
David yang tau sikap Kiara membuat dirinya tersenyum sembari mengedipkan matanya pada Kiara.
"MAS KAMU" teriak Kiara sontak membuat semua orang menatap kearah David juga Kiara.
"Ada apa dengan mu Kia?" tanya Rita dengan cemas melihat ekspresi wajah Kiara yang melihat wajah David.
Kiara menunduk tak tau harus menjawab apa, haruskan ia katakan bahwa David tidak buta, tapi aku belum punya bukti yang kuat. Kalau asal bicara mereka tidak akan pernah percaya sama aku, gumamnya.
"Em, enggak kok Mah. Aku berteriak karena terkejut melihat kecoa di punggungnya Mas David," bohongnya.
"Kecoak!" teriak Devina dan Rita dengan berdiri di atas sofa karena ketakutan, serangga yang sangat menjijikan bagi Devina.
"Pah, bunuh kecoak nya Pah!" ucap Rita dengan panik bukan main.
Hahaha Robinson Xander terkekeh geli melihat kelakuan anak istrinya," Mama ada-ada saja masa kecoak harus di bunuh!" jawab Robinson dengan menahan tawanya seketika wajahnya berubah pucat pasi setelah melihat Rita yang menatapnya dengan garang.
"Oke Mah." akhirnya Robinson menuruti kemauan istrinya.
Robinson melangkahkan kakinya menuju David. Robinson mencari keberadaan binatang yang menjijikan tersebut. David yang merasa terganggu oleh sikap Papanya yang menurutnya terlalu lebay.
"Papa kenapa sih, mau ngapain?!" ketus David dengan menepiskan tangan Robinson yang sibuk mencari keberadaan kecoak.
"Kata Mama ada kecoak di tubuh kamu. Makanya Papa mencarinya mau Papa bunuh!"
David hanya mengerutkan keningnya," Pah. Ini rumah sakit ruangan VVIP mana mungkin ada kecoak nya." bantah David Xander.
'Aduh ini gimana? kok malah jadi begini? ah aku jadi pusing dech, ini gara-gara kamu Kiara semuanya jadi heboh ketakutan dengan kecoak, padahal kecoak nya gak ada' Kiara menggerutuk diri sendiri.
Dokter Andri Haryanto menatap wajah bingungnya Kiara, ia mengerti dengan sikap Kiara yang menurut Andri Kiara sudah mengetahuinya kalau David tidak buta. Biarlah itu urusannya David dan Kiara, semuanya bisa di jelaskan nantinya oleh David. Itu menurutnya lebih baik untuk mencairkan suasana akhirnya Andri angkat bicara untuk membela David.
"Kecoak nya sudah terbang Tante?" bohong Andri dengan senyum palsunya.
__ADS_1
"Tuh kan. Mama dengar sendiri kalau kecoak nya sudah pergi," cetus Robinson dengan Membobotkan bokongnya lagi di sofa.
Kedua anak dan ibu tersebut akhirnya bisa bernafas lega dan duduk di sampingnya Robinson.
****
"Mah, aku mau menagih penjelasan tentang si Kiara anaknya siapa?!" todong Andin pada Rikha.
"Buat apa kamu tahu? gak penting juga. Mama sudah menguburnya dalam-dalam, jadi Mama mohon jangan kamu jangan mengungkit luka Mama?" pintanya dengan berlalu meninggalkan Andin di dalam kamar.
Dengan sigap Andin menahan tangan Rikha agar tidak pergi begitu saja sebelum menjelaskan semuanya, rasa ingin tahunya semakin tinggi ia ingin tahu kebenaran antara hubungan Kiara dan Mama nya.
"Mah aku mohon, tak ada salahnya Mama menceritakan semuanya padaku? aku juga berhak tau," ucap Andin dengan memelas.
Rikha berulang-ulang kali menarik nafasnya untuk menetralkan detak jantungnya. Dirinya pun tidak tega melihat wajah Andin yang memelas, berlahan Rikha mendekati Andin dan duduk di sampingnya.
"Kamu ingin tau tentang Kiara?! anak yang tak pernah Mama harapkan." Andin pun mengganguk.
Andin memeluk tubuh Rikha yang tidak muda lagi.
"Mah, kalau Mama tak sanggup untuk menceritakan semuanya tak apa jangan di teruskan lagi!" pinta Andin dengan mengusapnya dengan kedua tangannya. Di kedua matanya terlihat kesedihan yang mendalam. Andin yang melihatnya pun menangis.
'begitu dalamnya luka yang Mama rasakan sehingga Mama tak sanggup untuk menceritakan semuanya' batin Andin.
Rikha mengeleng cepat. Sebelum bicara ia menarik nafas dalam, kini keadaanya sudah lebih baik.
"Kiara anak hasil perkosaan?!" ucapnya dengan suara terbata bata karena menahan amarah yang begitu besar sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja.
"APA!" pekik Andin dengan membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"J-jadi?! dia bukan anaknya Papa?!" dengan shock Andin menutupi mulutnya dengan kedua tangannya dan di anggukan oleh Rikha.
__ADS_1
"Lalu anak Mama dengan siapa? dan siapa yang sudah melakukannya sama Mama? apakah Papa tahu," gerendelnya lagi dengan suara pelan tak sekeras tadi.
Rikha menyeka air matanya yang masih setia menemani tangisannya, air hangat tersebut seakan-akan engan tuk berhenti. Dan ia pun anggukan kepala.
"Trus?! apa reaksinya Papa setelah tau kebenarannya kalau Kiara bukan anaknya Papa?" desak Andin dengan penasaran terhadap Papa nya sudah tau Kiara bukan anaknya tapi masih menganggapnya anak.
"Kenapa Mama gak bilang saja kalau Mama hamil anaknya Papa, pasti Papa tidak akan curiga sama Mama," ulangnya lagi.
Rikha menyeka air matanya dan menatap wajah Andin dengan seulas senyuman.
"Mama terpaksa jujur sama Papa tentang kehamilan Mama, karena waktu itu tidak memungkinkan untuk berbohong?" tutur Rikha dengan senyum ketir bila ia mengingat semuanya.
"Maksud Mama?"
"Waktu itu Papa mu di nyatakan mandul karena penjepitan urat syarafnya, setelah kecelakaan yang menimpanya di saat pulang kantor, padahal kami berdua berencana akan program bayi kembar tapi Tuhan berencana lain," terang Rikha lagi dengan tatapan kosong.
"Papa menerima begitu saja, walau sudah tau kebenarannya?" kesal Andin seharusnya waktu itu Kiara di gugurkan saja agar kedepannya tidak bermasalah.
"Iya, karena Papa menginginkan seorang anak lagi? do'a Papa di kabulkan tapi Mama hamil bukan anak kandungnya melainkan anak seorang pengusaha yang terkenal yang dulunya lelaki itu punya rasa terhadap Mama ia pernah mengutarakan keinginannya untuk menjadi suaminya Mama namun Mama tolak mentah-mentah karena Mama tak mencintai nya. Mungkin karena itu Ia marah dan melakukan hal yang tidak pantas terhadap Mama?" Rikha menjelaskan semuanya tentang kisahnya yang menyedihkan.
"Mama tak berkeinginan untuk mencari keberadaan lelaki itu?" tanya Andin dengan marah.
"Dia pergi ikut keluarganya ke Amsterdam untuk menetap di sana,"
"Jadi Mama hamil dia tidak tahu?"
Rikha menganggukkan kepalanya,"iya dia tidak tahu kalau Mama hamil, sebelum pergi ke Amsterdam ia menemui Mama dan meminta maaf atas perbuatannya, karena waktu itu ia sedang mabuk berat. Seandainya Mama hamil ia akan bertanggungjawab atas perbuatannya."
"Lalu? Mama jawab apa," desak Andin dengan penasaran.
"Mama katakan pada nya kalau Mama tak akan dan tidak mau hamil anaknya, karna Mama melakukan metode KB. Mama terpaksa bohong karena Mama tidak mau berurusan dengan dia. Mendengar perkataan Mama ia kecewa, dan pergi meninggalkan Mama sendiri semenjak itu Mama tidak bertemu lagi, mungkin besok ia pergi ke luar negeri," Andin hanya mangut-mangut tanda ia mengerti dengan penjelasan dari Mamanya.
__ADS_1