Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

Kedua manusia yang ada di depan mataku ini sungguh mengganggu' aku mengerutuki diriku sendiri kenapa harus bertemu dengan kedua anakonda.


"Oh iya kalian berdua cocok kok. Yang satu tampan dan cantik," puji ku membuat vanya membusungkan dadanya yang besar itu.


"Terimakasih Mbak, emang sih aku akui, kalau orang cantik pasti pasangannya juga ganteng betulkan yang," jawabnya dengan suara mendayu-dayu. Ah gaya bicaranya pun seperti di buat-buat sealay mungkin. Rasanya aku ingin muntah melihat kelakuan si Vanya.


Dengan langkah seribu aku pun menghilang untuk apa aku ada di sana? mau lihat orang yang lagi melepas rindu! no way! aku bukan cicak yang setia mendengarkan orang pacaran.


"Lepas! Vanya? kamu tau siapa wanita tadi?!" tanya David dengan wajah kesal karena Vanya tak mau melepaskan pelukannya di lengan David.


"Apa perduli ku sama dia? yang perduli kan ya kamu Sayang? apa kamu gak kangen sama aku?" tanyanya manja.


Dengan kasar David melepaskan tangannya Vanya membuat dirinya meringis kesakitan.


"Kok. Kamu jahat ama aku Yang?" renggeknya dengan berkaca-kaca.


"Jangan pernah kamu memanggilku dengan sebutan sayang! karena aku gak suka," bentak David.


"Mas! selama kita pacaran kamu gak pernah membentak aku seperti ini," ucapnya dengan Isak tangis. Untung saja suara mereka tak terdengar karena posisi mereka berada di lorong sepi dari keramaian restoran.


"Iya dulu! itu dulu Vanya?! sebelum kamu pergi meninggalkan aku sendiri dalam keadaan terpuruk! yang dimana aku terkena musibah! mataku buta! dimana hatimu?! dimana!" suara bentakan keras David membuat Vanya terdiam hanya air mata yang mewakilinya.


Terlihat jelas di raut wajahnya yang cantik terdapat penyesalan yang mendalam.


"Maaf kan aku Mas. Aku khilaf," lirihnya dengan menundukan kepalanya.


David hanya menyungingkan senyum kecewa pada Vanya. Seandainya dulu vanya tak pernah meninggalkan dirinya maka hati ini David sudah melepas rindu dengan Vanya, David tak bisa memungkiri bahwa ia masih mencintainya apalagi di saat ini Vanya yang menangis sesegukan rasanya ia ingin memeluk tubuh wanitanya yang telah bertahun-tahun lamanya pergi meninggalkan dirinya. Rasa kerinduan yang menyelinap di hatinya seakan-akan terobati dengan kedatangan Vanya.


Reflek David meraih tubuh Vanya kedalam pelukannya dan menatap sendu milik Vanya yang selama ini ia rindukan. Rupanya David tak menyadari bahwa dirinya sedang di awasi oleh sepasang manik yang mulai mengnganak sungai siapa lagi kalau bukan Kiara.


Kiara sengaja kembali lagi karena Neneknya menyuruhnya untuk memanggil David, namun yang ia lihat justru membuat hatinya sakit, hancur itulah yang ia rasakan saat ini.


Siapa yang tidak hancur perasaannya bila melihat calon suami kita sedang memadu kasih dengan mantan pacarnya. Kiara melihat David yang mencium bibir Vanya dengan begitu lahap membuat Kiara semakin tersakiti.


'Kenapa Mas, disaat aku mulai mencintaimu justru kamu yang mematahkan nya, kamu sudah dua kali membuat aku patah hati, batin Kiara kini menangis, oh ini yang dinamakan sakit tak berdarah, lebih baik aku sakit dengan luka yang menganga daripada sakit tak berdarah sakitnya melebihi luka yang menganga, lirihnya pelan dan berjalan meninggalkan sepasang kekasih itu.

__ADS_1


Kiara berjalan menuju pintu keluar ia tak menghiraukan panggilan dari keluarganya yang meneriakinya. Membuat keluarganya dan keluarga Xander menjadi bingung dengan sikap Kiara dan mereka pun tak melihat anaknya David.


"Kenapa dengan anak itu?!" tanya Wijaya.


Arkana mengeleng cepat,"aku gak tau Ayah? biar Arkana yang mengejarnya," jawab Arkana yang di anggukan kepala oleh mereka semua.


"Kami jadi gak enak sama Tante dan Om," ujar Rita dengan senyum kikuk, Rita menduga kalau Kiara menangis pasti ulah anaknya.


Rita dan suaminya menjadi tak enak hati bila benar David yang sudah membuat Kiara menangis.


"Biarkan dulu Kiara menyendiri sebentar lagi dia datang ke sini, gabung sama kita," kelakar Wijaya untuk mencairkan suasana canggung. Dirinya pun sudah menebaknya pasti mereka habis ribut.


Robinson, dan anak istrinya tersenyum mendengar perkataan dari Wijaya mereka pun melanjutkan percakapannya tentang pernikahan anak-anak nya.


Dalam termenung Kiara hanya menatap langit-langit yang mulai gelap seperti akan turun hujan. Di usapnya air matanya yang masih mengganak sungai dengan kedua tangannya.


"Cerita sama Papa ada apa?!" tanya Arkana dengan mengelus rambut Kiara, membuat nya terkejut dengan kedatangan Arkana.


Kiara tersenyum dan menggeleng,"gak ada apa-apa," bohongnya mana mungkin Kiara akan mengatakan yang sejujurnya kalau David sedang bermesraan dengan mantan pacarnya. Biarlah dirinya sendiri yang merasakan kesedihannya tanpa harus melibatkan banyak orang.


"Kalau tidak ada apa-apa? kenapa wajahnya murung? terus tadi Nenek memanggil mu, kamu cuekin? jujur saja Papa akan menjadi pendengar yang baik untuk anaknya Papa."


'kasian sekali kamu nak, maafkan Papa yang egois. Tak seharusnya Papa memisahkan kalian' ucap Arkana dalam hati. Tak terasa air matanya mengalir di kedua pipinya yang mulai menua.


"Pa? Ara mau ketemu mama boleh?!" tanyanya dengan wajah sendu.


Arkana menghela nafas berat dan menganguk pelan.


"Benar Pah?" jawab Kiara dengan mata berbinar bahagia setelah sekian lamanya memendam rindu pada Rikha akhirnya ia di izinkan juga oleh Arkana.


"Iya."


"Terimakasih Pa? muach," Kiara mencium pipi Arkana, membuat Arkana terkekeh geli melihat kelakuan anak semata wayangnya yang masih kekanak-kanakan.


"Mau Papa antar," tawar Arkana.

__ADS_1


"No! aku bisa sendiri."


"Baiklah bawel! kamu memang keras kepala," serunya lagi dengan senyum mengembang yang selalu menghiasi wajah tampannya Arkana.


"Aku gak bawel! aku anaknnya pendiam, dan baik hati," protesnya yang tak mau di bilang anak cerewet dan bawel.


"Aku berangkat sekarang ya Pah."


"Nanti saja kalau sudah pulang dari sini? lagian gak enak sama Tante Rita dan Om Robinson," terang Arkana.


"Please! aku maunya sekarang, Papa bisa menjelaskannya pada mereka? aku mohon Pah," ucap Kiara dengan memohon.


"Ya sudah kamu siap-siap hapus dulu air matanya, jangan sampai mama kamu mengira bahwa kamu Papa sudah melakukan penganiayaan terhadap anaknya sendiri," kekehnya dengan senyum.


Kiara pamit pada Arkana dengan mencium punggung tangannya.


"Ara berangkat dulu ya Papa."


"Hati-hati ya Sayang."


"Iya Pah."


Arkana menatap punggung Kiara sampai tak terlihat lagi, baru ia masuk kembali untuk bergabung dengan mereka.


"Ara mana?" tanya Dewi dengan menengok kanan kiri mencari keberadaan Kiara.


"Pulang katanya kangen sama Mama," jawab Arkana dengan mendudukkan dirinya di sampingnya Dewi.


"Mereka gak lagi berantem sama David kan," tanya Rita dengan senyum terpaksa.


"Tidak. Mereka berdua baik-baik saja, Kiara tadi menangis karena kangen dengan Rikha, ia melihat seorang gadis mengelayut manja pada mamanya? membuat Kiara sedih," jawab Arkana dirinya terpaksa berbohong demi Kiara.


"Ngomong-ngomong David kemana? dari tadi belum juga kembali?!" ujar Robinson yang di anggukan oleh Devina.


"Biar Devina yang cari kak David," Devina menawarkan dirinya untuk mencari keberadaan kakaknya.

__ADS_1


"Iya tapi kamu jangan ikut-ikutan ngilang juga," timpal Robinson dengan senyum khasnya.


Devina yang mendengar sindiran dari papanya hanya mengerucutkan bibirnya.


__ADS_2