Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Bertemu Dengan Si Ulet keket


__ADS_3

Kiara tersenyum kecut setelah mendengar sindiran dari suaminya sendiri, dirinya merasa malu setengah mati.


"Bagaiman kita melanjutkan main game yang tertunda tadi? dan sekarang kita lanjutkan lagi sepuasnya." Kata David dengan mengedipkan matanya.


Mendengar permintaan suaminya Kiara lagi-lagi malu.


"Gak mau." Kiara menolak keinginan David.


"Ayolah Sayang? bentarr? aja. Mau yah." David merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan.


"Hihihi..., kamu lucu banget Mas. Mirip anak kecil saja. Yang meminta dibelikan mainan," ujar Kiara dengan menahan tawanya seketika David mendekatinya dan menciumnya.


"Mas...."


"Habisnya bibir kamu itu. Bagaikan candu untukku."


"Modus." Kiara memukul dada bidangnya yang seperti roti sobek.


Ting....


Ting....


Ting....


Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya David.


"Siapa lagi sih. Sepertinya mereka suka mengganggu." Mas David mengerutuki ponselnya yang berdering tandanya ada pesan masuk.


"Angkat Mas, siapa tau penting."


Mas David terpaksa beranjak dari tempatnya dan mengambil ponsel yang berada di nakas.


ditatapnya layar ponsel tak lama kemudian mas David mengerenyit heran.


"Siapa Mas, kok. Wajahnya tegang gitu," tanya ku.


"Andrew somplak."


"Maksud kamu dokter Andrew?!"


"Iya."


"Mau ngapain."


"Nih baca sendiri," Mas David memberikan ponselnya padaku agar aku membacanya.


"Dokter Andrew ulang tahun? dan kita di undang untuk datang ke acaranya?" tanya Kiara.


"Kok, mendadak ya? kan kita belum beli hadiah buat dia?" imbuh Kiara dengan menatap wajah suaminya yang cemberut.


"Gak, usah datang. Biarin aja," ketus David kesal karena aksinya selalu terganggu.


"Gak boleh begitu dong Mas? dia kan dokter pribadi kamu' sekaligus sahabat kamu Mas," aku berusaha mengingatkan pada Mas David agar datang ke acara ulang tahun sahabatnya itu.


"Terus?! nasib dia bagaimana? Kiara?!" sungutnya dengan menunjuk ke bawah perutnya.


Lagi-lagi aku tertawa cekikikan membuat mas David mendelikan matanya kearah ku.


"Baik aku akan datang, tetapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Kita main game sebentar."


"MAS!" aku berteriak bisa-bisanya dia ngomong seperti itu.

__ADS_1


"Mas, ini waktunya mepet, mana aku belum mandi belum dandan terus kita mau beli kadonya dulu, kalau main game dulu ntar bisa terlambat," ucapku kesal.


"Ya sudah terserah kamu aja. Pilihan ada di kamu, kalau mau berangkat kita main game dulu. Kalau menolak ya kita gak jadi datang, simpel kan."


Aku berpikir sejenak, bila kami berdua tak datang di acaranya dokter Andrew, pasti malu. Sebagai contoh teman yang baik, aku akan mengalah demi menghadiri acara ulang tahunnya Andrew.


"Okey?! aku mau," jawabku tanpa melihat kearahnya karena malu.


"Mau apa? mau main gamenya sekarang gitu," Mas David menjawabnya dengan wajah binar.


"Ntar pulang dari acaranya dokter Andrew."


"Kamu gak bohong kan. Gak PHP in aku kan?!" mas David membalikan tubuhku menghadapnya.


Aku tersipu malu dengan diriku sendiri, mau tak mau aku pun mengiyakannya.


"Terimakasih Sayang. Terimakasih," ia bersorak gembira dengan melompat-lompat di atas ranjang.


Aku hanya tersenyum simpul dan geleng-geleng kepala melihat kelakuannya kayak bocah saja yang mendapatkan mainan baru.


"Malam ini juga. Kamu akan membobol gawang. Jangan malu-maluin aku." Mas David berbicara sendiri.


"Udah dong Mas, jangan lompat-lompat ntar kasurnya gak enak untuk di tidurin lagi. Cepetan mandi kita harus cepat berangkat."


"Baiklah Nyonya David Xander yang tercantik."


Mas David tersenyum dan mengangguk sambil berjalan menuju kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka dan Mas David memyembulkan kepalanya keluar.


"Ada apa Mas?" tanyaku heran.


"Mau mandi bareng gak? biar cepet."


"Gak. Kamu aja, jangan lama-lama ya Mas," jawabku.


Kami berdua mengenakan pakaian yang senada dengan warna hitam.



Begitu cantiknya Kiara mengenakan dress panjang yang bagian atasnya terbuka Kiara hanya memakai kalung berlian saja dan anting yang indah. David yang melihat kecantikan istrinya membuat dirinya menatap tanpa mengedipkan matanya saking terpesonanya.


"Mas, awas! matanya cantengan," suara Kiara membuyarkan lamunannya.


"Sayang, kamu cantik sekali? aku sudah gak sabar lagi mau mengeksekusi dirimu," bisiknya tepat di telinga membuat aku bergidik ngeri.


"Kamu juga tampan sekali suamiku? aku padamu." Kiara mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Mulai nakal ya sekarang," ucap David dengan mencolek hidungnya yang mancung.



Ketampanannya tak terkalahkan walaupun umurnya lebih jauh dari Kiara namun David masih kelihatan anak remaja yang seusia dengan Kiara.


Wajahnya yang semula ditumbuhi bulu-bulu halus kini sudah tak ada lagi. Semenjak David akan melakukan ijab-kabulnya dirinya terlebih dahulu mencukur bulu halus sampai tandas takut Kiara kalau-kalau kegelian.


Ternyata kamu tampan juga mas. Andaikan dari dulu kamu jujur padaku mungkin dari kemarin-kemarin aku sudah memberikan yang sudah menjadi hak kamu, gumam Kiara.


"Kenapa senyum-senyum sendiri. Terpukau dengan ketampanan aku," ucap David dengan percaya diri.


"Iya kamu memang is the best."


Kiara dan David menuruni anak tangga dengan pelan-pelan agar tak menginjak gaunnya Kiara. Sesampainya di bawah Dewi dan Wijaya merasa heran melihat kedua cucunya yang sudah berpakaian serba hitam.


"Kalian berdua mau kemana?! mana pake baju caupalen lagi. Ada acara apa sih," tanya Dewi dengan menengok Kiara dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Mau ke acaranya dokter Andrew temannya Mas David malam ini dirinya berulang tahun Nek," jawab Kiara dengan senyum manis.


"Wah. Wah. Anaknya Papa cantik sekali pake gaun pesta itu? ternyata gaunnya cocok sama kamu," timpal Arkana yang baru keluar dari kamar nya.


"Terimakasih ya Pah. Gaunnya pas banget. Walau kurang nyaman." jawab Kiara.


"Gak nyaman karena kamu belum biasa memakainya," ujar Dewi dengan senyum.


"Kalian mau diantar atau bawa mobil sendiri," tanya Kakek.


"Kita berdua saja Kek. Lagian kita pulangnya entah jam berapa, jangan tunggu kami." Kiara mengingatkan pada Arkana agar jangan menunggu dirinya pulang.


"Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa kabari kami, Vid? Nenek titip Kiara,"ucap Dewi.


"Kalau begitu kami berdua berangkat dulu ya Nek, kek, Pah." Kiara mencium punggung tangan mereka bergantian dan diikuti oleh David suaminya.


Setelah berpamitan pada semuanya, David dan Kiara masuk ke dalam mobil. David mulai menyalakan mesin mobilnya dan mulai berjalan menuju hotel untuk ke acaranya Andrew.


Didalam mobil David terus menerus memandangi wajah cantiknya Kiara.


"Mas fokus nyetir nya? ntar nabrak orang," Kiara mengingatnya agar fokus ke depan.


"Habisnya kamu cantik. Mata ini tak mau berpaling dari mu."


"Gombal." Kiara mencubit lengan David.


David mengenggam erat tangannya Kiara seakan-akan ia takut Kiara pergi jauh darinya.


Kiara ingin melepaskan tangannya namun David tak mau melepaskan walaupun sedetik.


"Mas, kita berhenti dulu sebentar di toko itu?" Kiara menunjuk toko perlengkapan aksesoris untuk pria.


"Oh iya."


Kami berhenti untuk membelikan hadiah buat Andrew.


"Mas, mau beli kado apa?"


"Yang bagus apa ya? Mas kurang tau. Kamu aja yang nyariin."


"Bagaimana kalau kita membelikan jam tangan keluaran terbaru," usulku pada Mas David.


"Boleh juga tuh." Mas David pasrah dengan apa yang akan aku belikan.


Setelah memilih dan memilah akhirnya kami meninggalkan toko tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju hotel.


"Hotel mana Mas," tanyaku, karena sedari tadi aku sudah beberapa kali melewati hotel.


"Hotel di jalan xxxx sebentar lagi kita sampai."


Lima menit kemudian kami pun sampai di depan hotel yang menjulang tinggi megah. Aku berdecak kagum atas kemewahan hotel tersebut.


"Bagus sekali Mas, hotelnya?" seruku dengan senyum.


"Ini hotel untuk para sultan untuk sekedar istirahat. Kamu tau berapa harga untuk satu malam menginap?"


Aku mengeleng cepat,"Gak tau Mas, memangnya berapa?"


"Semalam lima puluh juta." kata mas David menyakinkan aku yang mengeleng tak percaya atas apa yang di katakan Mas David padaku.


"Kamu sering nginap disini?" tanyaku.


"Iya. Apa kamu mau kita nginap di hotel ini?" Mas David bertanya pada ku.


"Enggak ah, sayang uang...."

__ADS_1


Jawabanku terhenti setelah melihat wanita seksi yang mengenakan dress seatas lutut berwarna putih. Menghampiri kami berdua siapa lagi kalau bukan si ulet keket. Gaya berjalanya mirip bebek megal-megol ihh, bikin ngakak aku melihatnya. Mana kedua bukit kembarnya hampir lompat dari wadahnya. Sok, kecantikan dan kegatelan sama laki orang.



__ADS_2