
Tatapan mata Firo bertemu langsung dengan Sony yang melewatinya. Medina langsung memegang bahu suaminya agar mengajaknya segera pergi.Ia tak mau ada keributan di pagi itu.
Sony berjalan menuju kamarnya hendak mengganti bajunya.
Sony melihat Syerli sedang duduk membelakangi nya.
"Kenapa kamu menghianatiku?" tanya Syerli kepada Sony yang sedang mengambil baju di lemarinya.
"Aku minta maaf, aku khilaf" ucap Sony menghentikan gerakannya.
"Tapi kenapa? Sejak kapan kamu menghianatiku?" tanya Syerli sambil terisak.
Sony tahu dia salah kepada istrinya. Bagaimanapun ia juga mencintai Syerli walaupun awalnya tidak suka lantaran pernikahannya karena di jodohkan Tuan Bram.
Ia mendekap wajah istrinya yang terus menangis di dadanya,"Maafkan aku" ucapnya.
"Apa karena aku tidak bisa memberimu keturunan? " Syerli memukuli dada suaminya.
Tangis Syerli pecah di pelukan suaminya. Sony terus mendekapnya sambil sesekali menyentuh rambut istrinya yang lurus.
"Maafkan aku," hanya itu yang ia terus ucapkan.
"Apa kamu akan menikahinya?" Syerli terus menangis di pelukan suaminya.Sangat sakit hatinya namun ketika Sony memeluknya dengan erat rasa sakit itu berubah menjadi kedamaian seakan tak menginginkan tubuh itu melepas pelukannya.
Sony menghembuskan nafasnya panjang, " Aku akan menikahinya, tapi tenang saja aku tetap akan mencintaimu dan menjadikanmu istri utama untukku"Sony menghapus air mata yang ada di pipi Syerli.
"Aku hanya menginginkan anak dari wanita itu, tidak lebih" ucapnya sambil membelai wajah istrinya yang terus menangis.
Syerli tau rasanya seperti apa tidak memiliki ayah waktu kecil.Syerli yang terlahir tanpa ayah membuatnya sangat merindukan sosok ayah. Ketika ibunya menikah dengan Tuan Bram ia sangat senang mengharapkan dia akan mendapatkan kasih sayang dari Tuan Bram.
Namun kenyataan lain, ternyata Tuan Bram tidak menyayanginya seperti anak kandungnya.Syerli tidak mau anak dalam perut wanita yang di hamili suaminya tanpa ayah seperti dirinya.
"Aku akan membiarkanmu menikah dengannya, asalkan setelah anak itu lahir kamu segera melepasnya dan anak itu untukku," pinta Syerli kepada suaminya.
Sony mengangguk, "Aku berjanji sayang, lagian wanita itu masih sekolah, aku hanya menikahinya di bawah tangan, setelah anak itu lahir aku akan segera menceraikannya. Aku janji anak itu akan aku miliki sebagai penerus ku dan menjadi anakmu juga"ucap Sony.
__ADS_1
Sony memegang wajah Syerli mendekat ke arahnya. Ia lalu membenamkan bibirnya ke mulut istrinya.Udara pagi yang begitu semakin panas ketika Sony membelai dengan begitu panas tubuh istrinya. Syerli yang semula menangis mendadak terhenti karena aksi suaminya.
Mereka membenamkan tubuh mereka di balik selimut lalu dengan panasnya melakukan olahraga pagi.
Sebenci dan sesakit apapun Syerli kepada Sony. Ia tetap menginginkan suaminya itu tetap bersamanya. Ia sudah mulai tidak peduli dengan kesalahan suaminya. Baginya Sony masih bersamanya adalah sebuah kebahagiaan untuknya.
***
Medina sudah tidak menjaga Niko di rumah sakit lagi. Karena sudah ada ibunya yang gantian menjaga.Luka di wajah Niko pun sudah mulai membaik.
Medina menghubungi orang tuanya tentang Sony yang akan menikahi Niki.Keluarganya di buat kaget karena Sony tiba-tiba mau menikahi Niki.
Hari ini Medina akan di rumah terus sambil menunggu suaminya pulang. Ia lebih memilih tinggal di kamar lamanya dari pada di rumah utama.
Firo berpamitan dengan istrinya ketika ingin pergi ke hotel. Medina mencium punggung tangan suaminya di susul Firo yang mencium keningnya.
Setelah melambaikan tangan ke arah suaminya yang sudah di dalam mobil. Medina lalu meninggalkannya setelah mobil melaju ke depan.
Medina kembali ke aktifitas awalnya yaitu berkebun lagi. Ia mulai merawat lagi tanaman yang sudah mulai layu di taman. Medina menyirami bunga-bunga dan merapihkan tanaman agar terlihat cantik.
"Sepertinya kamu sangat menikmati merawat bunga-bunga itu," ucap Tuan Bram mendekati Medina.
Medina terkaget ketika mertuanya sudah berdiri di depannya. Ia yang sedang menggunting ranting bunga yang patah menghentikan aktifitasnya.
Senyumnya ia arahkan ke mertuanya, tumben-tumbenan Tuan Bram ada di taman dekat kamarnya. Biasanya ia terlihat sangat sibuk karena pagi-pagi harus bekerja.
"Aku kira siapa, Daddy sudah lama ada di sini?Aku sangat suka bunga makanya aku sangat senang merawatnya, " sahut Medina.
Tuan Bram melihat bunga-bunga di taman itu membuat matanya seperti di buat segar kembali karena warna warni bunga yang terlihat indah dan terawat.
"Barusan aku lewat disini, kamu sangat pandai merawatnya. Daddy senang kamu bisa menjadikan taman di belakang ini menjadi lebih hidup lagi, " puji Tuan Bram.
Medina tersipu mendengar pujian mertuanya, "Terima kasih atas pujiannya, Daddy" sahutnya.
"Kamu juga sangat pandai merubah Firo menjadi seperti sekarang. Ia sudah kembali seperti dulu lagi. Daddy sangat berterima kasih kepadamu karena kamu, Firo sudah kembali lagi" ujar Tuan Bram.
__ADS_1
"Sepertinya suamiku sendiri yang merubah dirinya sendiri, aku hanya memberikan sedikit semangat untuknya, " sahut Medina yang berdiri tidak jauh dari mertuanya.
Dua orang pengawal yang biasa mengikuti Tuan Bram berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Besok lusa, Aku akan menemui ayahmu ingin membahas masalah Sony yang sudah menghamili adikmu, " ujar Tuan Bram.
" Daddy akan ke rumahku? " tanya Medina.
Tuan Bram mengangguk, "Bagaimanapun juga Sony adalah anak yang sudah aku angkat dari kecil, aku juga harus bertanggung jawab menyelesaikan masalah ini, " ujar Tuan Bram.
"Baik Daddy aku akan memberitahukan kepada orang tuaku agar bersiap menyambut anda, Orang tuaku pasti senang menyambut niat baik Daddy, " sahut Tuan Bram.
"Berapa usia kandungan adikmu? " tanya Tuan Bram lagi.
"Kata dokter Niki sudah hamil sekitar tiga bulan, kemarin kehamilannya sudah di periksa dan kandungannya dinyatakan sehat, " ucap Medina. Ia senang Tuan Bram sangat perhatian kepada adiknya.
Tuan Bram berdiri tidak jauh dari Medina sambil ikut membantunya merapihkan ranting tanaman agar terlihat rapih.
"Aku sangat senang akhirnya aku bisa mempunyai cucu, walaupun cucu itu bukan dari anak kandungku," ujar Tuan Bram.
"Aku juga senang karena sebentar lagi aku akan memiliki seorang ponakan" sahut Medina.
"Berarti kamu sangat menyukai anak kecil, " ucap Tuan Bram.
Medina mengangguk.
"Dari kecil aku terbiasa merawat Niko dan Niki dari masih bayi, " ucap Medina sambil tersenyum. Tangannya masih ia gerakkan merapihkan bunga-bunga.
"Kalau begitu kamu sudah mengerti cara merawat bayi? " tanya Tuan Bram.
"Sedikit sedikit mungkin bisa," ucap Medina.
"Kalau kamu bisa,Kapan kamu memberiku seorang cucu? " tanya Tuan Bram kepada Medina.
Pertanyaan Tuan Bram membuatnya tersentak. Guntingnya tak sengaja memotong habis bunga yang seharusnya tak di potong karena terkaget dengan pertanyaan mertuanya.
__ADS_1
Kapan kamu memberiku seorang cucu? pertanyaan itu kembali muncul di kepalanya.