
"Apa?" Sontak Geya dan Shaka berbarengan.
"Wah, sepertinya mereka memang kompak," ucap Nyonya Stella menanggapi mereka yang berkata dengan nada dan ucapan yang sama.
Mereka akhirnya sama sama terdiam karena sindiran Nyonya Stella.
Acara makan malam berakhir. Tuan Bram lebih banyak bercerita tentang hidupnya yang dahulu ketika baru merintis usahanya yang pernah bangkrut. Firo sama sekali tak mengeluarkan suara apapun menurutnya yang berkaitan dengan Shaka itu sudah tidak penting baginya.
"Aku pamit duluan," Ucap Firo berdiri meninggalkan Mereka yang masih berbincang.
"Aku duluan Om dan Tante," ucap Medina mengikuti Firo.
"Iya nak," ucap Bu Sam menjawab.
Wajah Firo sangat dingin dan tanpa ekspresi.
"Anak anak anda sangat tampan sekali Pak Bram," ucap Bu Sam memperhatikan Firo.
"Oh ya jelas, Daddy nya juga ganteng" jawab Tuan Bram.
"Firo yang akan menggantikan posisiku di resort," ucap Tuan Bram lagi.
Mendengar pernyataan itu Sony seperti tidak menyukainya.
Sony undur diri dari ruang makan disusul Syerli di belakangnya.
Nyonya Stella menyela pembicaraan mengenai Firo, "Sebaiknya langsung menikah saja tidak usah ada acara tunangan segala. Takut gagal lagi seperti yang sudah-sudah" ujarnya lagi.
Geya semakin tidak nyaman mendengar arah pembicaraan mereka yang mengarah kepada ia dan Shaka.
"Sepertinya di luar udara sangat sejuk. Om dan Tante, aku ijin mau ke depan mau menghirup udara segar di luar dulu," ucap Geya.
"Ya, nak" ucap Tuan Bram.
Geya meninggalkan mereka berlima. Tetapi belum beberapa menit,
"Kalau gitu Shaka kamu temani Geya di luar," ucapnya kepada Shaka.
Shaka di sebelahnya melotot.
Belum sempat bernapas lega tubuh Shaka sudah di dorong duluan oleh ibunya.
"Sebaiknya temani dia kasian dia sudah jauh jauh datang kemari," bisik Nyonya Stella kepada Saka.
"Tolong temani Geya ya nak Shaka," Ucap Bu Sam.
Karena permintaan Bu Sam Shaka merasa tidak enak dan segera menyusul Geya keluar.
***
Sebelum keluar rumah, Geya sempat bertemu Medina.
Mereka saling bertegur sapa dengan tersenyum.
__ADS_1
"Anda mau kemana, Nona?" tanya Medina.
"Aku bosan di dalam kak," jawabnya.
"Apa perlu aku temani, Nona?" ucap Medina.
"Ah, panggil saja Geya. Baiklah kak" Sahut Geya.
Mereka akhirnya keluar bersama. Mereka tidak tahu Shaka mengikutinya dari belakang.
"Kenalkan nama aku, Medina" Medina mengulurkan tangannya di sambut oleh Geya sambil menunjukan senyum manisnya.
Mereka duduk bersebelahan di kursi taman.
"Tamannya sangat indah di sini," ucap Geya.
"Kakak menantunya Tuan Bram kan? kakak sangat cantik" tanyanya lagi.
Geya melihat Medina yang begitu anggun di balut dress warna biru muda. Dandananya begitu natural namun memancarkan aura kecantikan alaminya.
"Terima kasih, kamu juga cantik Geya. Sebentar lagi kamu juga akan menjadi bagian dari rumah ini," ujar Medina.
"Tapi kak, aku tidak suka dengannya. Lelaki itu, "
"Maksud kamu, Shaka?" tanya Medina.
"Ya lelaki sombong itu," sahut Geya terang terangan.
"Apa kamu sudah mengenal Shaka sebelumnya? " tanya Medina.
Geya mengangguk.
"Iya kak, dia sangat angkuh, sombong, dan tidak pernah merasa bersalah. Aku tidak mau di jodohkan dengan lelaki seperti itu," jelas Geya.
Kemudian Geya menceritakan awal mula bertemu dengan Shaka. Medina menjadi pendengar setia di sebelah nya.
Geya juga sedikit bercerita tentangnya. Terkadang mereka tertawa bersama mendengar kejadian lucu yang Geya alami. Mereka terlihat sangat akrab.
"Wah kamu sangat mandiri, aku salut sama kamu Geya," ucap Medina kagum dengan kepribadian Geya.
"Sebenarnya Shaka tidak seperti itu, mungkin karena kamu belum mengenal dia lebih baik," ucap Medina lagi.
"Ah, tetap saja dia begitu menyebalkan.Tadi aja dia injak kaki aku" sahut Geya.
"Oh yang tadi itu, berarti yang di maksud tikus itu Shaka," ucap Medina menutup mulutnya.
"Ya, tikus berambut hitam maksudnya" ucap Geya.
Mereka kembali tertawa bersama.
"Ehm.. ehm" Shaka dari belakang bergumam karena mendengar mereka berdua menertawakannya.
"Kak, sekarang giliran kakak dong yang cerita tentang kakak. " ucap Geya tak menanggapi Shaka.
__ADS_1
Belum sempat bercerita Medina sudah melihat Shaka duluan di belakangnya.
"Geya, maaf sepertinya kakak masuk duluan tidak enak kalau harus mengganggu waktu kalian," ucap Medina.
"Tidak kak, kakak ngga ganggu, justru dia yang ganggu," tunjuk Geya kepada Shaka.
Shaka melotot ke arah Geya ternyata dia sudah menguping dari tadi.
"Kalian menertawakan aku," ujar Shaka marah.
"Aku masuk duluan ya," ucap Medina terhadap mereka yang masih sama menunjukan perasaan marah.
Setelah Medina meninggalkan Shaka dan Geya berdua. Suasana begitu sangat hening karena mereka sama sama diam. Mereka duduk berjauhan di kursi taman yang berbeda.
"Ngapain kamu kesini?" ketus Geya memecah keheningan.
"Jangan gede rasa kamu, Kalau bukan suruhan ibumu, aku juga males menemani mu!" sahut Shaka tidak mau kalah.
"Aku ngga mau di temani kamu, mendingan sana kamu masuk!" rajuk Geya memalingkan mukanya.
"Sudah aku bilang bukan aku yang mau" Shaka tak mau kalah.
"Mengenai perjodohan itu, aku tidak mau di jodohkan sama kamu!" gerundel Geya.
Shaka tidak mau kalah, "Aku juga tidak mau".
"Kalau gitu, kamu bilang ke ayahmu kalau kamu ngga mau dijodohin," ucap Geya lagi.
"Kenapa tidak kamu saja!"
"Sebaiknya kamu saja, papa ku punya penyakit jantung kambuhan kalau aku yang menolaknya bisa bisa jantung papa ku kambuh lagi!" jelas Geya.
Shaka lagi lagi tidak mau kalah, "Kalau aku menolak keinginan Daddy itu percuma."
"Berarti kamu memang mau di jodohkan denganku," ucap Geya kesal.
"Siapa juga yang mau di jodohkan denganmu, lagian kamu bukan tipeku, terlalu kekanakan!" balas Shaka.
"Ih, Aku juga tidak mau denganmu yang egois"
Mereka berdua saling berdebat tidak mau kalah.
"Lama-lama mukaku cepat keriput disini, sebaiknya aku masuk," Geya lalu meninggalkan Shaka sendiri.
Shaka masih memperhatikan Geya yang berjalan menjauhinya.
Kenapa aku bisa bertemu lagi mahluk seperti itu disini? gumamnya dalam hati.
Geya membalikan mukanya kembali ke arah Shaka.
Sudah aku duga kamu pasti tertarik padaku. Ucap Shaka lagi dalam hati.
Menurut Shaka wanita yang membalikan mukanya ke arah lelaki ketika berjalan, Menandakan sang wanita mengharapkan lelaki itu.
__ADS_1