
"Iya tapi kamu jangan ikut-ikutan ngilang juga," timpal Robinson dengan senyum khasnya.
Devina yang mendengar sindiran dari papanya hanya mengerucutkan bibirnya. Devina terus menyisir setiap lorong untuk mencari keberadaan David.
Kak David kemana ya? aku cari kemana-mana gak ada, gumamnya dengan melihat kanan kiri ia mengedarkan pandangannya ke arah luar restoran tanpa sengaja Devina melihat seorang wanita yang sedang bergelayut manja dengan David, mereka duduk di bangku taman restoran tersebut.
'Siapa wanita itu? kayaknya aku kenal, tapi siapa' Devina berusaha berpikir keras siapa wanita yang bermanja dengan Kakaknya.
Aku samperin aja, aku jadi curiga dengan sikap kak Kiara tiba-tiba berubah pasti ada hubungannya dengan mereka berdua. Gak bisa di biarin.
Devina mendekati kedua sejoli yang sedang kasmaran, David terkena dengan kecantikan Vanya seakan-akan ia melupakan kejadian yang sudah berlalu, dan dirinya tak memikirkan hati seorang wanita yang akan menjadi calon istrinya justru ia sengaja menyakiti perasaan Kiara.
"Ehemm!" Devina berdehem membuat keduanya terkejut dan melerai pelukannya.
"Em, anu...itu..." jawab Vanya dengan gelagapan mirip maling ketangkap basah.
Devina menatap tajam kearah David seakan-akan ia akan memakan kakaknya hidup-hidup,"Kak, tadi kak Kia mencarimu? apakah kalian bertemu?" tanya Devina tanpa melihat Vanya yang sedang salah tingkah.
"K-kia?! a-aku gak melihatnya," jawab David terbata- bata ia baru menyadarinya bahwa dirinya sudah membiarkan Kiara pergi tanpa ada penjelasan dari nya.
"Sekarang dimana Kiara?"
"Pulang, kenapa! baru nyadar," sindir Devina dengan senyum sinis.
"Oh. Pantas saja Kak Kiara pulang dengan keadaan menangis' ternyata kalian berdua penyebabnya kakak' ipar aku pulang."
"Dev?! calon kakak ipar kamu itu aku?" sambung Vanya dengan suara lembut tapi menusuk hati.
"Jangan ngarep deh situ!" tunjuk Devina dengan tatapan nanar.
Namanya bukan Vanya dong! kalau di harus diam aja atas sikap Devina yang mengaku kalau bukan dirinya yang menjadi kakak ipar nya.
"Devina jaga bicaramu? sopan lah sedikit, kamu sedang bicara dengan calon istri Mas David," tuturnya dengan percaya diri membuat Devina menatapnya dengan tatapan mata elangnya yang tajam.
"Aku tak sudi punya Kakak ipar seperti kamu!" tudingnya lagi membuat Vanya geram melihat Devina yang selalu merendahkan dirinya.
"Yang! ngomong dong! sama Devina kalau aku calon istrimu?" renggeknya dengan memasang wajah sesedih mungkin.
"Tutup mulutmu! ini semua gara-gara kamu!" bentak David dengan mengacak rambut frustasinya.
Vanya yang mendengar bentakan keras dari David,seketika wajah cantiknya menjadi pucat pasi, dirinya tak percaya atas perubahan sikapnya.
tadi baik-baik saja? kenapa sekarang mendadak berubah menjadi kasar padaku. Dan siapa wanita yang di sebutkan Devina tadi, apakah wanita tadi? yang akan menjadi istrinya Mas David. Gak! ini gak boleh terjadi akulah satu-satunya yang akan menjadi istrinya seorang, jeritnya dalam hati.
David dan Devina meninggalkan Vanya yang memangil namanya namun tak mereka hiraukan.
"Kalian berdua memang menyebalkan! tunggu kalian semua akan aku balas."
__ADS_1
Vanya berteriak seperti orang gila membuat para pengunjung yang berada di area taman menatapnya dengan tatapan tak suka.
****
Sopir taksi yang sedari tadi memperhatikan Kiara hanya menatap iba, karena Kiara diam tanpa kata hanya buliran bening yang membasahi kedua pipinya. Dengan ragu pak sopir memberanikan diri untuk bertanya.
"Neng? mau kemana?"
Tak ada jawaban dari Kiara hanya Isak tangis yang sendu. Pak sopir hanya mengaruk kepalanya yang hampir penuh dengan uban.
"Maaf Neng, kalau saya lancang. Sebenarnya Neng mau kemana?!"
Seakan baru sadar Kiara tersenyum kikuk pada pak sopir.
"Pak. Antarkan saya ke pantai?" pinta Kiara yang membuat pak sopir mengerutkan keningnya heran. Mau ngapain dia kepantai? inikan mau sore mana sendiri lagi saya takut dia kenapa-kenapa, pak sopir membatin.
"Neng? ini sudah sore, gak baik anak perempuan pergi ke pantai apalagi ini sore."
"Hanya sebentar saja Pak."
Tanpa menjawab lagi pak sopir taksi pun akhirnya mengantarkan Kiara menuju pantai yang ia inginkan.
Beberapa menit kemudian Kiara sampai di pantai.
"Pak, tunggu sebentar ya? saya hanya ingin mengeluarkan unek-unek saya yang sedari tadi ingin saya keluarkan."
Kiara tersenyum dan mengangguk sambil berjalan menuju bibir pantai yang banyak bebatuan yang besar. Dirinya berteriak sekuat mungkin untuk menghilangkan rasa sesak nyeri di dadanya.
Arghhhh....
Arghhhh....
Arghhhh....
Kiara terus berteriak dengan keras kini ia merasakan sesuatu yang membuat dirinya merasa lega.
"Karena cinta seseorang terluka, tersakiti. Karena cinta! seseorang merasakan kebahagian. Namun hatiku yang merasakan tersakiti oleh cinta...."
Arghhhh.... kenapa harus aku! hah! kenapa!
ia kembali terisak mengigat kejadian itu membuat dirinya memukul-mukul dadanya.
Dari kejauhan pak sopir pun merasa sedih melihat keadaan Kiara yang kacau seperti ini.
Kini Kiara duduk dengan memeluk lututnya.
Rambutnya berantakan karena di terpa angin laut yang mulai pasang, deburan ombak besar membuat Kiara tak bergeming. Dirinya tak menghiraukan deburan ombak besar yang menerpa wajahnya dan tubuhnya terkena air laut.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian Kiara mendongakkan kepalanya dan tersenyum kecut, yang ia inginkan saat ini adalah pulang untuk bertemu dengan Rikha Mamanya.
Kiara berdiri dan membentangkan kedua tangannya dan berkata kepada ombak yang berdebur kencang.
Cinta. Untuk apa kamu hadir di hati ini! hanya untuk sekedar menyakiti. Kalau aku boleh meminta jangan pernah datang ke kehidupan ku, karena hari ini aku tak akan pernah percaya dengan atas nama cinta! karena cinta aku kecewa, marah! bisa dimaafkan tapi hati yang sudah terlanjur kecewa mungkin bisa dimaafkan tetapi sulit di lupakan. Pergilah... gak akan ada yang menahanmu untuk bertahan dengan sesuatu perasaan.
Aku sudah tidak percaya lagi dengan cinta.
Arghhhh....
"Bagaimana sekarang, hatimu puas?" seseorang menyapaku membuat aku terkejut dan memalingkan wajah ku kebelakang.
"Rey?!"
"Kau masih mengingat ku?"
"Memori ku masih banyak ruang untuk menyimpannya," kelakar Kiara dengan senyum kecut.
"Kamu disini? aku sudah melihat kamu disini sudah dua kali loh, apa kamu tinggal di sekitar pantai ini," tanya Kiara heran.
"Rumah aku tak jauh dari sini, tuh disebelah sana," tunjuknya, namun Kiara tak melihat bahwa ada tanda-tanda rumah.
"Kamu tinggal di sini? kok aku gak melihat ada rumah."
"Emang di situ gak keliatan ada rumah! tetapi kalau kita berjalan beberapa langkah dari sini pasti akan kelihatan? Nona cinngeng?!"
"Siapa yang cinggeng! aku gak cinngeng, tuduhan mu salah tuan Rey?!" kelit Kiara dengan menjulurkan lidahnya.
Keduanya pun saling tertawa lepas, rasa sedih pun hilang dengan kedatangan Rey teman yang baik.
"Habis putus cinta," celetuk Reyhan membuat Kiara terkejut dan memutar bola matanya malas.
"Keppo."
"Ehh, emang benar kamu habis putus cinta. Terus sekarang kamu menyalahkan cinta atas apa yang terjadi sama kamu iyakan?!" desak Reyhan.
"Kalau sudah merasa di khianati dan tersakiti. Baru menyalahkan cinta. Jangan selalu menyalahkan cinta nanti kamu bisa di tuntut oleh Uya Kuya," timpalnya dengan wajah serius.
"Apa urusannya aku dengan Mas Uya Kuya?"
"Itu tadi ngata-ngatain cinta," canda Rey dengan menahan tawa karena melihat' ekspresi wajah Kiara yang bingung.
"Haah! kamu lagi ngerjain aku? aku kira benaran! si*l loe," Kiara meninju lengan Reyhan.
"Ternyata dengan melihat wajahmu yang sedang marah lucu juga, bikin aku gemes. Apalagi dengan hidung kamu yang mirip jambu Jamaika."
Hahaha Reyhan berlarian memutari tubuh Kiara yang sedang berdiri.
__ADS_1