Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Aku Tak Ingin Berpisah Dengan Kalian


__ADS_3

Papa menghampiriku dengan senyum mengembang, rasa bahagia nampak di raut wajahnya yang mulai menua namun masih kelihatan tampan.


"Kamu cantik Sayang," pujinya membuat aku tersipu malu atas pujian dari Papa.


"Baru saja Papa dekat dengan mu, tetapi harus dipisahkan dengan secepat ini?" lirihnya dengan mengusap air matanya yang berkaca-kaca seraya mengelus pipiku.


Aku mematung menatap wajah Papa yang di rundung kesedihan. Bukan dirinya saja yang merasa kehilangan tetapi aku juga, tak bisa aku pungkiri bahwa aku juga baru sebentar merasakan kasih sayang seorang ayah dan kasih sayang nenek dan kakek yang sesungguhnya, namun dengan adanya pernikahan membuat kami harus terpisah.


"Kok malah nangis?! jelek ah! ntar make up nya luntur."


"Pah? kenapa secepat ini kita berpisah?" Tanyaku dengan menatap wajah Papa yang tersenyum padaku.


"Kita hanya dipisahkan oleh jarak bukan?! dari rumah mertuamu kerumah Papa hanya memakan waktu 45 menit saja. Gak sampai satu jam," ucapnya dengan mencolek hidungku.


"Aku gak mau ikut sama Mas David, aku maunya disini saja sama kalian." Ketusnya dengan manyun.


"Ingat, surga istri ada di suami."


"Aku tau!"


"Kalau sudah tau ngapain gak mau ikut suami," terang Papa membuat aku terdiam.


"Arka, Ara, ayo buruan turun! calon besan kamu sudah datang," seru Nenek yang masuk kedalam kamar ku.


Papa dan nenek mengapit ku untuk menuruni anak tangga, sebenarnya sih, Papa maupun papanya Mas David menyarankan agar pernikahan kami di selenggarakan di hotel berbintang lima namun aku menolaknya. Alasannya kenapa? ya' karena aku gak mau banyak keramaian apalagi harus ada awak media yang akan meliputi seluruh acara pernikahan kami.


Jangan tanya aku? sekarang jantungku berdegup kencang sekencang angin beliung.


Peluh membasahi keningku, tangan mulai bergetar seakan-akan mau pingsan.


Papa menghentikan langkahnya dan bertanya pada diri ku,"jangan tegang, rileks," bisiknya tepat di telinga ku.


"Tarik nafas buang pelan-pelan agar tenang," ucap nenek menenangkan dan ku anggukan kepala.


Aku tak berani menatap wajah-wajah yang tidak aku kenal, setidaknya aku masih lega karena pernikahan ini tidak dilaksanakan di gedung mewah. Di rumah saja tamunya sebayak gini? apalagi kalau di gedung mewah, lebih parah dari ini tamunya.


"Ara gak tegang kok, mungkin perasaan Nenek," aku menimpalinya dengan senyum aku paksakan.


"Gak tegang, tetapi pegangan tangan kamu begitu kuatnya sehingga kulit Papa mau lepas," sindir Arkana membuat Kiara senyum kikuk.


"Hehehe maaf." Kiara menunjukan cengiran.


Devina menyengol lengan David dengan senyum mengoda sang kakak.

__ADS_1


"Awas matanya lepas tuh! dari cangkangnya."


David yang menatap wajah Kiara seketika gugup karena ketahuan sedang mencuri pandang calon istrinya yang cantik palipurna.


"Usil banget! jadi adek, aku pecat jadi adek mau?" bisiknya dengan kesal.


"Ish...ish...gitu aja marah!" balas Devina dengan mengerucutkan bibirnya.


"Stttt...diam jangan ribut! malu di dengar oleh mereka?" Rita menengahi ketegangan antara kedua anaknya.


'Kamu cantik sekali Kiara? maaf kan aku yang sudah berprasangka buruk terhadapmu. Aku sangat sangat mencintaimu aku janji tak akan pernah menyakiti mu walau secuil,'


Itulah janji David dalam hatinya. Semoga janjinya ditepati dan tidak melenceng.


Kiara di tuntun oleh Dewi agar duduk bersanding dengan David.


Hai, jantung? tak bisakah kau tenang sedikit, jangan membuat semua para tamu mendengar suara detakkan kamu aku malu? ucapnya dalam hati.


Sama halnya juga dengan David, David terus berkomat-kamit dan peluh mulai membasahi keningnya sesekali ia mengelapnya dengan tissu tubuhnya pun mulai gelisah panas dingin ia rasakan detak jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya karena ini merupakan hari saklar baginya.


"Bagaimana kalian berdua sudah siap?" tanya pak penghulu membuat keduanya terkejut dan saling menatap satu sama lainnya.


Rita faham dengan sepasang pengantin yang di landa panik plus gugup.


"Kamu lagi menunggu seseorang?" tanya David setengah berbisik.


Kiara tak menghiraukan ucapan David ia terus fokus menatap ke arah pintu masuk, semoga keluarga mamanya datang.


Selang beberapa menit kemudian Kiara menatap ke arah pintu ia mulai tersenyum tipis melihat seorang wanita paruh baya datang, setelah itu senyumnya memudar kembali karena yang ia tunggu bukanlah orang yang di harapkan karena itu adalah Rikhe.


Rikhe merentangkan kedua tangannya tuk memeluk Kiara.


"Maaf kan Mama ya Sayang? Mama datangnya terlambat." ucapnya dengan wajah bersalah.


"Gak papa kok Mah, lagian acaranya juga belum di mulai?"


"Kamu kenapa? dan wajahmu murung sekali, apakah ada yang kamu tunggu?" tanya Rikhe dengan senyum mengembang.


Kiara tersenyum, bukan senyuman kebahagiaan yang terlihat di wajahnya tetapi senyum palsu.


"Aku sedang menunggu Mama dan Papa," jawabnya lesu, para tamu mulai kasak-kusuk karena acaranya belum juga dimulai.


Mereka sudah tak sabar ingin menyantap hidangan yang lezat beraneka macam makanan ada dari dalam maupun luar Negeri.

__ADS_1


Sopenir nya pun gak kaleng-kaleng, doorprais nya pun motor sport keluaran terbaru. Maklum yang menikah anak sultan satu-satunya lagi. Jadi wajarlah bagi mereka uangnya banyak segitunya mah kecil. Sultan mah bebas.


"Memangnya kamu sudah memberi tahu pada mamamu? kalau acaranya sekarang?" tuturnya dengan senyum.


"Aku gak ditunggu nih. Aku juga mau?" timpal Reyhan. Membuat Kiara memutar bola matanya malas.


"Pak Arkana, apa acaranya bisa kita mulai, dan siapa yang akan menjadi wali nikahnya Kiara? Pak Arkana," Pak penghulu bertanya pada Arkana, karena dirinya juga ada panggilan dari tempat lain untuk menikahkan yang lainnya.


Arkana menatap Kiara seakan-akan ia bertanya apa acaranya dimulai sekarang atau nanti. Kiara menatap wajah Arkana dengan sendu dan menggeleng pelan.


Arkana mengerti dengan jawaban dari Kiara tersebut.


"Pak, tunggu sebentar lagi ya? dan yang berhak untuk menjadi wali nanti Mama nya yang akan menjawabnya siapa yang akan menjadi wali," ujar Arkana dengan senyum kikuk, sebenarnya ia juga tidak enak hati harus berbicara tentang aib keluarga apalagi para tamu yang hadir dari tadi, namun acaranya belum juga dimulai.


Kiara sedih karena mamanya tak mau datang di hari pernikahannya. Tak terasa air matanya menetes perlahan namun pasti, Arkana , Dewi dan Wijaya pun dibuat bingung oleh Rikha bukankah dirinya sendiri sudah berjanji akan hadir, Kiara malu terhadap para tamu dan keluarga Xander, dirinya hampir meninggalkan tempat itu dan tiba-tiba suara seruan yang memanggil namanya buat Kiara menghentakan langkahnya dan membalikan badannya.


"MAMA!" Teriak Kiara dengan menghambur dalam pelukan Rikha.


"Mama jahat! Aku kira Mama gak akan datang untuk memberi restu untuk Kia," tangisnya pecah seketika. Ia menangis sesegukan dalam pelukan Rikha tersirat kerinduan yang mendalam di hati keduanya.


"Mama juga kangen sama kamu?" jawab Rikha dengan suara terbata-bata saat mencium kedua pipinya Kiara.


"Mah, gantian dong! Kita juga mau kangen-kangenan sama Kia," sambung Joni yang membuat Kiara terkekeh.


Kiara pun melerai pelukannya dan berganti memeluk Joni.


"Aku kangen kalian semua."


Kiara menatap wajah Joni dan Andin yang berdiri mematung menatap wajah Kiara dengan tatapan dingin.


"Kak Rikha?!" sapa Rikhe membuat Rikha membulatkan matanya dengan sempurna mensyaratkan yang ia lihat adalah adiknya yang selama ini pergi tanpa kabar berita.


"Rikhe? ini kamu Rikhe adiknya Kakak?" tanyanya dengan terharu.


Rikhe tersenyum dan mengangguk sambil mendekati Rikha ia memeluk tubuhnya Rikha dengan erat.


"Bagaimana cara kita lanjutkan sekarang? dan siapa yang akan menjadi wali nikahnya mempelai wanita nya," tanya Pak penghulu untuk memastikannya lagi.


"Wali nikahnya Kiara saya wakil kan kepada wali hakim," tukasnya dengan senyum kecewa.


Membuat para tamu undangan semakin kasak-kusuk karena mendengar pengakuan dari Rikha.


Ada yang berbisik, kok bisa, kok gitu. Ya namanya juga netizen mulutnya lebih pedas dari pada bakso Mercon.

__ADS_1


__ADS_2