Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Firo yang Khawatir


__ADS_3

"Maafkan aku tadi malam, Honey" ucap Firo sambil memeluk istrinya dari belakang. Dia sangat merasa bersalah.


Pagi itu mereka masih terbaring di atas tempat tidur dengan selimut masih menempel di kedua tubuh mereka.


Tidak mungkin Medina memarahinya. Bagaimanapun juga Firo adalah suaminya, Ia berhak melakukannya. Hanya saja kelakuan Firo tadi malam begitu buas tidak seperti biasanya.


"Apa perutmu masih kram, Honey?" tanya Firo begitu khawatir.


Medina menggeleng.


Tadi malam Firo segera menyudahi permainannya ketika istrinya berteriak kalau perutnya kram. Kalau tidak, Bisa satu jam lebih Firo tak menghentikannya. Semuanya diluar kendali Firo.


"Apa aku melukai anakku!" tangannya mengelus perut istrinya yang sudah membuncit. Usia kandungan Medina sudah memasuki bulan kelima.


Firo baru sadar kalau istrinya sedang hamil. Ia takut terjadi apa-apa dengan anaknya.


"Maafkan aku," Firo mengecup rambut istrinya dari belakang, "Aku tidak akan seperti itu lagi."


Medina masih membelakanginya. Firo tidak tahu kalau istrinya sedang tersenyum senyum sendiri di balik selimut.


Medina menengok tubuhnya di balik selimut yang sudah tertempel stempel di mana-mana.


"Sebaiknya kita pergi ke dokter sekarang! Aku takut terjadi apa-apa dengan anakku," ucap Firo masih memeluknya. Ia begitu sangat khawatir.


Firo begitu menyesal memperlakukan istrinya begitu buas tadi malam. Padahal sebelumnya Firo sudah di beritahu dokter agar melakukannya dengan lembut.


"Ini semua gara-gara Shaka," umpat Firo kesal.


Firo sangat takut istrinya pasti semakin membencinya.


***


Pagi itu juga mereka pergi ke dokter. Beruntung kandungan Medina sudah memasuki trisemester kedua dan kandungan istrinya sangat kuat. Sehingga bayi yang ada diperutnya baik-baik saja.


Firo mencium perut istrinya yang sudah mulai membuncit berulang kali. Firo tahu kalau Medina tidak mau melihat mukanya. Demi menjaga mood istrinya, Setiap hari ketika berbicara dengan istrinya ia selalu menggunakan masker untuk menutup sebagian mukanya.


"Maafkan aku, Tadi malam aku sedang tidak sadar" ucap Firo.


"Sudahlah sayang, aku sudah tidak kenapa-napa," sahut Medina.


Tetap saja Firo begitu khawatir. Firo begitu sangat menyesal, Berulang kali ia meminta maaf kepada Medina di mobil.


Medina merasa malu dengan sikap Firo yang membahas kejadian tadi malam terus menerus bahkan ia secara gamblang menceritakannya kepada Dokter yang memeriksa kandungan Medina.


Dokter yang mendengarkan Firo hanya tersenyum menanggapi.


Anda sangat hebat, Tuan. Batin Dokter sambil tersenyum.


Berulang kali Medina menutup mukanya yang malu.


Setelah memastikan kandungannya baik-baik saja mereka lalu pulang ke rumah. Walaupun mereka belum mengetahui jenis kelamin anak mereka. Firo begitu senang tidak terjadi hal yang buruk terhadap anaknya.


Di rumah,

__ADS_1


Ny.Vika bersama yang lainnya sudah menunggu di rumah. Mereka tidak mengetahui kenapa pagi-pagi sekali Medina dan Firo pergi ke rumah sakit. Ny.Vika merasa sangat khawatir.


"Shaka, katakan kepada ibu apa yang terjadi?"


Shaka mengangkat bahu tidak tahu. Dia memang merasa bersalah. Tapi menurutnya yang dilakukannya juga bukan sebuah kejahatan.


Setelah mereka pulang Ny.Vika mencecar berbagai pertanyaan kepada mereka berdua. Medina langsung menjelaskannya. Ny.Vika kembali tenang ketika mengetahui anak dan cucunya baik-baik saja.


"Minumlah susu kedelai ini. Sangat baik untuk ibu hamil," ucap Ny.Vika menyodorkan minuman kepada Medina. Ia lalu meraihnya dan meminumnya. Ny.Vika sangat perhatian dengan calon cucunya.


Mereka duduk bertiga di ruang tengah bersama Agung yang sedang menonton TV.


"Nona, Syal yang dipakai nona sangat bagus. Warnanya bikin gemes," ucap Agung kepada Medina. Tumben-tumbenan majikannya memakai syal di lehernya.


Agung tidak tahu kalau Medina sengaja menutup lehernya dengan Syal karena kelakuan suaminya.


"Benarkah Agung? Ya mungkin aku lebih cocok kalau pakai syal seperti ini," sahut Medina malu.


Sementara di belakang, Firo sedang menatap sinis ke arah Shaka. Pria bule itu hanya diam tak berani menatap saudaranya.


****


Di kamar Tuan Bram.


Bunyi dering di handphonenya begitu nyaring membangunkan tidur Tuan Bram di tengah malam.


Tuan Bram mengucek sebelah matanya yang baru saja terbuka perlahan. Diraihnya handphone di nakas sebelah tempat tidurnya.


"Selamat malam, Daddy"


Suara itu!


Didengarnya lagi dengan seksama suara itu, Tidak begitu asing baginya.


"Siapa kamu?" tanya Tuan Bram di telepon.


Seorang yang meneleponnya sedang tersenyum di tempatnya.


"Apa Daddy tidak mengenal suaraku?"


Tuan Bram mencoba menerka lagi siapa pemilik suara itu. Dia menyalakan lampu kamarnya yang sengaja ia gelapkan ketika tidur.


"Apa kamu sudah melupakan aku, Daddy?"


Sony. Pasti dia Sony. Batin Tuan Bram. Bukankah dia sudah meninggal?


Tuan Bram langsung bangun dari tempat tidurnya. Dia sedikit membuka jendela kamarnya. Dari atas dia melihat Sony dengan jaket hitamnya melambaikan tangan kepadanya di bawah.


"Sony! Kau kah itu?" tanya Tuan Bram di teleponnya.


Tuan Bram mendadak tidak tenang.


"Apa kamu merindukan ku, Daddy? Bagaimana kabarmu sekarang?"

__ADS_1


Sony tersenyum. Dia menelepon tidak jauh dari rumah Tuan Bram. Kebetulan salah satu jendela Tuan Bram bisa melihat ke arah luar jalan. Sony tengah berdiri di bawah pohon sambil menelepon menghadap ke kamar Tuan Bram.


"Maaf Sony! Aku kira kamu sudah meninggal," sahut Tuan Bram ketakutan.


Dada Tuan Bram bergemuruh. Di dalam pikirannya bukankah Sony sudah meninggal. Tidak mungkin seorang hantu bisa meneleponnya. Dilihatnya lagi keluar jendela. Sony masih berdiri sambil melihat kearah kamarnya.


"Bagaimana perkembangan bisnismu sekarang? Apa kamu sudah tidak membutuhkan aku,"


Deg.


Ah sial! Kenapa anak itu masih hidup! Kalau begini caranya bisnisku bisa bocor.


Sony pasti akan membalas dendam padaku.


Tuan Bram menutup teleponnya. Dia lalu menutup jendelanya juga. Tuan Bram sangat ketakutan. Ia mengelap keringatnya yang bergulir di dahinya.


Dering di telepon kembali berbunyi. Tuan Bram menghiraukan panggilan telepon itu. Sony berulang kalinya menghubunginya lagi. Tapi Tuan Bram tetap tidak menerima telepon dari Sony.


Sebuah pesan masuk di Handphonenya dari Sony.


Kalau kamu tidak mengangkat teleponku. Aku akan terus meneror mu, Daddy!.


Sebelum mematikan handphonenya ia membaca isi pesan itu.


Dipikiran Tuan Bram masih memikirkan bagaimana caranya agar bisnis haram yang sudah lama tak dilakoninya tidak tercium polisi. Lima menit berlalu Tuan Bram belum menyalakan lagi Handphonenya. Sementara Sony dibawah masih menunggunya.


Tiba-tiba.


Prank!!


Kaca jendela milik Tuan Bram ada yang melempar dengan batu. Pelakunya pasti Sony karena kesal dengannya, Ia sengaja melempar batu ke jendela kamar Tuan Bram.


Dua orang pengawal masuk ke kamarnya.


"Tuan, Apa anda baik-baik saja?" tanya seorang pengawal kepada Tuan Bram yang berdiri ketakutan.


"Aku tidak apa-apa,"


"Sepertinya ada penyusup yang melempar batu dari bawah. Kalau begitu kami akan mencarinya sekarang, Tuan" ujar salah satu pengawal itu.


Tuan Bram berpikir sejenak. Karena pelakunya pasti Sony.


"Tunggu,"


Langkah kaki kedua pengawal itu tertahan ketika Tuan Bram menghentikannya. Mereka lalu berbalik badan lagi.


"Kalian tidak usah mencarinya kebawah. Aku sudah tahu siapa pelakunya," ucap Tuan Bram.


"Tapi, Tuan"


"Kalian tunggu diluar kamarku saja, Biar aku sendiri yang menyelesaikannya," pungkas Tuan Bram.


Kedua pengawal itu menuruti kemauan Tuannya dan kembali berjaga di luar kamarnya.

__ADS_1


Tuan Bram kembali menyalakan Handphonenya.


"Baiklah! Kalau kamu ingin berbicara denganku. Aku akan menunggumu di tempat biasa," ucap Tuan Bram di telepon.


__ADS_2