
"Bangun!" tegas Sony tepat di depan wajah Firo sembari mengguyurkan seember air ke wajahnya.
Plak!
"Bangun pria malang!"
Sony memukul wajah Firo berulang kali agar terbangun.
Firo tengah duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat di belakangnya. Perlahan demi perlahan netranya mulai terbuka. Firo masih menunduk menahan rasa sakit di kepalanya.
Sony duduk di hadapan Firo dengan kursi sama seperti yang Firo duduki dengan jarak satu meter.
"Bangun!" Sony mengangkat muka Firo menggunakan besi panjang di tangannya agar Firo melihat kearahnya.
Setetes demi setetes air jatuh dari rambut Firo yang basah. Rambutnya yang sudah basah tak beraturan menutupi mukanya. Kini Firo sedang menatap Sony yang sudah ada di hadapannya secara langsung.
"Bajingan kau!" murka Firo, "Dimana istriku? Keparat!" teriak Firo menatap tajam Sony.
Sony tersenyum bengis, "Aku akan melepaskan kamu dan istrimu asal kalian mau menuruti kemauan kami!" ucap Sony.
"Apa mau kalian?" Firo terlihat sangat marah namun dirinya sekarang tidak berdaya sama sekali. Ikatan tangan dan kakinya sangat kencang membuatnya tidak bisa melepaskan sendiri.
"Cabut gugatan kalian! Dan bergabunglah bersama kami!" tegas Sony keras.
Cuihh!
Firo meludahi wajah Sony, "Itu tidak akan mungkin!".
Sony menatap marah kepada Firo.
Plak!
Besi panjang itu mendarat ke tubuh Firo dengan keras.
"Lihatlah dirimu, Kau sudah seperti sampah di hadapanku!" Sony memegang kasar dagu Firo, "Bahkan disaat seperti ini kamu masih sombong di depanku!"
"Dari pada kamu minta aku bergabung denganmu! Lebih baik kamu bunuh aku!" ketus Firo.
Plak.
Sony kembali memukul tubuh Firo dengan besi itu berulang kali. Firo masih tak bergeming, ditahannya rasa sakit akibat pukulan benda padat itu.
"Aku bisa menghabisi mu sekarang! Tapi apa kamu tega melihat anak dan istrimu mati bersamamu?"
__ADS_1
Sony kembali mengangkat wajah Firo yang lebam.
"Lihatlah istrimu di sana, Aku bisa menghabisi mu sekarang juga," ucap Sony sambil menunjuk layar CCTV yang menayangkan Medina yang telah tertidur di meja operasi.
"Aku bisa membunuhnya sekarang tanpa perlu bernegosiasi denganmu. Namun karena ayahmu memohon kepada ku. Aku akan memberimu kesempatan untuk berpikir sekali lagi!" Sony menarik rambut Firo ke belakang agar melihat kearah monitor.
Di layar monitor terlihat Medina sedang tidur yang sengaja dibius di ruangan yang lebih mirip tempat operasi itu. Terlihat dari beberapa alat medis yang berjejer rapih di meja sebelahnya.
"Kenapa kamu menyuruhku bergabung denganmu?"
Firo merendahkan emosinya.
"Karena kamu adalah generasi kedua ayahmu!" tegas Sony, "Ketua kami menginginkan kamu menjadi penerus ayahmu,"
"Sekarang kamu pilih, Bergabung bersama kami atau kalian lebih memilih mati?" Sony mengarahkan pisau ke muka Firo.
***
Di ruangan lain,
Medina membuka matanya perlahan. Dia baru menyadari kalau sekarang ia sedang tertidur di atas kasur ortopedi yang sering digunakan untuk operasi. Medina langsung terperanjat ngeri ketika melihat di sampingnya sudah berjejer rapih beberapa alat bedah di atas meja sebelahnya.
Medina melihat ke penjuru ruangan di sekelilingnya. Ruangan yang ditempatinya itu terlihat lebih mirip seperti bangunan tua, Tembok ruangan sudah berwarna putih kusam dengan cat yang banyak mengelupas. Bahkan ruangan itu terlihat lembab dan bau. Ada kengerian di hati Medina ketika mendapati dirinya berada di situ.
Dimana aku? Sepertinya aku dalam bahaya. Batin Medina.
Sekarang ia sudah sampai pintu. Berkali-kali Medina mencoba membuka pintu itu, Namun tetap tidak berhasil. Rupanya pintu itu terkunci dari luar.
"Siapapun tolong aku... " teriak Medina sambil terus menaik turunkan handel pintu berulang kali.
Tok.. tok.. tok..
Berkali-kali pintu itu ia ketuk dengan keras. Tapi tetap tidak ada yang menyahut. Hanya ada keheningan dan terdengar beberapa tetesan air yang terjatuh dari wastafel di kamar itu.
Keringat dingin mulai membasahi baju Medina, Ia sangat ketakutan ingin segera keluar.
Ini semua salahku karena tidak menuruti suamiku. Pasti semua orang sedang mencari ku. Batin Medina sambil menangis menyesali.
"Tolooong," teriak Medina lagi lebih keras sambil menangis.
Tidak ada sahutan Medina begitu putus asa sambil terus menahan rasa mulas di perutnya.
Berulang kali meminta tolong tetap saja tidak ada yang membukanya. Medina terlihat frustasi pikirannya buntu, Karena lelah ia merebahkan dirinya di lantai sambil menahan perutnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian lampu tiba-tiba padam seketika. Seluruh ruangan di tempat itu gelap gulita termasuk ruangan tempat Medina sekarang.
Melihat semuanya menjadi gelap Medina sangat ketakutan dipegangnya erat perutnya sambil terus berdoa didalam hati meminta pertolongan kepada Tuhan.
Ruangan itu begitu gelap dan dingin membuatnya sedikit menggigil karena udara di ruangan itu sangat lembab.
Baru beberapa detik lampu padam, Medina seperti mendengar suara langkah kaki mendekat kearah ruangannya dan terdengar suara pukulan benda dari luar. Tak sampai menunggu lama ia mendengar suara pintu sedang di buka dari luar.
Medina begitu pasrah terduduk di lantai sangat ketakutan mendengarkan dengan seksama siapa yang akan masuk. Jantungnya berdetak sangat kencang.
Seorang yang tidak ia ketahui mukanya menarik tangannya, "Cepat kita harus keluar dari sini!" Orang itu berbicara didekatnya sambil merangkul Medina membantunya agar bangun dan pergi dari situ.
Karena gelap Medina tidak melihat siapa orang yang menyuruhnya bangun. Sepertinya Medina juga mengenali pemilik suara itu, "Tunggu siapa kamu?" tanyanya.
Seorang pria berumur lebih dari setengah abad itu membantu mengangkat tubuh Medina agar bangun. Ia ingin mengamankan wanita hamil itu menjauh dari tempat yang lebih mirip ruangan pembantaian itu.
"Nanti kamu akan tau, Sekarang kita harus cepat pergi. Mereka akan membunuhmu dan anakmu!" ujar Pria itu.
Medina yang dari tadi ketakutan nampaknya percaya dengan apa yang diucapkan pria di sebelahnya. Hatinya seperti yakin kalau dia akan menolongnya.
"Jangan banyak berbicara agar kita tidak tertangkap!"
Dengan gerakan cepat Medina dan pria itu keluar ruangan. Dua pengawal yang ada di depan ruangan itu sudah di lumpuhkan sebelum pria itu membawa Medina. Setelah sampai pintu depan kamar, Pria tua menuntun Medina agar berjalan mengikutinya. Sambil mengamati dalam kegelapan pria itu terus melangkah ke depan.
Sepertinya Pria itu sudah mengetahui denah rumah yang lebih mirip dengan hotel yang sudah tak terpakai. Ia sudah tau setiap sudut rumah walaupun suasana gelap sekalipun.
"Ikuti aku!" Pria itu membawa Medina menuju pintu rahasia menuju keluar.
Entah mengapa ia begitu yakin kalau pria yang membawanya akan menolongnya. Padahal Medina orang yang sangat susah mempercayai orang. Namun saat genting seperti ini ia begitu sangat percaya bahwa orang yang membawanya akan menolongnya.
Kini mereka sudah masuk melewati pintu rahasia dan lampu kembali menyala. Semua yang gelap kembali terang, Bahkan Medina baru tau kalau sekarang ia berada di terowongan. Beberapa cahaya yang terpancar dari lobang di atas terowongan membuat terowongan itu sedikit terang. Walaupun terlihat samar ia bisa melihat dengan jelas.
Mata Medina membulat sempurna ketika mengetahui siapa pria yang menolongnya.
"Kau, "
###
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.