
Detak jantungku masih berdetak cepat. Ada rasa kelegaan karena dengan kedatangan bi Iem yang menyuruhku untuk turun menemui kakek.
Ku edarkan pandanganku untuk mencari keberadaan kakek. Gak ada kemana kakek berada? gumamku.
"Ara? sini." Seru Kakek dengan melambaikan tangannya.
Rupanya Kakek berada di teras depan. Ku gegas melangakah dan menghampirinya.
"Duduk sini." Kakek menepuk-nepuk bangku yang ada di sampingnya.
"David mana?" tanya kakek setelah aku duduk di sampingnya.
"Lagi mandi," ujarku dengan senyum.
Kakek yang mendengar jawaban ku, langsung mengerutkan keningnya heran.
"Mandi apa, mau shalat Dzuhur sudah lewat, mau Ashar baru juga jam tiga."
'Aduh! bodoh sekali aku? ngapain juga harus ngomong seperti itu? dasar punya mulut gak bisa di rem. Beginilah jadinya kalau punya mulut gak di sekolah kan, aku mengerutuki diriku sendiri, menyesali kebodohan ku'
"Katanya gerah Kek. Kakek memanggil Kiara ada apa?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan. Kalau gak dialihkan bisa-bisa jiwa keppo Kakek semakin tinggi.
"Kamar kalian kan ada AC nya masa sih. David bisa kegerahan?" Kakek semakin besar rasa ingin tahunya.
Tuh kan. Apa kataku? Kakek ku walaupun sudah tua, tetapi jiwa kepponya melebihi emak-emak berdaster yang ada di kompleks perumahan elite ini. Aku bingung harus menjawab apa. Masa sih. Aku harus jujur kalau kami berdua akan melakukan hubungan intim tetapi gagal gara-gara ada bi Iem. Mau ditaruh di mana wajahku.
"Udah ah. Kakek ini mau membahas tentang mas David yang kegerahan gitu." Aku memasang wajah jutek.
"Tunggu suamimu dulu, Kakek mau bicara sama kalian berdua." Kakek tersenyum dan mulai membaca koran yang berada di meja teras depan.
"Kayaknya penting," ujarku dengan senyum lega seenggaknya Kakek lupa atas pertanyaan yang barusan keluar dari mulutnya.
Dalam hati aku terus membaca mantra agar Kakek tak menanyakan hal tadi kalau Mas David datang untuk bergabung dengan kami. Soalnya memori Kakek masih kuat untuk menangkap sinyal.
Tak lama kemudian mas David menghampiri kami dan duduk di sampingku seraya tersenyum pada Kakek.
"Kamu habis mandi," kakek bertanya pada Mas David namun kedua netra nya menelisik wajahnya dari atas sampai bawah. Kakek mendongak ke arah Mas David dengan senyum yang penuh arti.
"Emang AC dikamar mati." Kakek lagi-lagi mengoda kami berdua.
__ADS_1
Mas David mengeleng cepat,"Gak. kok kek. Tadi kami main game sepuasnya hehehehe... sampai lupa! hampir saja aku menang hanya satu kali hentakan aku akan gold. Namun bibi keburu datang membuat aku menjadi kalah, untuk menembak gawang," tutur David membuat Kiara melotot kearah nya.
"Terus?! apa hubungannya dengan kamu mendadak mandi basah," imbuhnya lagi.
"Kan. Kita mainnya di balkon Kek. Ya imotomatis kita kegerahan? sangking asik," kilah David.
Kakek manggut-manggut paham. Untung saja Kakek percaya walaupun tak sepenuhnya. Namun membuat hatiku terasa lebih lega.
"Kek. Kita sudah ada disini nih. Kakek mau bicara tentang apa?" tanya Kiara yang sedari tadi yang dibahas tentang mandi basah.
"Kakek, mau memberikan kado pernikahan kalian berdua. Kira-kira kalian mau hadiah apa dari Kakek," tanya Kakek pada kami.
Aku dan Mas David saling tatap, tak tau harus menjawab apa. Dari dulu aku kurang suka bila harus menerima hadiah secara cuma-cuma.
"Kok, malah diam? bukanya dijawab." Kakek merasa heran dengan sikap kami yang diam.
"Kalau aku tau? Kakek mau kasih kado apa?" Pungkas Kiara.
"Terserah kalian maunya apa. Mau kemana saja boleh.
"Kami gak perlu hadiah buat apa? mending uangnya donasikan kepanti asuhan kek," usul Kiara yang di anggukan David tanda setuju dengan usul istrinya.
"Begini saja. Hadiah yang akan Kakek berikan itu sudah gak milik kalian, terserah mau kalian apaakan. Kalian berdua gak mau tau hadiah apa dari Kakek, padahal Kakek sangat?! menginginkan kalian menerimanya," ujar Kakek dengan raut wajah kecewa atas penolakan dari kami.
Kami mengeleng bersamaan,"mana kami tau kalau Kakek saja tak memberitahukan kepada kami?" jawab Kiara dengan senyum yang di paksakan.
"Kakek memberikan hadiah untuk kalian berupa rumah yang berada di kompleks xxx," jelas Kakek membuat aku terkejut dan membulatkan kedua bola mataku dengan sempurna.
Itukan rumah untuk kalangan Sultan? Kakek mentang-mentang Sultan gak tanggung-tanggung aku dibelikan rumah disana. Semahal itu pula.
"Kek. Hadiahnya terlalu wah. Kami berdua malu harus menerimanya," jawab David dengan tak enak hati. Haruskah ia menerimanya? atau menolaknya. Semua keputusan ada pada Kiara sebagai cucu kandung dari kelurga Wijaya.
"Itu sudah hak milik kalian. Terserah kalian mau diapakan juga. Kakek tak kan melarang nya, rumah beserta isinya dan ada juga mobil keluaran terbaru yang ada di dalam garasi, semua atas nama Kiara Putri Wijaya," Kata Kakek dan pergi meninggalkan kami berdua.
Sebelum masuk Kakek mebalikan badanya menatapku dengan berkata.
"Kakek berharap pada kamu Ara? untuk menepati rumah itu."
"Baiklah Kek. Ara akan membicarakannya dengan Mas David terlebih dahulu," jawabku dengan senyum.
__ADS_1
"Kalau sudah ada jawabannya jangan lupa kasih tau Kakek secepatnya."
"Gimana ini Mas," ujarku pada mas David.
Mas David hanya mengangkat bahu nya tandanya dia tidak tahu jawabannya.
"Kita bicarakan didalam kamar saja Mas." Kiara tersenyum dan berjalan menuju kamar David mengekori di belakang.
\*\*\*
Didalam kamar.
"Mas. Ngomong dong. Berikan solusi kek," geram Kiara yang bertanya pada suaminya malah di cuekin kan bikin bete.
"Ya sudah terima saja, kan beres. Kakek yang mendengarnya senang kamu juga ikut senang kan." David mengehela nafasnya sebenarnya ia ingin membawa Kiara pulang ke apartemennya. Namun apa boleh buat keputusan ada pada Kiara.
Kiara mengaruk kepalanya yang tak gatal, dirinya sendiri bingung harus bagaimana.
"Mas, kalau kita terima rumah itu? terus bagaimana dengan apartemen yang kamu berikan buat aku?" tanya Kiara dengan menatap lesu.
"Hemm, gimana kalau kita terima saja hadiah itu." perkataan David membuat Kiara mengerutkan keningnya heran.
"Maksudnya?"
"Kita bulan madu nya di apartemen dulu biar gak ada yang ngangu. Setelah kita puas bulan madunya kita pulang ke rumah itu bagaimana," David memberikan ide yang menurutnya bagus.
"Ihh. Masih saja ot*k kamu itu isinya yang begitu."
"Hahaha..." David tertawa lepas melihat wajah Kiara memerah.
"Sebenarnya kamu juga mau kan?" goda David lagi.
"Ihhh. GEER. Biasa aja tuh."
"Massa."
"Ya' iyalah. Aku mah biasa aja kali?! Wek," kilah Kiara dengan menjulurkan lidahnya.
"Yang tadi siapa ya? yang mengeluarkan suara indahnya?" ejek David membuat Kiara terdiam dan membenamkan wajahnya di bawah bantal karena malu. Dirinya tak bisa memungkiri lagi memang benar perkataan dari David bahwa dirinya yang sudah mengeluarkan suara indahnya tadi siang. Kini ia malu setengah mati ketahuan masih saja ngeles.
__ADS_1