Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Curhatan Firo


__ADS_3

" Aku juga mencintaimu, Honey!" balas Firo sambil menggendong Medina dengan gaya bridal style.


Medina terkaget karena tiba-tiba Firo menggendongnya lagi.


"Jalanmu sangat lama," ucapnya lagi gemas karena dari tadi Medina berjalan seperti keong karena terlihat masih merasa sakit.


Medina yang mendapati itu sangat malu dengan kelakuan suaminya, "Tapi sekarang kita masih di luar, Firo aku malu orang lain melihat kita. "


"Aku tidak peduli, anggap saja dunia ini hanya milik kita berdua," Firo masih terus berjalan sambil menggendongnya.


"Awas nanti terjatuh lagi," Ledek Medina mengingatkan peristiwa tadi siang.


"Aku juga pinginnya begitu, tapi aku mau nanti kesandung nya kalau kita sudah sampai di tempat tidur,"


Mata Medina terbelalak.


"Jangan gila kamu Firo, punyaku masih sakit, " ujar Medina "Ah.. tidak.. aku tidak sanggup, Firo" Medina memukul dada Firo yang masih menggendongnya.


"Bukankah memang aku gila," sahut Firo.


"Pura-pura gila tepatnya," Ujar Medina.


"Tidak! Tapi memang aku pria gila. Gila karena cinta," sahut Firo.


Kini mereka sudah sampai kamar mereka. Medina membuka pintu dan masuk. Medina merasa kali ini dia begitu ketakutan ketika Firo membaringkan tubuhnya di kasur.


Medina menelan ludahnya berharap tidak terjadi sesuatu dengannya malam ini.


Firo langsung menempatkan tubuhnya di sebelah istrinya. Dia mendekati Medina yang seperti sedang ingin menghindarinya. Firo suka dengan tingkah laku istrinya saat ketakutan.


"Honey," Firo semakin mendekatkan diri ke arahnya.


Medina meremas selimut yang di tarik ke badannya. Sementara Firo tersenyum miring ke arahnya seakan ingin menerkamnya.


Cup.


Kecupan manis menempel di keningnya.


"Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu," tutur Firo sambil membetulkan selimutnya.


Medina merasa lega, Tubuhnya sebenarnya sudah terangsang ingin meminta lagi, tetapi ketika nyeri itu berasa lagi Medina tidak sanggup kalau malam ini harus bertempur lagi.


Firo agak menjauhkan jarak dirinya dengan istrinya takut si joni meminta lagi. Dia membelakangi Medina yang dari tadi belum bisa memejamkan mata. Mereka sama-sama pada pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Firo, Apakah kamu sudah tidur?" Medina membuka suara pelan memastikan suaminya sudah tertidur.


Tanpa aba-aba Firo kemudian langsung berbalik kearahnya, "Kenapa kamu belum tidur honey?"


Mata mereka bertemu.


"Aku tidak bisa tidur,"


"Apa masih terasa nyeri?" Tanya Firo.


Medina mengangguk, "Tapi bukan itu saja yang membuatku tak bisa tidur. "


Firo lalu bangun dan bergegas mengambil sesuatu agar istrinya tidak kesakitan lagi.


Dicarinya obat penghilang nyeri yang ada di kotak obat yang biasa dia minum. Selang tak berapa lama di tangan kirinya sudah membawa satu butir obat berbentuk kapsul dan di tangan kanannya menggenggam gelas berisi air putih, "Minumlah, Honey. Semoga dengan meminum obat pereda nyeri ini kamu bisa tertidur," Firo memberikan obat itu kepada Medina agar ia minum.


"Obat untuk apa ini?" tanyanya sambil duduk di ujung tempat tidurnya.


"Ini obat pereda nyeri, biasanya aku minum kalau aku sakit. Besok aku akan menyuruh Bi Inah membeli obat oles, Agar punyamu tak perih lagi"


Medina lalu meminum obat pemberian Firo.


" Tidurlah, sekarang sudah larut malam," ucap Firo meletakkan gelas tadi ke nakas.


"Bolehkah aku bertanya?" Medina masih bersandar di ujung kasurnya.


Firo mengangguk mengiyakan.


"Firo, kenapa kamu sampai membenci Shaka, bukankah kalian adalah sahabat dari kecil?" tanya Medina penasaran.


Firo menarik napas panjang Firo lalu bercerita,


"Itu dulu, sebelum dia meninggalkan aku. Kamu gak tahu bagaimana rasanya aku saat tidak punya siapa-siapa dengan keadaan aku yang benar-benar frustasi karena kehilangan sosok dua orang yang selalu bersamaku sekaligus. Satu yaitu ibuku tiba-tiba meninggalkan aku selamanya dan satu lagi Shaka adalah orang yang paling dekat denganku pergi begitu saja tanpa pamit disaat aku sedang berduka, kamu gak tahu hampir setiap hari aku menangis tidak ada siapapun yang bisa mengerti aku"


"Apa kamu juga membenci, Daddy?" tanya Medina lagi.


"Apa aku terlihat membencinya?" Firo balik bertanya.


Medina mengangguk.


Lalu Firo mendekatkan dirinya ke istrinya sambil tidur di pangkuan Medina dan kembali bercerita.


"Setelah kepergian ibuku, dua hari kemudian Shaka pergi ke luar negri. Aku tidak percaya kalau ibuku meninggal karena sakit. Daddy selalu melarang ku mengingat ibuku. Aku tidak bisa menerima kematian ibuku begitu saja, Setiap hari aku mencari kejelasan kepada Daddy dan Stella tetapi mereka malah menuduhku gila, Bahkan aku sempat di pasung di rumah itu selama setahun. Stella pernah menyiksaku dengan menenggelamkan kepalaku di bak mandi karena mengira aku membahayakan dirinya, Bahkan Daddy membiarkanku menderita di rumah itu"

__ADS_1


"Anak berumur sepuluh tahun yang harusnya bermain dan merasakan kasih sayang orang tuanya malah di kurung dan di asing kan tak ada seorang pun yang mengerti seperti anak yang terbuang. Untungnya setahun kemudian datanglah Nenek dan Bi inah di rumah. Bi inah adalah perawat Nenek di panti jompo. Saat ketahuan aku di pasung Nenek lah yang memindahkan aku ke kamar ini, setelah beberapa bulan kemudian nenek meninggal dunia. Dan Bi inah gantian yang merawat ku" Tambah Firo lagi menjabarkan masa kecilnya yang suram.


Medina meneteskan air matanya, dia tidak bisa membayangkan masa kecil Firo yang kelam, "Maafkan aku sudah mengingatkanmu lagi. "


"Aku akan meneruskan ceritaku tapi kamu janji tidak menceritakan semua rahasiaku kepada siapapun".


"Aku janji, Firo"


"Aku sangat takut sendirian, tapi mereka tidak peduli, Bahkan setiap makanan yang aku terima dari rumah itu terkadang membuatku selalu berhalusinasi. Awalnya aku tidak mengetahui apa yang mereka berikan kepadaku, tapi lambat laun aku mengetahuinya, Mereka sengaja memberikan aku makanan yang sudah di campur dengan serbuk ganja, Jahat! Aku tidak tahu mengapa mereka begitu kejam kepadaku"


"Serbuk ganja, maksudmu... i-itu obat terlarang yang bisa membuat orang berhalusinasi?Jahat sekali! Siapa yang melakukan itu?" Medina mengepalkan tangannya terbawa emosi.


"Aku tahu siapa orangnya, Lihat saja tanggal mainnya aku akan membalas orang itu," ucap Firo menyeringai.


"Apa Nyonya Stella yang melakukannya. Pantas kamu tidak pernah mau memakan makanan dari rumah itu, tapi aku tidak mengerti apa motif mereka melakukannya,"


Firo hanya tersenyum tidak membalas.


"Aku tahu betapa menderitanya kamu bertahun-tahun harus terkurung di sini, Tapi kenapa kamu tidak pergi saja dari sini. Firo apa sebaiknya kita keluar saja dari rumah ini dan kita hidup normal membangun keluarga kita seperti orang lain di luaran, "


"Apa kamu keberatan menemaniku?" tanya Firo.


"Tidak begitu maksudku, kita lupakan masa lalu kamu di rumah ini dan kita hidup mandiri berdua di luar tanpa campur tangan keluargamu,"


"Tidak semudah itu, Honey. Aku akan mengakhiri semuanya dengan caraku" Firo membetulkan posisi kepalanya kembali ke bantal tempat dia tidur.


"Honey,"


"Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku," Firo menatap Medina di sampingnya.


Medina balik menatapnya.


"Aku akan berjanji tidak akan meninggalkanmu, Firo"


Kemudian mereka saling berpelukan.


"Tidurlah," Firo kembali mengecup kening Medina.


Rasa dendam dan marah bersatu dalam hati Firo, tidak semudah itu dia melupakan hari hari buruknya di rumah itu. Yang ia harapkan dia kembali menemukan ingatan saat terakhir dia melihat ibunya meninggal.


Karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, membuat Medina di serang rasa kantuknya. Perlahan dia mulai menutup matanya dan tertidur.


Firo masih memeluk Medina yang sudah terlelap. Dia masih mengingat ingat bagaimana kelakuan buruk Nyonya Stella dan Syerli kepada dirinya. Kalau tidak ada Bi inah dan Ricko mungkin Firo sudah mati bunuh diri.

__ADS_1


Lama-lama dia memejamkan matanya karena terlalu terbawa suasana dan malam yang semakin larut membuat matanya berat dan tertidur sambil memeluk istrinya.


__ADS_2