Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Jalan Berdua


__ADS_3

Sinar matahari masuk melalui jendela kamar mereka begitu hangat menyentuh tubuh. Medina melihat jam masih menunjukan pukul sepuluh siang. Medina yang dari tadi masih duduk di samping jendela. Seperti malas melakukan kegiatan apapun hari itu.


Sebenarnya minggu itu adalah hari libur Medina, namun karena Bi inah masih ijin libur, terpaksa Medina harus menemani Firo dan menunda liburnya.


"Aku tahu kamu pasti bosan, apalagi hari ini harusnya kamu bisa keluar," ujar Firo.


Medina yang diajak bicara hanya diam, " Bagaimana kalau kita pergi keluar bersama?" Firo memulai pembicaraan.


Melihat Medina yang dari tadi masih melamun di pinggir jendela membuatnya tidak tega.


"Lalu, Bagaimana caranya? Kalau tidak ada Bi inah , pasti penjaga di sana tidak bisa mengijinkan kita keluar" Medina mulai mendengus kesal.


"Kita jangan lewat pintu depan!" seru Firo.


"Lalu kita mau lewat pintu mana lagi?" tanya Medina.


"Aku bisa membuatmu keluar dari sini, Honey. Kita akan lewat taman samping," Firo mendekati Medina yang sedang duduk.


"Tapi Daddy tak mengijinkan siapapun melewatinya," lirih Medina.


"Kita akan pergi diam-diam, ikutlah denganku!" sahut Firo.


Dengan memakai hoddie dan celana panjang Firo menarik tangan Medina yang dari tadi tidak begitu bersemangat.


Medina yang merasa tidak yakin akhirnya menuruti Firo dan mengikutinya dari belakang.


Mereka berjalan ke samping taman yang jaraknya lumayan dekat dibandingkan rumah utama.


Mereka melewati rumput yang tinggi dan pohon yang tidak terawat, daun-daun pun tampak berserakan. Medina heran dengan tempat itu kenapa Tuan Bram tidak pernah menyuruh salah satu pegawai untuk mengurus taman itu padahal Taman yang lainnya tampak begitu asri dan terawat, beda dengan taman ini yang seperti dilupakan.


"Lewat sini, dulu waktu kecil aku sering keluar lewat sini bersama ibu kalau mau mengunjungi kakek," bisik Firo ke telinga Medina.


Firo membuka salah satu kayu yang tidak mirip seperti pintu dengan mendorong keras. Itu adalah jalan rahasia Firo kalau mau keluar diam-diam, dan hanya dia yang mengetahuinya.


"Kamu berpikir gak sih,kita seperti main kucing-kucingan," ucap Medina masih membuntuti Firo.


"Anggap saja begitu," bisik Firo pelan.


Firo berhasil membuka salah satu batas taman itu, mereka lalu berjalan ke arah belakang.


"Tanaman apa itu?" Medina penasaran dengan tanaman yang agak jauh dari samping dia berdiri.


"Aku tidak tau!" jawab Firo, "Kita jangan lewat situ, disitu ada CCTV" tunjuk Firo ke arah tanaman


yang belum pernah Medina lihat sebelumnya.


Bentuk tanamannya Menjari yang tingginya rata-rata hampir sama dengan tinggi orang dewasa. Medina melihat hamparan tanaman itu yang sangat banyak dan jenisnya sama.

__ADS_1


Karena tujuannya bukan ke sana akhirnya Medina mengikuti Firo lagi.


Mereka berjalan lumayan jauh sampai ke ujung.


Di ujung taman itu ada dinding tembok yang sangat besar, Firo sengaja mencari tembok yang paling ujung yang tidak terdapat duri di atasnya. Agar mereka bisa naik ke pagar dinding itu tidak terluka. Firo nampak menguasai area itu.


"Naiklah ke punggungku " Firo duduk jongkok menyuruh Medina segera naik.


"Ah, baiklah!" Medina akhirnya kaki Medina naik ke atas punggung Firo. Dengan hati-hati Firo mengangkatnya, walaupun tubuh Medina kurus tetap saja Firo nampak keberatan.


Hupp


Dengan susah payah mereka berhasil melewati tembok itu. Mereka berjalan berhati hati karena tepat di bawahnya tempat pembuangan air yang hanya bisa di lalui satu orang itupun kaki mereka sedikit direntangkan.


Setelah lewat jalan itu mereka melewati tempat pembuangan sampah dan akhirnya mereka sampai di gang kecil menuju jalan besar bertolak belakang dengan posisi depan rumah Tuan Bram.


"Huft... akhirnya sampai juga, pengorbanan kita tidak sia-sia" Medina menarik panjang nafasnya.


"Setelah ini kita mau kemana? Aku ikut denganmu, Honey"


"Kalau begitu ikutlah denganku" Medina menarik tangan Firo.


Karena jarak yang dituju jauh akhirnya mereka menaiki bus.


Setelah sepulu menitan bus itu akhirnya sampai ditempat tujuan.


Banyak orang yang memperhatikan mereka bahkan gadis-gadis tak berhenti melihat Firo, Rasanya membuat risih Medina.


"Bibirnya merah sekali tu cowok, uuu...seksinya.." Seseorang berbisik ke temannya.


"Iya, ganteng banget mirip lee jong suk," temannya balas berbisik.


Medina menatap tajam kepada mereka berdua tidak suka.


Firo yang tidak memperdulikan malah terus berjalan.


"Bisakah kamu menutup mukamu," ucap Medina sambil menarik penutup hoddie yang di pakai Firo ke kepalanya.


"Memangnya ada yang salah dengan mukaku?" tanya Firo.


"Ah tidak! Aku hanya takut orang rumah mengenalimu" Medina berkelit.


"Bilang saja kalau kamu cemburu!" ledek Firo senang melihat perubahan di wajah Medina.


"Apaan sih! Aku cuman tidak suka kamu jadi bahan pembicaraan mereka" Medina berjalan dengan cepat meninggalkan Firo.


Firo mengikutinya dan langsung menggandeng tangan Medina.

__ADS_1


"Kalau kamu jauh dariku, nanti kamu bisa di culik lagi," bisik Firo dengan suara seraknya, "Jangan jauh dariku!" tambahnya.


Tangan Firo begitu erat dan hangat menggenggam tangan Medina seakan dia memastikan bahwa dirinya tidak mau jauh darinya.


Mereka terus berjalan. Sebelum sampai tujuan Medina melihat sebuah mesin pencapit boneka.


"Kita main itu yuk.," pinta Medina, "Aku mau yang itu!" tunjuk Medina ke salah satu boneka berbentuk beruang.


"Baiklah aku akan membeli koinnya dulu."


Kemudian Firo datang dengan membawa sepuluh koin di tangannya.


Medina lalu memasukkan koin pertamanya, Dia lalu memencet tombol dan mengarahkan pencapit ke arah boneka impiannya. Tetapi dia gagal mendapatkannya.


Medina kembali memasukkan koin ke-2.. tetapi gagal lagi. Masukan koin ke-3 gagal lagi, hingga koin ke-9 pun dia tetap gagal tidak mendapatkan boneka satu pun.


Medina menyerah, sementara Firo yang dari tadi melihatnya tertawa dengan ekspresi Medina yang kesal karena berulang kali usahanya gagal. Bahkan anak kecil yang dari tadi melihatnya mencibirnya.


Firo kemudian mengambil satu koin terakhir di tangan Medina. dia memasukkannya dan mengarahkan pencapit ke arah boneka pilihannya.


Setelah dirasa pas Firo memencet tombol merah. Dan....


Drrrrttttt.. Boneka berhasil di tangkap nya.


"Yes...akhirnya berhasil juga!" Karena saking takjub nya Medina sampai memeluk Firo.


Boneka beruang itu langsung diambil Medina dengan senang.


"Kamu hebat sekali, padahal dari tadi sudah sembilan kali gagal mencobanya, Kamu yang hanya sekali langsung dapat!"


Medina sangat senang di peluknya boneka yang cukup lembut itu.


Mereka berdua kembali berjalan ke arah tempat tujuan mereka. Beruntung cuaca hari itu sedikit mendung sehingga walaupun berjalan di siang hari tidak terasa panas.


Akhirnya mereka sampai di tujuan.


Hembusan angin laut sudah terasa seperti mengucap selamat datang kepada mereka. Mereka berjalan mendekat ke bibir pantai.


"Huuuu.... akhirnya aku bisa kesini lagi!" Medina berlari kecil membuka sandalnya berjalan di atas pasir pantai.


Medina berjalan semakin ke tengah dan kakinya sudah menyentuh air pantai. Dia merentangkan tangannya seperti sedang menikmati kebebasan.


Saat itu udara Mendung, hanya beberapa pengunjung yang berlalu lalang di sana. Firo melihatnya tampak begitu bahagia.


"Berjanjilah padaku suatu saat kita akan kembali kesini lagi berdua," pinta Firo.


Medina mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2