Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Siang Pertama


__ADS_3

Firo meraih bunga di tangan Medina, Dia ingat betul bunga itu mengingatkan dia kepada ibunya.


"Firo, kepalaku pusing lagi," ucap Medina.


Karena merasa tak kuat, Medina menjatuhkan kepalanya ke meja tempat dia menghabiskan makanannya.


"Kamu kenapa, Honey? Sebaiknya kamu istirahat dulu" Firo memapah Medina yang tidak berdaya.


"Aku tidak apa, Tak usah seperti ini"


"Badanmu terlihat kurus, Apa kamu tidak pernah makan sampai sekurus ini?" Firo tetap mengangkat Medina dengan kedua tangannya walaupun Medina menolak.


"Kalau aku tak makan pasti aku sudah mati, ah aku tak apa kenapa kamu sampai menggendongku seperti ini" Medina tersenyum malu.


"Diam lah! Kalau kamu banyak berbicara, akan ku jatuhkan tubuhmu ke lantai"


Firo hendak merebahkan Medina ke atas kasur tapi sial kaki Firo menginjak kabel yang menjalar di lantai kamarnya. Sehingga kakinya tersandung.


Gdebuk.


Mereka terjatuh berdua dengan saling berpelukan tubuh mereka menyatu di atas kasur.


Medina baru sadar saat posisi dia persis di bawah Firo, Entah mengapa lewat tatapan Firo dia bisa membuatnya terdiam tak memiliki daya sedikitpun untuk menghindar.

__ADS_1


"Apa kamu masih pusing" Firo berbicara sangat lembut menggetarkan hati Medina.


Medina tak menjawab apapun, hanya memperhatikan gerakan bibir Firo yang membuatnya begitu tergoda.


Firo terbawa suasana ketika mereka tak berhenti saling menatap.


Tubuhnya seperti tersengat listrik ketika Firo mulai merapihkan rambutnya yang berantakan. Tangannya mulai menyentuh pipinya dengan lembut. Medina membalas dengan senyum. Tampak merah merona di wajahnya.


Wajah Firo tambah mendekat, terasa hembusan nafas saling beradu. Mereka benar-benar tidak berjarak. Terasa detak jantung yang saling menempel begitu cepat seakan sedang memburu sesuatu.


Medina tidak berani melihat saat Firo mulai menyatukan kedua bibirnya. Begitu sangat pelan tapi menghanyutkan.


Belaian bibir Firo begitu sangat lembut menyentuhnya semakin lama, tambah lama, semakin lebih menginginkan ke arah lain. Baru kali ini Medina terkagum dengan pemilik wajah yang sangat tampan di depannya.


Siang itu mereka benar-benar sudah di buai oleh suasana. Seakan meminta lebih dari sekedar memainkan bibir.


Bahkan tubuhnya seakan tak menolak sedikitpun ketika belaian bibir itu beralih ke lehernya.


Sentuhan lembut dirasanya sampai ke bagian depan tubuhnya yang selalu tertutup.


Tangan Firo yang mendapati sesuatu yang menyenangkan mulai dimainkannya, Semakin kencang membuat jiwa laki-lakinya tak berhenti sampai di situ.


Mereka sama-sama tak bisa menahan hasrat di tubuh mereka.

__ADS_1


Firo bukan seorang yang begitu polos. Walaupun baru pertama kali dia melakukannya dia sangat memegang kendali permainannya.


Hawa di kamarnya semakin panas padahal terdapat AC di kamarnya. Karena begitu panas di bukanya satu persatu kain yang menutup tubuh mereka.


Firo masih memainkan kendali atas tubuhnya.


Permainan bibirnya semakin menurun ke area bawah, membuat Medina tak bisa menolak belaian manis Firo yang begitu sangat membuatnya terangsang.


Semakin ingin meminta lebih dari itu.


Saat ini mereka benar-benar tak memakai sehelai benang pun. Medina masih tampak malu tak berani membuka mata apalagi menatap Firo yang masih memainkannya.


"Apa kamu sudah siap, Honey?" bisik Firo lembut.


Medina yang masih memejamkan matanya mengangguk.


Setelah beberapa menit berlalu. Mereka sama-sama berasa di puncak kenikmatan. Tubuh mereka sama-sama berkeringat tetapi masih terus memainkan permainan yang baru kali ini mereka lakukan. Mereka akhirnya mengakhirinya dengan sangat puas.


"Aku sangat mencintaimu, Honey"


Bisik Firo dengan nafas yang masih memburu.


Walaupun sangat menikmati Medina masih tak berani menatap Firo karena malunya. Ketika semuanya selesai. Medina baru menyadari dirinya tak memakai apapun seperti seorang bayi yang baru lahir. Cepat-cepat Medina menutup tubuhnya dengan selimut sampai ke mukanya.

__ADS_1


Firo tersenyum miring melihat kelakuan istrinya di depannya.


Dia lalu memeluk erat Medina dari belakang, "Terimakasih, Honey" bisiknya lagi.


__ADS_2