Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Bersembunyi.


__ADS_3

"Kemana perginya kamu? Wanita sialan!" teriak Sony keras.


Karena sunyi suaranya terdengar begitu jelas.


Sony menyeret kakinya yang sedikit pincang. Dia begitu menyeramkan malam itu. Dengan borgol masih menggantung di tangannya dia berjalan seorang diri di jalan yang masih belum beraspal itu. Bekas lukanya masih terlihat jelas di wajahnya.


Darah di kepalanya masih belum mengering, Sony masih merasa sakit. Tatapannya seakan ingin menghabisi wanita yang sedang di carinya.


"Kali ini tidak akan ku biarkan kamu hidup, Jala**!" teriaknya lagi memecah kesunyian.


Kondisi di sana sangatlah sepi karena letak rumahnya sangat jauh terpisah dari pemukiman.


Tidak ada penduduk satupun yang terlihat.


Di tangan kanan Sony sudah memegang pisau berukuran kecil. Setan sudah merasuk kedalam tubuhnya.


Sreg... sreg... sreg


Suara langkah kaki Sony begitu sangat terdengar menyeramkan.


Medina masih terjaga, keram di perutnya masih terasa.


Saat langkah kaki itu tidak jauh lagi dari tempatnya bersembunyi. Medina menutup mulutnya karena takut.


Ia dekap tubuhnya meringkuk di bawah pepohonan agar tak terlihat Sony. Medina terus berdoa meminta perlindungan kepada Tuhan.


Sony melihat jejak kaki di tanah. Senyumnya menyeringai. Jejak kaki itu berakhir di rerumputan yang banyak sekali pohon besar.


"Aku tahu kamu tidak jauh dari sini, Tadinya aku ingin berbaik hati kepadamu asal kamu menuruti permintaanku, Namun karena kamu senang bermain-main denganku. Baiklah aku akan menghabisi mu sekarang, Nona!" teriaknya lagi sambil mencari keberadaan Medina.


Tak begitu lama terdengar suara Agung yang berlari menghampiri Sony.


"Tuan, Nona Meysa berjalan ke arah sana. Tadi aku melihatnya di ujung jalan ketika baru pulang berbelanja tadi." ucap Agung menunjuk arah berlawanan.


"Kenapa kamu tidak mencegahnya? dan menyuruh dia pulang, Bodoh!" seru Sony mencengkeram baju Agung.


"Pas ketemu tadi, Nona Meysa bilang katanya tuan sudah membolehkan Nona keluar sebentar, Aku pikir Tuan memperbolehkannya jadi aku membiarkan dia pergi," ujar Agung.


"Bodoh, kamu!" teriak Sony lalu menampar pipi Agung.


Plakk!


"Sekarang cari dia sampai ketemu, Aku akan ke sana. Sementara kamu mencari di sekitar sini," ucap Sony.


Agung mengiyakan apa yang ditugaskan tuannya


"Baik, Tuan! Aku akan mencarinya sekarang" ucap Medina.


***


Medina tidak tahu harus lari atau berpindah tempat. Suara Sony sudah terdengar semakin dekat. Medina memejamkan matanya sambil terus berdoa.


Medina juga mendengar pembicaraan Agung dan Sony.


Ia semakin ketakutan dalam hatinya berkata mungkin saat ini adalah akhir dari hidupnya.


Hawa dingin membuatnya tidak bisa berfikir. Medina hanya duduk pasrah sambil memegangi perutnya.


Semoga kamu baik-baik saja, Nak! batinnya.


Medina semakin ketakutan ketika sebuah bayangan berjalan mendekati tempat persembunyiannya.


Matanya terbelalak sempurna.


Bayangan itu semakin mendekati dirinya. Medina memejamkan matanya masih terus berdoa. Kalaupun berlari sekarang itu tidak mungkin. Kondisi fisiknya yang sekarang sudah tidak kuat berjalan apalagi berlari.


Mata Medina membulat sempurna ketika melihat seorang lelaki semakin mendekatinya.


"A-a-agung... " suara Medina terdengar terbata, bibirnya bergetar hebat.


Agung mendekati Medina yang sedang duduk tak berdaya.


Tangan Agung langsung membekap mulut Medina agar tidak berteriak.


Sssttttt.

__ADS_1


"Diamlah, Nona! jangan berteriak. Tuan Sony bisa mendengarnya," ucap Agung sambil menempelkan telunjuknya di bibirnya.


Medina masih tak bisa berfikir jernih. Matanya masih membulat sempurna.


"Aku akan menolong anda, Nona" ucap Agung tulus.


"Jangan takut," ucapnya lagi menenangkan Medina.


Mendengar Agung berkata demikian Medina akhirnya bisa sedikit tenang. Dipandanginya wajah Agung lekat.


Sepertinya memang Agung tulus membantuku. batin Medina.


"Nona jangan takut, Aku tahu Nona sedang berpura-pura kan? Dokter itu yang memberitahuku tentang nona. Aku tahu sekarang nona dalam bahaya, Tuan Sony ingin membunuh anda," ucap Agung menjelaskan.


Medina begitu takut mendengar perkataan Agung.


"Nona, sebaiknya Nona ikut aku ke jalan raya agar aku bisa meminta bantuan orang untuk menolong anda," ucap Agung.


Medina sudah tidak bisa berjalan lagi. Tubuhnya sangat lemas.


"Aku sudah tidak sanggup berjalan lagi, Gung!" ujar Medina, "Perutku kram, Aku tidak mau terjadi sesuatu kepada bayiku kalau aku memaksa untuk berjalan lagi," tambahnya.


Agung melihat lagi ke depan memastikan tuannya sudah jauh dari mereka.


"Baiklah kalau begitu, Nona jangan ke mana-mana dulu. Aku akan segera mencari bantuan ke jalan," ucap Agung.


Agung mengetahui daerah itu ia lalu berlari meninggalkan Medina mencari jalan yang berlawanan dari Sony. Mencari bantuan agar Medina bisa tertolong.


Medina hanya mengangguk. Ia sudah sangat pasrah tidak bisa berbuat apapun.


***


Firo sedang berada di dalam mobil di samping Shaka yang sedang menyetir.


Dari tadi mobilnya hanya berjalan ke depan tidak tahu arah tujuannya.


Mata Firo dari tadi mengamati ke sepanjang jalan.


Hanya terlihat deretan pohon yang berjejer rapi dan perkebunan yang sangat asri.


Bahkan jalan yang dilalui sudah tak beraspal namun Firo tetap menyuruh Shaka untuk berjalan ke depan.


Perasaannya mengatakan bahwa dia tak mau berhenti atau berbalik arah.


"Apa kamu yakin, kita akan terus jalan ke depan?" tanya Shaka.


"Aku yakin, dari pertama melihat mayat itu saja aku yakin itu bukan istriku. Saat aku menemukan kain itu juga aku meyakininya. Perasaanku tidak pernah salah," ucap Firo sambil terus mengamati jalanan.


Kalau bukan demi Firo. Shaka tidak mau mengemudikan mobilnya sampai jauh ke pelosok seperti malam ini.


Shaka melihat jam ditangannya sudah pukul sepuluh malam. Jalanan sudah sangat sepi. Hanya mobil yang ia kendarai yang lewat di jalan itu.


Dari jauh seorang lelaki menyetop mobil mereka.


Ciiit.


Shaka mengerem mobilnya mendadak. Beruntung ia tak menabrak lelaki yang berdiri di depan mobil mereka.


Tok... tok... tok..


Pintu jendela mobil diketuk lelaki itu dengan keras.


"Tuan... tuan... tolong majikan ku," ucap lelaki itu masih mengatur nafasnya.


Shaka membuka kaca jendela mobilnya separuh.


"Maaf kami sedang ada perlu, kami tidak bisa membantumu" ucap Shaka.


"Tuan.. tolong majikan ku dalam bahaya, dia sedang hamil muda," ucap lelaki itu yang ternyata adalah Agung.


Shaka kembali menutup kaca mobilnya rapat.


"Maaf saya tidak bisa menolong anda," Shaka lalu memajukan mobilnya lagi.


"Kenapa kamu tidak menolongnya? Dia butuh bantuan kita," ucap Firo kepada Shaka.

__ADS_1


"Sepertinya dia hanya ingin menjebak kita. Orang seperti itu biasanya ingin merampok kita dengan alasan meminta tolong. Setelah kita keluar, Pasti teman-teman yang lainnya akan bermunculan dan menodong kita," ujar Shaka,"Aku sudah paham dengan akal bulus orang seperti mereka," tambahnya.


Firo masih memandangi lelaki yang melambaikan tangannya dari belakang mobilnya.


Sepertinya dia memang sedang membutuhkan bantuan. gumam Firo.


"Berhenti," ucap Firo kepada Shaka agar menghentikan mobilnya.


"Apa maksudmu?"


"Kita harus menolong lelaki itu," ucap Firo.


"Tapi bagaimana dengan pencarian istrimu?" Shaka dibuat bingung.


"Sekarang, Dia lebih membutuhkan bantuan kita," Shaka memegang tangan Shaka agar menghentikan mobilnya.


Shaka tampak bingung dengan perilaku Firo.


Saat Shaka menghentikan mobilnya. Firo langsung keluar dan menghampiri lelaki itu yang sedang cemas.


Shaka berlari mengikuti Firo yang bersikeras menghentikan mobilnya.


"Dimana majikan mu?" tanya Firo kepada Agung.


"Terima kasih tuan. Anda seperti malaikat yang datang malam ini," ucap Agung.


Shaka masih mewaspadai lelaki di depannya.


"Ikutlah denganku, Tuan" lelaki itu berjalan sangat cepat.


Sebelum Firo melangkah Shaka sempat mencegahnya.


Firo melepas tangan Shaka yang mencoba melarangnya,"Aku hanya ingin berbuat baik," ucapnya.


Mau tak mau Shaka mengikuti langkah Firo. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan Firo.


Firo sudah tertinggal agak jauh dari lelaki itu. Ia lalu mempercepat langkah menyusulnya.


Sampailah mereka di tempat Medina bersembunyi.


Di saat itu Medina sudah tak sadarkan diri di atas daun pisang yang digunakan untuk alas duduknya.


"Nona, bangunlah ada orang yang akan menolong mu," ucap Agung mencoba membangunkan Medina.


Firo berjalan mendekati lelaki yang sedang membangunkan seorang wanita yang terkapar di hadapannya.


Langkah kaki Firo mendadak sangat pelan mendekati tubuh yang terkapar itu, seperti gerakan slow motion.


"Tuan, tolonglah majikan ku" ucap Agung di depan tubuh Medina.


Semilir angin melewati tubuhnya. Melewatinya begitu saja meninggalkan hawa dingin yang begitu menusuk tulangnya.


Shaka berlari mendekat ke samping Firo yang sedang berdiri.


Wajah Firo mendadak pias.


Beberapa daun berjatuhan di tubuh Medina.


Firo mendekat lalu menyentuh wajah Medina yang tak sadarkan diri. Hatinya begitu sakit melihat keadaan istrinya yang tak berdaya.


"Honey, aku telah menemukanmu"


Firo lalu mengangkat tubuh istrinya.


Tanpa terasa air mata menetes di ujung netranya.


***


Sepasang mata dari jauh sedang memperhatikan mereka.


###


###


***Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.

__ADS_1


Terima kasih***.


__ADS_2