
Agung sangat kaget ketika melihat ekspresi lelaki di depannya ketika mengangkat Medina yang dikiranya adalah Meysa.
"Tunggu, Tuan! apa anda mengenalnya?" tanya Agung ketika Firo Menggotong Medina.
"Dia adalah istriku," ucap Firo pelan.
Agung yang kebingungan hanya diam membiarkan lelaki di depannya
membawa Medina.
Bersama Shaka, Agung mengikuti Firo sampai ke mobilnya memastikan Medina aman bersamanya. Sebenarnya di hati Agung masih ragu.
"Benarkah dia adalah suaminya?" tanya Agung kepada Shaka.
"Benar, dia suaminya" sahut Shaka sambil mendekati Firo.
Firo tak memikirkan apapun. Sambil menggendongnya didekapnya terus tubuh istrinya yang tak sadarkan diri.
Sampai di depan mobil Firo menoleh ke arah Shaka, "Antarkan aku ke rumah sakit," ucap Firo.
Melihat Firo sudah masuk ke mobilnya. Shaka langsung bergegas menuju pintu kemudi.
"Tuan apa aku boleh i..." belum sempat meneruskan perkataannya Shaka sudah memotong ucapan Agung.
"Terima kasih kamu sudah menolong Medina," ucap Shaka, "Aku akan kesini mencari mu lagi,"
Apa? Medina? Bukankah namanya Meysa? batin Agung.
Agung sebenarnya ingin ikut bersama mereka. Namun segera di urungkan. Bahkan Firo belum sempat berkata Terima kasih kepada Agung. Firo benar-benar melupakan semuanya karena sudah sangat sedih melihat Medina. Di pikirannya hanya ingin istrinya segera sadar.
Sebenarnya juga banyak pertanyaan yang muncul dipikiran Agung. Namun karena melihat wajah Firo yang begitu sedih. Agung mulai mempercayai kalau dia adalah suaminya.
Nona, ini adalah sebuah keajaiban. Anda sangat beruntung. Batin Agung.
Agung melihat mobil yang sudah melaju melewati dirinya. Sekarang dia sudah sangat lega wanita yang baru di kenalnya itu sudah selamat.
Semoga anda dan bayi anda baik-baik saja, Nona. Gumam Agung.
Agung tidak tahu bahaya sedang mengintai dirinya.
***
Sesaat sebelum Agung pulang ia bertemu dengan Dokter yang memeriksa Medina waktu itu.
Dokter itu bilang kepada Agung kalau nona mudanya sedang dalam bahaya. Dokter itu juga bilang, Saat nona Medina memanggilnya ke kamar mandi. Medina menceritakan semuanya.
Walaupun baru mengenal seminggu lebih Agung merasa Medina adalah orang yang baik dan sangat menghargainya berbanding terbalik dengan Sony.
Sony sering memarahinya, bahkan sering memukulinya. Sony selalu kasar kepada Agung. Kalau bukan karena butuh uang, Agung tidak ingin bekerja kepada Sony.
Agung benar-benar ketakutan Saat Sony membawa pisau hendak membunuh Medina.
Dia mencari cara agar Sony tidak menemukan Medina yang sedang bersembunyi. Dan Berkat Agung, Medina selamat dari incaran Sony yang akan membunuhnya.
Mobil Shaka sudah sangat jauh darinya. Dengan langkah pelan Agung hendak kembali ke rumah Tuannya.
"Apa kabar, Gung?"
Suara Sony terdengar tidak jauh darinya.
Agung menoleh ke belakang. Tuannya sedang tersenyum sinis ke arahnya.
__ADS_1
Sony hendak menghampirinya. Selangkah demi selangkah mendekatinya.
Tubuh Agung mendadak gemetar ketika Sony sudah dekat sekali dengannya.
"Apa kamu sudah menemukan, Nona muda mu?" tanya Sony mengarahkan mukanya ke wajah Agung yang berdiri ketakutan.
Tampang Sony begitu menyeramkan. Ditambah mukanya yang terlihat mengerikan.
Agung menggeleng.
Sony yang tak puas dengan jawaban Agung. Menempelkan pisaunya ke muka Agung.
Pisau itu di gerakkan dengan tangan Sony seperti sedang mengoleskan mentega ke muka Agung.
"Apa kamu yakin... kamu tidak menemukannya?" tanya Sony lebih keras lagi, "Kenapa kamu begitu ketakutan, Gung?" tambahnya ketus.
Agung menarik nafas dengan sangat halus ketika pisau itu masih menari di wajahnya.
Agung memegang tangan Sony agar pisaunya segera menyingkir dari wajahnya.
"Tuan, hentikan! Aku akan berusaha mencarinya lagi," ucap Agung.
Sony tersenyum sinis ke arah Agung.
"Apa kamu yakin akan menemukannya?" Bisik Sony di telinga Agung.
"Aku yakin, Tu... " ucapan Agung terhenti. .
Jleeb!!
Sebuah benda tajam menusuk perutnya.
"Sebaiknya kamu pulang saja ke akhirat, Kamu tidak perlu mencari Nona Muda mu," bisik Sony
Jleeb!!
"Tuan... " Agung melihat Sony di sebelahnya.
"Terima kasih, Gung! sudah mengabdi bersamaku. Maaf aku harus mengakhiri nyawamu," ucap Sony lagi.
Untuk yang ketiga kalinya benda tajam itu menusuk perutnya lagi. Kali ini tepat di ulu hatinya.
"Maafkan aku, Gung" ucap Sony memegang pisau di tangannya.
Bersamaan dengan itu, Tubuh Agung tumbang ditengah jalan.
Bruk!!
"Terima kasih, Tuan" ucap Agung yang terjatuh di tanah. Tubuhnya tak bisa menopang lagi karena darah sudah mengucur deras dari perutnya.
Dalam keadaan seperti itu Agung masih sempat berterima kasih kepada Sony.
Dengan tangan berlumuran darah dan Muka yang mengerikan. Sony berjalan menjauhi Agung.
Guratan amarahnya terlihat jelas di wajahnya.
***
Di rumah sakit.
Medina sudah ada di ruang perawatan. Beruntung Medina cepat di bawa ke rumah sakit. Kalau tidak nyawa bayinya sudah tak dapat tertolong.
__ADS_1
Firo duduk menunggui Medina yang belum sadarkan diri.
Sambil terus memegang tangan istrinya. Firo terus memandangi wajah istrinya.
Berkali-kali Firo mengecup tangan itu.
Shaka melihatnya begitu bahagia.
Firo benar-benar sangat menyayangi Medina. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Firo terus menangis seakan takut kehilangan lagi.
Setelah mendengar kabar istrinya telah hamil barulah senyum itu terukir di bibirnya.
"Selamat ya, atas kehamilan istrimu. Aku turut senang mendengarnya," ucap Shaka memeluk Firo.
Sekarang Firo tak berpindah sedikitpun dari tempat duduknya sambil terus memegangi tangan istrinya. Seakan takut kehilangan lagi.
"Shaka, lelaki yang menolong istriku, dimana?" tanya Firo.
Firo baru sadar dengan Agung yang tak ikut bersamanya.
"Kenapa kamu tak mengajaknya ikut bersama kita?" tanya Firo lagi.
Shaka menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mereka sampai tak punya pikiran untuk mengajak Agung ke mobilnya.
"Kita harus ke sana lagi untuk mencarinya dan berterima kasih," ucap Firo, "Aku akan memberinya hadiah"
"Baiklah aku akan mencarinya dan mengajaknya kesini," sahut Shaka, "Aku tinggal sebentar dulu ya," ucapnya sambil menepuk bahu Firo.
Kebetulan jarak rumah sakit tidak terlalu jauh dari tempat tadi.
Firo mengangguk.
"Shaka," ucapnya menghentikan langkah Shaka.
Shaka lalu menoleh sebelum kakinya keluar dari ruangan itu.
"Terima kasih," ucap Firo sambil tersenyum.
Shaka membalas senyum balik.
"Apa sih yang engga buat kamu," ucap Shaka.
Gaya bicara Shaka sudah mulai tidak formal dengan Firo. Shaka lalu meninggalkan Firo.
Setelah setengah jam berlalu,
Jari telunjuk Medina mulai bergerak perlahan.
Firo yang sempat terlelap mulai merasakan jari yang bergerak di genggamannya.
Perlahan netra itu terbuka perlahan.
Pemandangan pertama yang dilihat Medina adalah cahaya lampu yang sangat terang.
Bukankah tadi aku sedang berada di luar. Tidur dibawah taburan bintang. gumam Medina.
"Honey, syukurlah kamu sudah sadar"
Sebuah senyuman terukir dari wajah lelaki yang sangat dinantikannya.
__ADS_1
Mata yang teduh itu sedang menatapnya berbinar.
"Aku sangat merindukanmu, Honey"