara untuk menampar Kiara kembali.
"Ingat Mah! Kiara anak Mama, darah dagingnya Mama ingat itu sampai kapan pun dia tetap anakmu!" geram Joni yang menatap wajah Rikha.
"Dia!" tunjuknya pada Kiara," dia bukan anakku! anakku hanyalah satu yaitu Andin! camkan baik-baik. Jadi Papa jangan sok membelanya." jerit Rikha yang begitu murka melihat' Joni yang membela Kiara.
Kiara hanya menangis sesegukan ia tak menyangka bahwa Rikha akan berkata seperti itu padanya. Kiara tak bisa bicara apa-apa lagi seakan-akan tenggorokannya tercekat dan lidahnya Kelu.
'Kenapa Mama tega ngomong seperti itu sama aku, apa salah aku? batin Kiara dengan Isak tangis.
Rikha mendorong tubuhnya dengan kasar sehingga Kiara terjungkal ke belakang sandaran sofa.
Joni membungkukkan badannya untuk membantu Kiara berdiri dan membawanya ke kamar Kiara.
"Nak kita ke kamar saja, biarkan Mama mu di sini saja," Joni memapah Kiara ke kamarnya.
Rikha yang melihat perubahan Joni membuat dirinya semakin emosi dengan nafas tersengal-sengal ia tak henti-hentinya mengumpat Kiara.
Rita dan Devina akhirnya memutuskan untuk pulang, setidaknya ia bisa bernafas lega karena Kiara ada yang membelanya.
"Mah, seharusnya kita menolong Kak Kia, aku tidak tega melihat Kak Kia di perlakukan seperti itu," geram Devina yang kesal terhadap Mamanya. Karena ia di cegah untuk membantu Kiara.
"Mama ingin tahu dulu apa kata Mamanya Kiara tadi? kok bisa-bisanya dia ngomong seperti itu mencaci anaknya sendiri di mana hati nuraninya sebagi seorang Ibu?" paparnya.
"Kamu mengetikan apa yang Mama maksud?" ulangnya lagi.
"Paham Mah?"
Keduanya pun akhirnya pulang, biarlah urusan Kiara bisa Rita pikirkan nanti. setelah tahu semuanya.
__ADS_1