Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Pertanyaan Yang Membagongkan 2


__ADS_3

Nenek memeluk erat tubuhku, dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya seraya berkata.


"Jaga kesehatan ya? sering-sering kemari untuk menjenguk Nenek Kakek dan papamu?" nenek mengngigatkan aku agar selalu datang untuk menjenguknya.


"Iya Nek. Ara dan Mas David akan sering-sering kemari kok, iyakan Mas," aku bertanya pada Mas David.


"Betul Nek, apa yang di katakan Kia," ucap Mas David menyakinkan Nenek.


"Ya sudah kalau begitu kalian berdua hati-hati dijalan ya?" seru Nenek.


Setelah pamit aku dan mas David masuk ke dalam mobil, kulambaikan tanganku dan mobil mulai berjalan dengan perlahan meninggalkan rumah Papa. Tak terasa air mataku mengalir merasa sedih harus berpisah dengan mereka, orang-orang yang aku sayangi.


"Jangan sedih, kan kita bisa datang ke rumah Papa kapan saja yang kita mau?" kata Mas David dengan menggenggam tanganku.


Aku hanya anggukan kepala, berlahan aku menyusut air mataku dan aku sandarkan kepalaku di bahunya sedangkan tangannya yang satu masih fokus menyetir mobil.


"Sekarang kita mau kerumah pemberian kakek atau ke apartemen," tanyanya sambil tersenyum manis.


"Emm," aku menggelengkan kepalaku aku bingung mau kerumah atau ke apartemen.


"Kok geleng-geleng kepala."


"Mas, maunya pulang kemana?"


"Ditanya malah balik nanya." Mas David mengacak rambutnya dengan helaan napas panjang.


"Aku ikut Mas aja. Terserah mau di bawa kemana saja, aku pasrah."


Mas David tersenyum manis padaku dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kok. Kesini?" tanyaku dengan celingukan ini bukan kearah rumah kami, namun ke apartemen.


"Katanya terserah. Gimana sih." Mas David mulai kesal dengan ucapan ku tadi.


Mas David diam dan mulai membelokan mobilnya dengan wajah cemberut kesal.


"Mau kemana lagi? kan sudah sampai," aku menunjukan kearah apartemen.


"Udah dong Mas. jangan dikit-dikit marah, aku tadi hanya bercanda, lagian kamu mirip wanita yang sedang pms saja," kelakar Kiara dengan senyum lebar yang memperlihatkan cekungan di pipinya menambah aura kecantikannya.


David tak menghiraukan ucapan Kiara yang berusaha merayu suaminya sendiri.


"Mas, kalau kamu masih mau melanjutkan perjalanan menuju ke rumah? aku akan benar-benar marah sama kamu Mas," ancam ku semoga saja mas David mau mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan.


Lagi dan lagi mas David diam seribu bahasa, membuat hatiku sedikit tercubit dan sakit atas sikapnya yang dingin dan mendiamkan ku.

__ADS_1


"Mas."


Mas David hanya melirikku sekilas dan melajukan mobilnya menuju apartemen.


Oh, ternyata sakit hati ini bila didiamkan oleh suami. Aku gak biasanya begini? dulu sebelum kami menikah aku biasa saja tak perduli dengan sikapnya yang dingin.


Kenapa sih harus marah dengan hal sepele.


Jiwa mellow ku kembali' aku kesal dengan diriku sendiri yang dikit-dikit harus mewek.


Mas David membuka pintu mobil dengan keras membuat aku terkejut dengan sikapnya yang mendadak berubah.


"Mas tungguin," ucapku dengan berusaha tersenyum manis padanya walaupun hatiku terasa teriris karena mas David Engan tuk menunggu ku atau sekedar menengokku di belakangnya.


Kamu bisa setega itu sama aku mas, gumamku. Kamu sesuka hati meninggalkan aku sendiri disini mas, baik aku juga akan melakukan apa yang aku mau.


Kiara melangkahkan kakinya entah kemana ia akan pergi namun tidak masuk ke apartemen itu. Dari kejauhan Kiara melihat taman yang indah sekali iapun bergegas menuju tempat itu.


Waw! indahnya? aku baru sadar kalau ada taman seindah ini, wajah yang muram kini menjadi ceria berseri-seri. Kiara tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju sebuah ayunan dan ia duduk di ayunan tersebut.


Kiara bersenandung kecil menyayikan lagu tentang cinta, sesekali ia tersenyum sendiri kadang terlihat wajahnya yang muram.


Sebuah tangan mengelus rambutku dari arah belakang sontak aku terkejut dan menoleh kearah siapa yang sudah membuat aku jantungan.


"Rey?!" teriakku sambil memukul lengannya yang membuat dirinya meringis.


"Wow! atut." Reyhan tersenyum meledek.


"Ihhh. Sok tau?!" jawabku dengan melipatkan tanganku di atas perut.


"Eh, Rey. Ngomong-ngomong kamu kok bisa ada disini? sama siapa? pasti kamu sama Devina ya," aku bertanya lagi padanya.


"Sendiri."


"Irit amat. Gimana kabar Mama dan Papa?!" tanyaku dengan senyum setelah Reyhan duduk di sampingku.


"Mereka berdua kangen berat sama anak cinggeng nya," jawab Rey.


"Kaci. Kapan mau kerumah?"


Aku mengangkat bahuku tandanya aku tak tau kapan bisa berkunjung ke rumah Mama. Sejujurnya aku kangen dengan mereka termasuk Mama Rikha Papa Joni dan Kak Andin. Bagaimana kabar mereka, ucapku dalam hati.


"Woy. Malah bengong." Reyhan menyengol lenganku.


"Apaan sih Rey?!" sungutku membuat dirinya terkekeh geli melihat keterkejutan ku.

__ADS_1


"Rey, gimana perasaan kamu bila didiamkan oleh pasangan kita," tanyaku dengan pelan.


Rey hanya tersenyum simpul dan mengaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Aku bertanya pada seorang pria yang belum pernah sama sekali pacaran ya seperti si Reyhan ini.


"Gak tau. Kan aku belum pernah pacaran hehehe."


"Jadi?! kamu belum nembak Devina?" tanyaku dengan menatap wajah nya.


"Udah sih, tapi... dianya malah diem aja. Cewek itu memang susah ditebak." kata Reyhan dengan wajah lesu.


"Pepet terus, intinya sih cewek itu malu-malu meong padahal mau? macam jinak-jinak merpati," aku terus menyemangatinya agar terus perjuangkan cintanya pada Devina.


"Ra, udah download ponakan buat aku belum?" tanya Reyhan membuatku reflek menoyor kepalanya.


"Emangnya aplikasi! harus di download."


"Kamu itu aneh Rey? kadang memanggilku dengan sebutan Kiara, kaci sekarang Ara. Besok-besok kamu panggil aku? dengan sebutan apa lagi?!" geramku punya sepupu sableng kayak gini.


"Jangan suka mengalihkan pembicaraan. Aku bertanya tentang ponakan aku sudah OTW apa belum," ucapnya dengan nada ngegas.


"Lagi di pending sementara waktu."


"Kenapa?" ulangnya lagi dengan rasa penasaran.


"Jaringannya lemot. Masih loading terus." ketusku dengan cemberut.


Reyhan tersenyum dan mengangguk. Ra,Ra. Aku sudah menebaknya pasti kalian lagi berantem, lirihnya pelan.


David duduk di dalam kamarnya dengan menatap kearah pintu mengharap kedatangan Kiara, namun yang ditunggu tak ada. Makanya jangan sok jual mahal, sekarang kelabakan nyariin dasar aneh.


Kamu pergi kemana Ki? hampir setengah jam kamu gak masuk. Aku disini menunggumu?Hati David mulai gelisah tak tenang ia beranjak berdiri berjalan mondar-mandir di dalam kamar tanpa mau mencari keberadaan Kiara.


Lebih baik aku cari dia saja. Siapa tau dia ada di sekitar sini. David memutuskan untuk mencari keberadaan Kiara. Ia bergegas pergi meninggalkan apartemen nya.


David bertanya pada satpam yang berjaga di depan apartemen.


"Pak. Melihat istri saya?" tanya David.


"Istri Mas yang mana ya? soalnya banyak pengunjung yang datang ke sini?" jawab satpam.


"Yang ini Pak," David menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan foto pernikahan mereka.


"Oh. Mbak ini," ujarnya dengan menunjuk foto Kiara.


"Itu Mas, di taman," tunjuknya kearah Kiara yang duduk bersama Reyhan.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap favid yang di anggukan oleh satpam tersebut.


Ternyata kamu disini? dengan siapa dia? gumam David.


__ADS_2