
"Yah, Aku memang pria bodoh yang mengagungkan uang di atas segalanya. Bahkan aku tidak bisa merasakan kebahagiaan dengan uangku yang berlimpah," ucap Tuan Bram sambil terus meracau.
"Aku merasa sangat bodoh, Bodoh sekali!" Pria tua itu terus mengutuk dirinya yang bodoh.
Bersamaan dengan itu, Tubuh Tuan Bram yang melemas tergeletak di atas sofa karena sudah mabuk berat.
Tua bangka, tak berguna. Gumam Sony.
Kita harus mengakhirinya. Kalau tidak kita akan mati!
Sony membuka topeng yang menutup sebagian mukanya. Dia memegangi wajahnya yang belum sembuh total.
Semua ini gara-gara kamu, Firo! Aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersama istrimu!
***
Firo dan keluarganya sudah sampai di Indonesia. Dibantu Lela dan Agung, Medina merapihkan barang miliknya ke kamarnya.
"Gung, Kenapa kalian tidak menikah saja! Sepertinya kalian sangat cocok," ujar Medina sambil merapihkan baju.
Dari tadi Agung dan Lela terus berdebat membuat Medina merasa terhibur karena ocehan mereka berdua seperti emak emak yang sedang adu mulut.
Ada saja yang menjadi perdebatan mereka dari membicarakan warna yang cocok untuk ruangan bayinya. Sampai perlengkapan apa saja yang akan mereka beli besok untuk bayi yang ada di perutnya.
Agung sebagai lelaki tak mau kalah dari Lela. Mereka berdua saling berselisih pendapat.
Lela yang mendengar itu langsung memanyunkan bibirnya, "Mana aku mau lelaki seperti itu! Aku maunya lelaki perkasa seperti tuan muda atau kalau tidak seperti tuan Shaka yang bule. Agung buat berdiri aja masih lemes apalagi buat yang lain."
Mendengar ucapan Lela, Agung merasa tersindir.
"Hem! Kalau belum tau dalemannya jangan bilang lemes!" sahut Agung sembari merapihkan pakaian beberapa pakaian masuk ke dalam lemari, "Apa aku harus menunjukannya padamu?" ucapnya lagi.
Agung terus meledek Lela di sebelahnya.
"Kalian bisa-bisa jatuh cinta kalau sering berantem seperti ini," sindir Medina sambil tertawa.
Hari itu mereka habiskan untuk merapihkan baju dan barang-barang mereka yang akan mereka taruh
di rumah barunya.
***
Malam pun tiba.
Suasana pesta yang di adakan Tuan Bram kali ini tidak terlalu mewah. Hanya menghadiri beberapa klien dan beberapa kerabat dekatnya. Sebenarnya itu semua hanya alasannya saja untuk mengundang Ny.Vika kerumahnya.
Medina sempat melarang ibunya agar tak datang ke acara itu. Hanya saja Ny.Vika ingin berbicara empat mata dengan Tuan Bram langsung. Dia ingin tahu semuanya dari mulut musuhnya itu. Lagi pula Bram
__ADS_1
Tuan Bram dengan tuxedo warna hitamnya sedang berdiri di tengah para tamu undangan. Seperti biasanya Tuan Bram menyapa semua para tamu dengan di dampingi Ny.Stella di sebelahnya.
"Selamat datang, Nyonya Vika Alister" seru Tuan Bram menghampiri Ny.Vika yang menggunakan dress panjangnya. Walaupun sudah berumur, Ny.Vika terlihat masih sangat cantik dan anggun.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Nyonya Alister. Bagaimana kabarmu?" ucap Ny.Stella yang ada di sebelahnya.
Ny.Stella mencium pipi kanan dan kiri Ny.Vika yang pernah menjadi calon besannya.
"Kabarku baik, bagaimana kabarmu?" seru Ny.Vika.
Kedua wanita itu lalu bercengkrama berdua sambil duduk di meja VIP yang sudah di sediakan. Setelah hampir setengah jam. Ny.Stella meninggalkannya karena ada tamu undangan lain yang harus ia sambut.
"Nyonya Alister, Aku tinggal sebentar. Ada tamu yang harus aku sambut"
Setelah menganggukkan kepalanya. Stella langsung meninggalkannya.
Seorang pelayan menyajikan minuman beserta desert di meja yang ada di hadapan Ny.Vika. Di sebelah sajian itu Tuan Bram mengirim kertas berisi pesan kepadanya untuk mengundangnya berbicara empat mata dengannya di tempat yang khusus disediakannya.
Lima menit kemudian,
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Bram?" tanya Ny.Vika.
Tuan Bram yang sedang berdiri sambil meminum wine di tangannya langsung berbalik badan. Dia tersenyum ke arah Ny.Vika.
"Kamu masih sama seperti dulu, Vika" seru Tuan Bram menatap Ny.Vika.
Sebenarnya dulu mereka bertiga berteman sangat dekat. Vika, Bram dan Jovan adalah teman satu sekolah.
Tuan Bram sangat mengenal Vika dari remaja. Bram terlahir dari keluarga miskin sedangkan Jovan dan Vika dari keluarga yang kaya.
Kondisi Bram sangat terpuruk saat remaja. Dia melakukan berkerja sambil sekolah agar ia dan keluarganya bisa bertahan hidup. Semenjak kedua adik Bram meninggal, Bram mendadak berubah. Ia rela menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan kesuksesan dan jabatan.
Nyonya Vika masih berdiri menatap sinis mantan temannya itu.
"Duduklah, Aku ingin bernegosiasi denganmu!" ucap Tuan Bram sambil mendudukkan pantat di kursi yang berhadapan dengan Vika.
"Jangan terlalu berbasa-basi, Bram! Katakan padaku apa yang kamu ingin bicarakan?" tanya Ny.Vika duduk di depan Tuan Bram.
"Cabut gugatan mu, ini demi keselamatan kita semua," ucap Tuan Bram cepat.
Mata Nyonya Vika membulat sempurna.
Tuan Bram sudah mendapat kabar kalau Ny.Vika sedang menggugat Tuan Bram di pengadilan. Dugaannya antara lain adalah mengenai kematian suaminya dua puluh tahun yang lalu dan semua kejahatan yang sudah di lakukan Tuan Bram.
Heuh! Nyonya Vika tersenyum miring.
"Apa anda sedang tidak salah makan hari ini?" ujar Ny.Vika, "Bram, Tidak semudah itu aku mencabut gugatan ku. Sementara banyak nyawa yang sudah kamu habisi, Termasuk suamiku!" tegas Ny.Vika.
__ADS_1
Jadi kamu selama ini sudah tahu semuanya. Batin Tuan Bram.
Tuan Bram meneguk minuman di depannya.
"Vika! Bukankah peristiwa dua puluh tahun sudah terselesaikan, Kenapa kamu masih membahasnya. Itu akan membuang waktumu, Vika!" ujar Tuan Bram.
"Membuang waktu katamu! Kamu pikir aku bisa membiarkan orang yang sudah membunuh suamiku dibiarkan tidur dengan nyaman di kamarnya, Hah!"
teriak Ny.Vika. Ia mulai tersulut amarah.
Beberapa pengawal Ny.Vika masuk kedalam ruangan itu setelah mendengar teriakan Ny.Vika. Firo sengaja menyuruh empat orang yang ia bayar untuk menjaga Ny.Vika yang sedang menemui ayahnya.
Tuan Bram tersenyum melihat empat pengawal itu berdiri tegak di belakang tempat mereka duduk.
"Aku tetap akan menggugat mu ke pengadilan!" tegas Ny.Vika lagi.
"Vika, tolonglah! Lupakan semuanya demi kebaikan keluarga kita. Bukankah kita akan memiliki cucu," Tuan Bram merendahkan suaranya.
"Jadi kamu sudah tau semuanya, Bram!" ucap Ny.Vika, "Aku tau kamu yang membunuh orang suruhan ku juga, Aku yakin dia tidak bunuh diri!" tambahnya.
Tuan Bram menggeser tempat duduknya. Ke empat pengawal yang dibawa Ny.Vika menatap tajam kearahnya.
"Jangan menuduhku tanpa bukti, Vika. Dan satu lagi, Kamu tak perlu membawa mereka. Aku tidak akan menyakitimu sedikitpun," ucap Tuan Bram menunjuk ke empat pengawal itu.
"Sepertinya aku tak perlu berbasa-basi lagi denganmu. Selamat menikmati hidupmu yang sekarang. Karena sebentar lagi kamu akan tidur di dalam jeruji besi!" Ny.Vika tersenyum sinis.
Nyonya Vika tak ingin berlama-lama di sana. Detik itu juga ia memutuskan untuk pulang.
"Vika!" teriak Tuan Bram menghentikan langkah Ny.Vika menuju pintu keluar.
Tuan Bram menghampiri mantan temannya itu. Tuan Bram menarik tangannya.
"Maafkan aku, Vika! Aku mohon, Cabutlah gugatan itu, Karena semuanya demi keselamatan Firo, Meysa dan calon cucuku!"
"Lepaskan! Itu hal yang mustahil, Bram!" seru Ny.Vika menghempaskan tangan Tuan Bram.
"Vika, aku mohon! Pikirkan lagi karena semua yang kalian lakukan tidak akan berhasil!" ujar Tuan Bram terus menahan Ny.Vika.
Dua orang pengawal Ny.Vika menahan tubuh Tuan Bram agar tidak mengikutinya lagi, "Berhenti, Tuan!".
Nyonya Vika lalu keluar dari ruangan itu diiringi empat orang pengawalnya di belakang.
Tuan Bram memandang lesu kepergian Ny.Vika.
Sementara dari jauh seorang bermata tajam sedang memperhatikan mereka.
Ternyata mereka tetap saja melanjutkan perkara ke pengadilan. Baiklah, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa dengan kalian semua!
__ADS_1