Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Pertanyaan Yang Membagongkan


__ADS_3

Setelah selesai makan kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Mas David tersenyum manis padaku dengan menggenggam erat tangan ku.


"Mas," tanyaku dengan senyum.


"Iya ada apa?"


"Aku mau kita pindah ke apartemen. Emm, kalau bisa sih besok."


Aku terkejut dengan mendengar perkataan Kiara yang mendadak mengajak pindah. Selama ini ia selalu menolaknya dengan berbagai alasan. Ada angin apa?! namun aku bahagia sekali mendengar ajakannya. Aku anggukan kepala tanda setuju.


Dalam perjalanan pulang kami berdua selalu tersenyum bahagia. Sikap manja Kiara membuat aku semakin cinta. Ya karena cinta kita bisa terluka, tersakiti. Karena cinta pula seseorang bahagia mengecap manisnya cinta. Itulah kehidupan manusia.


Hampir sore kami akhirnya sampai juga di rumah. Nenek yang mendengar suara deru mobil ia pun bergegas keluar dengan wajah khawatir.


Aku yang belum keluar mobil Nenek sudah mengetuk pintu kaca mobil. Berlahan kaca mobil aku buka.


"Ada apa Nek?" tanyaku dengan membuka pintu mobilnya dan melangkah mendekat ke arahnya.


"Sayang?! kalian darimana saja. Nenek dan Kakek merasa khawatir karena kalian tak ada kabar," cerocosnya dengan memeluk tubuh Kiara.


"Maaf Nek. Aku dan Mas David mampir dulu ke apartemen?" jelasku dengan senyum.


"Apartemen?!" seru nenek dengan mengerutkan keningnya heran. Aku dan mas David menganguk pelan.


"Kalian mau membeli apartemen? bukanya Kakek sudah membelikan sebuah rumah di jalan xxxx?!" imbuhnya lagi.


"Nek, Mas David membelinya untuk hadiah pernikahan kami? sebelum Kakek memberikan hadiah itu untuk kami," Jawab Kiara.


"Kita bicarakan lagi didalam Nek," timpal Mas David yang di anggukan oleh kami.


Aku berjalan didepan Nenek. Mas David berjalan di belakang kami, setelah sampai di ruang tamu tampak Kakek dan Papa sedang nonton film. Entah film apa yang mereka tonton begitu seriusnya sehingga tak mengetahui kedatangan kami berdua.


"Ara?!" tanya Nenek membuat Kakek dan Papa menoleh kebelakang menatapku dan mas David.


"Iya Nek, ada apa?!" Aku menjawabnya dengan mengehentikan langkahku.


"Kamu sakit?!" tuturnya seraya menelisik wajah ku dan yang membuat aku terkejut adalah..., nenek menanyakan tentang tanda merah yang terlukis di ceruk leherku dan punggung bagian belakang.


"Badan kamu kenapa merah-merah? leher depan dada dan punggung mu?" Pertanyaan nenek bagaikan petir yang menyambar sekujur tubuhku yang terasa terbakar, mau ditaruh di mana mukaku ini.


Arghhhh..., ini semua gara-gara mas David, kesalku.

__ADS_1


"Emm..., itu Nek." Aku mengaruk kepalaku yang tak gatal, bingung harus menjawab apa.


"Bu." Kakek berseru kepada Nenek membuat nenek menengok kesamping.


"Jangan tanya Ara, mereka berdua capek! biarkan dulu mereka masuk ke kamar dan mandi dulu ini sudah hampir magrib," Kakek memperingatkan pada nenek agar kami pergi kekamar, kakekku super pengertian beliau penyelamatku, terimakasih kek, aku bergumam dan melangkah menuju kamar yang diikuti oleh Mas David.


"Bu?! ngapain juga harus menanyakan hal itu? Ibu gak lihat betapa malunya mereka?" tanya Wijaya disaat mereka berdua di ruang TV sedangkan Arkana pergi ke kamarnya.


"Habis Ibu, khawatir dengan Kiara Yah."


"Kayak Ibu gak pernah mengalaminya sendiri? bagaimana disaat-saat menjadi pengantin baru? apa Ibu mau Ayah membuat tanda merah di leher dan dada Ibu?" goda Wijaya membuat Dewi mendelikan matanya.


"Bukan begitu Ayah? dulu Ayah melukis tanda merah di ceruk leher Ibu, besoknya ibu tutupin pake syal, atau baju berkerah agar gak kelihatan orang. Anak jaman sekarang malah di pamerkan, Ibu dulu boro-boro kayak gitu yang ada malu." Ungkap Dewi yang mengingat kejadian dulu.


"Ayah! sudah mau punya cicit juga masih genit, sama Ibu," imbuhnya lagi dengan menghela napasnya.


"Walaupun Ayah sudah tua, tetapi yang ini masih kuat kok Bu?" Wijaya menimpalinya dengan senyum dan melirik kebawah perutnya.


"Ingat umur Ayah?" sungut Dewi dengan senyum malu.


"Boleh kan Bu? sudah beberapa hari Ayah puasa loh Bu," ucapnya dengan wajah memelas.


"Ntar encok nya kumat lagi."


Dewi tersipu malu dengan ucapnya Wijaya.


Sepasang suami-istri yang tidak muda lagi yang dialanda asmara akhirnya mereka berdua mengarungi lautan cinta, yang dimana malam ini cuacanya dingin, pas banget. Untuk sepasang Kakek Nenek.


Du Du duh. Kasian banget Papa Arkana gak ada pasangannya, Ayah ibunya sedang mengarungi bahtera cinta begitu pun Kiara dan David, lah dia hanya kedinginan dalam kesendiriannya kasian andaikan ada istri mungkin saat ini ia akan sama-sama merasakan kebahagiaan bersama.


****


Didalam kamar.


"Mas, aku jadi malu sama Nenek," tanya Kiara dengan cemberut.


"Malu kenapa?!"


"Ihhh. Mas ini. Gak ingat apa? tadi nenek nanyain soal ini," tunjukku pada leher yang merah.


"Pokoknya nanti-nanti aku gak mau kamu melukis leherku dengan tanda merah."

__ADS_1


David terkekeh geli melihat bibirnya yang tipis itu cemberut. Tangan David berlahan menyentuh bibir mungilnya dan mulai bertabrakan dengan bibirnya Kiara.


"Mas." Kiara menahan bibirnya David agar jangan menyentuh bibirnya.


"Aku capek Mas, kan tadi udah."


"Hahaha..., kamu Geer deh. Mas cuman mau cium bibir aja' gak ada yang lainnya?"


"Biasanya juga begitu? tetapi kalau aku diam saja, pasti kamu akan menjalankan aksinya iya kan? ngaku."


"Kalau ditawarin Mas gak bakalan nolak, pasti langsung Mas eksekusi tanpa menunggu lama," ucapanya dengan senyum smirk.


"Emang kamu gak bosen Mas."


"Yang itu Mas tak akan ada bosannya."


"Mas. Punya kelainan apa?" tanya Kiara dengan wajah penasaran ingin tahu, kenapa suaminya doyan banget sama ceplok telor.


"Ada."


"Apa?" Kiara mendekat kepada David dengan wajah serius.


"Karena kamu wanita, yang bisa memuaskan kebutuhan pria. Masa telor makan telor Gak enak ah."


Kiara tersenyum malu atas kejujuran suaminya .


"Hehehe..., iya Mas. Gak enak ya, kalau telor makan telor? terus enaknya telor sama apa?!"


Pertanyaan Kiara benar-benar membagongkan. Membuat si David garuk-garuk kepala mati kutu kagak bisa jawab.


"Mas jawab dong? jangan diam saja." Kiara menguncang lengan suaminya.


David menyentak napasnya yang terasa sesak atas pertanyaan yang membagongkan itu. Ia memijit pelipisnya berusaha untuk memberikan jawaban yang tepat dan benar. Namun semakin berpikir keras semakin dia pusing tujuh keliling karena tak menemukan jawabanya.


"Telor lawannya sama itu," tunjuk David kearah bawah perut Kiara dengan asal.


"Udah jangan nanya-nanya hal yang membingungkan okey?!" pinta David dengan wajah lesu.


Kiara tersenyum mengangguk.


Kiara yang sedang duduk di ranjang dengan senyum mengembang menatap ke arah langit-langit kamar nya. Sedangkan David sedang melakukan ritual mandi.

__ADS_1


Sungguh luar biasa pertanyaan Kiara membuat Author nya juga kebingungan mencari jawaban atas pertanyaan Kiara yang membagongkan itu.


Kira-kira readers punya jawabannya ngak? tolong di jawab ya? kasian Mas David nya hehehehe.....


__ADS_2