
Keluarga Xander sudah rapih dan David yang sudah gagah dan tampan ia mengenakan Jas warna abu-abu lengkap sudah ketampanannya. Dirinya bercermin menatap wajah nya sendiri, aku tampan tapi aku ingin melihat reaksinya dia apakah masih mau menikah dengan pria buta seperti aku, gumamnya dalam hati. David mengenakan kacamata hitam nya.
Malam ini hari yang sangat spesial untuk Rita tak henti-hentinya Rita mengumbar senyum, padahal siapa yang mau dijodohkan. Membuat Robinson geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya.
"Cepetan dong! jangan kelamaan ntar terlambat malu sama calon besan," tegas Rita yang sudah tak sabar untuk bertemu dengan calon menantunya itu.
Tak lama kemudian David dan Devina menuruni anak tangga dengan wajah sumringah tapi berbeda dengan David wajahnya ia tekuk seperti kanebo kusut.
"Loh! loh! kenapa wajahmu murung Nak. Terus buat apa kamu pake kacamata itu?! kamu kan sudah bisa melihat lagi? buka!" titah Rita dengan menunjukan kacamata yang di pakai David.
"Aku mau lihat reaksi dia setelah tau kalau aku buta? apa dia masih mau dengan ku? syukur-syukur kalau dia menolak ku."
Rita menatap tajam kearah David,"kalau ngomong yang benar dong! sama saja kamu mematahkan semangat kamu sendiri."
"Mau kerumah Tante Dewi? atau mau debat," timpal Robinson yang di anggukan kepala oleh Devina.
"Papa dan Mama berangkat duluan nanti aku nyusul sama Devina? iyakan Vina?" usul David.
"Kita berangkatnya barengan satu mobil," Robinson berkata dan melangkah menuju pintu keluar.
Robinson Xander tak mau di bantah maka kedua anaknya dan istrinya pun harus menuruti perintah darinya.
"Mah, dimana alamat rumahnya Arkana?!" tanya Robinson.
"Lurus kedepan nanti ada belokan kita ambil sebelah kanan nanti juga kelihatan rumahnya?"
Rita memberitahu jalan kearah rumah Dewi.
Tiba-tiba Robinson mengerem mendadak membuat penghuni mobil terkejut atas pengereman yang mendadak itu.
"Aww..." seru mereka serempak karena kepalanya terbentur dasboard mobil.
"Papa kenapa sih?!" sewot Rita dengan mengelus-elus jidatnya yang kena dasboard mobil sedangkan David dan Devina jidat mereka terkena jok depan. Keduanya pun meringis kesakitan.
"Mama gak salahkan ngasih alamatnya?!" tanya Robinson heran,"inikan kompleks bagi orang-orang dari kalangan Sultan," lirihnya setengah tak percaya.
"Benar pah. Tante Dewi sendiri yang memberikan alamatnya? masa Tante Dewi bohong? tapi tunggu dulu, bukankah Tante Dewi orang biasa-biasa saja? dan kenapa mereka mendadak menjadi Sultan?!" ucap Rita dengan wajah terkejut ia pun tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Arkana bisa menjadi kaya raya? dapat darimana?!"
"Coba lihat lagi alamatnya siapa tau Mama salah lihat," usul Devina dirinya pun sama tak percaya dengan kedua orang tuanya.
"Ciee?! aku bakalan punya Kakak ipar seorang anak konglomerat, tajir melintir kagak ketulungan. Kekayaannya melebihi kita ma, pa,
Kak jangan pake nolak, gasken lah!" goda Devina dengan senyum di kulum.
David yang mendengar ocehan receh adiknya membuat nya mendengus kesal.
__ADS_1
"Dasar matrealistis!" hardik David yang melihat kelakuan adiknya yang selalu memandang harta dan kemewahan.
"Ayok Pah. Jalan! ini sudah mau jam 8gak enak ah sama Arkana dan juga Tante dan Om," Rita mengingatkan Robinson agar cepat melajukan mobilnya kembali menuju ke rumah Dewi.
"Ini beneran rumahnya?!" Robinson membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna tanpa berkedip begitupun dengan anak dan istrinya.
"Aku gak mimpi kan?! Kak, cubit tanganku," pinta Devina pada David.
"Aw...sakit! pelan dong!" gerutuknya di kala David mencubitnya.
"Sstttttt, jangan pada ribut! Pa? ini rumah apa istana?! kita gak pernah melihat rumah semegah ini? ini bukan cerita dongeng kan Pah!" Rita terpukau dengan wajah sulit di artikan, ia sekeluarga termasuk orang kaya namun Arkana lebih kaya darinya.
Tubuh Rita bergetar ia tak percaya akan berbesanan dengan Arkana sahabatnya itu. Ini anugerah bagi keluarganya.
Pintu gerbang dengan otomatis terbuka sendiri karena Dewi sudah tau bahwa keluarga Xander akan datang kerumahnya maka dari itu ia membuka akses pintu gerbangnya melalui CCTV yang berada di ruang monitor untuk mantau siapa yang datang. Namanya juga Sultan. Sultan mah bebas mau ngapain.
"Waw! amazing. gerbangnya pun di lapisi dengan emas, keren?! hebat ya teman Mama," puji Devina yang sedari tadi berdecak kagum.
Para satpam dan beberapa Art menghampiri mereka yang baru keluar dari mobil, mereka menyambut kedatangan calon besan sang majikannya dengan hormat.
"Silahkan Nyonya , Non, Tuan? sudah di tunggu Tuan besar?" ucap Bi Iem yang mempersilahkan tamunya untuk masuk.
"Terimakasih Bi?" jawab Rita dengan senyum mengembang dan di ikuti oleh suami dan anaknya.
"Ayok Kak," ajak Devina yang melihat David masih ragu untuk masuk.
"Kamu duluan masuk nanti Kakak nyusul." yang di anggukan kepala oleh Devina.
'itu seperti Kiara? tapi untuk apa dia ada di sini? ataukah dia menjadi simpanan Om Arkana? bukankah dia di nyatakan meninggal' ucapnya dalam hati.
David melangkah kakinya yang lebar untuk mengikuti Kiara ia ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat.
Di taman samping seorang wanita cantik sedang duduk termenung dengan menatap bulan yang sedang tersenyum padanya. Kiara tak menyadarinya bahwa ada seseorang yang sedang mengintainya dari arah samping.
Seketika wajah David memanas melihat siapa wanita cantik tersebut, David mengepalkan tangannya dengan erat.
Prokk...prokk...prokk
Sebuah tepuk tangan yang membuat Kiara terkejut melihat siapa yang datang menghampirinya dirinya.
"M--mas David?!" ucapnya dengan gugup.
kenapa Mas David ada di sini? gumamnya dengan senyum kikuk.
"Kaget! melihat aku? seharusnya aku yang bertanya pada mu! untuk apa kamu ada di sini? semua orang panik dan bersedih mencarimu yang mengira bahwa kamu sudah meninggal karena tertabrak mobil saat itu. Nyatanya salah! kamu malah enak-enakan di sini menjadi simpanan Om-om," tudingnya yang seenaknya saja menuduh Kiara tanpa mendengar penjelasan dari Kiara.
"Maksudnya Mas apa? aku gak ngerti apa yang mas katakan."
__ADS_1
"Lihat sekarang penampilan kamu? dari seekor kelinci yang imut menjadi seekor rubah yang licik," oloknya dengan senyum sinis.
Kiara yang tadinya diam kini dirinya mulai tersulut emosi dengan tuduhan David tentang dirinya yang menjadi simpanan Om-om.
"Siapa bilang kalau aku menjadi simpanan Om-om?! kalau ngomong itu harus ada buktinya, jangan asal bicara nanti jatuhnya fitnah," teriak Kiara dengan mata berkaca-kaca.
"Masih mau mengelak ya, kamu sengaja membuat laporan tentang kematian kamu, dengan memalsukan data. Demi ingin menjadi seorang yang kaya raya dan rela menjadi simpanan Om-om," tudingnya lagi membuat Kiara semakin emosi ia mengepalkan tangannya dan....
PLAKKK......
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi David membuat David meringis kesakitan.
"KAMU...." David menatap tajam kearah Kiara.
"APA! mau marah! mau menampar aku! nih tampar!" teriak Kiara dengan menunjukan pipinya.
"Kamu sama saja dengan yang lainnya sama-sama matre dan rela menjual tubuhnya demi uang!"
PLAKKK....
Lagi-lagi Kiara melayangkan tangannya ke pipinya David yang sebelah kanan.
"Jaga bicaramu tuan David yang terhormat?! bukankah kau orang yang berpendidikan tinggi? tapi etika dalam berbicara mu sangatlah rendahan,"ejeknya dengan menahan gejolak amarah yang mendalam. Rasanya Kiara ingin sekali mencabik-cabik wajah David.
"Cari kebenarannya dulu! baru kamu bisa mengasumsikan tentang aku," berang Kiara dengan Isak tangis yang sudah tak terbendung lagi.
Kiara lari menuju rumah dengan berurai air matanya yang mengalir deras.
David hanya melempar senyum sinisnya.
'munafik' gumam David.
Canda tawa dari ruang tamu seketika berubah menjadi tegang dikala melihat Kiara yang berlari dengan menundukan kepalanya dan menuju kamar nya.
"Ara?! kamu kenapa Sayang?" tanya Dewi lembut.
Kiara tak menjawabnya ia mengalihkan pandangannya ke arah Rita dan Robinson, membuat ketiganya terkejut melihat keberadaan Kiara di kediaman Arkana.
"Kia?!" ucap Rita dengan wajah bingung.
"Kalian sudah saling mengenal?!" kata Arkana yang di anggukan oleh Rita dan Robinson.
"Ada apa? coba cerita sama Nenek," tanya Dewi.
Kiara mengeleng cepat,"aku kelilipan Nek, tadi aku melihat bunga di taman tak sengaja' mataku kena daun bunganya," bohong Kiara mana mungkin ia akan berkata pada semuanya' bahwa dirinya habis bertengkar dengan David.
"Ka?! jadi Kiara anak kamu?!" tanya Rita dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Iya Kiara anak aku dengan Rikha," jawabnya dengan datar.
Rita maupun Robinson saling menatap heran kearah Kiara bukannya Kiara dinyatakan sudah meninggal, namun yang mereka lihat itu memang benar Kiara.