Menikahi Pria Gila

Menikahi Pria Gila
Satu Gelas Minuman


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan sejak bertemu istrinya Firo tak berani meminta haknya kepada Medina. Ditambah lagi Firo tau bagaimana perasaan istrinya. Dia lebih memilih diam dan bersabar menahan nafsunya. Walaupun terkadang ia tak bisa menahannya dan terpaksa mengeluarkannya di kamar mandi.


Malam itu Shaka sudah ada di negeri Singa. Ada urusan pekerjaan sehingga ia datang ke negara itu. Karena menjalin bisnis dengan pengusaha asing ia memilih Bar sebagai tempat bertemunya.


Sekarang Shaka sedang bertemu klien di sebuah Bar. Shaka menghubungi Firo agar menemuinya di Bar untuk menemaninya. Kebetulan saat itu Firo sedang suntuk. Dia belum pernah pergi kemanapun kecuali mengantar istrinya dan mertuanya pergi berbelanja dan membantu mengurus usaha ibu mertuanya.


"Honey, bolehkah aku keluar bersama Shaka malam ini?" tanya Firo kepada Medina yang tidur membelakanginya.


Medina berpikir sejenak, "Pergi kemana?" tanyanya.


"Menemani Shaka bertemu kliennya," sahut Firo.


Medina diam saja.


"Kliennya pria," seru Firo.


"Pergilah," ucap Medina.


Mendengar ucapan istrinya, Firo merasa senang dan bergegas pergi.


Medina tidak tahu kalau Firo pergi ke Bar menemani Shaka.


Baru beberapa menit membalas ucapan suaminya. Medina berbalik posisi dan mendapati Firo sudah tidak ada di kamarnya.


Padahal ia menginginkan suaminya tidak jadi pergi bersama Shaka.


Lima belas menit kemudian Firo sudah ada di Bar. Jarak apartemen dengan Bar kebetulan tidak terlalu jauh. Ia mengendarai mobilnya sendiri ke tempat itu. Firo sudah belajar cara menyetir sendiri di ajarkan Shaka sebelum pulang ke Indonesia.


Sebenarnya Firo tidak ingin masuk kedalam Bar, Namun karena tidak enak dengan Shaka yang sering membantunya akhirnya dia mengiyakan dan menemani Shaka bertemu kliennya.


Hingar bingar suara musik di Bar sudah terdengar keras di telinganya. Bahkan bau minuman beralkohol sudah tercium di hidungnya.


Pandangannya sudah berkeliling ke area Bar untuk mencari keberadaan Shaka. Baru memasuki area itu, Firo sudah di dekati beberapa wanita yang sangat cantik dan seksi.


Beberapa wanita mengenakan pakaian hampir telanjang yang berlalu lalang mendekati Firo. Terlebih dengan tampang Firo yang menjadi pusat perhatian lawan jenis menjadi sasaran empuk bagi wanita kesepian seperti mereka.


"Hari ini aku sedang free, apa kamu mau bermain denganku malam ini?" seorang wanita setengah telanjang mendekati Firo dan menyentuh dadanya.


Buah dadanya yang menyembul begitu terlihat menggiurkan ditambah lagi dengan bokong yang sintal. Menambah kemolekan sang pemilik tubuh.


Firo menelan ludahnya. Dan menghembuskan dengan kasar nafasnya. Sudah lama dia tak bermain bersama istrinya. Benar-benar menjadi godaan terbesar baginya ketika melihat pemandangan yang membuat jiwa lakinya mulai bereaksi.


"Maaf! aku seorang pria impoten," tegas Firo. Ia ingin gangguan di depannya segera pergi.


Bukannya menghindar wanita satunya malah mendekatinya, "Ah! Apa yang kamu lakukan?" Firo terlihat marah karena berani menyentuhnya.


Wanita di depannya benar-benar sangat nakal dia hanya tersenyum ketika Firo menggertaknya.


"Apa pria impoten bisa sekeras ini," mereka tertawa sangat nyaring. Dari mulut mereka sudah tercium bau alkohol.


Firo yang sendirian tidak membawa pasangan membuat mereka begitu ingin menggodanya.


"Hentikan, dia adalah milikku. Minggir kalian!" seorang wanita berpakaian seksi menghampiri Firo.

__ADS_1


"Hai darling," ucap wanita itu kepada Firo, "Pergi!" ucapnya lagi kepada wanita ****** yang mengelilingi Firo.


Semua wanita yang mengelilingi Firo semuanya menghindar karena wanita di sebelah Firo adalah primadona Bar. Mereka semua tidak berani melawan wanita itu.


"Apa kamu Firo?"


Firo mengangguk. Darimana dia tahu?


"Ikuti aku! Kamu sedang ditunggu Shaka," ucapnya.


Beruntung wanita itu menolongnya kalau tidak Firo pasti sudah putar haluan untuk pulang.


Karena dia mengenal Shaka, Firo lalu mengikutinya. Shaka sedang duduk bersama satu orang kliennya di kursi VIP yang ada di Bar itu. Wanita itu adalah orang suruhan Shaka agar Firo tidak tersesat saat mencarinya.


"Cup! Aku sudah membawa saudara mu,"


Bibir wanita itu menempel di pipi Shaka. Sebenarnya Shaka merasa risih dengan kelakuan wanita yang sudah lama menjadi temannya itu.


"Terima kasih, Clara" ucap Shaka.


Firo melihat sekilas Wanita itu. Dia sangat seksi dengan bentuk tubuh layaknya gitar spanyol. Firo duduk di sebelah Shaka yang sedang berbincang dengan kliennya. Setelah mengucapkan Terima kasih wanita itu kembali berkumpul bersama teman-temannya.


Shaka sedang membangun bisnis minuman miliknya agar di promosikan di Bar itu. Sejenis minuman bir non alkohol. Shaka sudah lama merintis usahanya sendiri selain mengurus usaha milik Tuan Bram.


Setengah jam berlalu, Kliennya menyetujui kerja sama mereka kemudian pamit meninggalkan Firo dan Shaka.


Sementara wanita yang dipanggil Clara itu mendekati Shaka lagi. Rupanya diam-diam wanita itu sudah menyukai Shaka dari dulu. Sejak bersekolah bersamanya di Singapore.


"Duduklah," sahut Shaka.


Di depan mereka sudah tersaji sebotol wine dan minuman milik Shaka. Wanita itu lalu menuangkan minuman di gelas milik Shaka dan Firo.


"Apa kamu akan lama disini?" tanya Firo. Dia benar-benar tak nyaman berlama-lama di sana.


"Tunggulah sampai minuman ini habis, cobalah minuman ini," pungkas Shaka memberikan segelas minuman kepada Firo, "Minumlah, minuman ini tidak beralkohol" tambahnya.


Firo lalu menenggak minuman itu sedikit demi sedikit.


Rupanya wanita di sebelah Firo sudah memberi obat perangsang di gelas Shaka. Dia menginginkan Shaka jadi miliknya malam ini.


Namun sayangnya gelas Shaka tertukar dengan gelas Firo. Minuman yang diminum Firo adalah minuman milik Shaka yang sudah diberi obat perangsang oleh Clara.


Beberapa menit obat itu belum bereaksi. Sesekali Firo mendengar Shaka yang sedang berbincang dengan Clara.


Dari pandangan mata Clara dia sudah memperhatikan tingkah Shaka yang dari tadi tidak ada perubahan. Sementara Firo sedikit demi sedikit merasakan hal yang tidak nyaman di dalam tubuhnya.


Muka Firo sudah memerah. Setiap kali melihat wanita yang berlalu lalang di depannya membuatnya ingin menerkamnya.


Sangat menggiurkan. batin Firo.


"Tubuhku terasa sangat panas sekali," ucap Firo kepada Shaka. Ia membuka sedikit kancing bajunya agar bisa mengurangi rasa panas di tubuhnya.


Tidak biasanya dia seperti itu. Atau jangan-jangan ada yang salah terhadap minumannya. Yang aku tahu minuman milikku tidak akan bereaksi apapun. batin Shaka.

__ADS_1


Shaka yang melihat perubahan Firo langsung berpikir ada yang aneh di dalam minumannya. Ia menengok kearah Clara yang menutup sebagian mukanya.


"Apa kamu yang melakukannya?" tanya Shaka kepada Clara.


"Maafkan aku, tadinya aku ingin kamu yang meminumnya," ucap Clara.


Gawat!! gumam Shaka.


Dengan gerakan cepat ia menarik Firo agar segera pulang dan menemui istrinya.


"Kita harus pulang," ucap Shaka. Firo yang sudah tidak kuat hampir saja menubruk seorang wanita yang lewat di sebelahnya.


Shaka mencari kunci mobil di saku Firo lalu dengan cepat mengendarai mobil itu. Di dalam mobil Firo hampir saja tidak kuat menahan geloranya.


"Ahh.. kenapa kamu lama sekali," umpat Firo.


Tubuhnya sudah sangat panas. Ingin segera melepas hasratnya.


Akhirnya sampai juga di apartemen milik Ny.Vika. Beruntung Agung segera membuka pintu dengan cepat. Shaka langsung menarik Firo yang sudah membuka seluruh kancing bajunya.


"Kenapa dengan Tuan Firo?" tanya Agung.


"Awas!! Aku harus membawanya kepada istrinya" ucap Shaka menyuruh Agung agar memberinya jalan.


Agung melihat aneh majikannya itu. Hampir jam dua belas mereka baru pulang dengan kondisi Firo yang tidak layak dilihat. Wajahnya memerah ketika melihat kearah Agung. Benar-benar membuatnya merinding.


Shaka mengetuk dengan keras pintu kamar Medina membuat Medina yang sedang tertidur pulas lalu membukanya.


"Kenapa dengan suamiku?" tanya Medina membuka matanya lebar ketika melihat keadaan suaminya.


Firo tersenyum ke arah istrinya sambil memainkan bibirnya. Mukanya yang memerah sudah tidak sabar ingin menerkamnya.


"Maaf aku sudah membuatnya seperti ini. Setelah ini aku serahkan semuanya kepadamu," ucap Shaka memasukan Firo kedalam kamar lalu bergegas meninggalkan mereka berdua.


Firo sudah memasuki kamarnya. Sementara Medina masih terlihat kebingungan di depan pintu.


"Tunggu! kenapa dengan suamiku? Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Medina dengan suara keras kepada Shaka yang terus berjalan tidak menoleh.


Sial! Kenapa aku harus mengatasi situasi sulit seperti ini. gerutu Shaka sambil terus berjalan menghiraukan pertanyaan Medina.


"Shaka, bisakah kau jelaskan kepadaku!" teriak Medina lagi.


Medina yang terus mengoceh di luar kamarnya di tarik Firo dari dalam. Firo lalu menutup pintunya.


Kenapa dengan suamiku? batin Medina.


Firo mendekati Medina yang berdiri kebingungan.


"Sa-sayang.. ke-kenapa de... "


Belum sempat meneruskan ucapannya bibir Firo sudah mendarat di bibirnya dengan lembut.


Setelah itu...

__ADS_1


__ADS_2