
Kejadian barusan membuat aku semakin malu bila bertemu dengan Reyhan yang aku takutkan adalah bila mulut Reyhan ember. Ah. Rasanya aku ingin cepat menyuruh Reyhan pulang saja. Aku berjalan mondar-mandir seperti setrikaan sesekali aku mengigit bibir bawahku ada rasa cemas dan khawatir dalam hati aku.
Krekk...pintu kamar terbuka ku lirik sekilas ternyata mas David yang masuk ke dalam kamar.
"Kenapa? mondar-mandir saja?"
"Lagian kamu sih Mas! main cium aja. Aku kan jadi malu kalau ketemu sama Rey?!"
"Kamu juga mau. Gak mungkin dong aku sia-siakan kesempatan ini? kapan lagi? makanya cepetan kasih hak ku? jangan kamu gantung terus, nyesek tau?!" Mas David menjawab dengan nada sindiran pedas untukku membuat aku kesal mendengar nya.
"Gimana aku mau menolaknya, sedangkan kedua tangan kamu menahan wajahku." Kiara menjawabnya dengan memanyunkan bibirnya.
"Yang," ucapnya dengan menunjukan cengiran padaku.
"Apa! yang, yang. Jangan panggil aku sayang. Aku gak suka," ketusku dengan melipatkan kedua tanganku di atas perut.
"Mengulang kembali yang barusan terjadi?" pintanya dengan wajah sumringah.
"Jangan macam-macam kamu Mas."
"Gak. Hanya satu macam saja," bisiknya tepat di telinga ku.
"Ogah."
"Sebentar saja?!" renggeknya dengan wajah memelas.
"Sekali gak! ya nggak. Jangan maksa dong," kesalku dengan manyun.
Aku melihat Mas David mendekat dan mencondongkan tubuhnya di wajahku yang masih berdiri berhadapan dengan nya. Mas David memonyongkan bibirnya yang hampir terjatuh lagi ke bibirku. Dengan cepat aku tahan bibirnya dengan kedua tangan ku. Membuat ia terkejut atas sikapku yang menolaknya.
Ia mendengus kesal terhadap ku, helaan nafasnya yang memburu menahan amarahnya, emm, tepatnya sih menahan hasrat yang tertunda.
Mas David mencengkram kedua tanganku dengan erat dan berkata pelan namun bagiku sangatlah menyeramkan.
"Kamu mau memberikannya dengan suka rela atau aku paksa," tegasnya lagi dengan memasang wajah menakutkan.
Wajah yang tampan dan gagah kini berubah menjadi Hulk yang menyeramkan. Aku mulai ketakutan atas sikapnya yang tiba-tiba berubah.
"Kalau aku gak mauuu. Apa kamu juga akan memaksa aku didalam rumah ku sendiri?!" timpalku dengan suara keras.
"Hay! seharusnya aku yang marah! bukan kamu." Tudingnya dengan senyum sinis.
"Sudahlah Mas, aku capek harus berdebat dengan kamu? hanya gara-gara hal yang sepele," Tandasku dengan membalas senyumannya dengan senyum sinis juga. Dia pikir hanya dia yang bisa melakukan hal itu, aku juga bisa.
Mas David keluar dari kamar meninggalkan ku mungkin ia tak mau masalah ini terdengar oleh nenek, Kakek dan papa, akhirnya memutuskan untuk pergi keluar dan membanting pintu kamar dengan kerasnya membuat aku terkejut dan mengelus dadaku 'Astaghfirullah' ucapku dalam hati.
__ADS_1
Kini aku duduk lemas di atas kasur ku tatap foto pernikahan kami yang besar terpampang jelas di dinding kamar.
Aku sering mendengarkan kajian-kajian islami yang menjelaskan tentang pernikahan.
Kata-kata mutiara islami yang di sampaikan oleh Ustadz kondang waktu lalu masih terngiang di telingaku, yaitu membahas tentang istri yang harus memberikan haknya pada suami.
'Berdosa bila seorang istri yang tidak memberikan haknya pada suami maka dirinya akan di laknat Allah dan para malaikatnya. Apa bila kita memberikan haknya maka kita sama saja membunuh 40 setan setiap kita berhubungan dengan suami. Jadi bila kita sering melakukannya maka setiap malam kita bisa membunuh ratusan setan, Dan kita mendapatkan ridho Allah' itulah kajian yang aku dengar. Entah itu candaan atau memang benar adanya.
Arghhhh...aku mengacak rambutku dengan kasar.
Kenapa jadi begini? selimut, bantal dan guling tak luput jadi sasaran kemarahan, kini semuanya berserakan di lantai. Majalah yang berada di atas nakas pun menjadi sasaran juga. Aku marah entah marah sama siapa.
Kedua mataku tertuju pada laptop dan ponselku. Kuraih kedua benda tersebut dan hampir aku banting kelantai.
Saat aku melayangkan benda tersebut tiba-tiba sebuah tangan merebut benda tersebut yang hampir jatuh ke lantai.
"Kamu kenapa sih?! kesurupan." mas David merebut laptop beserta ponselku dan meletakkannya di meja.
"Apaan sih," ucapku dengan berlalu begitu saja meninggalkan ia berdiri di samping ku.
Aku mendengar tarikan nafas berat yang ia keluarkan.
"Kamu mau menghancurkan laptop ku? disini banyak sekali file-file penting Kiara?!" dengusnya dengan kesal masih kudengar suara omelan darinya luar balkon.
Aku merasakan sebuah tangan yang melingkar di pinggang ku, belum sempat melihatnya ia berbisik pada ku membuat bulu kuduk berdiri.
"Kamu kenapa Sayang? marah sama aku? maaf ya, tadi aku emosi."
Mas David meminta maaf atas perbuatannya dengan nada penyesalan. Aku membalikan badan dan menghadap ke arah Mas David dengan senyum tipis.
"Yang seharusnya minta maaf itu aku?" ujarku dengan menangkupkan kedua tanganku pada wajahnya yang tampan.
"Kamu memaafkan aku? kamu gak marah lagi sama aku?!" serunya dengan berbinar bahagia dan ku anggukan kepala, membuat mas David tersenyum sembari menautkan kedua alisnya
aku malu atas sikapnya dengan cepat aku membalikan badan ku kembali menghadap kedepan.
"Kamu lucu' bikin gemes." Mas David tersenyum manis dagunya sudah menempel di bahuku, harum aroma rambutnya menguar di hidungku membuat ku mabuk kepayang, perasaan apa ini? apakah aku mulai....'
Aku masih malu untuk mengakuinya bahwa aku mulai nyaman dengan perlakuan darinya. Sikap romantisnya yang ia tunjukan lama-kelamaan membuat aku jatuh hati pada seorang lelaki yang sudah membuat aku patah hati.
"Yang?" bisiknya lagi dengan mempererat pelukannya pada ku.
"Mas, aku gak bisa nafas? lepasin pelukannya," ucapku yang mulai engap karena pelukannya begitu eratnya.
Mas David menuruti keinginan ku, namun hanya sebentar. Kemudian ia memeluku kembali seraya mencium pipiku membuat aku terkejut dan reflek mencubit pinggang nya.
__ADS_1
"AW...sakit Sayang," ucapnya dengan mengelus pinggang nya yang ku cubit tadi.
Memang benar sih, aku mencubitnya dengan sekuat tenaga habisnya ia sudah berani mencuri sesuatu dariku.
"Makanya jadi orang jangan suka mencuri." aku mencoba untuk melepaskan pelukannya bukannya terlepas justru dirinya mempererat pelukannya kembali.
Tubuhnya semakin menempel di belakang ku aku merasakan sesuatu yang menonjol dari bawah perutnya Mas David.
Deg...
Deg...
Deg...
Hah. Bagaimana ini? aku panik bukan main. Aku mencoba untuk berontak lagi dari dekapan mas David.
"Jangan bergerak tetap seperti ini? sedikit kamu gerak sama saja kamu membangunkan singa lapar. Apakah kamu tak merasakan sesuatu yang mulai terusik tidurnya," ucapnya dengan nafas yang memburu karena menahan hasr*t yang sudah bergelora.
Mendengar perkataan darinya maka aku pun diam seketika tak berani untuk bergerak.
"Kiara kamu harus cari amannya saja." Aku berbicara sendiri agar tetap tenang walaupun hatiku mulai gelisah.
Semakin aku diam, mas David semakin berulah tangannya mulai nakal bergerilya kemana-mana membuat aku merinding disko.
"M--mas," ucapku terbata-bata saat hidungnya mengendus pada area leher ku.
"Hemm." dirinya menjawabnya dengan hemm, dan terus melanjutkan aksinya kini kedua tangannya sudah berada tepat di gundukan bukit kembar ku, perlakuannya yang lembut membuatku hanyut dalam buaian lelaki ini, tepatnya sih suami.
"Boleh aku mintanya sekarang?" tanyanya dengan nada memelas, dengan cepat aku mengeleng.
"Aku...emm...anu... Mas. Aku...."
Mas David tersenyum sembari menyelipkan anak rambutku dan mengecup keningku.
"Aku akan sabar menunggumu? untuk saat ini biarkan seperti ini dulu," pintanya dengan lembut dan aku anggukan kepala.
"Terimakasih Mas," lirihku namun masih terdengar oleh nya.
"Untuk."
"Untuk segalanya Mas. Karena kamu mau bersabar menunggu aku sampai aku siap menjadi istri yang seutuhnya," ujarku dengan senyum malu atas ucapan yang lolos begitu saja dari mulutku.
Mas David tersenyum dan mengangguk sambil mengacak rambutku dengan lembut.
Aku beruntung mempunyai suami seperti dirinya yang sabar menghadapi sikap kekanak-kanakan ku.
__ADS_1