Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Teman Baru


__ADS_3

"Auhh..." ia meniup-niup kakinya yang sakit. Dirinya berusaha bangun dari jatuhnya berusaha berjalan kembali, ia menyeret kakinya dengan pelan dan tiba-tiba seseorang menabraknya sehingga ia terjatuh lagi ke Pasiran.


"Kalau jalan itu pake ma...ta...."


Suaranya terbata-bata saat melihat siapa yang ia marahi?


"Maaf, kamu tidak apa-apa?" ucapnya dengan senyum yang merekah di bibirnya ia menggulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.


Kiara memandangi wajah tampan lelaki itu tanpa mengedipkan matanya mulut menganga karena mengagumi sosok lelaki yang bertubuh jangkung gagah rambut cepak ala-ala artis Drakor David mah lewat.


"Nona? kamu tak apa-apa?" ulangnya lagi membuat Kiara gelagapan karena ketahuan sedang memandangi pesona ketampanannya.


"T-tidak! kalau jalan hati-hati dong! lihat kakiku sakit," jawabnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pemuda tersebut hanya tersenyum cangung ia merasa bersalah telah membuat dirinya kesakitan.


"Boleh saya bantu nona berdiri?" pemuda tersebut menawarkan bantuan.


"B-boleh, kalau tidak merepotkan mu?"


"Saya yang membuat kamu seperti itu? so, aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku."


Kiara tersenyum manis padanya, ia di papah oleh lelaki itu menuju ke tempat duduk yang berada di bibir pantai.


"Coba aku lihat kakimu," tanyanya dengan melihat kaki Kiara yang agak bengkak.


"Aw...," pekiknya dengan menahan sakit yang luar biasa.


"Mau ngapain? memangnya kamu bisa memijat?" tanya Kiara ragu apa benar dia bisa memijatnya.


"Kenalkan namaku Reihan, namamu siapa?" ia mengenalkan diri pada ku, kusambut dengan senyum termanis ku.


"Kiara," singkat ku.


"Nama yang cantik. Sama seperti orangnya," pujinya membuat aku melayang tinggi ke nirwana mungkin pipiku sekarang sudah memerah seperti buah stroberi. Baru pertama kalinya aku di sanjung dan di puji seperti ini? apalagi dengan seorang pria tampan seperti dia, ucapku dalam hati.


"Wanita identiknya cantik masa ganteng! yang ganteng itu cowok," candanya membuat keduanya saling pandang dan tersenyum.


"Masih sakit?!"


"Hah! kapan kamu memijatnya? kok gak sakit?" tanya Kiara heran.


"Gimana mau sakit, kamu asyik ngobrol dengan ku, jadi lupa tuh! tas sakitnya yang ada keenakan," bisiknya membuat Kiara tersipu malu dengan ucapan darinya.


"Ra, kamu kesini sama siapa?"


"Sama big Bos," kelakarnya dengan senyum mengembang, Reihan hanya mengerenyit heran dengan sikap humoris Kiara ada rasa bahagia di raut wajahnya Reihan yang tak henti-hentinya memandangi wajah cantik Kiara.


Keduanya saling bercanda dengan riang, sehingga Kiara melupakan rasa laparnya. Tak terasa waktu berlalu begitu saja, ia mengajak Reihan untuk menemaninya tanpa berpikir panjang lagi Reihan pun mengiyakan ajakan Kiara.

__ADS_1


"Rey? kamu sudah kerja atau masih kuliah."


"Aku baru selesai kuliah, pengennya sih mau nyari kerja, tapi masih bingung mau kemana nyari kerjanya," jawabnya dengan senyum hambar.


"Kamu enak sudah lulus kuliah, sedang aku! huff sudahlah...."


"Hey! kalau ngomong jangan sepotong-sepotong lanjutin!" perintahnya.


"Emangnya kamu siapa berani-beraninya main nyuruh aku," kesal Kiara dengan cemberut.


"Baperan?! tudingnya pada Kiara membuat Kiara melotot kearah Reyhan.


"Biar gak baperan, kita minum air kelapa muda yuk!" ajaknya dengan menarik lengan Kiara.


Dari kejauhan Arkana memperhatikan Kiara yang sedang berjalan dengan seorang pria.


'siapa lelaki itu, kenapa mereka begitu akrab. Aku harus lebih berhati-hati lagi siapa tau dirinya berniatan untuk mengajak Kiara pergi dariku' batinnya.


Arkana merongoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Hallo! awasi Nona Kiara, dan selidiki lelaki yang sedang berjalan dengan Nona, saya tidak mau ada sesuatu yang terjadi pada anakku!"


"Baik Bos."


"Siapa!" tanya lelaki yang bertubuh tegap dengan kepala plontos itu.


"Oh iya aku lupa! pasti Papa aku sudah menunggu ku," Kiara mengerutuki dirinya sendiri dengan menepuk-nepuk jidatnya.


"Kamu kesini bersama Papa mu?" tanya Reyhan yang di anggukan dari Kiara.


"Kamu mau berkenalan dengan Papa?"


"Boleh, kalau tidak keberatan."


"Ngak lah. Kan kamu bisa jalan sendiri? gak aku gendong! kalau aku yang gendong baru deh keberatan!" ledek Kiara dengan nyengir kuda.


'senyumanmu itu selalu membuat tubuhku bergetar hebat hatiku mulai gelisah jantungku seakan-akan mau lompat dari cangkangnya, apakah aku menyukainya? tapi mustahil aku baru saja mengenalnya? aku tidak bisa memungkiri bahwa dirinya memang telah mencuri hatiku, kini di hatiku hanya ada namanya dan...., Rey! sadar! kemungkinan besar dia sudah punya pacar atau calon suami? aku berusaha untuk menyadarkan aku dari mimpi yang salah'


"Itu! Papa aku," Kiara menunjukkan tempat dimana Arkana berada.


"Darimana saja? Papa menunggumu disini? lihat lah semua makanan yang Papa pesan sudah dingin tak enak lagi untuk kita makan," jelasnya dengan datar dan menatap ke arah Reyhan dengan tatapan matanya yang tajam membuat Reyhan menjadi salah tingkah di buatnya.


"Kenapa Papa tidak makan sendiri saja, dan maafkan aku yang sudah membuat Papa menunggu lama," jawab Kiara dengan senyum kikuk dan ia menundukkan kepalanya.


Arkana tau apa yang di rasakan Kiara saat ini, ia berusaha meredam amarahnya, sebenarnya Arkana ingin menghabiskan waktu bersama dengannya makan berdua dengan anak semata wayangnya yang ia sayangi, dirinya sengaja meluangkan waktunya ingin memberikan perhatian dan mencurahkan kasih sayangnya yang dulu belum tercapainya dan tak bisa menemani Kiara bermain saat masih kecil. Arkana ingin merasakan menjadi seorang Ayah yang sesungguhnya.


Kiara yang melihat wajah Arkana membuat dirinya merasa bersalah atas sikap ketegangan yang ia ciptakan.

__ADS_1


"Kita makan yuk Pah, aku juga sudah lapar mau makan," tanya Kiara dengan cangung ia menatap wajah Arkana.


"Biar Papa pesan yang baru, itu sudah dingin."


Kiara tersenyum dan mengangguk.


"Papa kamu orangnya baik dan tegas! aku jadi keder," bisiknya membuat Kiara menahan tawa.


"Iya Papa aku itu sadis tau! jadi kamu jangan macam-macam sama aku okey?" bohong Kiara.


"Ehemm..." sebuah deheman membuyarkan obrolan mereka berdua.


"Hehehe Papa suka bikin aku jantungan saja," ketus Kiara yang melihat wajahnya.


Makanan yang dingin sudah di gantikan dengan yang baru mereka bertiga mulai menyantap makan siang yang sudah terlewat kan beberapa jam lalu. Mereka makan dalam keheningan tak satupun yang berbicara hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Setelah selesai makan Kiara pamit untuk ke toilet umum yang berada tak jauh dari tempat mereka makan.


"Jangan lama-lama, sebentar lagi kita pulang!" ucapnya dengan nada datar super dingin.


"Iya Pah."


Arkana menatap Reyhan dari ujung rambut hingga ujung kaki, Reyhan yang merasa dirinya di perhatikan oleh Arkana menjadi gelisah dan gugup.


"Kamu kenal dengan Kiara sejak kapan! sepertinya kalian akrab sekali," cicitnya tanpa ada senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Tadi Om, itupun tak sengaja? karena saya sudah menabrak anaknya Om hingga kakinya terkilir," Reyhan mengatakan semuanya tentang pertemuannya dengan Kiara.


"Terkilir?!"


Reyhan hanya mengangguk pelan dan berkata," iya Om. Tetapi kakinya tidak apa-apa karena saya sudah memijatnya," terangnya lagi dengan senyum.


Kiara keluar dari toilet umum ia tak sengaja melihat seseorang yang ia kenal bahkan sangat ia rindukan dengan setengah berlari Kiara menuju ke arah wanita yang berpakaian elegan dan mewah.


Wanita tersebut menatap Kiara sekilas dan pergi meninggalkannya ia pergi bersama dengan teman prianya.


"Mama!" teriak Kiara dengan memanggil namanya namun wanita itu pergi tanpa menghiraukan panggilan Kiara.


"Siapa dia? sepertinya dia mengenalmu?" tanya teman pria itu padanya.


"Aku tidak mengenalnya Mas? lagian aku tidak mengenalnya sama sekali? mungkin dia salah orang," wanita tersebut masuk ke mobilnya dan di ikuti oleh pria tersebut.


"Mah! ini aku Kiara Mah!" Kiara meninggikan suaranya agar ia mendengar panggilan darinya.


"Hiks...hiks.... aku Kiara Mah! Mama tega!" Kiara menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya sendiri, dirinya ingin sekali memeluk Mamanya namun wanita itu pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Siapa lagi wanita itu ya? jangan-jangan.

__ADS_1


Like komen bawelnya buat penyemangat author ya'


__ADS_2